
Hari yang makin lama makin dekat. Anggraini sibuk dengan prakteknya. Sedang Michael sibuk menjaga para bayi yang kini tengah membentuk koloni.
Semua pengawal gereget melihat tingkah makhluk mungil yang berjalan dengan dengkulnya itu mengikuti gaya bayi yang sudah besar.
"Atuh basih beunasalan. Seupeunelna nanat fifiya ipu spasa?!" dengkus Maryam sambil melipat tangannya di dada.
"Ata' upasin imih!" pinta Izzat menyerahkan satu buah rambutan.
Maryam mengupas buah itu dengan serius lalu membuka daging buah dan membuang bijinya begitu saja.
"Mih!" Maryam menyuapkan buah itu ke mulut adiknya.
Izzat membuka mulut dan memakan buah. Percakapan pun berlanjut.
"Alsh seupeunelna sulidha pama nanat fifiya ipu butan pebutan nanatna Mama Iya," ujar Arsh yang lupa sebutan hajinya.
"Eh batsutna apan Baji baby Alsh!' ralatnya kemudian.
"Pewus spasa ipu nanat fifiya?" tanya Aisyah.
"Pundhu Pulu! Benpa Vildo tan butan pilan nanat pati fifiya!" ujar Aaima mengingat.
"Tan Benpa pilan, pidat pelsuma atuh fifiya dithu!" lanjutnya.
"Wah ... Beunel!" seru yang lain teringat.
"Imih pidat pisa bipialtan!" ujar Fatih berkacak pinggang.
"Pati pita pisa pa'a?" keluh Zaa.
"Batalan wowan pewasa pilan. Talian basih teusil ... Janan nupin peumpisalaan wowan puwa!" sahut Zizam tak mau kalah.
"Tuh owan uwa!' tunjuk Chira.
"Tuh judha!" sahut Zaa juga kesal.
"Imih pudah bisilimasi!' sahut Arsyad.
"Tetasih hatituh bipambil Papa Pecel!" lanjutnya dengan mulut manyun.
"Memana Ata' Yayini pasal Ata' Syasyad?" tanya Nisa sedih.
"Pasal pa'a?" tanya Aarick.
"Pasal puwat sualan tutan sayun!' jawab Sena saudara kembarnya.
"Butan pasal yan dundanundan dasan?" tanya Alva makin melenceng.
"Dundan dasal? Yan tayat pijibana?" tanya Fathiyya bingung.
"Yan setalan Ata' Phino peslalu paca!' jawab Alva.
"Dundan dundan dasan pempat buluh pima ...,"
"Woh .... sadhi yan bimatsut Tanti peusil pasal yan bana?" tanya Nauval.
"Tamuh bistli pa'a?" tanya Dita kesal.
"Heh ... pudah, pudah! Teunapa sadhi peulatem?!" lerai Aarav.
"Biya mih. Pita basih pusin denan alti fifiya setalan tentan pasal!" sungut Alva padahal dia yang memulai semuanya.
"Eh ... Pihat muta papa pecel!" tunjuk Xierra pada salah satu bodyguard yang tengah berjaga-jaga.
Michael yang diperhatikan oleh para bayi jadi malu sendiri. Pria itu gemas dengan pembicaraan yang berlangsung pada anak-anak yang belum mahir berbicara itu.
"Peumana teunapa muta papa?" tanya Meghan.
"Tan pulu Papa Puno tusut tayat pataian yan peulum bistelita," ujar Maryam.
"Setalan papa mutana atuh pidat pahu tayat pa'a?" lanjutnya mengamati wajah Michael.
Aarav mendekati pria bermanik coklat gelap itu. Michael gelagapan. Ia takut ditanya macam-macam oleh bayi yang tak pernah tau apa yang mereka bicarakan itu.
"Papa soba mutana pisusi pulu!' suruh Aarav Dougher Young.
"Apa?" tanya Michael tak mengerti.
"Biya Papa, papa susi pulu mutana walu pipelwe budah ipu pisemul!" sahut Maryam.
"Apan baji baby Alsh bunya lide!' sahut Arsh tiba-tiba.
Semua bayi menoleh padanya. Bayi itu menyeringai jahil pada Michael.
'Pita polonin papa puwat pusi mutana!' lanjutnya.
"Wayo!' seru semua bayi.
Michael melarikan diri, gelak tawa tercipta di sana. Semua ibu menggeleng melihat tingkah laku anak-anak mereka.
"Ya ampun ... Ramai sekali ya!" ujar Nini tersenyum lebar.
Nini sudah tinggal di sana. Ia tidur bersama putrinya. Bart membolehkan wanita itu memanjakan Anggraini sebelum menikah dengan Michael.
"Alhamdulillah, mereka sudah mau tersenyum," gumamnya lagi.
