
Hari Senin kembali datang, semua anak kembali bersekolah dan kuliah. Della, Lilo, Seno sudah rapi dengan seragam mereka.
"Uh anak mommy cantik banget sih!' ujar Puspita pada Della.
Bocah itu tersenyum indah dan menikmati ciuman yang dilayangkan ibu angkatnya itu. Setelah semua rapi, mereka berangkat bersama para pengawal.
"Ata' itut setolah sih," pinta Firman.
"Eh ... Di rumah aja sama mommy baby," larang Puspita.
"Wudah Ata' Miman bain ama El laja!" ajak El.
Firman akhirnya menatap kakaknya yang bersekolah. Bayi mau empat tahun itu menggosok pipinya. Ia merasa giginya ngilu.
"Ata' teunapa?" tanya Alia.
"Didi Ata' doyan ... Satit," bisik Firman.
"Pilanin mommy laja," ujar Alia khawatir.
"Baby ... Baby kenapa?" tanya Dian yang melihat Firman menggosok pipinya.
"Didina bawu sopot Tinti!" lapor Alia.
"Coba lihat sini!" ujar Dian.
Firman mendekat, Dian melihat gigi Firman yang goyang.
"Ke Mami Raini baby, kan mami dokter gigi," ujar Dian yang sedikit takut mencabut gigi Firman.
"Kenapa Dian?" tanya Puspita.
"Ini, gigi tuan muda goyang nyonya," ujar Dian menjawab.
"Oh baby, mana!' Puspita lalu memeriksa gigi Firman.
Semua bayi heboh dengan itu. Puspita menggerakkan gigi itu. Tampak Firman meringis sakit.
"Yuk, ikut mommy kita ke dokter gigi sayang," ujar Puspita menyerah.
"Aypi Miman teunapa Ata' Ommy?" tanya Zaa penasaran.
"Giginya goyang baby, mau copot," jawab Puspita.
Firman digantikan baju oleh wanita itu. Ia pun membawa balita itu pergi. Tadinya Alia merengek mau ikut, tapi Layla berhasil membujuk bayi dua tahun itu.
"Sama umi sini baby, umi minta baby jagain Hasan dan Hafsah," lanjutnya meminta tolong.
Jika ke dokter tak ada yang berisik mau ikut.
"Babies nggak ikut mommy?" tanya Nai gemas pada semua adiknya itu.
"Spasa yan bawu satit ... Ata' laja dih!" sengit Aaima kesal.
Nai gemas dengan balita itu. Ia menciumi Aaima sampai protes.
"Ata'," rengeknya.
"Mama baby, mama Nai!" ralat Nai meminta dipanggil Mama.
"Maaa!" pekik sang putra, Ali.
"Oh ... your first word!" pekik Nai terharu.
"Paypi Yayi isa nomon!" seru Zora bertepuk tangan.
"Nomon ladhi baby," pinta Maryam.
Sementara di sekolah Samudera. Remaja itu tengah berada di depan kelas menulis jawaban tugas yang diberikan guru.
"Wah bagus ini baru ngerti aku!" seru Raja puas.
Beberapa anak mengangguk, rupanya penjelasan dan cara kerja soal yang diberikan Samudera dimengerti oleh beberapa temannya.
"Huh, memang hanya anak bodoh yang bisa menjelaskan pada anak bodoh lainnya!" celetuk Ridwan salah satu murid mencibir.
"Halah kek kau tau aja Wan!" sahut Edo juga sengit.
"Coba lihat bukunya Git. Gue yakin dia belum ngerjain!" suruh Edo.
Sigit yang ada di sebelah Ridwan gegas mengambil buku Ridwan. Remaja itu tentu marah besar. Sigit tentu menang mudah.
"Diam Lo!" sengitnya.
"Eh ... Bener guys ... nih bukunya kosong!" serunya tak berapa lama sambil memperlihatkan buku Ridwan yang memang kosong.
Gelak tawa tercipta, semua meledek Ridwan yang sok pintar itu.
"Gue memang belum ngerjain aja!" sanggah remaja itu masih sok.
"Udah jangan berisik!' seru pak guru galak.
Semua anak tenang, guru itu lalu menyuruh semua murid mengerjakan tugas.
"Bapak beri waktu lima belas menit ya! kalian kan udah tau gimana ngerjainnya!"
"Baik pak!" seru semua murid kecuali Ridwan.
Lima belas menit berlalu, Sigit berdiri dan mulai mengumpulkan semua buku tugas.
"Mana buku Lo!" hardik Sigit menarik buku Ridwan.
Krek! Buku itu sobek. Ridwan tentu marah besar.
