
Dua hari kemudian…
"Satu hari lagi, Turnamen Elit Master Spiritual akan dimulai," tutur Nazareth seusai mereka makan malam. "Malam ini, aku akan menjelaskan aturan mainnya."
Evelyn dan teman-temannya menyimak sambil bersedekap di tempat duduknya masing-masing.
Cleon terlihat seperti mengidap penyakit menahun.
Para guardian mereka duduk berderet bersama pemilik akademi di seberang meja.
Xenephon tidak berada di sana.
Nyx Cornus terlihat hampa.
Migi Vox bertengger di bahu Nazareth sembari bersedekap, puas berebut makanan dengan Evelyn dan teman-temannya.
"Turnamen Elit Master Spiritual kali ini diselenggarakan oleh Kekaisaran Neraida dan Kekaisaran Shangri-La, bersama Ordo Angelos," tutur Nazareth. "Dan ini merupakan Turnamen terbesar di dunia Master Spiritual. Setiap peserta dipilih dari seleksi elit Ordo Angelos."
Evelyn mengerjap dan menelan ludah. Setiap kali mendengar Ordo Agelos disebutkan, hatinya serasa tercubit mengingat si pembicara sendiri adalah orang nomor satunya. Terutama karena orang terkait juga adalah kekasihnya. Tiba-tiba ia merasa begitu kecil sementara keberadaan Nazareth teramat tinggi.
"Adapun peraturannya adalah anggota yang dikirim setiap akademi harus berusia di bawah dua puluh lima tahun," Nazareth masih berbicara panjang lebar, tidak menyadari kegundahan Evelyn. "Setiap babak diikuti lima anggota. Selama turnamen, kematian tidak diperbolehkan."
"Dengan segala hormat, Sir!" Electra menginterupsi sambil mengangkat sebelah tangannya. "Teknik cahaya tidak memiliki pikiran, bagaimana kalau terbunuh tanpa sengaja?"
"Peraturan tetaplah peraturan," sanggah Nazareth. "Meski kau benar, tapi kau harus mengerti. Alasan kedua negara mengadakan turnamen ini adalah untuk mencari bakat dan bukan untuk membunuh orang berbakat."
Electra hanya mengangkat bahu.
"Selain itu, selama turnamen dilarang mengkonsumsi obat dan makanan selain dari Master Spiritual tipe makanan dan pemulihan. Dilarang menggunakan senjata kecuali peri pelindung," Nazareth melanjutkan penjelasannya. "Kalian semua harus ingat aturan ini," ia memperingatkan. "Jika tidak, kalian akan dieliminasi!"
Evelyn dan teman-temannya mendesah bersamaan, lalu bertukar pandang.
Cleon menjadi sedikit pendiam setelah pertarungannya dengan Nazareth.
"Peraturan selanjutnya," Nazareth melanjutkan, kemudian membungkuk untuk mengambil dua buah apel dari keranjang dan menaruhnya di tengah meja. "Dua apel ini menandakan dua negara," jelasnya.
Migi Vox melompat dari bahunya dan menyambar kedua apel itu.
Nazareth menahan boneka itu dan mendudukkannya di meja, "Anggaplah Vox Ordo Angelos," katanya.
Migi Vox mengangkat salah satu apel itu ke mulutnya.
Nazareth membekap mulut boneka itu dengan jemarinya.
Kedua mata Migi Vox spontan terbelalak.
Evelyn melirik boneka itu sambil menggigit bibirnya menahan tawa.
"Seluruh tim dibagi menjadi Tim Utama dan Tim Sekunder," lanjut Nazareth. "Tim utama artinya tim kekaisaran dari dua negara, mereka langsung masuk ke babak final. Tim Sekunder mengikuti babak penyisihan bersama tim Master Spiritual akademi lain."
Evelyn dan teman-temannya mengerutkan dahi, mencoba mencerna penjelasan Nazareth. Para guardian mereka tak banyak membuat gerakan seakan-akan berubah jadi batu.
"Ada enam wilayah babak penyisihan dari Kekaisaran Neraida," Nazareth menambahkan. "Ada ratusan tim yang ikut berpartisipasi untuk memperebutkan lima belas posisi yang tersedia. Karena banyaknya akademi Master Spiritual tingkat tinggi di Kota Ilusi, jumlah tim yang lolos adalah lima."
Anak-anak asetnya mengerutkan kening mereka semakin dalam. Semakin bingung.
Migi Vox meronta-ronta dalam genggaman Nazareth, mulai tak sabar untuk melahap dua apel di tangannya.
"Aturan babak penyisihan berbeda dengan babak penentuan," kata Nazareth lagi sambil menurunkan tangannya dari mulut Migi Vox.
