THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
MENGIKUTI



Pagi yang cerah, Arraya kembali bersekolah. Gadis itu tetap ceria, tak ada tanda ia sakit seperti kemarin.


"Aya!" Titis kesal karena selalu digoda oleh sahabatnya itu.


"Hehehe ... Maaf ya, habis kamu polos banget!" ujar Arraya minta maaf.


Titis tersenyum, ia memang sedikit kesal dengan kelakuan Arraya yang suka sekali menghapus tulisan di bukunya itu.


"Gantian aja, kamu hapus tulisan Aya!" suruh Bariana yang juga kesal dengan ulah suadaranya itu.


"Ih ... Nggak lah. Aku nggak Aya kesel juga!" tolak Titis.


"Tuh, Ya. Titis aja nggak enak mau ngusilin kamu!" ujar Harun memberi pengertian pada Arraya.


"Maaf," ujar Arraya menyesal.


"Udah, yuk keluar. Mumpung istirahat agak lama nih!" ajak Azha.


Mereka keluar, ternyata, Gino, Sky, Bomesh, Arfhan, Radit dan Ditya juga sudah jam istirahat.


"Tumben jam istirahatnya sama?" tanya Salim pada Bomesh.


"Gurunya rapat jadi kita keluar deh," jawab Bomesh.


"Kak, lapar makan yuk!" ajak Radit pada kakaknya, Ditya.


"Ayo makan!" angguk Ditya.


Mereka memilih duduk di pinggir teras sekolah dekat taman. Gino ingin membantu Salim karena bocah itu masih belum bisa pakai sendok.


"Sini biar kakak yang suapin Salim!" ujar Ditya.


Ditya mengambil kotak makan Salim dan mencampur dengan kotak makannya. Mereka pun makan berdua, dengan Ditya yang menyuapi Salim.


"Kak mau disuapin juga sih!" pinta Arfhan pada Ditya.


"Nih aaa!" Ditya menyulang sendok ke mulut Arfhan.


Akhirnya semua saling suap. Makanan habis, Arraya menoleh arah gudang dekat rumah kecil Mang Kusni.


"Baby!" Ditya sudah tau apa yang terjadi pada gadis kecil itu.


"Eh .. Ya?" Arraya menoleh.


"Jangan diladenin, dia akan terus mengganggu jika kamu menanggapi!" larang Ditya.


Arraya hanya menatap Ditya dengan pandangan berkaca-kaca. Bariana yang kesal jadi penasaran dengan sosok yang dilihat Arraya.


"Kita samperin yuk!" ajaknya.


"Kamu tunjukin Aya!" lanjutnya lalu menggandeng tangan Arraya.


"Baby!" peringat Ditya.


Kotak makan ditinggal begitu saja. Mereka malah mengikuti langkah Bariana dan Arraya.


"Dia namanya Amara," jelas Arraya.


Wanita berambut panjang dengan wajah hancur tampak berdiri di belakang tiang kayu. Ditya menarik Arraya untuk menjauh dari sana.


"Baby, jangan dekat-dekat!" ujarnya.


"Kak, kita harus cari mayat bayinya yang dirampas dan dibuang!" ujar Arraya.


Ditya menatap semua adiknya yang sepertinya antusias dengan petualangan kali ini.


"Kita taruh dulu kotak makan kita yuk!" ujar Ditya pada akhirnya.


Semua tersenyum, lalu dengan langkah cepat. Mereka mengambil kotak makan dan menaruhnya dalam tas mereka.


"Anak-anak kalian yang mau pulang cepat boleh pulang. Tapi yang nggak mau juga boleh tinggal ya!" ujar guru yang disambut sorak-sorai semua murid.


"Kita ke kak Ditya yuk!" ajak Salim.


"Nggak kita-kita aja yang pergi?" ujar Bariana.


"Sama Kak Ditya ah. Aya rasa kak Ditya bisa diandalkan deh!" ujar Arraya.


Ternyata Ditya juga diperbolehkan pulang jika ingin. Tentu saja seluruh murid memilih pulang cepat.


"Kak!" panggil Arraya ketika melihat Ditya keluar kelas.


"Semua siap?" tanya bocah dua belas tahun itu.


"Maaf ka Titis pulang ya," ujar Titis takut.


"Ya sudah tidak apa-apa Tis. Hati-hati di jalan ya!' ujar Ditya.


Titis pun pulang. Ditya menghitung semua adik-adiknya.


"Yang terpenting adalah kalian tidak boleh lepas dari gandengan tangan!" perintahnya memberi peringatan.


Ditya yang tak yakin jika adik-adiknya bisa menurut mencari sesuatu untuk mengikat mereka.


"Ah ... tali!' ujarnya melihat tali plastik panjang.


"Kakak ikat kalian dengan ini ya!" ujarnya.


