THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
DUKA SERUNI



Seruni dan Dav menatap Safitri dengan mata berkaca-kaca. Safitri benar-benar meminta maaf dengan laporan medis yang ada di tangannya itu.


"Jadi harus digugurkan?" tanya Dav lirih.


"Maaf papi ... jika dibiarkan jiwa Mami yang harus dikorbankan," jawab Saf lirih.


"Korbankan nyawaku ...!"


"Tidak!" sahut Dav langsung.


"Aku tak mau kehilanganmu sayang!" lanjutnya.


"Tapi anak ini tidak bersalah," ujar Seruni bersikeras.


"Dia di luar kandungan dan itu berbahaya Mami. Allah pastilah mengerti, Azha dan Rinjani masih butuh mami. Soal anak mami bisa buat lagi!' jelas Saf menenangkan Seruni.


"Tapi bagaimana bisa kehamilan di luar rahim?" tanya Dav bingung.


"Kehamilan ektopik adalah kelainan reproduksi di mana kehamilan terjadi di luar rahim pada ****** yang menyebabkan nyeri pada bagian perut dan panggul. Kondisi ini sangat berbahaya bagi Bunda dan janin karena menyebabkan janin sulit berkembang secara normal," jelas Safitri.


Seruni menangis tersedu, ia sangat berharap hamil setelah empat tahun putri bungsunya lahir. Dav ikut sedih, tapi kesehatan istrinya jauh lebih penting dari apapun.


"Anak kita sudah banyak sayang, tidak apa-apa," ujar Dav menenangkan istrinya.


"Tapi Rinjani sama Azha nggak mau sama aku sama sekali mas ... Huuuu ... Uuuu!!" isak wanita itu.


"Sayang,"


Dav memeluk istrinya, Saf berdiri dan ikut bergabung memeluk keduanya. Ketiga manusia itu sedih luar biasa.


Sampai mansion, Bart menatap mata bengkak sepasang suami istri itu. Pria itu tentu sangat gusar.


"Katakan apa yang terjadi?" tanyanya mulai kesal.


"Seruni harus mengugurkan kandungannya Grandpa," jawab Dav.


Frans dan Leon tentu terkejut mendengarnya. Terlebih Leon, Seruni adalah menantu kesayangannya.


"Jangan bercanda sayang, memang kenapa harus digugurkan?" tanyanya gusar.


"Kehamilan terjadi di luar kandungan," jawab Dav lemah.


"Hiks ... hiks ... Daddy ... Hiks!" Seruni menangis.


Leon langsung memeluknya. Ia tentu sedih mendengarnya, untuk pertama berita kehamilan harus diikutkan dengan berita menakutkan itu.


Seluruh keluarga memberikan dukungan untuk Seruni. Wanita itu tentu paling terpukul dengan keadaan yang terjadi pada dirinya.


"Yang penting kamu sehat sayang," ujar Lastri.


Seruni hanya mengangguk pasrah. Ia memang harus menerima jika dirinya harus kehilangan janinnya.


Dinar mendekat, ia tentu tau rasanya dipisahkan dengan buah hati. Dulu ia pernah nyaris kehilangan Aarick. Tetapi mukjizat Allah itu datang, bayi itu kini tengah mengerjai para pengawal.


"Sayang, apa yang kamu ingin utarakan, katakanlah!" ujar wanita itu.


"Seruni mau bayi ini tetap ada di sini Bibu ... Huuuuu ... Uuuu ... Hiks!" jawab Seruni lalu menangis.


Dinar memeluk wanita itu. Ia tau keinginan Seruni tak mungkin.


"Aauuu!' pekik Seruni tertahan.


"Sayang!" Dinar khawatir.


Seruni hanya mengelus perutnya. Memang ia merasakan sakit luar biasa pada pinggang dan perutnya. Bahkan beberapa kali terdapat flek di celananya.


"Kita harus ke dokter ya," ajak Dinar.


"Seruni nggak mau operasi Bibu ... Hiks!" tangis Seruni lagi-lagi pecah.


Semua sedih, tentu pihak rumah sakit di mana Saf bekerja tidak memperkenankan memaksa pasien untuk melakukan perawatan segera.


Seruni memilih pulang dan akan memikirkannya. Saf telah memberinya obat penahan nyeri.


"Sudah jangan bebani dia," ujar Kanya lalu menyusutkan buliran bening yang jatuh di pipinya.


Kesedihan seluruh keluarga jadi perhatian para perusuh yang menggunakan dengkulnya. Faza dan Horizon menelan mentah-mentah obrolan para orang tua.


"Ata' ... Ata'!" panggil Horizon.


"Apa baby?" sahut Samudera.


