
"Ronde berikutnya, kusarankan kalian mengaku kalah!" Nyx Cornus mengumumkan ketika mereka berkumpul di ruang makan, sebelum berangkat ke Balai Budaya Kota Ilusi.
"Apa?" Evelyn dan teman-temannya terperangah bersamaan.
Migi Vox ikut terperangah dengan mata dan mulut membulat. Tubuhnya sudah kembali menjadi boneka kecil yang imut dan menggemaskan.
"Kenapa kami harus mengaku kalah?" gerutu Xena dengan gaya merajuk kekanak-kanakannya yang khas.
"Lawan kalian di ronde berikutnya adalah Akademi Sihir Dewa Musik Sandalphon!" Nyx Cornus memberitahu.
"Sekolah musik milik Master Claus itu?" Electra membelalakkan matanya.
Evelyn dan teman-teman lainnya terbelalak, menatap Electra dengan terkejut.
Uh-oh! pikir Evelyn. Ia mengalihkan perhatian ke arah Nazareth dengan isyarat memohon.
Nazareth berdeham dan menyilangkan kedua tangan di belakang tubuhnya. "Begini saja," katanya. "Kuberi kalian dua pilihan!" Ia mengacungkan satu jari di sisi wajahnya. "Pertama, kalian relakan ronde ini dan simpan tenaga untuk ronde berikutnya," sekarang ia mengacungkan dua jarinya. "Kedua, kalian tetap bertarung dengan persentase kemenangan kalian kurang dari satu!"
Evelyn dan teman-temannya memekik bersamaan.
"Hanya sekolah musik, kenapa begitu cemas?" gerutu Xena dengan merajuk.
"Salah satu dari mereka memiliki peri pelindung mimpi buruk!" Lady Die memberitahu.
"Mimpi buruk?" gumam Evelyn dengan dahi berkerut-kerut. "Apa seperti alam ilusi? Aku baru tahu ada peri pelindung seperti itu!"
"Kau masih ingat ketika kita bertemu Harpy di Hutan Berburu Peri Monster Kekaisaran saat pertama kali aku membawamu ke sana?" Nazareth bertanya pada Evelyn.
Evelyn mengangguk.
"Kau tahu risikonya kalau kita bertemu Harpy, kan?" tanya Nazareth lagi.
Evelyn mengangguk lagi. Teman-temannya saling bertukar pandang.
Mereka semua tahu, Harpy adalah ahli pembuat ilusi labirin yang akan membuat seseorang hanya berputar-putar di tempat yang sama tanpa menemukan jalan keluar.
"Katakan apa yang kulakukan ketika kita bertemu Harpy!" pinta Nazareth.
"Menyisi," jawab Evelyn dengan ekspresi muram. Teman-temannya spontan terperangah menatap Nazareth.
"Peri pelindung mimpi buruk lebih merepotkan dari itu, terutama karena setiap sepuluh level kekuatan spiritual juga didukung dengan cakra spiritual dari peri monster yang sangat beragam!" Nazareth menjelaskan.
Evelyn langsung tertunduk dengan dahi berkerut-kerut, mencoba berpikir keras.
"Bahkan Master Spiritual tingkat Kaisar tidak ingin berurusan dengan mereka!" Nazareth menambahkan.
Dalam dunia master spiritual, setiap sepuluh level peri pelindung memiliki gelar. Setelah peri pelindung dibangkitkan, gelarnya peri pejuang atau Master Spiritual tingkat Pejuang.
Di atas Master Spiritual tingkat Pejuang, ada Master Spiritual tingkat Pengawal, lalu tingkat Ksatria, tingkat Panglima, tingkat Guardian, tingkat Kaisar, tingkat Leluhur, tingkat Mulia, tingkat Angelos, terakhir adalah tingkat Cahaya. Lebih dari itu adalah Dewa.
"Tapi bukankah hal ini akan menjadi pengalaman baru bagi kami," protes Evelyn dalam gumaman lirih. Tidak berani mengangkat wajahnya. "Kami bertarung bukan hanya untuk menang. Tapi lebih kepada melatih diri sendiri. Kalau kami mundur saat bertemu lawan yang kuat, kami takkan bertumbuh.
Lady Die bertukar pandang dengan Nyx Cornus.
Arsen Heart dan Salazar Lotz tetap terdiam seribu bahasa.
"Eve…" Nazareth bersedekap, menatap ke dalam mata Evelyn. "Dunia mimpi berbeda dengan alam ilusi. Jika tidak merusak pusat mimpinya, tak ada yang bisa keluar."
Evelyn dan teman-temannya spontan menegang.