Ditya mengikat tangan satu persatu Tangan Arraya ia ikat dengan lengannya sendiri, lalu bersambung hingga terakhir Bomesh.


"Kalian harus berada di belakang kakak!" perintah Ditya lagi.


"Iya kak!" sahut semuanya menurut.


"Bismillahirrahmanirrahim!" Ditya mengembuskan napas dari mulut.


Mereka berjalan menuju gudang, suasana mendadak tegang. Hari masih terlalu pagi untuk suasana seram.


Semua mulai menempel pada Ditya. Arraya yang melihat bagaimana wujud perempuan itu langsung menunjuk.


"Kak, dia di sana!"


"Tetap di belakang kakak dek!' perintah Ditya.


Arraya bersembunyi di belakang Ditya. Tubuh bocah itu memang kini besar dan hampir sama dengan Bomesh.


Sementara di perusahaan, Virgou yang melihat pergerakan semua anak jadi pusing sendiri.


"Baby, kamu di sini bantuin Papi Dav ya!' perintahnya pada Satrio.


"Daddy mau kemana?" tanya Satrio cemas.


"Daddy mau menolong adik-adikmu!'


"Ikut!"


"Baby!"


"Nggak mau! Pokoknya harus ikut!" ujar Satrio bersikeras.


"Aku juga ikut. Di sana juga semua adalah anak-anakku!" ujar Dav.


Gomesh di sana tentu tak mau ditinggal. Fabio dan Pablo yang paling pasrah menerima setumpuk pekerjaan yang ditinggalkan oleh atasannya.


"Nasib pekerja ya gini!" keluh Fabio.


"Dah ... Terima nasib. Demi lahiran anak-anak kita!" ujar Pablo memberi semangat.


Mobil Jeep milik Virgou berhenti di depan gerbang. Kedatangan mobil itu tentu membuat kaget semua pengawal.


Alma sudah tidak ada di satuan itu. Laporan Nai, ditanggapi langsung oleh Gomesh dan memindahkannya ke keluarga lain.


"Ketua?"


"Kalian ikut!" ajak Virgou.


Empat pria yang menjaga, Harun, Azha, Bariana, Salim, Arraya, Gino, Arion, Bomesh, Ditya Radit dan Sky.


Semua masuk ke dalam sekolah. Para guru tentu heran dengan kedatangan pria dengan sejuta pesona itu.


"Selamat pagi Pak, ada apa nih datang ke sekolah?" tanyanya seorang guru.


Virgou diam dengan wajah tegang. Untuk pertama kalinya adrenalinnya naik.


"Baby?" semua anak menoleh.


"Daddy!'


Wush! Sebuah dorongan besar menolak kuat kedatangan Virgou dan semuanya.


"Baby!"


"Daddy!"


Sementara itu di perusahaan Herman. Pria itu mulai gelisah sendiri. Ia meninggalkan pekerjaan di tangan Kean.


"Ayah ikut!" teriak Kean lalu menaruh semua berkas di meja.


Di kediaman Terra. Wanita itu tak berhenti gelisah. Maria dan lainnya juga sama. Entah kenapa mereka melihat jam yang ditempel di dinding.


"Mereka tidak apa-apa kan?" tanya Maria cemas.


"Kak ... ini masih pagi!" ujar Terra yang juga sama cemasnya.


Kembali ke sekolah, Herman datang dengan setengah berlari, Kean mengejarnya. Para guru lagi-lagi terheran-heran.


"Ada apa sih?" tanya kepala sekolah penasaran.


"Boy!" panggil Herman.


"Daddy!" panggil Kean.


Wush! Angin makin kencang datang. Kean melindungi matanya dengan lengan.


"Berdiri di belakang ayah baby!' perintah Herman.


Di depannya, sebelas anak sedang ditarik paksa oleh dimensi lain. Virgou dan lainnya kesulitan meraih anak-anak.


"Hanya kekuatan Allah yang bisa mengendalikan semuanya!"


"Tidak!" teriak makhluk-makhluk terdengar mengerikan.


Herman melangkah maju menarik Virgou. Pria dengan sejuta pesona itu berlindung di balik tubuh kecil pria yang paling ditakuti di sana.


"Kakek!" teriak Arraya.


"Baby, pegang tangan Kakek!" perintah Herman lalu mengulurkan tangannya.


Semua hendak meraih tangan Herman. Tapi tubuh Arraya seperti ditarik kebelakang. Ditya yang ada di sana melepas cengkraman tangan dan meraih tubuh Arraya. Akibat tali yang saling diikatkan. Seluruh anak tertarik ke belakang.


"Demi Allah, akan kuhancurkan siapapun yang melukai keturunanku!" teriak Herman marah besar.


"Allahuakbar!"


Blarr! Aaaarrrggghhh!


Bersambung.


Eh 😱


next?