
Gomesh gegas menyambangi ketuanya. Pria raksasa itu mendapat telepon dari lapar.
"Ketua!" panggilnya langsung ketika setelah membuka pintu ruang rapat dewan.
David cuti selama istrinya mendapat trimester pertama. Satrio tengah berada di kepala meja sedang presentasi seketika terhenti melihat kedatangan Gomesh.
"Ada apa?" tanya Virgou.
Tak ada yang berani menyela perbuatan Gomesh. Kedudukan pria besar itu sangat tinggi. Satrio begitu penasaran dengan apa yang dibisikkan Gomesh pada Virgou.
"Apa? Kau yakin berita itu benar?" tanya Virgou tak percaya.
"Benar ketua. Prapto kini dilarikan ke rumah sakit!' jawab Gomesh lagi pelan.
Virgou berdiri, ia menatap Satrio. Tentu pemuda itu khawatir dengan pandangan Virgou.
"Daddy," ujarnya takut.
"Kau adalah seorang ShadowAngel baby. Kau pasti bisa mengatasi ini sendiri!" ujar Virgou memberi kepercayaan penuh.
"Tapi nggak ada papi, papa Pablo dan papa Fabio juga nggak ada!" rengek Satrio.
"Sayang, dengar Daddy!" Virgou mendekati Satrio yang panik ditinggal sendiri.
"Kau pasti bisa melakukannya! Tunjukan pada ayah kalau kau adalah seorang Triatmodjo tulen!" lanjutnya memberi semangat.
Satrio menatap Virgou. Perlahan, ia pun mengangguk. Sebenarnya Virgou sering melepas Satrio menjalankan roda kepemimpinan sendirian. Fabio dan Pablo sebagai kaki tangan dari Satrio. Gomesh dan David menjadi pengiring pemuda yang telah menikah mau satu tahun itu.
"Kau sudah punya istri sayang. Sebentar lagi kau juga akan jadi ayah!" ujar Virgou lagi.
"Iya Daddy, Sat pasti bisa!" angguk Satrio akhirnya mau ditinggal memimpin rapat.
"Baiklah sayang. Daddy tinggal, setelah rapat langsung pulang ke rumah. Serahkan semua pekerjaan pada Asisten kedua yakni Antonio dan Andi!" lanjutnya menatap dua pria yang tengah mengetik.
"Iya Daddy!" angguk Satrio menurut.
Virgou meninggalkan rapat bersama Gomesh. Pria itu segera menjemput Gino, karena ini adalah masalah ayahnya.
"Apa Tuan muda mau menengok ayahnya setelah kejadian beberapa hari lalu ketua?" tanya Gomesh yang menyetir.
"Aku yakin Baby Gi anak yang baik. Dia pasti mau!" jawab Virgou sangat yakin.
Sampai di sekolah, mereka langsung masuk. Marco tak banyak bertanya, ia hanya menjalankan tugasnya.
Tak lama Gino keluar digendong Gomesh. Mereka langsung masuk dalam mobil Jeep putih milik Virgou.
Kendaraan itu melesat cepat membelah jalan. Jam baru menunjukkan angka sembilan. Masih terlalu pagi.
"Memang Papa ada di mana Daddy?" tanya Gino sedikit khawatir.
"Papamu ada di rumah sakit," jawab Virgou.
"Apa penyakit kemarin?" tanya Gino.
"Bukan, tapi kelenjar getah bening yang menyerang syaraf dan kini sudah meradang di otaknya," jawab Virgou.
Gino diam, ia duduk dengan tenang. Kedua tangannya saling menggenggam. Virgou melihat tingkah bocah itu.
"Baby," panggilnya.
"Ya Daddy?" sahut Gino.
Virgou sangat suka dengan respon dari bocah mau delapan tahun itu. Dahlan mengajari Gino sangat baik dan mirip sekali dengannya.
"Kau mirip pelatihmu sayang," ujar Virgou mengecup pucuk kepala Gino.
Bocah itu hanya tersenyum. Tatapan tenang Gino dilihat Gomesh. Pria raksasa itu berdecih.
"Abimu benar-benar ada di kamu baby!" sengitnya.
"Jangan bicara sembarangan bodoh!" umpat Virgou.
"Salahmu kau malas mengajari anak-anak berlatih!" lanjutnya sengit.
Gomesh mencebik, pria itu bukan tak mau. Tapi, ia akan banyak bermain jika melatih para perusuh itu.
Tak lama kendaraan itu masuk halaman parkir rumah sakit. Mereka pun turun.
Gino menggandeng Virgou. Mereka mendatangi resepsionis.
"Saudara Prapto ada di ruang bangsal 4!" jawab petugas itu lalu menunjukkan jalannya.
Virgou kembali melangkah menggandeng Gino. Gomesh ada di belakang mereka. Hanya berjalan sekitar lima meter. Mereka mendapat beberapa petugas sipir yang berjaga.
