
Kean berhasil membawa semua adiknya melalui pagar samping yang sudah rusak. Pemuda itu sangat ingat bagaimana dulu banyak temannya keluar masuk dari celah itu.
"Kak, apa cuma kakak yang tau pintu itu?" tanya Bomesh.
"Kak Sean tau. Semua juga tau, hanya saja kami tak pernah berusaha untuk kabur. Karena dulu Abi dan Baba suka jaga kamu secara langsung," jawab Sean.
"Terus kami tidak seingin tau seperti sekarang," lanjutnya.
Mereka bergandengan tangan. Ketika menyebrang, Kean memperingati adik-adiknya.
"Liat kanan dan kiri dulu Babies!"
"Ayo nyebrang!' perintah Sean.
Mereka menyeberang jalan besar. Jarak antara sekolah Harun dan lainnya memang hanya sekitar 500 meter saja jika menggunakan jalan pintas.
"Alhamdulillah, kita berhasil menyeberang jalan!" seru Harun.
"Kita udah pernah nyeberang kali!" sahut Bariana memutar mata malas.
"Oh iya ya. Waktu sama Kak Ditya," ujar Harun ingat.
"Wah kalian luar biasa bisa keluar dari penjagaan papa Ken!" ujar Kean senang.
"Itu gerbang sekolah kak Samudera!" seru Azha.
"Sabar baby!" cegah Sean.
Azha tadinya hendak berlari tapi langsung dihadang oleh Sean.
"Kalau kita masuk depan, kemungkinan semua pengawal menunggu kita!" ujar Sean.
"Oh ... Jadi kita gampang tertangkap dan tak bisa kabur lagi dong?!" sahut Salim.
"Pintar!" ujar Kean memuji.
"Jadi kita masuk pintu rahasia lagi?" tanya Arraya.
"Benar sekali baby, kita masuk pintu lain selain pintu yang sengaja dibuat itu!' jawab Kean kini.
Mereka pun berputar melalui pagar samping sekolah. Banyak semak belukar di sana. Kean hanya membersihkan beberapa semak dan ada jalur setapak.
"Kita lewat sini!" ajak Kean.
Mereka berjalan satu-satu. Kean yang maju lebih dulu. Pagar berkawat menghalangi perjalanan mereka. Kean meraba pinggir pagar.
"Bismillahirrahmanirrahim!"
Kreeeek! Pagar kawat terbuka, senyum terbit di bibir Kean.
"Masih aman!" seru pemuda itu.
Ia pun masuk dan membuka lebar celah yang sengaja dibuat oleh murid-murid nakal di jaman dulu.
"Kakak nggak pernah coba bolos lewat sini kan?" tanya Arion setengah menuduh.
"Ih ... Kagak lah! Kan kakak tau ini karena sering liat anak-anak badung lewat sini!" jawab Kean.
Mereka pun berhasil masuk koridor sekolah. Banyak anak-anak sudah mulai pulang sekolah.
Rupanya para guru mempercepat proses belajar karena ada seminar yang harus diikuti semua guru.
"Baby Benua!" panggil Kean.
Remaja kelas satu SMP itu menoleh. Benua tersenyum lebar melihat kedatangan kakak paling tua.
"Kak Kean!"
"Mana baby Domesh?" tanya Kean.
"Masih di kelas, tadi bukunya ketinggalan," jawab Benua.
Domesh keluar, ia juga senang melihat kakaknya ada di sana.
"Tunggu kak Sam kalo gitu!" ujar Domesh setelah mengetahui keinginan Kean.
Sementara itu Virgou yang hendak menyusul anak-anak yang kabur mendadak kedatangan kolega penting.
"Kau uruslah Fab!" suruhnya.
"Tuan ... Mereka adalah kolega penting. Kita tak bisa mengundangnya dalam jangka waktu dekat!" ujar Fabio menerangkan.
"Emang berapa nilai profitnya?" tanya Satrio.
"Lima miliar,"
"Rupiah?" Fabio menggeleng.
"Euro," jawab Fabio yang membuat Virgou mengurutkan kening.
Gomesh tidak ada di kantor. Pria raksasa itu tengah berada di luar kota. Virgou menyuruhnya untuk mewakili dirinya menandatangani kerjasama.
"Daddy serahkan sama kamu semua usaha ini nak!" ujarnya pada Satrio.
"Dad!" tolak Satrio.
"Baby!" tekan Virgou.
Satrio merengek, ia masih belum percaya diri. Pemuda itu masih nyaman jadi bayangan dari pria sejuta pesona itu.
"Daddy percayakan semua padamu. Tunjukkan pada kami jika kau seorang Triatmodjo!"
Satrio terdiam, kegeniusan ayahnya banyak dipuji para pebisnis. Apa yang dilakukan Herman menyelamatkan perusahaan yang sudah nyaris sampai dasar lautan kembali bangkit dan berlayar di lautan lepas.
Bahkan kapal itu makin besar dan makin kuat hingga tak ada satupun perompak yang berani menghadangnya.
"Daddy?" Satrio masih ragu.
"Daddy percaya padamu. Papa Fabio dan Papa Pablo akan membantumu!"
Satrio menatap Fabio, pria itu mengangguk memastikan apa yang dikatakan atasannya itu benar.
"Tuan muda harus memperlihatkan diri. Ini sudah saatnya!" ujar pria itu memberi semangat.
"Bagaimana baby?" tanya Virgou.
"Tapi ... Petualangan Babies ...."
"Nanti papi Dav juga bantu kan?" tanya Satrio pada Dav.
