
“Papa nggak ajak-ajak ke kebun binatang kemarin,” Nai merengut pada Gomesh.
“Nai kan mau diajak papa,” lanjutnya protes.
“Baby kemarin suamimu kan muntah-muntah parah. Masa iya, kamu ninggalin suami kamu?” jelas Gomesh menjawab.
“Papa!” Arimbi datang dengan muka cemberut.
Gomesh menghela napas panjang. Ia bukan tidak mengajak keduanya. Tapi baik Nai dan Arimbi tengah hamil muda. Langit mengalami cauvade sindrom sedang Arimbi juga tengah mengalami trimester pertamanya, ia menolak pergi karena malas.
“Baby,”
“Pasti nggak bawa oleh-oleh!” tuduh Arimbi langsung.
“Iya Mom, papa nggak bawa. Padahal Bom udah ingetin!” sahut Bomesh memprovokasi.
“Ael bawu peuliin Mama Bimbi. Pati papa pilan ladhi bote!” sahut Fael menambahkan.
“Mommy ... Jejel teumalin laja pidat pipeuliin seslim,” adu Angel.
Maria tersenyum mendengar aduan anak-anaknya. Gomesh diomeli oleh dua wanitya yang tengah mengandung itu. Suami mereka membiarkan istri-istrinya mengocehi prioa raksasa itu.
“Papa ajak kalian deh ke kebun raya Bogor besok!” janji Bomesh.
“Bener nih?” tanya Nai menyelidik.
“Iya sayang. Kita piknik. Berangkat habis subuh ya!” jawab Gomesh lagi.
“Nah ... gitu pa dari tadi,” sahut Nai tersenyum.
“Mom ... lapar mom,” ujar Arimbi lalu duduk di kursi makan.
Maria menyiapkan makanan, Langit, Reno dan Nai ikut duduk di sana disusul yang lainnya. Dua wanita hamil minta disuapi. Maria tak pernah keberatan.
“Talo Mama Nai pama Mama Bimbi pisusapin mama ... Ael ma Jejel spasa yan puwapin!” seru Angel protes.
“Papa suapin sini,” sahut langit dan Angel membuka mulutnya.
“Baby Fael mau disuapin juga?” tawar Reno.
“Eundat bawu ... Ael tan butan payi,” jawab bayi itu menyindir dua ibu yang tengah mengandung.
“Mom,” rengek Nai manja.
“Sayang,” keluh Maria.
“Wee!” Arimbi malah meledek dua bayi yang disuapi itu.
“Baby!” peringat Gomesh.
“Sasain!” ledek Angel tak mau kalah.
“Papa!” rengek Arimbi pada Gomesh.
“Eh ... ayo habiskan makanan kalian!” suruh Maria tegas.
Akhirnya mereka makan dengan tenang. Selesai makan, mereka menikmati taman belakang sedang semua anak-anak diminta tidur siang.
“Mommy ... Sky sama Arfhan di sana pasti nggak bobo siang!” protes Bomesh menolak untuk tidur siang.
“Iya, pasti Harun, Aya, Ayi dan Azha mggak bobo juga!” sahut Bariana.
“Mereka kan ibadah nak, jadi ya nggak bobo lah,” sahut Nai.
“Mommy yakin jika mereka tidur siang,” sahut Maria yakin.
“Mommy ... pidadah pa’a?” tanya Angel.
“Ya seperti ke gereja sayang,” jawab Maria.
“Mommy pilang talo meuleta peuldhi tat pilan-pilan?” sahut Fael mengerutkan keningnya.
Maria menutup mata dan mulutnya, Nai dan Arimbi memilih menyingkir dan membiarkan Maria menghadapi anak-anak yang sangat kritis itu.
“Mommy. Tamih beulpanya!” seru Fael mulai mengintrogasi ibunya.
“Baby ... ayo bobo. Mommy kecapean jadi asal bicara!” sahut Domesh melindungi ibunya.
Dua bayi digendong Michael dan membawanya ke kamar. Bomesh, Bariana dan Domesh mengikuti mereka.
“Baby ... nggak bobo?” tanya Maria pada dua ibu yang sibuk mengunyah kue buatan Seruni.
“Masih laper mom,” jawab Arimbi.
“Sayang ... jangan terlalu banyak makan,” peringat Maria khawatir.
“Nggak apa-apa Mom. Kami tau takarannya kok,” jawab Nai lalu menutup toples kaca.
“Kue lebaran kok masih banyak Mom?” tanyanya lagi ketika melihat toples-toples kaca masih terisi penuh.
“Iya nih. Kan kemarin Mamimu buat sengaja banyak untuk dibagikian. Tetapi ya karena lupa jadi masih tersimpan,” jawab Maria.
“Ah ... gimana kalau kita buat hampers aja! Kita bagiin gratis!” usul Arimbi.
