THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
MASIH HEBOH



Hanya tinggal menunggu hari, Jelita dan Ratini akan dipersunting pria terbaik.


Fio yang kini menjadi pengawal Dewa. Pria berusia dua puluh empat tahun itu sama kuat dengan tuan mudanya. Fio tak mudah dikalahkan. Bahkan Dewi harus tunduk dengan kuncian pemuda dewasa itu.


"Papa, aku pasti akan mengalahkan mu suatu hari!" sengit Dewa ketika harus berlutut karena kuncian Fio yang kuat.


"Papa tunggu baby," ujar Fio.


Herman tak mempermasalahkan hal itu. Virgou juga mulai mengupgrade kekuatan semua pengawalnya.


"Semua urat dan syaraf mereka harus kuat dua kali lipat!" ujar Virgou.


"Uma ...," rengek Dewa.


"Apa baby?"


"Papa Fio kuat!' adu Dewa.


"Sayang, menghadapi orang itu tidak selalu dengan kekuatan otot," ujar Saf mengingatkan Dewa.


"Sayang, jangan ajari adikmu macam-macam!" peringat Herman.


"Ayah, dia harus kuat! Semua adik dan anakku harus kuat. Mereka tak boleh kalah oleh siapapun!" ujar Saf menolak.


"Nak, di atas langit masih ada langit!' ujar Khasya memperingati.


"Saf tau Bunda. Tapi, Saf nggak mau semua anak dan adik Saf diremehkan karena kalah!" sahut Saf keras kepala.


"Jadi ngalahin papa Fio gimana Uma?" tanya Rasya.


"Babies!" seringai Saf.


"Muma ... pa'a putuh pantuan?" tanya Arsh yang datang.


Fio menggaruk pelipisnya. Kekalahan para pengawal adalah mengatasi kerusuhan pada bayi yang memaksa bicara itu.


"Serang papa Fio!'


"Days!"


'Siyap apan baji baby Alsh!" sahut semua bayi kompak.


"Selan!" seru Arsh mengomando.


Fio harus menghindari kerumunan bayi. Tentu saja pemuda itu kalah telak karena banyaknya bayi yang mengeroyoknya.


"Ah ... Uma, orang pengen ngalahin papa Fio beneran!" gerutu Dewi kesal.


Saf hanya tersenyum menatap adik misan suaminya itu.


"Belajar sayang, tidak semua urat bisa dilatih kekuatannya. Kau harus cari itu!" bisik Saf.


Dewi cemberut, ia hanya menatap malas wanita bongsor yang terkekeh melihatnya itu.


Setelah Fio kalah, pria itu tergeletak di lantai dengan nafas tersengal. Faza dan Horizon ada di atas tubuhnya.


"Baby, ayo makan buah!" seru Maria.


Semua anak pun mengabaikan Fio yang terkapar di lantai. Jelita menatap pria yang sebentar lagi akan jadi suaminya. Semua urusan dan berkas telah rampung.


"Hayo masuk, jangan lihat calon kamu lama-lama!" peringat Lastri.


"Ah, Nini," rengek Jelita manja.


"Kamu itu masih dipingit. Ayo, lebih baik ajak saudarimu Ratini ke spa membersihkan diri!" suruh Lastri.


"Turuti nini mu Nak!' perintah Bart.


"Iya pa," ujar Jelita.


Gadis itu memanggil Ratini untuk pergi ke spa. Keduanya akan dikawal oleh tiga pengawal wanita.


"Bawa ke spa milik Nona Anyelir!" perintah Lastri.


"Baik Nyonya!" ujar Sari membungkuk hormat.


Sedang di benua lain. Calvin menjadi sosok paling bersinar. Sebagai pebisnis muda. Pemuda berusia mau dua puluh dua tahun itu mampu membawa perusahaan menembus level tertinggi di Eropa.


"Selamat Tuan Black Dougher Young. Kami sangat tersanjung dengan semua kinerjamu!" ujar salah satu kolega bisnis bangga.


"Kau mendidik cucumu sangat baik Tuan Leon Dougher Young!" lanjutnya memuji pada Leon.


Leon hanya tersenyum saja, ia tentu bangga dengan apa yang dilakukan oleh putra dari Virgou itu.


"Hati-hati banyak penjilat nak!" bisiknya memperingati.


"Tenang Grandpa," sahut Calvin juga berbisik.


Calvin adalah kembaran Kean. Berbeda dengan saudara kembarnya. Calvin lebih banyak diam, walau ia sama polosnya dengan Kean.


Namun perihal bisnis, otak Kean dan Calvin sama-sama genius. Dominic sangat terbantu dengan adanya pemuda tampan itu.


"Tuan Leon, bagaimana jika kita memperat lagi hubungan bisnis kita,' ujar salah satu pebisnis ternama.


Leon sedikit berdecak, ia paling malas jika berhadapan orang yang memanfaatkan keadaan.


"Apa itu?" tanya Calvin mulai tertarik.


Leon melotot pada pemuda itu. Calvin hanya menatap polos pria tua di depannya.


