THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
HEBOH TERUS



Seluruh bayi kini berenang di kolam milik Dominic. Tiga putranya menaiki seluncuran dan meluncur dari sana.


Byur! Bunyi air ketika anak-anak masuk ke dalamnya. Gelak tawa tercipta. Aarick, Sena dan Alva begitu bahagia bersama seluruh saudaranya.


"Antel teusil ... Atuh judha bawu lunsulan!" ujar Firman.


"Poleh don ... Antel tan dan peyit!' angguk Sena membolehkan Firman meluncur.


"Pati ati-ati ya!' peringatnya kemudian.


Para pengawal hanya mengawasi saja. Selain memang kolamnya tak dalam. Semua anak juga sudah jago berenang.


"Babies ... Udahan dulu berenangnya. Mama Nai udah siapin minuman hangat nih!" seru Nai.


Karena mendengar minuman. Hanya beberapa bayi yang bergerak. Arsh menolak naik karena belum meluncur.


"Apan Baji Baby Alsh peulum lunsunan!" pekik bayi itu marah pada Exel.


"Iya, tapi jangan kepala yang di bawah baby," ujar Exel memberitahu.


"Atuh bawu tepala pulu yan basut tolam!" teriak Arsh bersikukuh.


"Baby!' peringat Widya.


"Jangan melawan orang tua!" lanjutnya menatap putranya yang nakal itu.


Arsh cemberut, bayi itu akhirnya duduk dan meluncur ke bawah. Exel mengelus dadanya, ia harus lebih bersabar menghadapi semua bayi itu.


"Baby ... Mami bikin mie ayam nih!" seru Seruni.


Para bayi akhirnya baru mau keluar dari kolam. Semua ibu mengeringkan bayi-bayi gembul itu.


"Yayamna pate samul pidat mami?" tanya Aaima.


"Murni semua ayam baby!" jawab Seruni.


"Asit ... Basti matanan Mami nenat!" ujar Rinjani senang.


"Makasih baby," ujar Seruni tersenyum bahagia.


Usai makan semua anak mandi dan memakai pakaian mereka. Kakak-kakak mereka pulang sekolah. Semua disuguhi makanan yang sama.


'Udah itu bobo ya!" perintah Terra.


"Biya netnet!" seru semua bayi.


"Ah ... Atuh pandhil mama Ata' seutalan pambah netnet!" seru Zaa.


"Sadhi badhaipana ipu mandhilna?" tanya Arsyad dengan kening berkerut.


"Ata' mama netnet Teya!" jawab Zaa sangat yakin.


Terra berdecak mendengarnya. Wanita itu mencium adik bayinya hingga tergelak.


"Jadi kalau kamu Baby nenek?" tanya Terra gemas.


"Baby benma!' seru Chira tercerahkan.


"Wah ... Badhus! Atuh pipandhil Baby Benpa!" ujar Aarav.


"Atuh judha bawu!" seru triple Starlight.


"Ayo bobo semua!' seru Rahma mulai galak.


"Mumi dalat," bisik Meghan sang putra.


Rahma gemas dengan putranya itu. Ia pun mengejar semua bayi hingga mereka berlarian sambil tergelak.


"Ambun mumi!" pekik Nisa yang tertangkap.


"Umi cium keteknya ... Uhhh ... Kok asem sih?" ujar Rahma mencium ketiak Nisa.


"Pasa syih mi?" tanya Nisa tak percaya.


Bayi itu mencium ketiaknya sendiri. Ia juga langsung mengernyitkan kening.


"Pawu selut mumi ... Sasem!" ujarnya.


"Nggak baby, kamu wangi ... Umi hanya bercanda tadi," ujar Rahma meralat ucapannya.


"Sadhi ndat sasem?" tanya Nisa memastikan.


"Nggak, kamu sangat wangi sayang," jawab Rahma.


Semua bayi dan anak-anak tidur. Seruni dan Rosa juga diminta istirahat.


"Kalian tengah hamil muda. Sebaiknya banyak beristirahat!' suruh Khasya.


"Baik bunda," ujar kedua wanita itu menurut.


Semua tidur siang, Khasya dan lainnya juga memilih istirahat dan membiarkan sisa pekerjaan dibersihkan para maid.


"Bun," panggil Terra.


"Ya sayang," sahut Khasya.


"Katanya Bunda mau memperkejakan Rini, ibu yang menyelamatkan kakak waktu itu?" tanya Terra.


"Kakak pasti kasih modal ya Bun!' terka Terra.


"Iya, benar sekali!" jawab Khasya.


"Kakakmu itu memang luar biasa sayang. Dia tau jika uang tidak cukup untuk membalas budi dari wanita itu," jelas Khasya.


