
Pagi-pagi buta, kediaman Bart nampang sibuk di dua kamar berbeda. Ratini dan Jelita tengah didandani para perias.
"Saya mau wudhu dulu!" ujar Ratini yang ingin dirias.
"Boleh mba, jangan khawatir. Riasan ini semua pake produk awet jadi kalau dihapus pake wudhu juga tidak masalah, hanya di-touch up aja lagi agar nggak keliatan pucet," ujar perias.
Bart sudah bolak-balik ke kamar mandi. Pernikahan dua putrinya memang membuatnya sedikit stress.
"Dad, jangan pikir macam-macam. Waktu Raini menikah, Daddy nggak seperti ini!" ujar Virgou.
"Kamu tau apa!" bentak Bart kesal.
"Aku juga stress tau!" sengitnya.
"Udah ah ... Sana! Kamu malah ganggu Daddy!" usir Frans.
"Oh ya, Daddy Leon kok belum kembali?" tanya Virgou lagi.
"Cuaca di Eropa sedang tidak baik. Banyak badai hingga penerbangan sedikit mengalami masalah," jawab Frans.
Virgou diam, ia merindukan salah satu putranya itu. Walau Calvin sangat tenang tidak seperti Kean kembarannya. Tapi, pemuda itu sama polos dan usilnya dengan para perusuh.
Sementara di Eropa, Calvin sedikit bebas karena dia tidak dijaga banyak pengawal, Leon juga membebaskan pemuda itu kemana saja tanpa pengawalan ketat.
"Grandpa ... Aku boleh pergi ke mall nggak?" tanya Calvin.
"Nak, di luar cuaca sedang tidak menentu. Grandpa takut kau malah terjebak badai salju!' larang Leon langsung.
"Tapi cuaca sedikit cerah Grandpa, itu ada matahari walau sedikit!" tunjuk Calvin pada matahari yang muncul secara sembunyi-sembunyi.
"Sayang, aku tak mau dimarahi ayahmu jika terjadi apa-apa!" larang Leon.
"Grandpa ... please ... Aku bisa jaga diri!" janji Calvin.
"No!" Leon tegas melarang pemuda itu.
"Ah!" rajuk Calvin langsung ngambek.
Pemuda itu berlalu dengan kaki dihentakkan ke lantai. Leon menghela nafas panjang.
"Lebih baik kau yang ngambek seperti itu, dibanding terjadi apa-apa denganmu baby," gumam pria tua itu.
Kembali ke Indonesia. Waktu yang berlalu, membuat semua makin gugup. Terutama Theo dan Fio.
Dua pria tampan sudah memakai busana terbaik. Baju koko warna pink dan navy.
Sesuai dengan keinginan Jelita. Fio memakai setelan formal warna pink. Padahal Bart memilih putih untuk ke sakralan acara akad. Sedang Theo memakai setelan navy.
"Wah ... Papa ganteng pake pink!" puji Kaila menatap Fio.
"Terima kasih Nona baby," ujar Fio tersenyum walau wajahnya tampak gugup.
"Tenang bro ... Hanya sebentar kok perasaan itu. Nanti ketika sudah ada kata Sah dari para saksi, baru semua tenang!" ujar David menenangkan dua mempelai.
Theo hanya diam, ia tak berani bicara apapun. Pria berusia tiga puluh delapan tahun itu sangat tegang.
"Kamu kenapa?" tanya David pada Theo.
"Tidak ... Saya tidak apa-apa!' jawab Theo kaku.
"Wiw ... Apah Peo buslalana ayat bobot!" seru Zora takjub.
Semua bayi tenang dipangku oleh orang tua mereka. Tak ada yang mengganggu, para orang tua berhasil memberikan pengertian pada semua bayi super kepo itu.
Dua pria duduk di depan Dahlan dan Budiman. Sebagai wali nikah yang dipercaya oleh Jelita dan Ratini. Bart menangis, ia memang tidak diperbolehkan menjadi wali nikah anak-anak angkatnya.
"Dad, tenanglah!" pinta Lastri yang jadi sedih.
"Ah ... Semua anakku telah menikah ... Hiks! Panjangkan umurku agar bisa menikahkan Amelia, putriku yang paling bungsu," doanya penuh harap.
"Aamiin Dad ... aamiin!" ujar Lastri mengaminkan doa pria paling tua itu.
Bart tetap berharap diberi umur yang panjang. Ia ingin melihat semua keturunannya menikah. Tapi, di usianya yang mau menyentuh angka seratus tahun. Pria gaek itu hanya bisa pasrah pada kehendak pemilik umur.
