Poison Eve

Poison Eve
Chapter-41



Evelyn merasakan lantai di bawah kakinya bergetar. Tidak kentara, tapi dia bisa merasakannya begitu kuat.


Deg, DEG!


Deg, DEG!


Deg, DEG!


Ia mendengar letupan dari dalam kalungnya. Seperti merasakan degup jantung Nazareth di dadanya.


Evelyn tertunduk menatap bandul kalungnya dan menggenggamnya.


Permatanya menyala berkedut-kedut.


Lalu ia teringat Migi Vox berada di dalamnya.


Apa yang terjadi? pikirnya cemas.


Lalu secara perlahan, cahaya itu memancar semakin terang. Kemudian berkeredap dan Migi Vox melesat keluar dari kalung itu dan melejit ke arah pintu.


"Vox!" Evelyn menjerit dan menghambur ke arah Migi Vox sambil mengulurkan sebelah tangannya, berusaha meraih boneka itu.


Tapi kecepatan Migi Vox tak tertandingi.


Evelyn menyeruak ke arah pintu dan…


BRUK!


Ia menubruk dada seseorang yang secara otomatis mencengkeram pundaknya dan menahannya.


"Vox!" pekik Evelyn sambil memberontak dan menyentakkan bahunya.


"Biarkan saja!" sergah suara di atas kepalanya.


Evelyn mendongak dan terperangah. "Master Claus!" desisnya terkejut.


Xenephon tertunduk memandanginya dengan raut wajah keruh. "Kemasi barang-barangmu, Eve!" instruksinya dengan suara datar.


Tapi Evelyn bisa merasakan sesuatu yang salah sedang terjadi. "Apa yang terjadi?" tanya Evelyn. "Di mana Lord Vox?"


"Kita bicarakan nanti setelah kita sampai di Akademi," kata Xenephon. "Sekarang kemasi saja barang-barangmu, kenakan topengmu karena kita harus menemui beberapa bangsawan di kedai minuman."


"Tapi Vox—"


"Dia sudah bersama Lord Vox!" Xenephon memberitahu.


Evelyn akhirnya terdiam. Lalu tertunduk dan memutar tubuhnya memunggungi Xenephon. Kemudian bergegas ke dalam kamarnya untuk berkemas.


"Besok kau harus melapor ke Balai Cabang Ordo Angelos mengenai Lencana Master Spiritual-mu," Xenephon menginstruksikan setelah mereka meninggalkan kamar Evelyn dan bergegas ke kedai minuman. "Tapi sebelum itu, kita harus memenuhi undangan beberapa bangsawan."


Evelyn mengangguk singkat. Raut wajahnya terlihat muram dan berkerut-kerut karena gelisah. Apa sebenarnya yang terjadi? pikirnya.


Kenapa Nazareth pergi begitu mendadak?


Apakah dia pergi dengan Hell Catie?


Siapa sebenarnya Hell Catie?


Memasuki kedai minuman, mereka disambut bungkukan hormat para pelayan wanita berpakaian minim serba ketat dan terbuka.


Para bangsawan yang mengundang mereka beberapa jam yang lalu mulai berebut mengenai siapa yang lebih dulu mengundang Evelyn.


Evelyn tak dapat berpikir ketika para wanita menarik tangannya ke sana kemari.


Xenephon juga tak bisa berbuat banyak.


Di tengah situasi yang hampir kacau itu, kedatangan seseorang kemudian menghentikan para bangsawan itu.


Hell Catie melangkah ke dalam ruangan dikawal sejumlah pelayan dan empat pengawal abadi kerajaan.


Seisi ruangan mendadak beku.


Semua orang dalam ruangan membungkuk pada Hell Catie, kecuali Evelyn.


Evelyn terkejut mendapati Xenephon juga membungkuk pada Hell Catie.


Para bangsawan itu membungkuk semakin dalam, sementara Evelyn tergagap dengan mata dan mulut membulat.


Hell Catie menoleh ke arah para pelayan bar.


Para pelayan itu segera bergegas memanggil beberapa pelayan pria yang dalam seketika mengubah ruangan mendadak sibuk. Beberapa pelayan menyiapkan meja perjamuan, beberapa lainnya menyiapkan yang lain-lainnya.


Evelyn mengerjap dan menelan ludah. Menatap Hell Catie dengan alis tertaut. Tapi tak berdaya melontarkan penolakan.


Para pelayan itu sudah terlanjur bekerja keras, pikirnya.


Paling tidak aku tahu Nazareth tidak pergi dengan Hell Catie, kata Evelyn dalam hati. Melihat Xenephon juga menghormatinya, Hell Catie sepertinya bukan orang sederhana. Lebih baik turuti saja!


Selama perjamuan berlangsung, Evelyn lebih banyak terdiam. Begitu pula dengan Hell Catie.


