Poison Eve

Poison Eve
Chapter-64



Evelyn, Cleon, Altair dan Xena mulai bergegas meninggalkan estat Nazareth menuju taman di mana terdapat kolam air mancur berukuran besar berbentuk lingkaran yang di tengah-tengahnya terdapat patung Dewa Mimpi berbahan emas.


"Sir—" Electra tergagap-gagap ketika ia mencoba memberanikan dirinya untuk bertanya pada Nazareth. "Apakah aku dihukum juga?"


"Menurutmu?" Nazareth balas bertanya dengan suara rendah bernada intimidasi.


Migi Vox menatap Electra dengan alis bertautan sambil bertengger di bahu pria itu dengan kedua tangan bersilangan di depan dada.


Electra melirik ke arah guardiannya dengan isyarat memohon.


Nyx Cornus tak bereaksi.


Electra lalu tertunduk, "Kukira—"


"Sekarang kutanya padamu, siapa mereka bagimu?" sela Nazareth memotong perkataan Electra.


"Teman sekelas, teman seperjuangan," Electra bergumam lirih.


"Sebagai teman seperjuangan yang solid, menurutmu, apakah pantas kau berdiam diri selagi teman-temanmu dihukum?" Nazareth bertanya lagi.


Electra mengerjap dan menelan ludah, kemudian menoleh menatap punggung teman-temannya dengan ekspresi sedih. Lalu bergegas mengikuti mereka.


"Jangan katakan pada siapa pun mengenai apa yang menimpamu hari ini!" Nazareth berbisik memperingatkan ketika Electra melewatinya.


Electra menghentikan langkahnya sesaat dan mengerutkan dahi. Lalu mengangguk tanpa menoleh. Kemudian melanjutkan langkahnya.


"Apa harus Electra juga?" Nyx Cornus berbisik pada Nazareth sambil memandangi punggung anak asetnya dengan prihatin.


"Tanpa melewati kesulitan bersama, bagaimana bisa menjadi teman tim yang solid?" sanggah Nazareth.


Nyx Cornus langsung terdiam.


Mendengar langkah kaki di belakang mereka, Evelyn dan teman-temannya serentak menoleh dan menghentikan langkah.


"Ele?" Cleon mengerutkan keningnya. "Apa kau juga dihukum?"


Electra menatap teman-temannya sambil mengulum senyum. "Kalian semua dihukum," katanya. "Aku harus ikut menanggungnya.


Keempat temannya spontan mengerjap.


"Tapi…" Evelyn tergagap ragu.


"Kita adalah satu tim, ingat?" tukas Electra memotong perkataan Evelyn.


"Kami mungkin telah menempatkanmu dalam bahaya," sergah Xena bernada merajuk yang khas.


"Yang penting aku sudah di sini, kan?" bantah Electra cepat-cepat. "Ayolah!" katanya bersemangat. Lalu berlari mendahului yang lainnya. "Kalian tak ingin kita berlari mengelilingi Morfeus Statue sampai dini hari, kan?"


"Tentu saja tidak!" tanggap Cleon Jace cepat-cepat. Lalu berlari mengikutinya, diikuti yang lainnya. "Hukumanku paling banyak!" katanya. "Aku bisa lari sampai pagi kalau tak cepat-cepat!"


"Aku akan menemanimu sampai tiga puluh putaran!" Altair menawarkan diri seraya menjejeri langkah Cleon.


"Aku juga!" Evelyn dan Xena menimpali bersamaan.


"Go!" Electra mengacungkan tinjunya ke udara.


Mencapai sepuluh putaran, kelima remaja itu mulai melemas dan terengah-engah. Langkah mereka terseok-seok. Keringat membanjir di sekujur tubuh mereka.


Murid-murid lainnya mengawasi mereka dari jendela-jendela kamar asrama.


"Pelatihan lima besar ternyata sekeras itu," komentar beberapa murid wanita dengan raut wajah prihatin.


"Kudengar, Lord Vox sendiri yang membimbing latihan mereka!" komentar anak yang lainnya.


Anak-anak lainnya terperangah bersamaan.


"Selain itu, mereka juga dituntut untuk menembus level tiga puluh dalam waktu dekat," anak pertama melanjutkan.


"Kau benar-benar biang gosip!" cemooh anak yang tidak ikut-ikutan berkerumun di jendela.


Anak-anak yang berkerumun di jendela serentak menoleh pada anak yang lebih memilih bergelung di tempat tidurnya dengan tatapan mencela.


"Dan kau penguping munafik!" seloroh salah satu dari mereka yang berkerumun di jendela.


"Suara kalian bahkan bisa membangunkan orang mati!" sergah anak yang bergelung di tempat tidurnya. "Kau bilang aku penguping munafik?"


"SILENT!"


Gebrakan di pintu membuat semua anak tersentak dan berpencaran ke tempat tidurnya masing-masing.


Seisi ruangan berubah hening.


"Siapa yang mengajari kalian bergunjing?" gerutu Nyx Cornus sembari berbalik dan menggeleng-geleng. Lalu bergegas menjauh.