"Kakakmu menyuruh Lerroy menikahi Rini," lanjutnya mencebik kesal.


"Apa?" Terra tak percaya.


"Dan Lerroy mau menikahi Rini," ujar Khasya lagi.


"Papa Lerroy mau menikahi Ibu Rini atas dasar apa Bun?" tanya Terra.


"Budi dibalas budi sayang. Lerroy berhutang nyawa pada Virgou. Maka ia mau menikahi Rini untuk membayar budi itu!' jawab Khasya.


"Bu Rini pasti nolak kan?" ujar Terra tersenyum.


"Itu yang kami pikirkan selama ini. Tapi nyatanya ...," Khasya menggeleng untuk melanjutkan perkataannya.


Terra diam, ia tak percaya. Dirinya sedikit mengenal siapa Lerroy. Pria dingin yang usilnya sama dengan para perusuh paling junior itu.


"Jadi kapan mereka menikah Bun?" tanya Terra.


"Satu minggu lagi. Mereka menikah secara sederhana, Rini memintanya demikian," jawab Khasya.


Sementara itu, di hunian kecil milik Rini. Lerroy bertandang. Pria keturunan Ambon-Makasar itu memang seorang duda cerai mati.


Istri Lerroy meninggal ketika melahirkan. Putranya juga ikut sang ibu ke alam baka setelah dua jam dilahirkan.


Lerroy putus asa, perusahaan yang ia bangun hancur seketika karena kesalahannya. Ia menyerahkan secara cuma-cuma pada sahabatnya yang ternyata menipunya mentah-mentah.


Virgou menyelamatkan pria itu ketika diterjunkan dari tebing. Pria dengan sejuta pesona itu menembaki orang yang hendak membunuh Lerroy.


"Dik," panggilnya pada Rini.


Wanita itu menoleh, ia langsung menunduk ketika ditatap sedemikian rupa oleh pria tampan di depannya.


"Ini berkas-berkasnya. Kita bisa nikah minggu ini juga," ujar Lerroy menyerahkan amplop coklat besar.


"Mas ... Apa benar ini harus kita lakukan?" tanyanya lirih ketika menerima berkas itu.


"Kenapa? Kau ragu?" tanya Lerroy.


Rini menatap pria di depannya. Bukan pandangan keraguan yang didapat Lerroy. Tapi sinar ketakutan dan cemas.


"Jangan khawatir dik, aku sudah berjanji maka akan kutepati janji itu!" ujar Lerroy tegas.


Rini menitikkan air mata, ia tak percaya bisa memiliki rasa bahagia lagi setelah kepergian suami pertamanya.


Lerroy memeluk Rini, ia juga tak menyangka mau menerima perjodohan yang diberikan padanya oleh Virgou.


"Bu!' keduanya melepaskan pelukannya.


Rana tersenyum melihat keduanya yang tersipu. Gadis itu senang melihat rona bahagia di pipi sang ibu.


"Nak duduklah!" perintah Lerroy.


Rana duduk bersama ibunya. Gadis itu menatap pria yang sebentar lagi akan jadi ayah sambungnya.


"Papa ingin kau belajar serius mulai sekarang nak!" perintah Lerroy menatap calon anak sambungnya.


"Siap papa!" angguk Rana.


"Papa sangat tegas dalam hal apapun. Kamu harus jadi wanita mandiri. Bukan maksud papa agar kau tak bermanja pada kami. Tapi kamu sudah dewasa. Papa harap kamu mengerti itu nak!" papar Lerroy menatap gadis manis di depannya.


"Iya papa," angguk Rana tegas.


"Papa akan memanjakan mu nak, jangan khawatir itu. Papa sayang sama kamu seperti anak papa sendiri,' ujar Lerroy menyenangkan hati Rana.


"Rana percaya pa!" angguk gadis itu.


Kembali ke hunian besar Dominic. Semua perusuh kembali bermain, mereka merusak rumput sintetis milik pria bermanik biru itu.


"Baby," Widya mengeluh melihat kelakuan semua anak-anak.


"Paypi Ata' Teyan yan lusatin papa!" adu Alva sang putra pada ayahnya.


"Iya sayang nggak apa-apa, nanti bisa dibenerin kok!" jawab Dominic tersenyum.


"Ata' tena!" seru Arsh yang memegang tangan Sean.


"Baby ... Kakak kan di tim kamu!" sengit Sean kesal.


"Ah ... Pasa?' tanya Arsh tak percaya.


"Ya pudah ... sadhi wawan apan Baji Baby Alsh laja!' sengit Arsh tak mau disalahkan.


Bersambung


Atur deh Abang haji Baby Arsh ... Mana ada tim jadi lawan? 😁🤭


selamat papa Lerroy!


Next?