THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
SENIN SERU



Indah melaporkan dirinya jika telah menikah pada komite sekolah dan guru. Tentu hal itu membuat semua orang terkejut.


"Kamu nikah sama siapa?" tanya Leto tak percaya.


"Dengan Pak Marco, pengawal ananda Gino dan juga semua anak-anak Dougher Young!" jawab Indah tersenyum bahagia.


Kepala sekolah mengucap selamat pada perempuan yang sepertinya berbahagia itu.


"Selamat ya Bu Indah. Semoga pernikahannya samawa!"


"Makasih Bu!' ujar Indah tersenyum lebar.


Ia menatap Marco yang ada di luar pagar. Wanita itu sudah tau jika suaminya tengah bekerja maka seluruh perhatiannya pada pekerjaan.


"Tapi Pak Marco dingin sekali sama ibu. Ibu nggak lagi bercanda kan?" tanya Leto lagi masih tak percaya.


"Suami saya tengah bertugas menjadi pengawal. Maka prioritasnya adalah pekerjaan!" jawab Indah.


"Tapi masa nggak perhatian sama ibu. Kalo ada yang jahat sama ibu gimana?" tanya Leto begitu penasaran.


"Suami saya akan mengamankan anak-anak yang memang adalah prioritasnya. Saya yakin sekolah ini sangat aman dan saya tak punya musuh dengan siapapun! Jadi saya tidak akan diserang oleh orang jahat!" terang Indah panjang lebar.


Leto diam, pria yang menjadi guru seni itu memang tadinya menyukai Indah. Tetapi, rekan sekerjanya itu sama sekali tak merespon perasaannya.


"Dulu saya suka sama Bu Indah," akunya pelan.


"Tapi ibu nggak respon sama sekali," lanjutnya mengeluh.


"Apa pak?" Indah tak mendengar gumaman pria rekan sekerjanya.


"Ah, tidak apa-apa!" ujar Leto.


Pria itu menatap pria yang berdiri tegak di depan gerbang sekolah. Lalu pandangannya beralih pada Indah.


"...."


Bel istirahat berbunyi. Semua anak berhamburan keluar. Indah juga baru saja membagikan oleh-oleh yang ia bawa pada semua anak-anak.


"Makasih Bu guru!" seru semua anak kompak.


Deden masih belum mau bersinggungan dengan Gino. Entah kenapa bocah itu memusuhi Gino.


"Deden, kenapa kamu musuh sama Gino?" tanya Bella.


"Nggak suka sama anak yatim-piatu!" jawab Deden sinis.


"Jahat banget sih kamu! Kamu itu turunan Firaun ya!" sengit Bella.


"Kalo aku nggak suka emang kenapa? Kok kamu yang sewot!" sengit Deden balik.


"Udah biarin aja. Biar dia masuk neraka sendirian. Kan ibu bapaknya udah cere. Dia nggak ikut ibu atau bapaknya. Tapi ikut nenek!" sengit salah satu teman Gino memberitahu.


"Jadi dia anak apa ya?" ledek teman lainnya.


"Aku masih punya bapak sama ibu!" teriak Deden marah.


"Kalo punya kok mereka misah?" ledek temannya.


"Eh ... Maaf, cere itu apa sih?" tanya Gino yang tak tau apa yang dikatakan temannya.


"Kamu nggak tau cere?" Gino menggeleng.


"Baby!" Gino menoleh lalu ia tersenyum.


"Kak Ditya!" sapa semua teman Gino.


"Halo adik-adik. Kakak jemput Gino ya!" ujar Ditya.


Deden menatap Ditya penuh pemujaan. Lalu ia melirik Gino dengan sangat sinis.


"Assalamualaikum anak baik," Ditya menyapa Deden.


Bocah itu tak menjawab, ia hanya memandangi Ditya.


"Anak baik nggak boleh lama-lama marah. Nanti nggak ada yang sayang loh," bujuk Ditya.


"Tapi ...."


"Dek, sini Kakak bilangin ya. Gino ini teman kamu kan?" Deden enggan mengangguk.


"Dek?" Ditya menatap Deden.


Bocah dua belas tahun itu mengusap kelapa Deden penuh kasih sayang. Deden menangkap lengan itu dan mengusapkannya di pipi.


"Oh sayang, sini!" Ditya memeluk Deden.


Bocah delapan tahun itu menangis ketika dipeluk. Gino jadi ikutan menangis dan memeluk Deden. Semua anak ikut memeluk Ditya.


"Sudah ... Jagoan nggak boleh nangis!" perintah Ditya lalu mengusap semua jejak basah di pipi adik-adik kelasnya itu.


