THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
GOSIP BAYI



Para bayi berkumpul, mereka duduk dengan perut terbuka. Baju mereka cepat sekali kekecilan.


"Kok perutnya dikasih liat baby?" tanya Sukma.


"Pajuna teutesilan Tinti," jawab Arsyad.


"Papa simput eh siput!" lanjutnya kesal.


Sukma tersenyum, ia sangat yakin jika ketua baris ke tiga kini tengah mengorek telinganya. Gio memang belum berbelanja untuk dua anaknya. Aini juga sibuk dengan tugasnya sebagai dokter bedah syaraf.


"Days!" panggil El Bara.


"Biya!' sahut semuanya.


"Tapan hali tayatna pita namen deh ... Pati wuwana teumana ya?" tanya El Bara yang mengingat hari di mana mereka ngamen.


"Tado puwat yuyut Heyan!' sahut Fatih mengingat.


"Oh wiya!" tepuk El di keningnya.


"Pita binta Mama peuliin paju ladhi jaja!" sahut Dita memberi ide.


"Pati bastina pita eundat piajat!" keluh Maryam.


"Pita teulalu banyat!" sahut Aaima.


Semua bayi menghela nafas besar. Aaima melihat rok yang ia pakai sudah sangat pendek.


"Lot atuh judha teutesilan!' keluhnya.


Terra melihat baju semua bayi. Wanita itu sedih karena memang waktu yang belum ada untuknya membelikan baju.


"Mama ajak kalian sekarang beli baju yuk!' ujarnya membuat semua bayi menoleh.


"Beunel ma?" tanya Arsyad.


"Iya baby, kita ke tanah abang buat beliin kalian baju!" ajak Terra.


"Holeee!" seru semua anak.


Luisa juga senang, ia akan membeli banyak baju untuk dua anaknya. Nai juga mau ikut serta.


"Eh ... Baby Arimbi mau pulang sebentar lagi!' larang Khasya.


"Oh iya ya!' seru Terra lupa.


"Yah ... Dadal ladhi!' sengit Maryam protes.


"Maaf baby," ujar Terra menyesal.


"Ah ... Atuh pidat bawu pate basu!" dumal Aisya hendak membuka dress-nya.


"Baby, malu ah ... Ada Papa Michael, papa Exel dan Papa Ello loh!' peringat Dian.


"Basuna teutesilan Tinti!' keluh Aisya.


"Telet atuh lobet don!" ujar Fael yang memperlihatkan lengan bagian ketiaknya yang berlubang.


"Astaga kakak!" seru Terra pada Maria.


"Ih, baju itu udah kakak umpetin loh!" ujar Maria kesal pada putranya.


Wanita itu telah menyembunyikan baju-baju yang tak layak pakai. Tapi rupanya sang putra bisa menemukan baju itu dan mengenakannya.


"Kakak beli baju kodian ya buat Babies. Makanya warna dan modelnya sama. Jadi kakak nggak tau itu baju lama atau baru?" tuduh Terra dengan mata menyipit.


"Jangan begitu sayang!"ujar Khasya.


"Lihat itu semua cucumu. Mereka merobek pakaian mereka!" tunjuknya pada tiga Bara yang berusaha mengoyak pakaian mereka.


"Pita sadhi dembel!" seru Firman bertepuk tangan.


"Bempel pa'a Aypi!" tanya Vendra.


"Dembel ipu wowan mistin yan didupna pi wawah lolon pembatan!' jawab Firman.


"Lada wowan tayat dhitu?" tanya Xierra tak percaya dengan mata besar.


"Lada!" angguk Firman.


"Pulu Iman ninat lada teutanda patai paju polon-polon. Suta pidul wawah tolon sembatan!' lanjutnya memberitahu.


"Beumana lolon sembatan lada peumpat pidulna?" tanya Fathiyya.


"Tata apan Fafan lolan ipu pidul pate tolan tadan-tadan pate titel pipis!" jawab Firman.


"Titel pipis? Titel puwat polpol?" tanya Nouval memastikan.


"Butan titel ipu woh yan yayaman totan!" ralat Firman.


"Yang dari daun Silawan atau daun gulma baby?' tanya Dian.


"Piya buntin,' angguk Firman yang ternyata juga tidak tahu bahan tikar tipis.


"Matanna bijibana?" tanya Maryam yang membuat Terra tersedak.


"Tata Apan Fafan matanna tadan pate nasi pasi," jawab Firman sedih.


"Nasi pasi?" tanya semua bayi melotot.


"Biya!" angguk Firman lagi.


"Sasi Pasih pa'a?" tanya Ryo penasaran.


"Tata Apan Fafan, nasi yan pudah busut!" jawab Firman.


"Sasi susut?" tanya Ryo, Zora, Hasan dan Horizon dengan mata bulat.


"Tayat pa'a ipu?" tanya Horizon.


"Nasinya udah nggak boleh dimakan lagi Babies. Jadi nasinya itu udah nggak sehat," jawab Dian.


"Tasyihan!' seru para bayi sedih.


"Matana pita janan puwan-puwan nasi!" ujar Aaima bijak.


"Biya Ata'!" angguk semua bayi.


"Zaza au syasyih aju!" angguk Faza lalu hendak membuka bajunya.


