
Rosa pulang, Remario menjemputnya. Semua keluarga mengetahui keinginan Remario ingin menikahi pengawal cantik itu.
"Dad ... mana Mommy muda ku?!" pekik Arimbi.
Semua tersenyum lebar. Arimbi langsung memeluk Rosa. Wanita hamil usianya memang lebih tua bulan dibanding calon ibu mertuanya itu.
"Baby ...."
"Momud," rengek Arimbi lalu menciumi Rosa.
Gadis itu tersenyum, ia merasa diinginkan di keluarga ini. Terra, Khasya dan lainnya memeluk gadis itu.
"Selamat datang di keluarga besar kami sayang," ujar Khasya.
Rosa menemukan kasih sayang seorang ibu ketika bersama wanita paling dihormati di sana. Karena Khasya lah ia masih menghormati wanita yang dulu ia panggil "Mama".
Semua perusuh mengerumuni pengawal itu. Fael dan Ryo memanjat Rosa.
"Moma! Tatana peumalin Moma luta ya?" tanya Fael sedih.
"Ni uwta na!" tunjuk Ryo pada kening yang masih ditutup perban tipis.
Ryo mencium penutup luka itu hati-hati. Rosa membalas mencium pipi dua perusuh tampan itu.
"Hei ... ayo biarkan Moma kalian istirahat!" perintah Rion.
Dua bayi turun, Najwa dan Lastri memeluk gadis itu. Lalu Mia, Sriani dan Neni juga mengucap selamat pada Rosa.
Setelah penyambutan kehangatan itu. Mereka pun kembali bercengkrama. Rosa diminta untuk beristirahat.
"Ketua ...," Rosa menolak ia masih ingin bersama anak-anak.
Keceriaan para perusuh mengobati hatinya yang hancur lebur.
"Ros, kami telah memberi hukuman pada mereka. Ayahmu dan dua kakak ah ... sudah lah ... kau tenang saja. Mereka selamanya tak akan mengganggumu!" ujar Virgou malas menjelaskan.
Rosa mengangguk hormat. Ia menyerahkan semua permasalahannya pada sang ketua. Gadis itu mempercayai perkataan atasannya.
"Duduk sini Mom,"
Reno menarik lengan calon ibu sambungnya. Gadis itu didudukkan bersebelahan dengan Remario.
Herman, Bart, Bram ada di depan dua manusia yang perbedaan usianya sangat jauh itu.
"Rosa!" Herman memulai pembicaraan.
Semua anak diajak bermain oleh Rion dan lainnya. Orang tua melarang para bocil yang belum cukup umur menguping.
"Kau tau Remario melamarmu di hadapanku!" ujar Herman tenang.
Rosa menunduk, dua tangannya saling meremas satu dan lainnya. Sedang jantung Remario juga berdetak sangat cepat.
"Aku memang bukan ayahmu. Tapi aku dapat wali itu dari ayah kandungmu langsung!" lanjut pria yang paling dihormati di sana.
"Bagaimana caranya ayah ...."
"Jangan tanya bagaimana aku dapat perwalian itu!' potong Herman santai.
Tentu saja, Doko menciut didatangi Herman. Setelah Remario mengatakan ingin menikahi Rosa. Doko didatangi dan langsung menolaknya.
Remario mendatangi Herman dan mengadu pada pria itu. Herman tentu bergerak menekan Doko hingga tak bisa berkutik.
"Kau mau masuk neraka cepat atau kau mau hidup di dunia selama Tuhan masih mau mengurusmu?" ancam Herman pada Doko waktu itu.
"Kau akan membawa dosaku jika kau membunuhku!" seringai Doko.
"Tak masalah. Yang penting Rosa jadi yatim dan dia bisa menikah!" sahut Herman dengan mimik yang sangat menakutkan.
Doko menandatangani sebuah surat persetujuan pada Herman.
"Ini kalian mau uang dua miliar kan?" ujar Herman lalu menyerahkan satu cek dengan nominal yang disebutkan.
"Aku membeli Rosa dari ayah tak tau diri sepertimu!" hina Herman.
"Ayah bisa apa saja sayang," sahut Remario membuyarkan lamunan Herman.
"Katakanlah sekali lagi Rem!' suruh Bart kini.
"Ros ... nikah yuk!" ajak Remario seperti mengajak bermain.
"Bodoh kau pikir menikah itu main gundu!' umpat Bart kesal.
