Poison Eve

Poison Eve
Chapter-61



"Sekarang tenangkan dirimu dan tarik napas," Nazareth menginstruksikan seraya membungkuk di depan Evelyn.


Sulur-sulur tanaman berkepala ular itu bereaksi agresif ketika ia mendekat.


Migi Vox tidak berani mendekat. Tetap melayang di tempat semula.


Xena dan Electra menelan ludah dan bertukar pandang dengan ekspresi ngeri.


Lady Die dan Nyx Cornus membeku di kiri-kanan Arsen Heart yang tak kalah syok.


"Bayangkan mereka masuk kembali ke punggungmu," instruksi Nazareth lagi.


"AAAAAAAAAAAAARRRRRRGH!" Evelyn melolong kesakitan. Sulur-sulur tanaman yang telah bermutasi itu semakin mengganas di punggungnya.


"It's ok, coba lagi!" bujuk Nazareth setelah akhirnya berhasil menyentuh pundak Evelyn sementara sulur-sulur tanaman yang telah berevolusi itu melecut-lecut di sekelilingnya.


Tubuh Evelyn semakin bergetar ketika ia mencoba menarik peri pelindungnya namun tenaga dalamnya malah diserap tanaman itu.


"Biarkan udara mengalir," Nazareth menginstruksikan. "Anggaplah cakra spiritual Xenephon sebagai peri pelindungmu. Sama seperti bagian tubuhmu, seperti tangan atau kakimu. Dia sudah menjadi bagian dari tubuhmu sekarang."


Evelyn menghela napasnya dalam-dalam, menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi paru-parunya yang serasa akan meledak. Lalu kembali memusatkan konsentrasinya.


"Jangan terlalu ngotot!" Nazareth memberitahu. "Lebih alami. Seperti bernapas."


Evelyn menelan ludah dan mendongak, menatap ke dalam mata Nazareth. Tatapan pria itu menenangkannya. Lalu secara perlahan, sulur tanaman itu akhirnya melemas, dan berangsur-angsur melesak kembali ke punggungnya.


Kedua temannya menghela napas lega.


Nyx Cornus menatap cemas di belakang Nazareth.


Lady Die bertukar pandang dengan Arsen Heart.


"Good job," bisik Nazareth sambil mengusap puncak kepala Evelyn dan tersenyum samar.


Evelyn membalas senyumnya sebelum akhirnya terpuruk dan jatuh tersuruk.


Nazareth spontan menangkap bahunya dan menahannya. Lalu menariknya hingga duduk tegak.


Evelyn masih gemetar dan terengah-engah. Keringat membanjir di wajahnya.


Xena dan Electra menghambur ke arah Evelyn dan memeluknya.


Nazareth menghela napas dan beranjak berdiri. "Bukan masalah besar," katanya pada Nyx Cornus. "Hanya masalah… pengakuan!"


"Pengakuan?" Lady Die menatap Nazareth dengan mata terpicing.


Nazareth menoleh pada Lady Die dengan alis bertautan. "Apa akhirnya kau tertarik dengan teoriku?" sindirnya.


Lady Die langsung terdiam.


Arsen Heart mendesis menahan tawa seraya membekap mulutnya dengan kepalan tangan.


Lady Die mendelik padanya dengan tatapan sebal, lalu mendengus pada Nazareth dengan raut wajah cemberut.


Nazareth menoleh pada Evelyn dan teman-temannya. "Ayo kita ke aula pengobatan!" ajaknya kepada ketiga gadis itu. "Lihat kondisi teman kalian."


Ketiga gadis itu spontan mengangguk dan segera beranjak.


Evelyn berjalan ditopang kedua temannya.


Mencapai teras aula pengobatan, Master Spiritual Pengobatan Akademi menyambut mereka dengan ekspresi gusar. "Racunnya sangat mematikan!" Ia melapor pada Nazareth.


Nazareth tetap memasang wajah datar, lalu menoleh pada Evelyn. "Ikut aku ke dalam!" katanya pada gadis itu. Migi Vox mengikutinya, melayang ringan di sisi bahunya dengan meniru gerakan dan ekspresinya.


"Hmh!" Evelyn mengangguk singkat, lalu bergegas mengikuti guardiannya ke dalam aula sementara Xena dan Electra tetap di luar bersama guardian mereka.


Cleon dan Salazar Lotz juga berada di teras ketika mereka tiba.


Sesampainya di bilik perawatan, Nazareth menoleh lagi pada Evelyn dengan ekspresi datar yang sama. "Obati dia!" instruksinya.


Evelyn spontan tergagap.


Master Spiritual Pengobatan Akademi memekik tertahan mendengar perintah Nazareth, lalu menoleh pada Evelyn dengan tak yakin.


"Tinggalkan kami!" perintah Nazareth pada pria paruh baya itu.


"Netralisir racunnya!" ulang Nazareth setelah Master Pengobatan Akademi meninggalkan ruangan.


"Baik," kata Evelyn sambil menoleh ke sana kemari untuk menyiapkan peralatan. Ia mengira Nazareth menyuruhnya melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan pada pria itu sewaktu di Hutan Berburu Peri Monster. Tapi perkataan pria itu selanjutnya membuat Evelyn tergagap.


"Dengan peri pelindungmu!" Nazareth menambahkan.