"Yuk keluar jajan!" ajak Ditya.


"Kakak jajanin?" tanya Tole dengan pandangan berbinar.


"Iya kakak yang jajanin!" angguk Ditya.


"Horee!" seru semua anak-anak.


Tak lama bel pulang sekolah pun tiba. Anak-anak bersorak dan langsung keluar. Indah juga membereskan semua peralatannya. Ia akan ikut mobil listrik anak-anak.


"Ayo Bu!' ajak Gino dengan mata berbinar.


Indah menggandeng anak didiknya. Wanita itu memang pulang sesuai kelas yang ia ajar.


"Ayo kakak!" seru Harun.


Gino berlari dan melepas genggamannya. Indah berseru agar bocah itu berhati-hati. Hingga ....


"Mama guru Indah!" seru semua anak.


Seorang pria bertopeng menekuk lengan dan menjepit lehernya. Marco mengepal tangan erat.


"Kita lihat, apa suamimu itu akan menolongmu?'' bisik pria di belakang Indah.


Perempuan itu sadar siapa yang hendak menyelakainya itu.


"Ketua?"


"Bawa anak-anak pergi!' perintah Marco.


Dana dan lainnya tentu kualahan menahan anak-anak yang berang. Gino melihat celah. Sky, Bomesh dan Arfhan langsung bergerak.


"Babies!" seru semua pengawal.


Gino melempar batu, Sky dan Bomesh juga Arfhan langsung melompat menyerang pria yang ada di belakang Indah.


Ditya menahan Harun dan Azha. Sedang Radit menahan Bariana. Arraya dan Arion ditahan oleh dua pengawal wanita.


Pria itu kini berada di dewan disiplin sekolah. Leto harus mempertanggungjawabkan semua kelakuannya.


"Saya hanya bercanda dengan Bu Indah," Marco nyaris menerjang pria itu jika saja sang istri tak menahannya.


"Kami akan laporkan Pak Leto ke polisi dengan tuduhan dugaan pelecehan dan kekerasan!" tukas Dahlan tegas.


"Pak, bisa dibicarakan dengan kepala dingin?" pinta kepala sekolah.


"Maaf Bu, ini sudah menyangkut nyawa orang lain!" tolak Dahlan tegas.


"Dia punya anak dan istri," bujuk kepala sekolah lagi.


"Justru itu. Saya tidak segan bertindak. Jika semua ditolerir, malah akan jadi kebiasaan!" kukuh Dahlan tegas.


Kepala sekolah tak dapat berkata-kata. Leto harus mempertanggungjawabkan semua kelakuannya. Pria itu menjalani wajib lapor. Bahkan dia harus rela pangkatnya sebagai golongan IV ditangguhkan. Ia juga harus pindah sekolah.


"Kamu nggak apa-apa sayang?" tanya Marco sedih ketika sudah di rumah.


"Tidak apa-apa sayang," ujar Indah menenangkan suaminya.


"Mama dulu ... Mama dulu!" pekik para bayi berbondong-bondong mendatangi kamar Marco.


Pria itu menghela nafas panjang. Indah tertawa melihat wajah frustrasi suaminya.


Marco membuka pintu sebelum puluhan perusuh itu mengadu pada monster yang semua pengawal takuti.


"Babies,"


Lima belas bayi langsung memenuhi kamar Marco. Zora, Ryo, Horizon, Hafsah dan Hasan ada di kasur Marco dan tiduran di sana.


"Mama dulu ... Mama pidat pa'a-pa'a?" tanya Aaima begitu khawatir.


"Mama tidak apa-apa sayang," jawab Indah tersenyum hatinya menghangat.


"Babies?!' Maria, Rahma mendatangi kamar Marco.


"Ommy ... Ommy Yoya inta utu!" ujar Zora.


"Babies Mama Rimbi udah lahiran loh!" ujar Rahma membuat semua bayi bersorak.


"Alhamdulillah!" seru Marco dan Indah bahagia.


Akhirnya semua anak dibawa keluar. Zora menolak dan minta tidur di sana. Luisa datang menjemput putrinya yang usil itu.


"Mama bawa Zora ya," ujarnya.


"Biar nggak apa-apa sih Nyonya," rengek Indah yang tak rela bayi cantik itu dibawa ibunya.


Luisa tersenyum, Zora melambaikan tangan ketika digendong sang ibu.


"Alhamdulillah ...," ujar Marco lega.


"Sayang ... Buat anak yuk!" ajaknya.


"Ih ... Sayang!" rengek Indah.


Lalu semua terjadi begitu panas di atas ranjang.


Bersambung.


panas ... Panas ... panas ... Yang jomblo panas!


Othor masih volos ya!


Next?