Boneka itu langsung melahap kedua apel di tangannya dengan cara bergantian, sementara Nazareth masih bicara.
"Babak penyisihan dilakukan dengan pertarungan tim. Babak penentuan dilakukan dengan mengirim lima peserta untuk pertarungan satu lawan satu. Kemudian tiga puluh tiga tim di babak final bertarung dengan diundi."
"Sir!" Evelyn menginterupsi. Sebelah alisnya terangkat tinggi. "Ada dua tim dari Jalur Juara," protesnya.
Seisi ruangan spontan mengerling ke arah gadis itu. Bahkan Cleon yang terus tertunduk sepanjang acara makan malam.
"Ada tiga puluh tim yang lolos babak penentuan," kata Evelyn. "Seharusnya totalnya ada tiga puluh dua tim. Kenapa sekarang jadi tiga puluh tiga?"
Seisi ruangan sekarang menoleh pada Nazareth dengan alis bertautan.
"Tim ketiga adalah tim yang dikirim Ordo Angelos," Nazareth menambahkan.
Oh, s h i t! erang Evelyn dalam hatinya. Mereka pasti lebih kuat dari tim kekaisaran!
"Babak final menerapkan aturan eliminasi," Nazareth menambahkan lagi. Semakin panjang dan bertele-tele. Tapi sangat membantu Author memperbanyak jumlah kata. "Babak pertama, tiga tim Jalur Juara tak perlu ikut. Babak kedua, dua tim peringkat atas babak penentuan tak perlu ikut. Babak ketiga, dua tim peringkat atas juga tak perlu ikut. Setelah babak ketiga, tersisa enam tim terkuat. Babak keempat, keenam tim akan bertarung sesuai undian. Tiga tim teratas, harus bertarung secara tim dan perorangan."
Evelyn dan teman-temannya mengerang bersamaan.
"Asal bisa memenangkan setiap babak, semua ini tak penting," kata Nazareth. "Di babak penyisihan, hanya tiga orang dari kalian yang akan ikut."
Kelima remaja itu sekarang terperangah serempak.
Nazareth mengerling ke arah Cleon, "Kau tak boleh ikut," katanya.
Seisi ruangan spontan terkesiap. Menatap bergantian ke arah Nazareth dan Cleon.
"Aku akan memberimu pelatihan khusus!" Nazareth menambahkan.
Cleon mengerjap dan tertunduk dengan dahi berkerut-kerut.
"Hanya tiga orang?" Evelyn memprotes.
"Jika terlalu awal menunjukkan kemampuan, babak selanjutnya akan sulit sekali!" sanggah Nazareth.
"Baiklah, aku mengerti!" tukas Evelyn dengan wajah cemberut.
Nazareth melontarkan tatapan tajam pada Evelyn. "Untuk taktik selanjutnya, kau saja yang atur!" tantangnya.
Evelyn spontan tergagap.
Nazareth memasang wajah datar dan mengalihkan perhatiannya pada yang lain.
Seisi ruangan tidak berkutik.
Evelyn menghela napas dalam-dalam dan berdeham. "Baiklah," ia memutuskan. "Tiga orang yang akan bertanding, aku, Xena dan Electra."
Altair serentak tercengang.
"Tidak perlu protes!" sergah Evelyn sebelum Altair sempat membuka mulutnya, menirukan gaya bicara Nazareth ketika menegur Nyx Cornus.
Gadis guardian itu mendesis menahan tertawa.
Nazareth meliriknya dengan isyarat peringatan.
Nyx Cornus langsung terdiam.
"Baiklah!" Lady Die menepukkan kedua tangannya, mengambil alih pembicaraan. "Tunggu sebentar," katanya. Kemudian beranjak dari tempat duduknya dan menghilang sesaat. Lalu kembali lagi membawa kotak berukuran besar.
Semua orang memperhatikannya dengan dahi berkerut-kerut.
Lady Die menurunkan kotak itu di depan pintu. "Untuk Turnamen Elit kali ini, aku secara khusus juga mendesign armor baru untuk kalian!" serunya dengan riang.
Seisi ruangan menanggapinya dengan antusias, lalu menghambur ke arah Lady Die dan mengerumuninya.
"Tadaaaa!" Lady Die membuka tutup kotak itu dengan gaya dramatis.
"Whoaaaaa!"
Kelima remaja itu berlanting gembira. Lalu mulai berebut menemukan baju zirah yang pas untuk mereka.
Para guardian lainnya menatap Lady Die dengan senyuman lebar.
Arsen Heart dan Salazar Lotz bertukar seringai.
Perempuan bermulut pedas itu mengalami banyak perubahan akhir-akhir ini! pikir mereka.