Evelyn spontan terperangah. "Tapi—"


"Kau sudah berhasil mengendalikan peri pelindung parasit dengan kesadaranmu," sela Nazareth memotong perkataan Evelyn. "Percayalah pada dirimu. Kau pasti bisa merasakannya, kan?" desak Nazareth.


Evelyn menatap ragu ke arah Altair yang tergolek tidak sadarkan diri dengan bibir membiru.


"Kendalikan lagi Peri Pelindung Parasit-mu dan serap kembali racun di tubuh Altair!" Nazareth memerintahkan. "Sama seperti ketika kau menyimpan kembali peri pelindung parasit tadi ke dalam tubuhmu."


Evelyn masih terlihat ragu.


"Jangan pikirkan hal lain!" Nazareth menambahkan. "Ingat, peri pelindung parasit itu sekarang sudah menjadi bagian dari dirimu. Kau harus mengakuinya sebagai milikmu!"


"Tapi—"


"Percayalah!" sergah Nazareth bersikeras. "Xenephon tidak akan rugi apa pun!"


Evelyn akhirnya mendesah lega. Lalu menoleh lagi pada Altair. Keraguan menyergap dirinya lagi. Apa aku bisa? pikirnya tak yakin.


"Punya racun, sudah pasti punya penawar!" Nazareth menambahkan. "Dan cepatlah! Sebelum racunnya menyebar ke jantung temanmu!"


Evelyn mengerjap dan menelan ludah dengan susah payah.


"Lakukan!" Nazareth tiba-tiba merenggut pinggangnya dari belakang dan menariknya mendekat, merapatkan tubuh mereka, lalu membungkuk mendekatkan mulutnya ke telinga Evelyn. "Sayang!" ia menambahkan dengan bisikan menggoda.


Napas hangat pria itu menggelitik leher Evelyn. Evelyn spontan tersengat oleh gairah. Jantungnya berdebar-debar dan wajahnya bersemu merah.


Migi Vox melongok dari balik bahu Nazareth, menatap wajah mereka dengan ekspresi bingung dan penasaran anak balita.


Nazareth melepaskan pelukannya dan beringsut mundur menjauhinya.


Evelyn menghela napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Mencoba menenangkan diri dan berkonsentrasi.


"Kendalikan Peri Pelindung Parasit-mu dan masuk ke dalam luka Altair," Nazareth membimbingnya. "Hati sesuai keinginan. Percayalah, ini tak sulit!"


Punggung Evelyn perlahan terkuak secara spiritual, semburat cahaya berwarna merah darah berkeredap muncul bersama sulur tanaman yang telah berevolusi menjadi ular berwarna merah.


Akui dia sebagai milikmu! Evelyn berkata dalam hatinya. Anggaplah sebagai bagian dari tubuhmu. Seperti pelukan Nazareth! pikirnya menambahkan seraya tersenyum samar.


Nazareth menangkap seringai itu dan menautkan kedua alisnya. Apa sebenarnya yang dia pikirkan? ia bertanya-tanya dalam hatinya.


Saat Nazareth memelukmu, itu juga melumpuhkanmu seakan menyerap banyak energi, tapi bersamaan dengan itu dia juga jadi milikmu, Evelyn membatin semaunya. Tapi itu berhasil membuatnya sedikit lebih relaks sekaligus bersemangat.


Lalu secara perlahan, salah satu sulur tanaman dari punggungnya yang lancip tanpa kepala ular mulai melesak ke dalam dua lubang kecil bekas pagutan ular di tangan Altair tanpa kendala.


Evelyn menarik napas lagi, lebih pelan dan lebih dalam. Bersamaan dengan itu, ia bisa merasakan tubuhnya menyerap sesuatu seperti ketika ia memancing gairah kekasihnya hanya dengan tatapan.


Nazareth tersenyum puas melihat hasil bujukan mautnya yang tidak umum dilakukan seorang guru.


Evelyn berhasil membersihkan racun di tubuh Altair!


"Good job, Sweetheart!" bisik Nazareth seraya mengedipkan sebelah matanya.


Migi Vox menelengkan kepalanya di bahu Nazareth, melongok wajah Nazareth dengan dahi berkerut-kerut.


Evelyn mengulum senyumnya dan tersipu. Lalu menyimpan kembali peri pelindung parasitnya dengan menganggap hal itu sebagai Migi Vox yang dijejalkan ke dalam kalung penyimpanannya.


Nazareth memutar tubuhnya dan berjalan melintasi ruangan menuju pintu.


Evelyn mengikutinya sambil tertunduk dengan salah tingkah.


Migi Vox melepaskan diri dari punggung Nazareth dan melayang di atas tempat tidur Altair, kemudian tertunduk mengamati wajah pemuda itu dengan tatapan penasaran anak-anak.


"Vox!" panggil Nazareth tanpa menoleh.


Migi Vox menyentakkan kepalanya, menoleh pada Nazareth. Lalu melesat dan mendarat di tengkuk Evelyn dengan kedua tangan menggelayut di leher gadis itu, kemudian menelengkan kepalanya, melongok wajah Evelyn sembari tersenyum miring.


Nazareth akhirnya menoleh dan mendesah pendek. Menatap tajam Migi Vox dengan isyarat peringatan. "Vox…" geramnya.