"My Lord!" Cleon menginterupsi. "Aku mengerti sedikit soal memecahkan dimensi ini. Izinkan aku turun untuk bertarung!" ia mengajukan diri. Setelah pengalamannya kemarin, ia telah belajar bagaimana menaklukkan alam ilusi yang diciptakan oleh Nazareth. Setidaknya itulah yang ia yakini.
"Kau dipersiapkan untuk babak penentuan!" sergah Arsen Heart. "Kau tetap harus disembunyikan."
Arsen Heart menggeleng samar, untuk mematahkan harapan Cleon, mengisyaratkan kekukuhan hatinya.
Cleon mendesah pendek dan tertunduk dengan bahu menggantung lemas.
"Dunia mimpi ini tidak terlalu mudah," tutur Nazareth. "Terutama mimpi buruk. Karena mimpi tercipta dari hati, ia akan menyerang hati manusia yang paling lemah."
Evelyn dan teman-temannya serempak tertunduk.
Migi Vox mendongak menatap Evelyn dari tengah meja.
Evelyn balas menatapnya dengan alis bertautan. Mencoba membaca isyarat yang ingin disampaikan boneka itu.
Boneka itu tersenyum miring.
"Kami akan bertarung!" Evelyn memutuskan.
"Hmh!" Xena dan Electra mengangguk mendukung Evelyn dengan antusias.
Seisi ruangan tersentak menatap mereka.
"Baiklah!" Arsen Heart menginterupsi. "Karena kalian sudah mengambil keputusan, aku akan membagi sedikit saran."
Evelyn dan teman-temannya menanggapi guardian itu dengan bersemangat.
Sebagai seorang Master Spiritual tipe senjata dengan peri pelindung Sagitarius, Arsen Heart paling mengerti soal pola waktu ruang dimensi, dunia mimpi dan alam ilusi.
"Satu jam di dunia mimpi setara dengan satu menit di alam nyata," tutur Arsen Heart. "Usahakan untuk tidak berada di sana lebih lama. Dunia mimpi bisa menguras banyak energi. Terutama kau, Electra. Sebagai penyerang samping, beban dan durasi panjang adalah kelemahanmu."
"Kami mengerti!" Evelyn dan teman-temannya menjawab bersamaan.
"Well, kukira sudah saatnya menggunakan hasil latihan fisik yang diterapkan Lord Vox selama beberapa pekan!" sela Lady Die.
"Dan usahakan untuk tidak mendengarkan musik mereka!" Nyx Cornus menambahkan.
"Melawan musik sihir akan sama dengan menyerap cakra spiritual," Salazar Lotz menimpali. "Tapi lebih ganas lagi!"
"Dan yang terpenting adalah saling percaya!" Nazareth memberikan kesimpulan. "Tanpa kepercayaan satu sama lain, kalian takkan pernah saling menemukan di dunia mimpi."
Evelyn menghela napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Mencoba menguatkan hatinya. Ia mengulurkan kepalan tangannya ke arah teman-temannya, kemudian teman-temannya menyatukan kepalan tangan mereka satu sama lain.
"Maju terus!" teriak mereka penuh tekad.
Guardian mereka bertukar pandang.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah berada dalam kereta kuda menuju Balai Budaya.
Aula pertarungan meledak oleh kemeriahan para penonton dan sorak semangat para pendukung kedua tim ketika Evelyn dan teman-temannya bersiap di pintu masuk arena.
Begitu pintu terkuak membuka, tiga orang pelajar wanita dari akademi dewa musik milik Xenephon sudah menunggu mereka dalam formasi satu-dua dengan pose memukau.
Dua gadis di belakang, masing-masing memegang alat musik yang diyakini Evelyn sebagai peri pelindung mereka, sementara gadis yang berada di posisi depan tidak membawa apa-apa seperti vokalis dalam grup band.
Evelyn menebak gadis itulah yang memiliki peri pelindung mimpi buruk yang sangat merepotkan. Salah satu dari yang paling perlu mereka waspadai.
"Ketua tim Akademi Militer Dewa Mimpi, Evelyn Katz!" pemandu acara memperkenalkan, disambut tepuk tangan meriah para penonton. "Salah satu Master Spiritual tingkat Ksatria dengan cakra tingkat leluhur yang bertarung di babak pertama kualifikasi. Datanya sangat mempesona. Dua wajah Master Spiritual di belakangnya juga cukup familier, Xena Moz dan Electra Dan. Lagi-lagi Master Spiritual tingkat Ksatria dengan cakra tingkat leluhur."
Para penonton kembali bertepuk tangan dan berteriak menyemangati tim Evelyn.
Duke Orion Jace tersenyum samar. Masih tak mau menurunkan Cleon? batinnya tak habis pikir. Lalu melirik putranya di tempat guardian.