Poison Eve

Poison Eve
Chapter-40



Kelopak mata Evelyn serentak meredup. Jantungnya berdebar-debar ketika bibir tipis Nazareth yang selalu menggodanya selama ini akhirnya menyentuh bibirnya. Lututnya terasa goyah, sementara tubuhnya terasa ringan hingga nyaris terhuyung dan terbang bebas.


Sekarang Nazareth membenamkan mulutnya di mulut Evelyn, memagut mulut gadis itu dengan mulutnya.


Dengan lembut tangan Nazareth menyentuh tengkuknya, begitu cekatan dan terasa menenangkan. Lidah pria itu sekarang menekan lembut dengan bujukan tegas yang membuat Evelyn memiringkan kepala dengan suka rela dan membuka mulutnya.


Denyut nadi gadis itu bergerak cepat ketika tanpa sadar ia menggelayut pada guardiannya dan merasakan debar jantung pria itu di dadanya.


Gelombang hasrat menguasai Nazareth ketika ia berhasil menjarah mulut Evelyn, mendorong pria itu pada kenikmatan yang membingungkan.


Dan ketika tangan Nazareth bergerak naik dan jemarinya merayap ke punggung Evelyn…


"Ehem!"


Suara berdeham pelan di belakang Nazareth membuat Evelyn dan Nazareth tersentak dan menoleh ke arah pintu.


Xenephon menyeringai di ambang pintu sambil bersedekap menyandarkan sebelah bahunya ke bingkai pintu.


Nazareth memelototi pria itu sambil menggemeretakkan giginya.


"Sori," gumam Xenephon dengan ekspresi tak berdaya. Bola matanya bergulir ke samping, kemudian mengerling melewati bahunya.


Nazareth menatap ragu pada Evelyn, kemudian menurunkan kedua tangannya dari bahu gadis itu dengan berat hati, lalu berjalan pelan ke arah pintu.


Evelyn melongok ke arah pintu melewati bahu Nazareth.


Tapi tiba-tiba saja Xenephon menarik bahunya dari bingkai pintu dan meluruskan tubuhnya. Menghalangi Evelyn!


Evelyn mengerjap menatap Xenephon dengan mata terpicing.


Xenephon pura-pura tidak menyadari pandangan gadis itu dan bersikap seolah-olah apa yang dilakukannya tidak disengaja. Ia menyeringai pada Nazareth ketika pria itu bergabung dengannya di ambang pintu.


Seorang pria paruh baya berambut pirang tembaga, berdiri di koridor di belakang Xenephon.


Pria itu memutar tubuhnya dan berjalan menjauh dari kamar Evelyn.


Nazareth mengikutinya tanpa bicara.


Evelyn membuka mulutnya dan tergagap. Suaranya tercekat di tenggorokan.


Xenephon mengedipkan sebelah matanya pada Evelyn kemudian berbalik dan bergegas mengikuti keduanya. Lalu memutar jari tengah dan telunjuknya di sisi wajahnya, dan dalam seketika pintu kamar Evelyn terbanting menutup.


Evelyn terlonjak dan terbelalak.


"Paman, kenapa kau di sini?" tanya Nazareth setelah mereka sampai di balkon di mana ia bicara dengan adiknya tadi.


"Bukankah sudah jelas, musim kompetisi sudah di depan mata?" tukas pria paruh baya itu dengan nada menyebalkan.


Pria paruh baya itu adalah pemilik salah satu akademi seni beladiri spiritual kekaisaran selain paman Nazareth dan juga ayah Xenephon. Namanya Mikhail Claus. Paman dari pihak ibu. Dia berada di situ untuk menguji anak-anak didiknya.


"Nada bicaramu sama sumbangnya dengan Xen," dengus Nazareth tak kalah menyebalkan.


"Dan kau sama menjengkelkannya dengan ayahmu padahal aku yang membesarkanmu," sembur Mikhail semakin menyebalkan.


Xenephon membekap mulutnya menahan tawa.


Nazareth memelototinya.


"Dengar, Earth!" kata Mikhail sambil berbalik menghadap ke arah Nazareth dan menghujamkan tatapan tajam. "Ayahmu sudah tua dan sakit-sakitan," ia memperingatkan. "Sejujurnya, itu adalah kabar baik sekaligus kabar buruk bagiku."


Nazareth tidak peduli.


"Kabar baiknya, orang yang paling menjengkelkan di dunia akhirnya akan berkurang satu setelah dia mati. Kabar buruknya, Paman Kush-mu tersayang mungkin akan mengambil alih tahta kekaisaran kalau kau tidak segera pulang!" cerocos Mikhail tanpa perasaan.


"Aku sudah bertemu Catlyn tadi," Nazareth memberitahu.


"Yang kaisar adalah ayahmu! Bukan adikmu!" sergah Mikhail tambah menjengkelkan.


Nazareth mendesah pendek dan memutar-mutar bola matanya. "Biarkan Paman Kush menikmati surga dunia karena setelah dia mati belum tentu dia dibangkitkan dan diangkat ke surga," sanggahnya tak ingin tahu.


Giliran pamannya sekarang yang mendesah kasar. "Dari mana kau mewarisi sifat pengalah padahal ayah ibumu penuh ambisi?"


"Aku penguasa benua, dan kau bilang aku pengalah hanya karena aku menolak sebuah negara?" sergah Nazareth pedas.