"Eh tuan!" sapa salah satunya mengangguk.
"Aku membawa putra dari napi delapan satu kosong delapan lima empat!" ujar Virgou datar tak membalas senyum sipir.
"Silahkan tuan!" ujar sipir lalu membuka pintu.
Mereka masuk, ada delapan tempat tidur pasien di sana. Prapto ditempatkan di tempat paling pojok dekat jendela.
Selang oksigen dan juga infus menjadi hiasan di tubuh pria kurus itu.
"Subhanallah!" ujar Gino lalu melepas gandengan tangannya.
"Pa ...," panggilnya lirih.
Perlahan mata Prapto mengerjap. Pria itu menatap anak yang selalu ia musuhi padahal tak ada kesalahan pada bocah itu.
"Nak?" satu tetes bening jatuh di sudut mata Prapto.
Segudang penyesalan menyeruak di dada pria itu. Ia sangat ingat, ketika Gino lahir. Sejuta harapan ia sandarkan di sana.
Mencintai putri orang kaya sangat sulit. Ia pun mengambil langkah cepat dengan menghamili Weni dan langsung dinikahkan saat itu juga.
Berharap warisan didapat banyak. Ia tak menyangka jika seluruh keluarga sepupu istrinya begitu kemaruk dan mereka mendapat harta yang sedikit.
"Papa sembuh papa ...," ujar Gino lirih.
Tangan kecil bocah itu mengangkat tangan besar ayahnya. Gino meletakkan di kepalanya. Perlahan Prapto membelai kepala sang putra setelah sekian lama.
'Andai waktu bisa diulang ...,' gumam pria itu dalam hati.
'Papa sembuh ya, Gino sayang papa," ujar Gino lirih.
Perlahan tangan Prapto turun, ia membelai pipi putranya yang kemerahan.
"Papa senang kamu sehat nak. Tidak seperti ketika bersama papa," ujarnya lirih.
"Pa ...."
"Maafkan papa nak," pinta Prapto penuh sesal.
"Gino sudah lama memaafkan Papa. Makanya papa sembuh ya!" sahut Gino penuh harap.
Prapto menggeleng, ia tak yakin bisa menyayangi anaknya itu.
"Papa lebih baik pergi nak. Papa takut melukaimu lagi ...."
"Nggak ... Gino yakin papa orang baik!" sahut Gino lagi.
"Sayang ...," Prapto menangis.
Untuk pertama kalinya panggilan sayang ia sebut untuk putranya. Gino memeluk ayahnya.
"Papa ... Papa cinta kan sama Gino?" tanya bocah itu.
"Papa sangat mencintai Gino!" jawab Prapto tegas.
Gino menatap ayahnya. Gomesh dan Virgou hanya memandangi mereka. Keduanya diam dengan pandangan datar dan dingin.
"Nak ... ughhh!" Prapto merasa kesakitan.
"Dokter!" pekik Gino langsung.
Virgou menyikut Gomesh. Pria itu gegas pergi ke luar. Dua pria berjas sneli datang dan langsung memeriksa.
"Radang di otaknya makin parah. Apa perlu kita scan?"
"Tidak ... Aku mau mati di pangkuan putraku!" tolak Prapto.
"Pa ... Papa berobat ya!" pinta Gino.
Prapto menolak, ia kesakitan luar biasa.
"Cium papa nak ... cium papa!" pintanya.
Gino menciumi wajah ayahnya. Dua dokter memalingkan mukanya. Keduanya menahan air mata yang tumpah.
Sepuluh menit berlalu. Gino terisak, pipinya menempel di wajah ayahnya yang pucat. Air matanya terus mengalir membasahi wajah Prapto yang telah dingin.
Pria itu baru saja mengembuskan nafas terakhirnya setelah berhasil mengucap kalimat toyibah.
"Selamat tinggal papa ... Selamat bobo ya ... hiks ... hiks!" ujar Gino lalu memberikan kecupan terakhir di pipi sang ayah.
Berita meninggalnya Prapto cepat tersebar. Heru dan Aldo yang masih dalam tahanan hanya bisa menunduk dan mengiringi doa.
"Apa kita bisa dijenguk anak-anak kita nanti?" tanya Heru.
"Aku kangen Lilo dan Seno!" lanjutnya.
"Kita harus segera berbuat baik. Memang tak berarti, tapi aku ingin menikahkan putriku Vera dan Dita!" ujar Aldo.
Lima jam berlalu. Jenazah Prapto sudah dikebumikan. Makam keluarga jadi tempat peristirahatan terakhir pria itu.
Gino digendong oleh Raka. Bocah itu sangat tegar di pemakaman.
"Papa ... nantikan Gino di surga ya yah!" ujarnya pelan.
Bersambung.
Innalilahi wa innailaihi radjiun
Eh ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Next?