Mereka hanya saling memandang satu sama lain dari seberang meja seperti ketika mereka dihadapkan di panggung arena.


Xenephon berbincang-bincang dengan guardian Hell Catie mengenai pertarungan final beberapa jam yang lalu, sementara para bangsawan yang turut bergabung memuji Hell Catie dengan gaya menjilat.


Seusai perjamuan, Hell Catie baru bicara pada Evelyn ketika mereka beranjak. Gadis itu sengaja menghadang Evelyn dengan elegan yang membuat kesan seakan-akan mereka hanya kebetulan berpapasan di dekat pintu keluar.


"Rasa malu yang kuterima hari ini, akan kubalas berlipat ganda di pertarungan berikutnya," bisik Hell Catie melalui bahu Evelyn.


Evelyn membeku sesaat sebelum akhirnya menoleh pada Hell Catie dan tersenyum miring. "Anytime, Princess!" responnya balas berbisik.


Setelah berjam-jam duduk di kepala meja berseberang-seberangan dengan Hell Catie, Evelyn akhirnya mengetahui jati diri gadis itu dari setiap perbincangan sejumlah bangsawan yang gemar menjilat.


"Terima kasih atas traktirannya," tandas Evelyn tanpa membungkuk. Lalu beranjak pergi diikuti Xenephon di belakangnya.


Hell Catie menelan ludah dan tercenung, memandangi punggung Evelyn melalui sudut matanya.


Waktu menjelang pagi ketika Evelyn dan Xenephon sampai di Akademi.


Evelyn benar-benar kalut sejak pulang dari arena. Dengan malas ia membuka pakaiannya dan mengempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Tapi kedua matanya sulit terpejam meski tubuhnya terasa lelah.


Evelyn terbangun beberapa jam kemudian setelah melalui pagi yang ia habiskan dengan membolak-balik tubuhnya dengan gelisah.


Ia tidak buru-buru membuka matanya meski segala kekhawatiran dan kesibukan telah membuatnya terjaga sepanjang malam.


Pikiran pertamanya mengarah pada Nazareth, dan yang kedua pada pembicaraan yang dijanjikan Xenephon.


Hatinya serasa tersayat setiap kali ia mengingat apa yang dilakukannya dengan Nazareth sebelum pria itu tiba-tiba pergi dan tidak kembali lagi.


Evelyn beranjak dari tempat tidurnya, kemudian berjalan melintasi kamarnya yang antik dan minimalis dengan jendela bulat dan atap miring, bergegas ke pemandian dan secara perlahan melucuti pakaian, mencelupkan sebelah kakinya ke dalam bak mandi, menyusul kaki lainnya, lalu tubuhnya.


Isi kepalanya seolah turut tenggelam ketika ia merendam tubuhnya. Tapi tidak berhasil membersihkannya. Pikiran-pikiran itu tetap melekat dalam benaknya setelah ia keluar dari air dan berpakaian.


Ia melakukan rutinitasnya yang biasa---berdiri di bawah tiang bendera di tengah lapangan yang dikelilingi murid-murid lain yang melakukan pemanasan.


Namun berbeda dari biasanya, setelah ia mengerti bahwa hal itu merupakan bagian dari pemanasan dasar yang sangat penting, ia tak lagi merasa terganggu oleh pandangan semua orang yang mencemooh.


Altair memandanginya dengan mata terpicing.


Setelah menyelesaikan dua puluh putaran sesuai standar akademi, Altair menghampiri Evelyn dan menyapanya. "Kau terlihat kurang bersemangat," katanya dengan ekspresi cemas. "Apa kau tak enak badan?"


"Aku tak apa-apa," jawab Evelyn seraya memaksakan senyum. "Hanya kurang istirahat."


Altair mendesah dan tersenyum. "So," katanya mencoba bersikap ceria seperti biasa. "Apa kau masih dihukum?"


Evelyn terkekeh tipis, "Tidak juga," katanya. "Kali ini aku menghukum diriku sendiri!"


Altair tertawa. "Kesalahan apa yang kau lakukan kali ini?"


"Tidak tidur dengan baik," kelakar Evelyn.


Altair tertawa lagi. "Apa hari ini aku sudah boleh mentraktirmu?" tanyanya penuh harap.


"Oh, kumohon jangan hari ini!" sergah Evelyn sambil tersenyum. "Aku sudah janjian dengan Master Claus."


"Baiklah," gerutu Altair dengan bercanda. "Lain kali jangan bilang kau juga janjian dengan Lady Die," katanya sambil mengerling ke puncak tangga di mana para guardian mengawasi mereka.


Evelyn tergelak dan menggeleng-geleng, "Tidak akan!" katanya di antara gelak tawanya.


Altair terbahak-bahak sambil berlari menjauh dari Evelyn. Kemudian bergabung dengan gerombolannya sambil melambaikan tangannya pada Evelyn.