Dav mengangguk, ia tentu akan membantu Satrio. Ia juga mau pemuda pintar itu maju.
"Papi pasti ada untuk kamu baby!' Satrio merengek manja.
"Ayo jangan manja!" sergah Virgou.
"Kau punya istri yang pastinya menunggumu pulang!" lanjutnya.
Satrio akhirnya ditinggal. Virgou menatap ponsel yang mengintai semua anak-anaknya.
"Astaga ... Mereka bisa keluar semua?"
Virgou sedikit kesal dengan para pengawal yang begitu lamban. Ia yakin Budiman dan Dahlan akan menghukum semua anak buahnya.
Di sekolah Samudera, anak-anak sangat gembira berhasil kabur dari pengawalan. Theo dan lainnya hanya tertinggal sepersekian detik saja dengan kaburnya anak-anak.
"Kenapa ketua tidak langsung mengabari kami jika anak-anak kabur!" seru Angga kesal.
"Kau memarahi aku!" teriak Theo tak terima.
"Bukan begitu!" decak Angga lagi.
"Ken kenapa nggak langsung lapor via handsfree?" tanya Dilo.
"Kamu pikir, apa bisa kami seperti itu ketika tau anak-anak lari dari kami?" tanya Ken kesal.
Semua pengawal diam, mereka akan sama paniknya dan tak tau harus apa.
"Ah tuan muda ... Kenapa mesti kabur ... Padahal tinggal bilang awasi dari jauh! Kami pasti akan melakukannya!" keluh Angga.
"Ye ... Itu sama saja mengawal!" seru Theo juga kesal.
"Ayo kita buru mereka, pasti belum jauh!" ujar Santoso menengahi.
Semua akhirnya bergerak. Tapi semua anak pun telah pergi jauh dari sekolah.
"Gimana kalo kita pulang tanpa pengawal kak?" sebuah ide terlintas dari Arfhan.
"Mama Terra pasti shock!" kekeh Bariana.
"Boleh juga tuh!' sahut Sean usil.
"Yuk ah pulang aja! Salim laper!" ujar Salim.
Akhirnya anak-anak naik angkutan umum. Pada bocah dipangku. Mereka mesti naik dua kali kendaraan umum.
Supir menatap para anak-anak yang berwajah tampan dan rupawan. Melihat semua anak yang berpakaian sederhana.
'Mereka pasti bukan orang miskin!' sebuah rencana jahat tiba-tiba muncul.
Kean ada di sisi supir. Pemuda itu menikmati semilir angin dan jalanan yang mereka lalui. Supir berbelok arah yang bukan jalannya.
'Mereka pasti tidak tau arah pulang!" seringainya jahat.
Kean yang di depan memperhatikan jalan yang berbeda. Ia memang selalu menggunakan mobil kemanapun. Tapi bukan berarti ia tidak tau jalan sama sekali.
"Eh ... bapak mau kemana ini?" tanyanya ketika melihat jalanan yang asing.
"Oh ini biasa kami lewat sini biar nggak dihadang sama temen-temen supir lain. Katanya ada demo minta kebaikan tarif angkutan!' jawab pria itu berbohong.
"Demo?" tanya Sean yang ada di belakang dekat pintu angkutan.
"Iya den. Tadi saya denger kalo temen-temen supir pada mau demo minta kebaikan tarif angkutan. Mereka akan maksa supir yang masih beroperasi untuk ikut demo," jawab pria itu.
"Kok nggak ada di berita?" tanya Sean yang melihat ponselnya.
"Ya nggak ada lah. Kan pastinya ditutupi sama perusahaan angkutan dan supir itu sendiri," kilah sang supir menjawab.
"Tapi ini jalanan kok sepertinya makin jauh dari tempat asal?" ujar Kean yang menyadari sesuatu.
"Udah den nggak usah bingung. Santai aja! Ntar juga nyampe kok!"
Kean adalah mafia, ia tau jika dirinya dalam bahaya. Sebenernya bisa saja ia menghajar supir itu. Tapi nyawa seluruh adiknya dalam ancaman.
Kendaraan itu tiba-tiba melajukan kecepatan tinggi. Kean makin yakin jika ada maksud jahat.
"Pak berhenti pak sebelum bapak menyesal!" suruh Kean mengancam.
"Tenang den ... Ini pasti seru!' ujar pria itu tertawa jahat.
"Pak!'
Kean hendak merebut kendali supir.
"Pegangan dan tutup pintunya!" teriak Kean.
Kendaraan oleng, semua anak berpegangan. Salim sedikit takut, tapi Arfhan menenangkan bocah itu.
"Berhenti saya bilang!" teriak Kean mencekik supir.
"Kak tarik rem tangan kak!" teriak Bomesh.
Kean menarik rem tangan. Bunyi decit ban terdengar hingga berasap. Mobil belum berhenti.
Kean menjulurkan kaki menginjak pedal rem. Akhirnya kendaraan berhenti tepat di depan sebuah mobil Jeep warna putih.
"Beraninya kamu mau mencelakai anak-anakku!" teriak Virgou marah.
"Daddy sabar, bapak ini sudah pingsan Kean cekik!" ujar Kean.
Supir kini ada di kantor polisi. Pria itu harus mendapat perawatan karena cekikan yang ia dapatkan.
"Apa kalian masih mau kabur lagi?" tanya Virgou gusar.
"Masih Daddy!" sahut Sky, Bomesh dan Arfhan paling semangat.
Bersambung.
Dah seru kan?
Next?