THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
SEBUAH PERISTIWA



Senin semua sibuk. Anak-anak kembali bersekolah. Kejadian Arraya kemarin sudah dilupakan. Semua bayi kembali rusuh dan mengerjai pengawal.


Tiana kembali membawa ibu dan tiga adiknya ke mansion Herman. Gadis itu minta sang ibu dilindungi penuh.


"Kenapa sayang?" tanya Khasya.


"Ayah ingin merebut tiga adikku, bunda," jawab Tiana lirih.


"Tapi kan ayahmu tak mengakui mereka?" ujar Khasya tentu tak suka mendengarnya.


"Ibu banyak dapat teror. Dari sebelum Kak Raini menikah. Ayah mengatakan jika Ibu sengaja mengelabui dia. Entah dari mana karangan bebas itu ia buat!' jelas Tiana sedikit menahan marah.


'Ya sudah sayang. Biar ibu dan tiga adikmu di sini ya!" ujar Khasya menenangkan gadis yang akan ia jadikan calon menantunya.


Dimas turun bersama Dewa dan Dewi. Tiana membungkuk hormat ketika ketiganya turun. Dewi langsung menggandeng tangan Tiana.


"Kakak udah pagi-pagi ke sini!" ujarnya manja.


'Iya nona baby, kan nona harus kuliah pagi," jawab Tiana tersenyum.


Wajah cemas dan gusar milik gadis itu tertangkap oleh Dewi. Sebagai seorang bibi dari seluruh perusuh, tentu kepekaannya terasah.


"Kakak kenapa?" tanya Dewi heran.


"Tidak apa-apa Nona!' jawab Tiana tegas.


"Ayo berangkat! Nanti telat!" ajak Dimas mulai tak sabar.


"Sarapan dulu sayang!" perintah Khasya.


"Nggak sempet bunda. Kita makan di kantin aja deh!" tolak Dimas yang melihat jam merek Alba di lengan kirinya.


Dewa dan Dewi setengah berlari. Dimas menaiki mobilnya sendiri bersama dua pengawal dan supir. Sedang Dewi dan Dewa bersama Tiana juga tiga pengawal. Mereka akan menjemput Rasya, Rasyid dan Kaila di hunian Terra.


Di tempat Terra, Kaila sedang memakan nasi goreng buatan Rahma. Gadis itu setengah mengantuk.


"Umi ... Males makannya!" rengek gadis cantik itu.


"Baby," Rahma terkekeh.


Ia mengecup sayang kening Kaila. Barulah gadis itu mau menyuap sendoknya.


Puspita hanya tersenyum melihat tingkah putri bungsunya itu. Duo De datang, Tiana jadi serbuan para kurcaci.


"Ata' ... Atuh beunsyinpaimuh!" ujar Arsh genit.


Tiana mengangkat bayi itu dan menyembur perutnya. Semua ingin diperlakukan sama.


Selesai bermain sebentar dengan para perusuh. Tiana akhirnya pergi bersama para tuan muda dan nona mudanya.


Tak lama Khasya datang bersama Sri dan tiga anaknya. Arif, Sania dan Utsman langsung bermain.


'Bunda udah sarapan?' tanya Layla.


"Sudah sayang,' jawab Khasya.


Sri membantu seperlunya. Ia lebih sering mengawasi anak-anak. Tak lama Remario datang bersama istrinya. Rosa langsung bersama anak-anak.


"Titip istri ya Bun," kekeh pria itu.


"Ck kamu ini!' Khasya mencebik namun setelah itu tersenyum.


Remario pergi ke perusahaan. Sementara di tempat lain. Hardi dan Debie menatap bangunan yang lagi-lagi sepi penghuni.


Dua manula itu sering mendatangi mantan menantunya dengan berbagai alasan. Ingin melihat cucu.


Sri padahal sudah sering mengusir mereka. Dari cara paling halus hingga paling kasar. Tapi sepasang suami istri tua itu tetap terus datang dengan banyak hadiah.


"Kamu tak boleh memutus nasab!" tekan Hardi begitu enteng.


"Tapi kalian yang menolak mereka!'' tukas Sri tegas.


"Bahkan menuduh saya berselingkuh entah dengan siapa!" teriaknya.


"Pipu ... hiks ... Hiks!" Utsman datang dengan genangan air mata.


"Assalamualaikum sayang!" Debie menyeruak masuk dan langsung menggendong bayi satu tahun itu.


Hardi juga masuk dan menyambangi Sania yang berdiri dengan bonekanya. Ia baru bangun tidur.


"Halo cucu cantiknya kakek!"


Begitulah yang dilakukan oleh kedua mantan mertua Sri. Wanita baik itu memang tak bisa melakukan apapun. Terlebih Hardi dan Debie adalah kakek dan nenek dari anak-anaknya.