"Tuh kan sobek!"
Sigit merasa bersalah, tapi ketika ia menyatukan sobekan itu. Tak ada jawaban yang ditulis di sana.
"Dih kamu belum ngerjain!' sahut Sigit.
"Itu udah dijawab, kamu sobek ya nggak keliatan lah!' sengit Ridwan membela diri.
"Lu kira mata gue picek apa!" senggrang Sigit marah.
"Nih, gue satuin sobekan ini. Lu nggak jawab satu pun soal di lembaran ini!" lanjutnya sambil menyatukan buku yang sobek.
Sigit memberikan buku itu pada pak guru. Pria itu mengangguk membenarkan. Ridwan mukanya malu luar biasa.
"Yee!" seru semua murid meledek temannya itu.
"Heh sudah-sudah!" seru pak guru melerai keributan.
"Ridwan, karena kamu nggak ngerjain tugas. Kamu nanti bersihkan sendiri kelas ini ya!" ujar pak guru memberi hukuman.
Teman-teman piket Ridwan bersorak riang. Mereka akan bebas tugas. Beberapa anak tiba-tiba menyobek kertas kecil-kecil dan membentuk bulatan.
"Timpuk Ridwan!" seru beberapa anak membully remaja itu.
"Hentikan!" bentak pak guru marah.
Semua anak yang membully langsung terdiam. Pak Gatot memang guru yang cukup galak dan tegas.
"Saya ganti hukumannya jadi kalian yang membersihkan kelas ini!" lanjutnya menunjuk beberapa murid nakal itu.
"Lu sih ...!" sengit salah satu pembully.
"Lu tuh!" sengit satunya lagi.
"Lu!" sahut lainnya lagi.
"Loh kok jadi ribut? Apa mau bapak tambah lagi hukumannya!?" bentak Pak Gatot.
Akhirnya semua murid diam. Pelajaran berlanjut hingga pulang sekolah.
Pukul 13.45. semua murid SMP negeri 276 berhamburan keluar kelas. Samudera mendatangi kelas adiknya. Benua dan Domesh yang duduk di kelas satu SMP.
"Babies ayo pulang!" ajaknya.
"Ayo kak pes go!" sahut Domesh meniru bahasa adiknya yang masih bayi.
Mereka beranjak, Raja pun pamit pulang. Remaja itu sudah tak lagi memakai bajaj milik almarhum ayahnya.
"Gue dijemput pengawal pake motor!" ujar remaja itu dengan senyum lebar.
Samudera melambaikan tangannya pada Raja yang dibonceng salah satu pengawal.
Benua melihat ada anak yang duduk melamun di taman. Ia menggoyangkan tangan kakaknya.
"Kak, dia kenapa?" tanyanya.
Samudera menoleh, ia melihat Ridwan yang masih melamun terduduk di taman sekolah.
"Udah biarin aja yuk!" ujarnya tak peduli.
Ken datang dengan wajah kesal karena menunggu tuan mudanya keluar.
"Kak!" rengek Benua yang merasa tak enak hati melihat teman kelas kakaknya yang melamun itu.
"Kenapa tuan muda?" tanya Ken.
"Itu papa!" tunjuk Benua langsung pada Ridwan.
"Memang baby mau apa?" tanya Ken.
"Disapa pa, biar nggak kesambet!" jawab Benua.
Ken menggeleng, tapi ia melaksanakan perintah Benua.
"Nak?" sapanya pada Ridwan.
Remaja itu terkejut, ia menatap pria yang tak ia kenali memandangnya.
"Pulang nak, ibu dan ayahmu pasti menunggu," suruh Ken.
"Iya pak!" angguk Ridwan lalu mengusap pipi basahnya.
Ken menepuk pelan bahu remaja itu. Ridwan tampak sedikit terisak. Perlahan Ken memeluk sang remaja. Ridwan langsung tersedu dipelukan pria itu.
"Tenang nak. Ada Tuhan yang melihatmu. Kau harus percaya, bahwa semua akan baik-baik saja jika kau serahkan semua pada sang pemilik hidup," pesan pria itu pada Ridwan.
Ridwan menatap Samudera yang berlalu bersama para pengawalnya. Remaja itu mengelus dadanya yang sedikit lapang.
Tadi ia berpikir untuk mengakhiri hidupnya karena beban yang ia pukul cukup berat. Ridwan korban perceraian orang tua. Sang ayah pergi dengan wanita lain meninggalkannya bersama sang ibu.
"Ma, Ridwan janji akan bantu mama!" tekadnya dalam hati.
Bersambung.
Kadang kepedulian kita yang tak seberapa bisa menolong nyawa orang lain.
Next?