
"Apa aku mengenalmu?" Evelyn bertanya dengan suara lemah.
"Dia werewolf!" Victoria menyela dengan suara ketus. "Penghuni gua di sisi kiri gunung!"
"Diakah peri monster agak pemarah yang kalian maksud?" tanya Evelyn.
"Benar," jawab Victoria. "Manusia terkutuk yang berubah jadi serigala setiap malam bulan purnama."
"Tak heran mereka jadi pemarah," komentar Evelyn berusaha untuk bicara normal. Tusukan rasa sakit merajam seluruh tubuhnya setiap kali ia bergerak, bahkan meski hanya menggerakkan mulutnya untuk bicara. Ia menoleh ke arah manusia serigala itu dan memaksakan senyum. "Katakan apa keperluanku?" tanya Evelyn dalam bujukan tegas.
"Aku…" manusia serigala itu menelan ludah dengan susah payah. "Ingin memberikan nyawaku bagimu," katanya terengah-engah. "Selagi belum purnama, aku tidak akan membahayakan kalian. Seraplah cakraku, Tuan Putri! Bebaskan aku dari kutukan ini!"
Evelyn mengerutkan keningnya.
"Percayalah aku sangat cepat dan tangguh!" kata manusia serigala itu dengan nada memohon.
Evelyn melirik pada Nyx Cornus. "Lady…" desisnya sambil mengernyit. "Electra…"
Werewolf itu mengikuti arah pandangnya.
Nyx Cornus mengerjap dan menelan ludah, kemudian melirik anak asetnya dengan tatapan ragu.
Electra memucat di sisinya.
"Usiaku sudah lima ratus dua puluh tahun, kultivasiku sudah lima ratus tahun," werewolf itu menjelaskan dengan terbata-bata.
"Tapi—" Nyx Cornus terlihat cemas. "Kutukan itu…"
"Tidak, Nona! Tentu saja tidak!" sergah werewolf itu memotong perkataan Nyx Cornus. "Setelah kau menyerap cakra spiritualku, kau akan memiliki kekuatanku. Tapi tidak dengan kutukanku. Kalian bahkan tak harus menunggu purnama untuk menggunakan kekuatanku."
Nyx Cornus mengerjap lagi, lalu menatap anak asetnya dengan mata berbinar-binar, "Kalau begitu… bukankah kau sangat beruntung?"
Electra tergagap-gagap, tak tahu bagaimana harus menanggapinya.
"Aku hanya ingin mati dengan tenang sekarang," tutur manusia serigala itu sambil tersenyum sedih. Lalu mendongak ke arah Nazareth yang masih bermeditasi di bukit. "Dia sudah di sini," katanya penuh khidmat. "Aku sudah boleh tenang sekarang."
Lady Die mengerling ke arah Nazareth dengan mata terpicing, kemudian bertukar pandang dengan Arsen Heart.
"Silahkan!" manusia serigala itu membungkuk ke arah Nyx Cornus dan Electra dengan hormat tentara.
Electra menelan ludah dan beringsut ke belakang guardiannya.
"It's ok, Ele! Bersiaplah!" bujuk Nyx Cornus.
Evelyn tersenyum lemah pada Electra, untuk memberikan dukungan.
"Baiklah," kata Electra sambil memaksakan senyum. Kemudian duduk bersila di depan manusia serigala itu dengan sedikit takut-takut.
Manusia serigala itu membaringkan dirinya di depan Electra dan menghela napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Semburat cahaya merah memancar dari luka di perutnya, sebuah lingkaran cahaya berbentuk cakram seukuran cincin mengendap keluar sementara tubuhnya bergetar dan tersentak-sentak, lalu terkulai dan tidak bergerak lagi.
Cincin cahaya itu melayang ke arah Electra, ukurannya membesar seiring dia melayang, lalu mengendap turun di seputar tubuh Electra.
Tubuh Electra bergetar hebat. Whoa—panas sekali! pikir Electra. Kekuatan yang sangat ganas!
Satu malam berlalu dengan masing-masing mereka memulihkan diri, Xena dan Electra masih menyerap cakra, sementara sejumlah peri monster berjaga di sekitar mereka.
Evelyn pun terlelap di pangkuan goliath itu, dan jatuh ke dalam dunia mimpi.
Di dalam mimpinya…
Evelyn kembali dihadapkan dengan Nazareth!
GLAAAAAAARRR!
Ledakan cahaya itu melemparkan Evelyn dan mengempaskan gadis itu ke dinding tebing.
Evelyn menjejakkan sebelah kakinya ke permukaan tanah dengan teknik penyatuan tiga jantung yang dalam sekejap menyebabkan seluruh tempat di sekelilingnya bergetar. Lingkaran-lingkaran cahaya berbentuk cakram berwarna-warni berkeredap seperti kilat di sekeliling tubuh Evelyn.
Seluruh tempat di sekelilingnya serentak bergemuruh, berguncang dan berkeretak di samping juga menyala-nyala.