"Ata' ... Amih uniuni asa payi alam andunan Amih au uduludul woh?!" lapor bayi sembilan bulan itu.


"Kandungan mami kenapa?" tanya Samudera bingung.


Ia masih belum paham dengan apa yang dikatakan adik bungsunya itu.


"Amih au uduludul andunan!' jawab Horizon kesal.


"Biya Ata' ... Zaza ugha eunel dhitu!' sahut Faza mengangguk.


Samudera memilih tak menggubris perkataan adik-adiknya itu. Ia menyuruh Horizon dan Faza bermain.


"Baby, ayo jalan!" perintah Amar.


"Ozon ajah Ata'!" ujar Horizon berlaga seperti gajah.


"Belalainya mana?" tanya Lino tersenyum lebar.


"Lelalai?" Horizon berdiri.


Entah pikiran dari mana Horizon hendak mencopot popok keringnya.


"Mau apa baby?" tanya Alim menghentikan aksi bayi itu.


"Au junjutin lelalai Ozon!" jawab Horizon.


"Soba pihat!" ujar Faza penasaran.


Demian yang ada di sana panik luar biasa. Ia mengambil Horizon yang berusaha membuka popoknya.


"Apah ... Zon au ihat lalai Ozon!" pekik bayi itu marah.


"Ozon nggak punya belalai baby," jawab Demian lembut.


"Tata Ibi Nunit Ozon unya lelalai teusil!" jawab bayi itu bersikukuh.


Demian tentu kesal dengan yang mengajari anaknya demikian. Faza juga ribut ingin melihat belalai.


"Papa kasih liat belalai yang benar baby," ujar Demian.


Pria itu mengambil ponsel dan memperlihatkan gambar gajah. Semua bayi tentu senang.


"Ini gajah, nah hidungnya itu disebut belalai," jawab Demian.


"Oh ... Dedithu!" angguk semua bayi mengerti.


Demian akan mengadu perihal maid yang ada di rumah Budiman. Pastinya bayi itu mendengar perkataan buruk itu dari pembantu di rumah Budiman.


"Apah ... dudultan pandunan ipu pa'a?" tanya Faza tiba-tiba.


"Dudultan?"


"Biya Pa ... Amih tatana au uduludul andunan!" jawab Horizon semangat.


Demian tentu sudah mengetahui jika Seruni harus menempuh operasi untuk mengeluarkan janin yang di dalam perutnya.


"Oh itu karena kandungan Mami kalian bermasalah sayang, doakan mami cepat sembuh ya," jawab Demian sembari meminta anak-anak mendoakan salah satu ibu di rumah itu.


"Amih satit?" tanya Hasan dengan mata berkaca-kaca.


Demian mengangguk membenarkan. Alim dan Amar akhirnya tau jika ada kabar yang tidak menyenangkan terjadi.


"Eh ... Kita hibur mami yuk!" ajak Alim.


"Bibul Mami?" tanya Hafsah.


"Iya kita hibur mami agar mami tak sedih!" jawab Alim lagi.


"Wah ... Pide yan badhus!" sahut Al Bara yang juga ada di sana.


"Yoya au anyi ah!" ujar Zora semangat.


Semua anak ingin menghibur Seruni. Bayi-bayi tiba-tiba mendatangi Seruni.


"Amih ... Zaa au sembelahatan ladhu puwat amih teulsayan!'


Seruni yang lemas dan menyender di bahu ibu sambung suaminya mulai tersenyum. Memang aksi semua bayi bisa membuat semua orang terhibur.


"Atuh una ansin teusil ... Tu beuli nana Hebi .... "


Lagu Heli dinyanyikan sempurna oleh Zaa. Semua bayi mempersembahkan kehebatan mereka di depan Seruni.


"Mashaallah sayang, makasih!" ujar Seruni.


Ia memutuskan untuk menuruti Saf, menggugurkan kandungannya demi kesehatan. Saf juga memastikan jika dirinya bisa hamil lagi di kemudian hari.


"Setalan Mima bawu banyitan ladhu puwat Mami," ujar bayi usia empat tahun itu.


"Jita halus sedih ... Biyaltan tu sedih ... Jita halus nayis ... Biyaltan tu menayis ... "


Lagu milik Melly Goeslaw dinyanyikan dengan baik oleh Aaima dengan bahasanya tentu saja. Semua orang tua menoleh pada Putri dan Jac.


Sepasang suami istri itu hanya menggendikkan bahu mereka. Aaima memang paling cepat menangkap lagu atau berita viral.


"Teumalin selintuh setalan beunyelah," keluh Al Bara.


"Baby, kamu tinggal sama Papa yuk!" ajak Reno gemas sendiri.


Bersambung.


Next?