"Apa kalian berdua siap?" tanya penghulu pada dua mempelai pria.
"Insyaallah, siap!" jawab keduanya kompak.
"Oke, satu persatu dulu ya. Dimulai dari Mas Fio!" ujar penghulu.
Sementara di satu kamar besar, dua mempelai wanita tengah menunggu dalam cemas. Bibir keduanya tak berhenti berdzikir, menyebut nama kebesaran Allah.
"Untung riasannya bagus jadi nggak gampang luntur ya," bisik salah satu perias.
"Mereka aslinya memang sudah cantik. Tanpa riasan juga tidak masalah," sahut lainnya berbisik.
Pernikahan digelar di hotel internasional milik Virgou. Pria itu benar-benar mengimplementasikan keinginan Bart tentang dua dekorasi. Kean membantunya, walau pemuda itu tidak banyak kontribusi melainkan mengganggu adik dan Tante bayinya.
"Aypi peusal ... Ipu papa Peo papain?" tanya Zaa berbisik.
"Diam aunty baby. Nanti baby besar kelitikin kamu!" ancam Kean yang gemas dengan bibi bayinya itu.
"Sah!" teriak empat saksi setelah dua pria mengucap ijab qobul-nya.
Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih."
Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya!"
"Aamiin ya rabbal alaamin!" seru semuanya mengusap wajah mereka.
Tak lama dua mempelai pengantin wanita datang. Keduanya sangat cantik dengan balutan pengantin yang didesign oleh Dewi.
Dewi senang hasil karyanya dikenakan oleh kakaknya.
"Wah ... Kok pengantin pake warna pink ya?' bisik-bisik para pekerja catering.
"Udah jangan berisik!" seru mandor pekerja.
"Hayo kerja semua!" suruhnya dengan mata melotot.
Acara berlangsung dengan sungkeman. Derai air mata tak bisa dibendung lagi. Berbeda ketika pernikahan Angga dan Raini.
Jelita dan Ratini benar-benar tak memiliki ayah dan ibu. Mereka dibuang dalam kardus ditemukan warga dan diasuh oleh pengurus panti.
"Papa ... Makasih telah menjadi ayah kami ... Makasih telah menyayangi kami ... Huuu ... Uuuu!" isak Jelita ketika sungkem di kaki Bart.
Pria gaek itu tak mengatakan apapun. Ia hanya sibuk menghapus air matanya. Ratini juga menangis ketika meminta restu pada ayah angkatnya itu.
"Maaf pa, jika Ratini tak lagi bisa berbakti pada papa ... Tapi, papa adalah segalanya bagi Ratini dan semuanya!" ujar gadis itu tergugu.
Begitu dihadapan Khasya. Baik Jelita dan Ratini nyaris pingsan. Mereka sangat terharu dan bahagia bertemu dengan sosok wanita yang mampu mencintai mereka tanpa batasan.
"Bunda ... kami percaya jika bunda adalah malaikat yang berujud manusia, bunda adalah poros kasih sayang yang tak pernah habis. Makasih telah mencintai kami seperti anak-anakmu sendiri,"
Dua gadis dipeluk Khasya. Wanita itu hanya bisa tersenyum bahagia. Telah gugur tugasnya membesarkan dua gadis cantik yang sudah sukses dan telah dipersunting dengan pria-pria terbaik. .
"Bunda," Fio menatap wanita di depannya.
"Makasih bunda ... Makasih!' ujarnya lalu mencium kaki wanita itu.
"Nak!" Khasya mengangkat bahu pria tampan itu.
"Sujudlah hanya pada Allah nak. Bukan ciptaan-Nya!''
Ratheo menatap Khasya, ia belum begitu dekat dengan wanita itu. Tapi, ia sudah merasakan kasih sayang Khasya.
"Aku juga minta disayang ya," ujarnya.
"Anak sialan!" sengit Herman kesal.
"Ayah!" Terra melotot.
"Ah ... Nanat sisilan palu!' sahut Maryam malas.
"Pudah ... Piyal jaja ... Pita lansut banyi yut!" ajak Aaima.
Aaima langsung memegang mik. Rion berada di keyboard hendak memainkan musik.
"Banu, tadas tulap, tulit datal-datal, lolestan zasa ... Salpanas!"
"Mmprpprruuffhhh!"
Semua tamu tersedak mendengar nyanyian Aaima.
Bersambung.
Lah ... Aaima ngiklan salep penyakit kulit! ðŸ˜ðŸ˜ðŸ¤ðŸ¤¦
next?