"Satu benua dengan satu negara milikmu sendiri, bukankah itu sangat serakah?" sergah pamannya tak kalah pedas. "Kebaikan kecil takkan membawamu ke mana-mana!"


Nazareth terdiam dengan tampang bosan.


"Kalau nama belakangku Thunder, aku bersumpah akan meracuni si tua Kush!" Mikhail menambahkan. "Kemudian mengirimmu ke Black Hole!"


Nazareth tidak bereaksi.


"Jangan khawatir soal gadismu!" Mikhail akhirnya menggunakan jurus pamungkas. "Kekaisaran takkan menolak Evelyn Katz!"


"Kau menyelidikinya?" desis Nazareth dengan mata terpicing.


"Kau pikir hanya Ordo Angelos yang bisa melakukannya?" Mikhail tersenyum penuh kemenangan. "Perlihatkan pelatmu!" instruksinya tanpa beban.


Nazareth bertukar pandang dengan Xenephon.


Apa sebenarnya maunya? pikir Nazareth mulai jengkel.


Mikhail menggerak-gerakkan jemarinya mengisyaratkan permintaan menuntut.


Nazareth mendesah pendek dan mengeluarkan pelat Ordo Angelos dari batu permata di dahinya pada ikat kepala—batu penyimpanan lain selain kalungnya yang diberikan pada Evelyn. Lalu menyerahkan pelatnya pada Mikhail.


Mikail mengangkat pelat itu di sisi wajahnya, kemudian menunjuk simbol naga merah di pelat itu. "Kau tahu apa artinya ini?"


"Tentu saja aku tahu!" jawab Nazareth tak sabar. "Aku ketua Ordo. Harus berapa kali kuingatkan bahwa keponakanmu adalah rajamu?"


Mikhail tidak tertawa. "Apa kau tahu siapa dia?"


Nazareth mengerutkan keningnya dan kembali bertukar pandang dengan Xenephon.


"Just answer!" desak Mikhail.


"Apollo," jawab Nazareth.


"Apollo siapa?"


"Master Spiritual level leluhur," jawab Nazareth tak yakin—tak yakin ke mana sebenarnya arah pembicaraan pamannya.


Master Spiritual Level Leluhur adalah Master Spiritual tertinggi nomor satu di dunia. Master Spiritual terkuat pertama dalam sejarah.


Tapi kenapa dia harus membahas hal itu di sini?


"Aku tanya, Apollo siapa?" ulang Mikhail tanpa ekspresi. "Dan bukan siapa Apollo!"


Nazareth dan Xenephon kembali bertukar pandang dengan dahi berkerut-kerut.


"Tidak bisa jawab?" ejek Mikhail tanpa selera humor.


"Apollo Katz!" jawab Nazareth dengan terpaksa. Entah kenapa ia merasa seperti didikte di bangku sekolah dasar. Tapi lalu tiba-tiba terperangah. "Katz!" pekiknya nyaris tercekik.


Mikhail tersenyum miring seraya mengedikkan sebelah bahunya. Sebelah alisnya terangkat tinggi.


Nazareth spontan tergagap. "Apollo Katz…" desisnya dengan dahi berkerut-kerut. Dalam benaknya ia membayangkan simbol naga merah pada pelatnya, lalu simbol palu, "Orion Katz…" sekarang simbol pedang, "Rodrigo Katz…"


Orion Katz adalah kakek Evelyn, dan Rodrigo adalah ayahnya.


"Evelyn Katz…" desis Nazareth tercekat.


"Ya," potong Mikhail cepat-cepat. "Evelyn Katz adalah generasi keenam dari Apollo Katz. Klan Katz takkan pernah ditolak di kekaisaran Neraida sampai tujuh generasi."


"Itukah sebabnya… karunia cahaya penuh?" bisik Nazareth nyaris tak terdengar.


"Benar," jawab Mikhail. "Itu karena cakra Apollo."


"Cakra Apollo?" Nazareth mengerutkan keningnya semakin dalam.


"Apollo mewariskan ketujuh tulang cakranya melalui DNA dengan masing-masing satu tulang cakra untuk satu generasi!" Mikhail menambahkan. "Dan asal kau tahu, tulang cakra Apollo adalah barang langka yang paling diburu."


Kali ini Nazareth nyaris terhuyung mendengar penuturan pamannya.


Diburu? pikirnya getir.


Tulang cakra…


Ia mengerjap dan menelan ludah. Lututnya mendadak terasa goyah. Kepalanya berdenyut-denyut.


Ia masih ingat bagaimana ayah Evelyn terkoyak karena tulang cakra itu. Dan ia tak sanggup membayangkannya jika hal itu terjadi pada Evelyn.


Tidak! batinnya. Aku tak akan membiarkan Evelyn diburu seperti peri monster.


Deg, DEG!


Deg, DEG!


Deg, DEG!


Ketiga jantung Nazareth berdegup seirama selama ia membeku. Lantai di bawah kakinya bergetar hingga menimbulkan gempa lokal.


Xenephon spontan tertunduk sambil beringsut mundur menjauhi Nazareth, menatap lantai dengan dahi berkerut-kerut. Lalu menoleh pada ayahnya dengan alis bertautan. Kemudian menelan ludah.


Mikhail tersenyum samar. Sepasang matanya berkilat-kilat.