Kedua mata Nazareth serentak menyipit, menghujamkan tatapan tajam pada Evelyn seraya mengetatkan rahang. Lalu menggeram dan melontarkan energi cahaya berbentuk bola api sebesar batu gunung ke arah Evelyn.
DUAAAAARRRR!
Bola api itu meledakkan salah satu bukit batu di belakang Evelyn sementara gadis itu melejit menghindari serangan Nazareth.
Sampai sejauh ini, isi mimpinya sama persis dengan apa yang dia alami.
Tapi entah bagaimana tiba-tiba hal itu membuat Evelyn belajar dari kesalahannya beberapa saat lalu.
Jika sebelumnya ia mencoba menyerang Nazareth dengan kekuatan inti peri pelindung leluhur, kali ini Evelyn memutuskan untuk tidak menggunakannya karena ia sudah tahu leluhur Nazareth lebih berkuasa dari semua leluhurnya.
Jadi ia lebih memilih untuk menggunakan peri pelindung penjaga jiwa.
Ia menarik bangkit tubuhnya, berdiri dengan pose favoritnya—satu kaki tertaut di tumit kaki yang lainnya, kemudian mengembangkan kedua tangannya di sisi tubuhnya, dan berputar-putar.
Kemudian menerjang ke arah Nazareth sambil menarik keluar ilusi Migi Vox dari permata pemberian Nazareth dan melemparkannya ke arah pria itu.
SLASH!
Migi Vox menerjang gadis itu dengan tendangan memutar yang memancarkan cahaya terang keemasan yang menyilaukan.
Evelyn terhempas ke belakang, namun bersamaan dengan itu, ilusi Migi Vox melesat ke arah Migi Vox yang asli dengan tendangan memutar yang sama.
BLAAASSSH!
Sekarang Migi Vox melawan Migi Vox, dan Evelyn bisa fokus melawan Nazareth.
Nazareth menggerak-gerakkan kedua tangannya seakan sedang menari, kemudian melejit ke udara, energi cahaya berbentuk cakram berkeredap keluar dari pinggangnya kemudian membesar dengan sentakan keras, menyapu seluruh tempat, menerjang semua gerakan yang coba mendekatinya---sama persis seperti yang dilakukannya tadi.
Evelyn sudah melejit sebelum Nazareth meledakkan energi cahayanya, dan berhasil menghindari serangan membadai itu yang ia sudah tahu akan memporak-porandakan seluruh tempat di sekelilingnya.
Detik berikutnya,Nazareth menggeram dengan murka, kemudian menerjang ke arah Evelyn dan menjerat gadis itu dengan benang cahaya dari ujung jemarinya, menariknya ke dalam genggamannya dan mencengkeram leher gadis itu dengan kekuatan penuh, seakan mencoba memecahkannya.
Evelyn memekik dan terbelalak, melontarkan tatapan memelas.
Nazareth menatapnya dengan mata terpicing dan mengetatkan rahangnya. Dengan tubuh gemetar, pria itu mengetatkan cengkeramannya dengan mengerahkan seluruh kekuatan cahaya yang dimilikinya.
"Nazareth…" Evelyn mendesis lirih dengan suara tercekik. "Sadarlah!"
Nazareth terkesiap dan terperangah.
"Sadarlah…" Evelyn melemas dalam genggamannya.
"Eve?" Nazareth tersentak dan melonggarkan cengkeramannya. Sesuatu dalam genggaman tangannya ternyata bukan Migi Vox, melainkan leher jenjang kekasihnya. "Tidak!" desisnya lirih.
Bersamaan dengan itu, Evelyn membuka mulutnya dan menyemburkan api ke wajah Nazareth, sementara tangannya sudah mengembang di sisi tubuhnya dengan jemari membentuk cakar. Lalu menyentakkannya, dan dalam seketika sosok ilusi Migi Vox berubah menjadi sulur berkepala ular kobra dan menyergap leher Migi Vox.
Waktu sudah menjelang pagi ketika semua orang akhirnya selesai bermeditasi dan memulihkan diri.
Mereka semua berkumpul di kaki tebing di sekitar mulut gua yang menjadi koloni peri vampir, sementara Evelyn masih terbaring dalam pangkuan goliath.
Tak lama kemudian, semua terkesiap melihat tubuh Evelyn yang tiba-tiba terangkat dari pangkuan goliath.
Tubuh Evelyn sekarang melayang dan berputar-putar di atas kepala goliath itu dan memancarkan cahaya terang keemasan berbentuk cakram yang meliputi seluruh tubuh Evelyn yang masih terlentang. Kedua tangan dan kakinya menggantung lemas. Lalu secara perlahan, tubuh Evelyn berputar ke posisi berdiri.
Lingkaran cahaya berwarna emas itu perlahan mengkerut dan melilit di pinggang Evelyn seolah mencoba menopangnya supaya tidak jatuh. Lalu berangsur-angsur mengendap turun, mendaratkan Evelyn dengan hati-hati.