“Lebaran udah lewat bu’lek,” sahut Nai sedikit malas.
“Ya jangan isinya kue doang. Kan sekarang mau lebaran haji nih. Kita isi paket sembako plus kue mami,” jelas Arimbi antusias.
“Boleh deh!. Kita beli dulu paket sembakonya,” sahut Nai.
“Ayo Pa!” ajak Nai pada suaminya.
“Lets go!” sahut Langit siap.
Reno juga mengangguk, keempatnya pergi tentu dengan dua pengawal lain. Gomesh mebiarkan mereka. Nai dan Arimbi sudah ada yang menjaga.
Sementara di Mekah, semua keluarga kembali mengelilingi ka’bah. Mereka tentu telah berihram dulu. Semua bayi digendong para pria di bahu mereka. Manusia makin lama makin banyak dan penuh sesak. Tetapi para perusuh senior dan junior bergandengan tangan, terlebih banyaknya pengawal yang menjaga mereka.
Dalam Ringkasan Fikih Sunnah Sayyid Sabiq, tawaf terdiri dari empat jenisnya:
Tawaf Qudum, dilakukan saat pertama kali datang ke Masjidilharam. Sebagaimana Nabi SAW langsung mengerjakan tawaf sesampainya di Masjidilharam, sebelum melaksanakan ibadah lainnya.
Tawaf Ifadhah, termasuk dalam rangkaian ibadah haji dan umrah.
Tawaf Wada, merupakan tawaf perpisahan yang dilakukan pada akhir ibadah haji dan umrah, dan sebelum meninggalkan kota Makkah.
Tawaf Tathawwu, hukumnya sunah sehingga bisa dilaksanakan kapan saja dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. (Sumber Detikcom)
Tawaf yang wajib dalam ibadah haji ada tiga, yakni tawaf qudum, tawaf ifadhah, dan tawaf wada.
Usai tawaf mereka mengerjakan sholat sunnah tawaf dua rakaat di belakang makam nabi Ibrahim Alaihi Salam. Semua bayi diturunkan dari bahu dan ikut sholat.
“Muma ... antut Muma,” Izzat menguap lebar.
Batita itu tertidur di pangkuan ibunya yang tengah tahyat akhir. Saf membiarkan putra bungsunya tidur. Para bayi sepuluh bulan juga sudah mengantuk dan tertidur.
Usai sholat mereka menuju hotel di mana mereka menginap. Haidar dan Budiman memilih pergi ke pasar untuk membeli beberapa makanan.
“Nggak beli di pasar tanah abang banyak nih kak,” sahut Budiman.
“Iya nanti beli kurma sama lainnya di sana. Sama aja kok,” sahut Haidar.
“Beli untuk makan di hotel aja,” ujar Haidar.
“Habis ini kita mau pergi ke tempat di mana nabi Adam dan Hawa bertemu pertama kali,” ujar Haidar.
“Apa kita perlu mencoret tugu menulis nama kita dan jodah kita?” tanya Budiman.
“Tulis aja. Siapa tau nanti kan kembali berjodoh di akhirat kelak!” jawab Haidar.
Setelah memberi apa yang diinginkan keduanya pulang ke hotel. Memang di antara semua pria. Haidar dan Budiman paling suka berbelanja.
Kembali ke hunian mewah Bart. Kini di ruangan tengah sudah banyak tersusun beras, minyak goreng kemasan, gula, makanan sarden, mie instan dan kue-kue.
Beberapa pengawal membantu mengemasi. Anak-anak terbangun dan memilih membantu kecuali Angel dan Fael. Dua bayi itu merusuh.
“Papa Sisel ... imih manana pa’a?” tanya Fael menunjuk teh dalam kotak.
“Teh celup baby,” jawab Michael.
“OH .. Peh selup,” angguk Fael mengerti.
“Tinti Susma ... peulas tatana dali padi ya?” tanya Angel.
“Iya baby,” jawab Sukma yang sudah mengerti bahasa bayi.
“Tot Tinti pidat peulhalu ladhi?” tanya Angel sampai memandangi dekat wajah SUkma.
Gadis itu gemas dan mencium bayi itu. Angel tergelak, ia kini dalam pangkuan gadis itu. Usai mengemas. Para pengawal memasukkannnya dalam bagasi mobil.
“Papa Michael sama Papa Marco aja yang bagiin ya,” suruh nai.
“Kok kami Nona?” tanya Marco bingung.
“Nanti kami bawa ke gereja loh?” lanjutnya bercanda.
“Ya nggak apa-apa, jika mereka butuh itu.” jawab Nai santai.
Bersambung.
Bener pa .... nggak apa-apa jika ada orang yang berkeyakinan berbeda dengan keluarga Dougher Yopung dibagikan paket sembako itu. Selama itu bisa membantu.
Next?