THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
KISAH LAIN



Gino masuk sekolah, banyak teman menyampaikan duka padanya.


"Jadi sekarang Gino nggak punya papa?" tanya salah satu teman kelasnya.


"Iya," jawab Gino tegar.


"Gino nggak punya papa! Gino nggak punya papa!" ledek salah satu anak.


"Gino yatim! Gino yatim!" ledek lainnya lagi.


"Anak-anak!" seru guru pada anak-anak yang ribut meledek Gino.


"Kenapa begitu? Kalian tau kalau anak yatim itu adalah anak yang paling disayang sama Rasulullah?!" seru sang guru mengingatkan.


Semua anak yang meledek Gino diam. Guru menyuruh semua anak untuk duduk dan belajar.


"Buka buku halaman empat puluh dua!" perintah guru itu.


"Iya Bu guru!" seru semua anak kompak.


Gino sama sekali tak bereaksi dengan ledekan teman-temannya. Bocah itu tetap tenang dan belajar giat.


Ketika jam istirahat tiba. Semua anak berhambur keluar, termasuk Gino.


"Jangan deketin anak yatim. Nanti kamu ketularan yatim loh!' seru salah satu bocah memprovokasi temannya.


"Duh kok kamu jadi oon ya? Mana ada ayah kita ikut-ikutan meninggal karena aku ngikutin Gino!' sengit salah satu bocah perempuan.


"Dih Bella ngebelain Gino nih yeee ... Bella pacar Gino!" ledek bocah yang memprovokasi tadi.


"Apan sih kamu!" sentak Gino mulai marah.


"Apa!" tentang bocah yang ukuran tubuhnya itu sama besar dengan Gino.


"Mau kamu apa!' bentak Gino.


"Dasar yatim!" ledek bocah itu.


"Memang kenapa aku yatim. Kamu iri ya?" sahut Gino balas meledek.


"Ngapain, bapak ibuku masih lengkap. Kamu? Udah nggak punya ibu, nggak ada bapak lagi!' sengit bocah itu.


"Siapa bilang aku nggak punya!" sahut Gino sinis.


"Aku punya banyak malahan. Kamu nggak punya bapak sama ibu banyak kayak aku!" lanjutnya bangga.


"Kamu itu diadopsi alias anak pungut! Makanya ibu sama bapak kamu banyak!" sahut bocah itu.


"Yeey mana ada. Mereka semua itu adalah saudara ibuku. Emang kamu nggak ada saudara!' sengit Gino lagi balas meledek.


"Kamu!" bocah itu mendorong bahu Gino.


Gino balas mendorong bocah itu dan langsung terjajar ke belakang. Tentu saja, Gino telah dilatih tenaganya.


"Huuwaaaa!" pekik bocah itu menangis.


"Heh ... kenapa itu?!" seru guru yang melihat dua anak berseteru.


Harun dan saudaranya yang lain tidak tau jika kakak mereka tengah berargumen dengan teman sekelasnya.


"Eh ... Kok ribut-ribut di kelas Kak Gino?" tanya Titis.


"Biar kulihat!' ujar Salim lalu bergerak melihat apa yang terjadi.


"Gino dorong saya Bu ... Padahal saya nggak ngapa-ngapain!" adu bocah yang terjajar.


Bocah itu pura-pura jatuh ketika melihat pergerakan orang dewasa. Beberapa teman Gino yang melihat hanya diam, termasuk bocah perempuan yang tadi membelanya.


"Benar gitu Gino?" tanya Bu guru.


'Bohong Bu! Dia dorong saya duluan, saya balas!" jawab Gino.


"Bohong Bu!" sahut bocah itu mengelap ingus dan air matanya.


"Di sini ada kemera pengintai. Jadi ibu bisa lihat mana yang bohong dan mana yang tidak, bukan?" ujar Gino lagi.


Guru itu menghela nafas panjang. Ia sangat tau muridnya yang tengah berbohong itu memang suka sekali mengatai Gino.


"Ayo Deden, berdiri!" suruh guru itu.


Murid kelas dua itu berdiri. Deden murid paling bengal di kelas. Ia biang keributan. Anak yang duduk paling belakang, selalu usil dengan teman-teman perempuannya.


"Kenapa kamu bohong Den?" tanya Bu guru lembut.


Deden menunduk, ia tentu tak bisa berkelit jika dirinya berbohong.


"Saya nggak suka anak yatim bu!" akunya jujur.


"Kenapa? Apa masalahnya dengan anak yatim?" tanya guru itu lagi.


Deden tak menjawab, ia memalingkan muka dengan air mata meleleh. Bu guru mengusap kepala Deden.


"Gino maafkan Deden ya. Kamu keluar sana, makan bekalmu!" perintah guru.


"Iya Bu," angguk Gino menurut.