"Baju baby banyak di lemari sayang," cegah Dian pada Faza.


"Ini juga sudah baby sobek kan?" lanjutnya menunjuk lubang kain yang sengaja dikoyak bayi itu.


"Euman papa?" tanya Faza.


"Kalau mau memberi itu harus yang terbaik!' jawab Dian.


"Imi beulbait!' seru Faza.


"Kalau terbaik, Baby nggak robek itu baju sayang," sahut Dian gemas.


Semua anak pulang sekolah. Para bayi menanyakan ibu baru mereka.


"Mama dulu bana?'


"Mama guru masih di sekolah baby," jawab Gino.


"Ada kelas tambahan!' lanjutnya.


"Yaaah!' keluh para bayi kecewa.


Tak lama Arimbi datang bersama Reno, Herman, Virgou dan Remario. Ada dua bayi digendong Herman dan Virgou.


"Assalamualaikum!' Arimbi mengucap salam.


"Wa'alaikumusalam!' seru semua ibu.


Khasya langsung bergerak mendekati cucu pertamanya. Dua bayi kembar sepasang menggeliat lucu.


"Assalamualaikum babies," sapanya lalu mencium bayi-bayi itu.


Nai senang dua anaknya ada teman bermain. Kini empat bayi diletakkan di kasur. Semua kakak dan om juga Tante serta nenek dan kakek bayinya ikut melihat empat bayi itu.


"Amah yayina sasih lelah!" ujar Ryo.


"Iya baby, bayinya masih merah," ujar Azizah yang berbinar melihat bayi-bayi lucu itu.


"Poleh sium Ata' mama?" pinta Zaa.


"Boleh sayang," jawab Arimbi yang kini berbaring di ranjang.


Semua bayi mencium bayi-bayi yang baru lahir itu. Keduanya sudah diberi nama indah.


"Ini baby Umar Dzulfikar Sanz dan ini Khadijah Humairah Sanz!' ujar Herman menyebut nama dua cucunya dengan bangga.


Bart mencium bayi-bayi itu dengan gemas. Ia senang dengan nama-nama indah yang disematkan pada cucu dan cicitnya itu.


"Aku akan dapat banyak cucu dari semua anak-anakku!" ujarnya lalu menatap Rosa.


Rosa tersenyum, ia mengelus perutnya. Seruni pun masih dalam fase ngidamnya.


"Keturunanku akan memenuhi bumi!" kelakarnya lalu tertawa terbahak-bahak dan diikuti semua perusuh di sana.


Rosa membawa dua cucunya ke kamar. Reno dan Arimbi tak bisa menolak. Susu harus diperas dari dada Arimbi agar dua bayi itu tak merengek.


"Kak!" keluh Arimbi kesal.


"Momud!' lanjutnya manyun.


"Sayang, aku harus apa?" tanya Reno serba salah.


Malam telah larut. Semua orang sudah terlelap. Rupanya, Reno berhasil membawa kembali dua bayinya yang rewel ingin minum susu langsung dari sumbernya.


Herman masih terjaga, ia menatap kamar putrinya yang masih menyala. Terdengar tangisan kencang dua bayi secara bergantian. Ia tersenyum meledek.


"Rasakan kalian tak bisa tidur enak!'


"Sayang!" panggilan mesra dari wanita yang ia cintai.


Khasya mendengar gerutuan suaminya. Dulu ketika Satrio dan Arimbi hadir ke dunia. Mereka juga serepot itu.


"Jangan menyumpahi anakmu sayang," peringatnya.


"Sayang!' rengek Herman.


Lalu sepasang renta itu saling berpelukan. Mata keduanya menatap jendela yang masih menyala lampunya.


"Mereka sudah jadi orang tua sayang," ujar Herman lirih.


"Apa kita berhasil mendidik mereka menjadi orang tua yang baik?" lanjutnya bertanya.


"Kita tak punya urusan lagi soal itu sayang," jawab Khasya bijak.


Herman menatap wanita yang menemani seluruh hidupnya. Khasya yang tak pernah banyak menuntut. Perempuan sederhana yang sangat tangguh.


"Tetap tegar seperti ini sayang, sampai menutup mata ini," pinta Herman lirih.


"Kau tetap sehat sayang. Kau akan hidup lama bersama kami!" tandas Khasya.


"Aamiin ya rabbal alaamin!" Herman mengaminkan doa istrinya.


"Yuk masuk, biarkan mereka sayang!' ujar Khasya.


Keduanya pun masuk dalam peraduan mereka. Sementara di kamar Reno, Arimbi menyusui dua anaknya yang begitu rakus menyedot pundi mereka.


Reno mengusap peluh di kening sang istri. Cintanya makin bertambah.


"Sehat terus ya sayang," ujarnya lalu mengecup pelan kening sang istri.


Perlahan, ia memindahkan semua bayi dalam boksnya. Umar dan Khadijah sudah lelap tidurnya. Reno pun memeluk sang istri dan ikut terlelap di sisinya.


Bersambung.


Welcome Baby Umar dan Baby Khadijah juga Baby Hamzah dan baby Ali.


Sehat terus ayah, Uyut dan semuanya!


Sehat juga para Readers!


Next?