"Lady Die," salah satu anak mendesis menahan tawa.


Anak-anak lainnya menanggapi dengan cekikikan.


Menjelang tengah malam, Morfeus Five masih berjibaku di seputar kolam Morfeus Statue. Gerakan mereka sudah semakin lambat dan tak berdaya.


"Ada yang ingat kita sudah berapa putaran?" tanya Evelyn bernada ringkih dan putus asa.


"Rasanya seperti sudah lima ratus putaran," jawab Xena meracau. Lalu terpuruk dengan posisi wajah meluncur lebih dulu.


Evelyn dan Electra segera menahannya dan menopang Xena di kiri-kanannya, lalu melanjutkan langkah mereka dengan gerakan lambat.


Cleon dan Altair berlari sambil saling merangkul satu sama lain, langkah mereka juga sudah melambat seperti siput.


"Tiga putaran lagi," Cleon menggumam terengah-engah. "Dan kita sudah menyelesaikan tiga puluh putaran."


"Semangat!" kata Electra sambil mengacungkan tinjunya ke udara. Lalu ambruk bersama Evelyn dan Xena.


Cleon dan Altair memekik lemah seraya mengulurkan sebelah tangan mereka. Tapi bersamaan dengan itu, mereka juga terpuruk dan ambruk di lantai konblok dengan posisi tertelungkup.


Pukul lima dini hari, mereka semua terbangun dan mendapati dirinya berada di ruang pemandian obat.


Cleon terjaga lebih dulu di ruang pemandian obat pria. Ia mengedar pandang dengan kelopak mata layu dan mendapati Altair belum siuman di dalam bak pemandian obat di sebelahnya.


Di ruang pemandian obat wanita, Evelyn dan Electra terjaga bersamaan sementara Xena masih terkulai.


"Pukul berapa sekarang?" Electra bertanya dengan suara parau khas orang bangun tidur.


Evelyn mengedar pandang untuk mencari petunjuk waktu dan menemukan jam dinding besar seukuran lemari pakaian mereka di estat Nazareth, menempel di dinding di atas perapian. "Celaka!" pekiknya panik.


Electra mengikuti arah pandangnya dan terkesiap.


Waktu menunjukkan pukul enam kurang sepuluh menit.


Nazareth berpesan, pukul enam pagi mereka semua harus sudah berkumpul di ruang makan.


Kedua gadis itu segera melompat keluar dari bak pemandian obat sambil menyambar handuk mereka masing-masing.


Xena tersentak mendengar suara berdebuk ribut yang disebabkan teman-temannya. Lalu terperanjat dan mengedar pandang. Tatapannya yang panik menyapu seluruh ruangan. Kemudian berhenti pada teman-temannya dengan mata terpicing.


Evelyn dan Electra sedang menggeliat-geliut memakai seragam mereka masing-masing.


"Syukurlah kau sudah siuman!" kata Electra sambil memasangkan kancing seragamnya dengan buru-buru. "Cepatlah!" katanya. "Kau ingat apa yang dikatakan Lord Vox?"


"Tidak perlu memprotes!" jawab Xena menirukan gaya bicara Nazareth ketika memarahi Nyx Cornus dengan suara mengantuk.


Evelyn dan Electra spontan terkekeh menanggapinya.


Tak lama kemudian, Xena terlonjak dan terbelalak, kemudian menghambur dari bak mandi. Menyambar handuk dan memakai seragamnya dengan ekspresi panik. "Ingatkan aku untuk mencatat urutan jadwal latihan ekstrem Lord Vox," katanya seolah tidak bernapas.


Sejurus kemudian, ketiga gadis itu sudah melesat keluar pondok pemandian dan menghambur ke arah pondok Nazareth, hampir bertabrakan dengan Altair yang tak kalah panik.


"Di mana Cleon?" Altair bertanya pada ketiga gadis itu.


"Please, don't ask!" Ketiga gadis itu menghardik bersamaan dan menyeruak melewatinya.


Altair tergagap-gagap sesaat sebelum akhirnya bergegas menyusul mereka.


Mencapai teras belakang yang mengarah ke dapur yang menjadi satu dengan ruang makan, mereka mencium aroma sedap masakan yang membuat perut mereka menggemuruh.


Keempat remaja itu berebut di ambang pintu dan mendapati Cleon sudah berada di dalam, duduk bersila di depan meja rendah lesehan bergaya oriental klasik yang dipenuhi aneka makanan yang masih mengepul.


Migi Vox duduk bersila di tengah-tengah meja seraya mendongak menatap mereka dengan mulut penuh.


Mata keempat remaja itu terbelalak dengan ekspresi lapar yang tak tertahankan.


Cleon menoleh pada mereka sambil tersenyum.


Keempat temannya serempak menyerbu ke dalam dan membeku begitu melihat Nazareth di balik meja racik, mengenakan celemek dan membawa dua nampan makanan yang baru selesai dimasaknya.


Evelyn tergagap menatap pria itu dengan ekspresi antara lapar dan bergairah.