"Grandpa ...," rengek Remario.
"Dasar kau nanat sisilan!" dumal pria paling tua di sana.
"Jadi bagaimana Rosa?" tanya Bram.
Remario menatap dengan cemas. Rosa menunduk, ia baru saja keluar dari rumah sakit. Tapi rupanya keluarga besar di mana ia bekerja memang selalu ingin serba cepat.
"Dia masih pusing Dad. Mestinya suruh dia beristirahat dulu," ujar Sriani.
"Tapi anak sialan ini memaksaku untuk segera meminang gadis cantik ini!" sungut Bart.
"Ayo jawab sekarang Ros!" paksa Remario.
"Dad!" peringat Reno.
"Saya mau!" jawab Rosa lirih.
"Hah?" semua menoleh pada gadis itu.
"Apa jawabanmu Rosa?"
Gadis itu menarik napas panjang. Ia menatap semua orang dan memberi senyuman indah.
"Saya mau menikah dengan Tuan Remario Sanz!" jawaban tegas terlontar dari mulut gadis itu.
"Alhamdulillah!" seru semua orang bersyukur.
Remario hendak memeluk gadis itu tapi tiba-tiba sosok gempal naik ke pangkuan Rosa.
"Moma ... sadhi taw atan sadhi netnet atuh don?" tanya Angel.
"Astaga kenapa kachuping bisa ada di sini?" decak Bart kesal.
Rion menyeringai usil. Pria itu memang tak akan pernah berhenti usil. Bapak bayi itu memang biangnya usil.
"Baby ... iya Tinti akan jadi nenek kalian," jawab Rosa lalu mencium bayi itu gemas.
"Moma ... atuh pandhil moma ya!" angguk Angel lalu memeluk dan membalas ciuman Rosa.
Remario tersenyum, ia akan mengakhiri kesendiriannya sebentar lagi. Ia tak menyangka jika jatuh pada sosok muda dan kuat.
"Ayah sarankan kalian menikah secepatnya. Seminggu lagi persiapkan diri kalian menikah langsung di KUA!" tekan Herman.
"Tapi Daddy belum jadi warga negara Indonesia?!" ujar Reno.
"Kau urus lah di duta besar negaramu!' suruh Bart.
Reno mengangguk, ia ingin sang ayah cepat lepas dari mimpi buruk yang selama ini menghantui pria itu.
Rosa digiring oleh Mia dan lainnya. Gadis itu dilarang bekerja sementara dan dijauhkan dari Remario.
"Ini masa pingit sayang. Jadi agar calon suamimu pangling ketika bertemu denganmu lagi," ujar Mia ibu dari Budiman.
"Benar sayang," angguk Sriani.
"Tapi saya masih bekerja Nyo ...."
"Panggil aku mba Mia!' suruh Mia.
Rosa tentu menggeleng, usia mereka terpaut jauh. Tetapi karena menikah dengan ayah menantu keluarga ini. Pangkat Rosa jadi naik. Ia sama pangkat dengan Khasya dan Terra.
"Iya sayang, panggil juga kak Terra ya!' angguk Terra setuju.
Rosa terharu, ia memang telah jatuh hati pada keluarga ini. Makanya ia tetap menyayangi ayah dan ibu padahal tidak diperlakukan dengan baik.
"Baby!" teriak Dian mengejar Chira.
Bayi lima belas bulan itu berlari dengan gesit bahkan mampu mengelabui pengawal dengan berkelit.
"Ah ... kena kan!" Dian berhasil menangkap bayi gesit itu.
"Tinti ... pepastan atuh!" pekik Chira lalu tergelak.
"Tinti penapa pidat beunitah pama Papa Fiyo?" tanya bayi cantik itu.
"Eh ... memang baby tau apa menikah itu?" tanya Dian lalu mencium gemas Chira.
"Pidat ... hahahaha!" Chira tergelak.
Fio menatap Dian, ia memang tengah mengajukan diri untuk menjadi kandidat suami nona mudanya, Maisya. Tetapi pemuda berusia dua puluh tiga tahun itu, merasa tidak pantas bersama gadis yang derajatnya jauh lebih tinggi. Terutama Maisya yang tak tertarik sama sekali dengan dirinya.
'Apa aku dekati Dian saja ya?' gumamnya bertanya dalam hati.
bersambung.
Ael bitil-bitil pulu ya papa! Bantasna papa pama spasa!
next?