THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
SEKOLAH LAGI



Hari yang dinanti tiba. Waktunya anak-anak sekolah. Salim jadi anggota baru dari angkatan Harun, Azha, Arraya, Arion dan Bariana.


"Senin baru sekolah lagi. Aku udah nggak sabaran tau!" ujar Harun.


Tak menyangka mereka sudah naik kelas dua SD. Salim tampak kikuk. Ia yang biasa sendirian kini harus bersama saudaranya yang banyak itu.


"Salim nanti duduk sama aku aja!" ujar Arion.


"Iya, biar aku duduk sama Bariana!" sahut Arraya antusias.


"Alhamdulillah, akhirnya aku nggak duduk sama orang lain lagi!" ujar Bariana enteng mengucap kata pertamanya.


"Bar ...," panggil Harun.


"Ya," sahut Bariana.


"Bar maaf. Bukan aku bermaksud melarang kamu mengucap hamdalah. Tapi, aku nggak enak sama papa dan mommy. Nanti dipikiran mereka, kami menghasut kamu untuk join ke agama kami," jelas Harun tak enak.


Bariana diam, ia memang suka kelepasan ucapan. Entah itu basmalah, hamdalah bahkan istighfar.


"Tidak masalah sayang. Mommy nggak akan marah kok. Semua doa itu baik, jika Baby rasa doa itu bagus. Maka ucapkanlah secara tulus!' sahut Maria.


"Tuh kan, mommy aja nggak masalah kok!" sahut Bariana santai.


Harun pun diam, bukan maksud ia melarang Bariana. Tapi ia hanya ingin menjaga perasaan kedua orang tua saudaranya itu. Harun sangat menyayangi Maria dan Gomesh.


"Kita nanti duduk paling depan ya!" ajak Arraya.


"Tentu dong. Kan ada empat meja di depan. Nah dua lagi di belakang siapa?" tanya Azha.


"Aku dan Salim deh!" sahut Arion.


"Salim pendek, nanti dia nggak keliatan di belakang!' ujar Arraya.


"Eh, emang bisa terus-terusan duduk di depan?" tanya Salim, "nggak muter gitu duduknya?"


"Maksudnya giliran?" tanya Azha balik.


"Iya jadi kita nggak melulu di depan. Jadi satu minggu tempat duduk kita digilir gitu!" jawab Salim.


"Wah ... Nggak fokus dong kalau kita duduk kek gitu. Kita harus beradaptasi sama tempat. Aku bakal nolak kalau disuruh gitu!" pungkas Harun langsung menolak.


"Iya kita demo ah kalo diputer gitu!" sahut Bariana juga keberatan.


"Itu di sekolahku dulu gitu. Kata guru sih alasannya biar yang dibelakang juga bisa merasakan duduk dan fokus di depan, sama biar yang biasa rame di belakang jadi diam karena duduk di depan," jelas Salim.


"Ngaruh nggak?" tanya Arraya.


"Nggak tau. Aku duduk selalu kena di tengah. Nggak pernah di depan," ujar Salim.


"Masuk peringkat?" Salim menggeleng.


"Yang penting naik kelas aja," jawabnya.


"Aku sekolah cuma biar bisa baca tulis sama nggak dibodohin orang aja," lanjutnya.


"Lah kamu dagang kresek trus setoran limpulrib, apa nggak dibodohin orang?" sahut Bariana.


Bariana memang terkesan blak-blakan. Gadis kecil itu memang tak pernah tau jika ucapannya bisa menyakiti hati orang karena ia terlalu berterus terang.


"Baby!" peringat Maria.


"Loh, emang salah Mom? Kan Salim jawab biar nggak dibodohi ...."


"Dia bukan dibodohi tapi bisa dibilang diperas dan dimanfaatkan oleh oknum orang dewasa!" jelas Harun membela Salim.


Percakapan mereka tentu didengar semua balita dan batita juga bayi sembilan bulan. Mereka menelan mentah-mentah percakapan itu.


"Ata', Ata'!" panggil Sabila pada kakaknya Arsyad.


"Pa'a Paypi?" sahut Arsyad.


Nabila menaikkan kakinya di kaki sang kakak. Arsyad memijat kaki adiknya itu.


"Ata' au olah-olah udud uten-uten pi susli?" tanya Sabila.


"Eundat bawu lah!" jawab Arsyad.


Tangan kecilnya masih memijit kaki adiknya. Nabila tampak menyender pada Maryam.


"Witu ata Ata' yan lolalah ilan dithu!' ujarnya.


"Wah ... halus blostes mama ipu dulu!" ujar Arsyad.


"Tuh sudha ndat au talo dudut muten-muten!" sahut Al Bara.


"Biya ... pa'a lepala pita pisa bepas!" sahut Zaa.


"Ata' Lalim tatana setolah piyan ndat sadhi wowan dodoh. Suma bawu pisa pulis pama caca butu!" sahut Izzat.


"Pati atuh peusanalan ...."


"Peunasalan Paypi!" ralat Maryam.


"Ipu batsutna! Atuh peunasalan wowan paa yan pisa pelas-pelas Ata' Slalim?" lanjut Zizam kini.


"Belas?" sahut Faza dengan mata bulat.


"Belas puwat matan pita, butan belas baby!" jawab Alia akhirnya bersuara.


"Holeee Ata' Yiya dada susalana!" seru Faza bertepuk tangan.