Ada guratan ketakutan di wajah Sri. Khasya melihat itu. Tapi karena pernikahan Anggraini tinggal menghitung hari. Wanita itu memilih diam.
"Nanti sore kita ke panti untuk acara prewedding kan Bun?" tanya Terra pada Khasya.
"Entahlah, kakakmu merubah semuanya," jawab Khasya menghela nafas panjang.
Virgou memang sudah menyampaikan jika Anggraini dan Michael akan prewedding di hotel miliknya.
Virgou benar-benar ingin balas dendam dengan keluarga adik angkatnya itu.
"Ya udah, habis makan siang. Kita bersiap ya," ajak Khasya.
"Iya bunda!" sahut Maria.
Usai makan siang, semua anak diangkut ke hotel. Para kurcaci senang karena tak tidur siang.
"Wah pumben pita pidat pisuluh pidun sian," ujar Chira sambil menguap lebar.
Alhasil, sampai hotel semua bayi terlelap. Tugas mereka diangkut dengan kereta dorong mereka. Para wartawan sibuk mengambil gambar tapi tak ada satupun yang berhasil.
"Ah ... penjagaannya ketat banget!" keluh salah satu wartawan.
"Kita katanya disuruh ke taman belakang hotel!" ujar salah satu kuli tinta itu.
Sepuluh wartawan masuk dengan tanda pengenal dari masing-masing portal berita. Virgou memang punya cara yang sangat briliant.
Entah bagaimana pria itu membuat video pendek tentang pasangan yang akan melangsungkan pernikahan dua minggu lagi itu.
"Apa yang kakak lakukan?" tanya Terra melihat Virgou mengedit beberapa foto.
"Kau lihat saja nanti!' jawab pria itu dengan seringai menyebalkan.
"Lakalaka boom!' lanjutnya dengan kilatan mata sadis.
Terra bergidik, kadang ia takut dengan kakak sepupunya itu. Virgou memang menyeramkan sama dengan julukannya The Monster.
Di taman belakang, ada layar lebar dan di sana terpampang video sepasang kekasih yang akan melaksanakan prewedding sebentar lagi.
"Wah ... Inikah pengantinnya?' seru para wartawan.
"Sepertinya begitu!"
Sementara di tempat lain. Burhan yang tinggal di sebuah kost-kostan. Tengah mencari peluang di sosmed. Pencariannya terhenti karena tiba-tiba semua situs menayangkan sebuah acara prewedding.
"Huh, dasar orang kaya! Nggak tau butuh pekerjaan malah di ...."
Ucapannya terhenti ketika melihat video yang ada di layar. Ia masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Di sana foto seorang gadis yang mirip dengannya. Ia melihat tanda lahir dan jemari sang gadis yang cacat.
"Anggraini Putri Astini drg?" pria itu membaca nama sang gadis.
Lalu sekilas kisah terlintas di ingatannya. Burhan tak mau menamai putrinya yang cacat. Sang istri yang menamainya.
"Anggraini Putri Astini. Ini putriku?"
Setetes air mata mengalir di pipi. Penyesalan timbul, ia menuruti apa mau semua saudaranya, menganggap istri sebagai orang luar.
"Istrimu tetap orang luar jika kamu bercerai!" ujar Mita sang kakak.
Burhan menangis, setelah ia terpuruk seperti ini malah kakaknya itu yang tak mau menolongnya sama sekali.
"Ah ... Dia mau menikah. Jadi sudah pasti butuh wali kan?" ujarnya lalu menghapus cepat air matanya.
Pria itu bercermin wajah tampannya hilang berganti kusam. Ia mencuci muka dan memakai pakaian yang tebaik.
"Aku harus hadir. Dia putriku, dia harus minta restuku untuk menikah!" lanjutnya lalu meninggalkan ruangan berukuran 6x4 itu.
Sedang di tempat lain. Sepasang suami istri yang renta melihat layar yang ditunjukkan putrinya.
"Ini Anggraini?" tanya wanita tua itu pada wanita yang berdiri dengan mata berbinar.
"Benar ma! Ini si cacat eh ... Maksudku Anggraini!" jawab Mita antusias.
"Mau apa kita ke pestanya?" tanya sang ayah.
"Loh, papa sama mama kan kakek dan neneknya. Aku adalah bibinya. Jadi sudah sewajarnya kita ada di sana dan meningkatkan lagi pamor kita!' jawab Mita.
"Nak, kita dulu suruh Nini membuang putrinya itu. Apa kau lupa?" ujar sang ibu.
"Tapi dia nggak tau cerita itu kan?" sahut Mita lagi dengan tersenyum penuh rencana.
"Dia masih tiga tahun, dia pasti lupa!"
Bersambung.
Ngadi-ngadi Mita.
Next?