"Kakak nggak apa-apa?" tanya Salim lalu menggandeng lengan Gino.


"Nggak apa-apa," jawab Gino.


Salim membawa Gino ke kumpulan saudaranya yang lain. Sky, Bomesh, Arfhan sudah ada di sana.


"Baby, kamu kenapa?" tanya Sky.


"Nggak apa-apa. Hanya masalah ejekan anak-anak," jawab Gino dewasa.


"Ya udah, yuk makan!" ajak Arraya.


Semua duduk di pinggir teras sekolah sambil memakan bekal mereka.


Tak lama, jam pulang sekolah pun berbunyi. Anak-anak bersorak. Sabtu besok para guru meliburkan kelas, karena mereka akan pergi ke komite antar guru se Indonesia.


"Besok libur! Yang nggak punya ayah nggak bisa jalan-jalan!" ledek Deden lagi pada Gino.


"Deden! Kamu selalu ngomong gitu ke Gino. Padahal ayah dan ibu kamu kan lagi mau bercerai!' lagi-lagi teman perempuan Gino membelanya.


"Cerai?" gumam Gino.


"Baby!' Ditya masuk dalam kelas.


Semua anak diam, Ditya menatap semua anak-anak, dan melempar senyum pada mereka.


"Halo adik-adik! Kakak jemput Gino ya!" ujar Ditya.


Gino tersenyum lebar. Ditya merentangkan tangan. Gino langsung menyambutnya. Keduanya bergandengan tangan.


Ditya dan Gino keluar, semua anak kelas dua saling pandang.


"Andai aku punya kakak seperti Kak Ditya," gumam salah satu anak.


Sampai di luar kelas. Gino bertemu dengan seluruh keluarganya. Marco telah menyusul mereka.


"Kita nggak kabur dari pengawalan?" tanyanya dengan senyum lebar.


"Ih, baby!" sengit Sky kesal.


"Ayo pulang Babies, orang tua kalian pasti sudah tak sabar. Jumatan juga sebentar lagi mulai!" ajak Marco.


Indah keluar ruang guru. Gadis itu menatap pria yang sering mengganggu mimpinya.


"Pulang pak!" sapanya ramah.


Marco tak menoleh sedikitpun. Baginya keberadaan anak-anak lebih penting dari apapun. Salim dan Titis saling menyenggol.


"Ih papa Marco kok sombong?" bisik Titis.


"Nggak tau," jawab Salim juga berbisik.


"Padahal Bu Indah nyapa loh," bisik Titis lagi.


Indah yang tak dibalas sapaannya hanya bisa diam. Gadis itu mengelus dadanya yang nyeri.


'Gini ya, rasanya cinta bertepuk sebelah tangan?' gumamnya dalam hati.


Indah menggeleng pelan. Ia pun gegas menuju motor matic besarnya. Marco melirik keberadaan gadis berseragam khusus pegawai negeri itu.


'Tomboy juga walau berhijab,' gumam pria itu.


"Pa nanti mampir beli peralatan lukis ya pa!" pinta Salim.


"Oh iya, kita ada tugas melukis ya!" seru Harun sebal.


"Eh ... Kok gitu nadanya?" tegur Ditya.


"Yah, kita nggak bisa main kak!" rengek Harun kesal.


"Sudah, sudah ... Ayo pegangan semua!" seru Marco pada anak-anak.


"Nanti papa belikan sendiri tanpa harus mampir!" lanjutnya yang langsung direspon keluhan semua anak-anak.


Indah sampai pada sebuah bangunan sederhana. Hunian yang ia cicil selama tujuh tahun mengabdi sebagai guru.


"Tiga tahun lagi. Udah punya rumah sendiri!" ujarnya penuh rasa syukur.


Setelah memasukkan motornya ke garasi. Ia menggembok pagar dan masuk dalam huniannya.


Drrrrttt! Drrrrttt!


Indah menghela nafas berat. Ia hanya menatap layar ponselnya di sana. Tulisan "Ibu" ada di layar.


"Assalamualaikum Bu!" sahut Indah menerima panggilan telepon.


"Ndah ... Coba kamu transfer mas mu sepuluh juta! Dia lagi butuh modal!"


Sebuah perintah yang harus dituruti Indah ....


"Maaf Bu, Indah nggak bisa!" tolak Indah.


"Jangan jadi anak durhaka kamu ...."


Indah segera mematikan sambungan teleponnya. Ia menutup matanya.


Dering telepon terus berbunyi memekakkan telinga. Wanita yang melahirkannya itu sama sekali tak memperdulikan kabarnya.


"Maaf Bu ... Sudah cukup Indah menuruti ibu selama ini. Kali ini, maaf. Tidak lagi!" ujarnya lalu mematikan ponselnya.


bersambung.


Eh ... Ada kisah lain?


next?