"Sri!"


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Najwa lalu duduk di sebelah wanita itu.


"Ah ... nyonya kapan datang?" tanya Sri balik.


"Ketika kamu melamun tadi!" jawab Najwa.


Lastri membawa banyak kudapan. Kue lumpur jadi incaran semua bayi.


"Nini teunapa tatana tuwe pumpul pati pidat potol?" tanya Aaima lalu memasukkan makanan itu ke mulut.


Lastri mencium gemas pipi bulat Aaima. Balita usia mau lima tahun ini akan sekolah tahun depan.


Kemarin sebenarnya Aaima, Arsyad dan Fathiyya ingin di sekolahkan bersama Lilo, Seno, dan Della. Tapi usia mereka belum cukup, jadi sekolah tak menerimanya.


"Itu hanya nama ya nak," jawab Lastri.


"Oh suma mana," angguk balita itu.


Sementara di tempat lain, Pram menatap pria dengan sejuta pesona di depannya. Ia berlutut di depan penguasa bisnis itu.


"Aku sebenarnya tak ingin ikut campur dengan urusan pribadimu. Tapi, kau telah menganggu salah satu karyawati terbaikku!" geram Virgou.


"Aku tak main-main Pram. Kau dulu membuang mereka. Bahkan menuduh istrimu berselingkuh dengan membuat foto editan!' lanjutnya dengan luapan emosi.


Plak! Satu tamparan keras didapat Pram dari Theo, salah satu bodyguard Virgou.



Ratheo Hardjata, 48 tahun.


Theo termasuk anak buah Virgou di dunia mafia. Pria itu baru kembali dari Afrika menjadi bodyguard seorang pria kaya raya di sana. Tugasnya selama dua puluh tahun selesai.


Gomesh selalu iri dan manja pada pria yang usianya hanya terpaut dua tahun di atasnya itu.


"Dia sudah babak belur pa," ujar Gomesh sedikit iba.


Theo menatapnya datar. Pria dingin tak tersentuh. Ia sedikit kaget ketika mengetahui jika ketuanya sudah memiliki segudang keturunan.


"Aku melawatkan banyak di sini!" ujarnya lirih.


"Bagaimana Pram? Apa kau masih ingin mengganggu mantan istrimu. Dia telah menyerahkan semuanya padamu. Harta yang mestinya menjadi haknya dan anak-anak telah kau rampas. Bahkan kau masih menyuruhnya membayar utang yang sama sekali tak ia nikmati!"


Bibir Pram robek dan mengeluarkan darah. Pria itu memang harus menjauhi Sri mantan istrinya. Kesalahannya sangat fatal membuat wanita yang sangat tulus mencintainya menderita.


"Saya tidak akan mengganggu lagi Tuan Black Dougher Young," ujar pria itu berjanji di sela kesakitannya.


"Tapi kedua orang tuaku ingin menebus kesalahannya kepada semua cucunya. Saya harap Tuan mau mengerti," lanjutnya dengan kepala tertunduk.


"Bangsat!" mami Virgou.


Ingin sekali pria dengan sejuta pesona itu menenggelamkan keluarga tak tau malu itu. Namun Virgou sadar, jika dulu ia juga diberi kesempatan setelah kesalahan terbesarnya.


Pram bebas, perusahaan yang ia rintis semasa bujangan terselamatkan dari amukan Virgou. Ia nyaris memecat lima puluh karyawannya, jika monster Dougher Young itu benar-benar marah.


"Sri," Pram menatap foto mantan istrinya yang masih ia simpan.


Sejuta lebih penyesalan menyesakkan dadanya. Pria itu menangis tersedu. Hanya kebosanan membuatnya ia harus kehilangan cinta sejati yang benar-benar tulus mencintainya.


"Sri ... Sri ... Maafkan aku ... Hiks!"


"Nak ...!"


Debie yang baru pulang dari hunian mantan menantunya itu mendekati putranya.


"Ma ... Huuuu ... Huuu ... Aku kehilangan cintaku ma ... Aku kehilangan cintaku!' pekik Pram.


"Nak ... kenapa mukamu babak belur begini?" tanya Debie.


Hardi hanya diam, ia duduk dengan wajah pasrah. Sudah dua hari ini Sri tak di huniannya.


"Pasti mereka pergi dan tak mau bertemu denganku," ujarnya penuh sesal.


Air mata hanya mewakili penyesalan ketiga manusia beda usia itu.


Bersambung.


Syukurin loh ... mang enak.


Readers ... Moon maap ya kalo othor hanya satu bab terus. Soalnya othor masih punya masalah dari hati dan pikiran.


Doakan othor ya ... Ba bowu šŸ˜


next?