"Sadhi batsut pelas pa'a Ata'?" tanya Izzat.


"Euuummm ... pa'a ya, soba tanya Ata' Filman!" tunjuknya pada kakaknya yang baru berusia lima tahun besok hari.


Firman yang ditunjuk malah menoleh pada kakaknya Della. Gadis kecil itu hendak membuka suara, tetapi.


"Apan Baji Baby Alsh pahu!" seru Arsh.


Semua orang harus memanggilnya Abang haji Baby Arsh. Jika tidak, maka akan berurusan dengan bayi itu sendiri atau Virgou yang akan melotot pada orang yang enggan memanggilnya demikian.


"Pa'a Apan?" tanya Zizam.


"Pelas batsutna Ata' Hayun ipu ain susu!" jawabnya.


"Ain susu?" semua bayi membesar matanya.


"Bukan baby!" sahut Della.


"Pelas disyini maksudnya, Kak Salim itu dilampok atau dikendalikan oleh olang dewasa. Jadi Kak Salim diludakpaksa oleh olang dewasa yang tidak beltanggung jawab," jelasnya.


"Ata' Yiya Zaza lelelasmu!" ujar Faza pada Alia.


"Bukan begitu juga baby," ujar Della lagi.


"Tapi sepelti Kak Salim halus membelikan apapun yang dimaui Olang dewasa," lanjutnya menjelaskan.


"Ata' ... Teunapa Alsh melasa pumi beulputal?" ujar Arsh tiba-tiba oleng.


"Baby!" semua tentu khawatir.


"Baby kenapa sayang?" tanya Gabe.


"Alsh pusin Addy!" keluh Arsh.


"Pusing kenapa Baby?" tanya Haidar gemas. Pria itu sangat tahu apa jawaban bayi berusia dua tahun itu.


"Apan Baji baby Alsh pusin meundenaltan sawapan Ata' Della. Beultataana muten-muten Addy!" keluh Arsh.


Dave berdecak mendengar perkataan keponakannya yang paling bossy itu.


Usai makan, semua anak tidur siang di kamar mereka. Salim kembali tidur dan memeluk Arfhan.


Arfhan sudah seperti kakak bagi Salim. Bukan hanya Arfhan tapi semua yang lebih tua darinya sudah ia anggap kakak.


Mata Salim masih menyala, ia belum tidur. Arfhan berbalik tubuh membelakanginya.


Salim menitikkan air matanya. Sekelebat bayangan ibu yang tersenyum bahagia.


"Bu ... Waktu ibu nggak ada kemarin, Salim sempat bingung," gumamnya lirih.


"Salim bingung, siapa yang jaga Salim. Siapa yang peluk Salim, siapa yang cium Salim," lanjutnya dengan air meleleh dari sudut matanya.


"Ibu liat Bu,"


"Doa ibu terijabah. Ibu dulu doa, akan banyak yang peluk Salim, akan banyak yang cium Salim ... Hiks!"


"Salim kira, Salim akan ditaruh di panti asuhan. Tapi siapa sangka Salim benar-benar mendapat semuanya di sini!"


Arfhan berbalik tiba-tiba dengan mata terbuka. Ia melihat Salim dengan mata basah. Perlahan Arfhan mengusap mata adik barunya itu.


"Kangen ibu ya?" Salim mengangguk.


"Kakak juga kangen, tapi Allah lebih sayang ibu dari kakak," lanjutnya.


"Kakak juga udah nggak punya ibu?" Arfhan mengangguk.


"Kakak juga nggak punya bapak," jawabnya kemudian.


"Pernah kakak mikir gini. Kenapa Allah mengambil lebih dulu orang tua kakak dibanding kakak yang masih kecil, kenapa Allah nggak adil banget ...."


Salim diam, ia mendengarkan apa kata pria kecil di depannya.


"Tapi setelah kakak diambil anak sama Daddy Vir. Kakak jadi tau jawabannya," lanjutnya dengan helaan nafas panjang.


"Apa kak?" tanya Salim.


"Allah mengambil apa yang kita cintai dan menggantinya yang lebih baik dan sangat mencintai kita," jawab Arfhan.


"Bukan karena orang tua tak baik kalau tetap hidup. Tapi, semua yang terjadi pada hidup kita sudah ada yang mengatur dan itu tertulis di lauhul Mahfudz," jelasnya lagi panjang lebar.


"Kakak sayang Salim seperti kakak sayang sama yang lain nggak?" tanya Salim takut-takut.


"Tentu saja!" jawab Arfhan tegas.


"Kami sayang kamu. Kamu sudah bagian dari kami. Jadi jangan pernah ragukan itu, oteh!"


Salim tersenyum, Arfhan memeluknya dengan hangat. Mereka kini tertidur. Virgou masuk dan menatap semua anaknya. Lalu pandangannya tertuju pada Salim dan Arfhan.


Ia mengecup semua kening anak-anak termasuk Salim. Mata bocah itu terbuka.


"Daddy, sayang Salim?"


"Tentu sayang, Daddy sayang sama Salim!" jawab Virgou tegas.


Salim tersenyum, lalu menutup mata dan ia terlelap dalam mimpi yang indah. Ia bermimpi bertemu ibunya.


"Bahagia lah nak, dengan keluarga barumu. Ibu juga akan berbahagia melihatmu dari sini,"


Bersambung.


Ah ... Ada air mata.


Next?