"Astaghfirullah!" ujar Leon gusar dalam hati.


"Berhubungan? Berhubungan gimana maksudnya?" tanya Calvin dengan kening berkerut.


"Kalian kencan buta dulu ya. Agar saling kenal?" tawar pria itu dengan senyum lebar.


"Kencan buta?" tanya Calvin makin tak mengerti.


"Iya jadi kalian bisa lebih dekat lagi dan ...."


"Maaf, maksudnya gimana nih? Aku harus buta gitu?" tanya Calvin bingung.


Leon nyaris tersedak mendengarnya. Sedang pebisnis yang menawarkan anak gadisnya terbengong.


"Om jangan ngadi-ngadi kalo ngasih tawaran. Masa kita disuruh buta sih mau kenalan? Apa yang diliat kalo buta?" tanya Calvin sengit.


"Terus itu kencan ... Apa itu kencan?' tanyanya lagi.


"Sejenis kacang-kacangan?" lanjutnya dengan muka bodoh.


"Astaga? Apa kau makhluk purbakala?" tanya pria itu menyindir dan melirik Leon.


"Jaga bicaramu Tuan Hodson!" peringat Leon.


"Ayo nak, kita pergi saja. Tak usah kau dengarkan perkataannya!" ajak Leon pada Calvin yang masih belum mendapat jawaban.


"Oh come on Leon! Kau tidak mengajari anakmu dewasa kah?" seru pebisnis itu menghina.


Leon melepas genggaman tangannya pada Calvin. Pria itu lalu berbalik dan berjalan mendekati pebisnis itu hingga mundur.


"Tu ... tuan," cicit pria itu.


"Cucuku adalah pemuda terbaik dan dia tak akan menjalin hubungan dengan anak gadismu yang ...," Leon tak melanjutkan perkataannya.


Leon mendekatkan kepalanya di sisi telinga pebisnis yang berdiri tegak itu.


"Jaga anakmu tuan Hodson! Jangan gara-gara dia. Kau yang akan malu sendiri!" lanjutnya berbisik.


Leon menatap tajam Hodson lalu pergi meninggalkan jamuan makan siang. Semua pebisnis tunduk di hadapan pemegang bisnis nomor satu di negara mereka itu.


"Jangan berbuat ulah Hodson. Kau akan kerepotan sendiri jika berurusan dengan keluarga Dougher Young!" peringat salah satu pebisnis.


"Grandpa ... Kapan kita pulang?" tanya Calvin merengek.


"Sayang," Leon mengelus kepala cucunya dengan sayang.


Mereka sudah mau empat hari di Eropa. Masalah pekerjaan memang sangat komplek. Selesai pekerjaan satu, muncul pekerjaan lain.


"Kangen mommy," rengek Calvin lagi.


"Sabar ya, Grandpa janji pekerjaan ini yang terakhir!" ujar Leon.


"Grandpa juga kangen Nini mu sayang," lanjutnya mengingat wajah istri dan dua anak kembarnya.


"Ayo kita makan di resto sedap Indonesia!" ajak Leon.


"Ayo pes go!" seru Calvin meniru ucapan para perusuh paling junior.


Kembali ke Indonesia, Virgou menatap ballroom di mana akan jadi pesta pernikahan dua pengawal terbaiknya itu.


"Sudah selesai 90% tuan. Sepuluh persennya tinggal acara saja!" lapor Dahlan.


"Alhamdulillah, baiklah. Minta anak buahmu memeriksa semuanya sampai acara selesai. Aku tidak ingin ada kesalahan apapun!" perintah Virgou tegas.


"Siap laksanakan!" ujar Dahlan membungkuk hormat.


Virgou pun pulang ke huniannya. Ia kembali memeriksa ponsel untuk memindai semua anak-anak termasuk putranya yang ada di Eropa.


"Aku tak pernah khawatir denganmu Baby," ujarnya tersenyum melihat putranya baik-baik saja bersama Leon.


Sampai mansion, ia disambut semua bayi, Ryo dan Horizon ada di gendongannya. Faza mengamuk karena kalah cepat.


"Baby, tangan Grandpa hanya ada dua," ujar Darren.


"Bambahin anan Apah Momes laja!" sengit Faza.


"Apah ... Apah Momes ... sinsemin Addy anan apah don!" rayu bayi itu.


"Apa?"


"Zaza wewa teh!" lanjut Faza bernegosiasi.


"Payal pate pa'a Paypi?" tanya Maryam.


"Wayal ate wuwan Addy lah ... Basa wuwan Zaza!" jawab Faza sengit.


"Pot-pot anan Apah Yoyes!' seru Ryo.


"Selan!" seru Fatih mengomando.


Dan Gomesh harus menjatuhkan diri di karpet dengan setumpuk anak di atas tubuhnya.


"Babies ... Mama Iya bawa kue cucur nih, mau nggak?!"


"Tuwe susul! Selbu!" seru Arsh yang langsung mengambil kue itu dua.


Bersambung.


Ah ...


next?