
Bercak-bercak ungu tua melayang di depan mata Nazareth. Sebagian dari dirinya ingin tenggelam lagi dalam kegelapan, tapi sebagian dirinya yang lain berjuang keras untuk sadar sepenuhnya.
Lambat laun bercak-bercak ungu itu memudar, berganti abu-abu.
Kabut menipis, dan muncul warna putih dengan lekuk teratur dari kubah sebuah bangunan.
Mula-mula terlihat jauh sekali. Lalu semakin dekat.
Semakin dekat…
Semakin spesifik.
Ia mencoba menggerakkan jemarinya dan merasakan sesuatu yang hangat dalam genggamannya.
Kepalanya bergulir ke samping.
Kepala Evelyn terkulai di sampingnya, di tepi tempat tidur. Sebelah tangannya menggenggam tangan Nazareth, sementara tangan lainnya terlipat menyangga kepalanya.
Nazareth tersenyum lembut.
Ia ingat peri pelindung mutasi itu memagut punggungnya dan meracuninya. Tapi bersamaan dengan itu Evelyn tersadar dan menahan semua kepala ular itu tetap berada di punggung Nazareth kemudian mengubahnya menjadi sulur tanaman dan menyerap kembali racunnya.
Setelah itu ia tak ingat apa-apa lagi.
Para ahli pengobatan yang berlaku sebagai panitia membawa Nazareth ke Aula Pengobatan di gedung yang sama. Tapi Nazareth sudah tak apa-apa. Hanya tinggal menunggu siuman saja.
Semua orang di alun-alun ibukota dan Balai Mulia kedua negara, tidak menyadari apa yang terjadi.
Nazareth mengenakan jubah gelap dengan tudung kepala ketika melesat ke tengah arena, yang kemudian disimpulkan semua orang sebagai salah satu guardian Morfeus Academy.
Nazareth menarik tangannya perlahan dari genggaman Evelyn, menarik bangkit tubuhnya dengan hati-hati kemudian melangkah turun dari tempat tidur tanpa meninggalkan suara. Ia menggendong Evelyn dan membaringkannya di tempat tidur.
Ia tak tahu berapa lama ia tidak sadarkan diri, tapi ia bisa melihat langit sudah begitu gelap di luar sana.
Sudah malam!
Lalu ia memutuskan untuk kembali berbaring di tempat tidurnya, kemudian terlelap sambil memeluk Evelyn.
Menjelang tengah malam, empat orang wanita berjubah gelap, lengkap dengan tudung kepala dan selubung wajah, menyeruak ke aula pengobatan dengan gerakan seragam.
Empat wanita itu dikenali semua orang sebagai terapis Ordo Angelos yang berlaku sebagai panitia.
Mereka memiliki jadwal rutin selama turnamen, merawat para peserta yang cidera dalam pertarungan.
Setiap tengah malam mereka akan menyisir semua bilik perawatan untuk mengecek pasien mereka.
Tidak seorang pun pernah melihat wajah mereka, jadi ketika orang lain menyamar sebagai mereka, tak ada yang mencurigainya.
Sekarang para wanita itu memasuki bilik Nazareth.
Bukan terapis yang asli!
Dan ketika mereka melihat Evelyn berada di satu tempat tidur dengan Nazareth, terlelap dalam pelukan pria itu, para wanita itu terkesiap dan bertukar pandang. Seketika menjadi ragu.
Untuk sesaat tidak satu pun dari keempat wanita itu tahu apa yang harus dilakukan.
Entah yang mana target mereka, tapi pemandangan itu membuat para wanita itu hampir mengurungkan niat mereka.
Salah satu dari mereka mendesak dengan bahasa isyarat yang hanya dapat dimengerti oleh sesama mereka.
Lalu mereka mendekat perlahan ke tempat tidur, mengendap-endap tanpa suara dan membungkuk di belakang Nazareth.
Ketika salah satu dari mereka mengulurkan tangannya, tempat tidur itu tiba-tiba berkeredap dan…
GLAAAAAAARRRR!
Ledakan cahaya berbentuk lingkaran berwarna emas membuncah disertai angin kencang yang membuat para wanita itu terhempas membentur dinding.
Seisi ruangan sekarang hanya terlihat putih.
Begitu cahaya menyilaukan itu berangsur-angsur hilang, sosok Nazareth dan Evelyn sudah tidak berada di tempat tidur.
Para wanita itu tersentak dan berhamburan keluar lewat jendela.
Nazareth dan Evelyn melayang di atas para ksatria itu, berdiri diam di awang-awang dengan bertumpu pada lingkaran sihir.
Evelyn masih terlelap dalam rengkuhan Nazareth. Satu tangan Nazareth melingkar di pinggang Evelyn, sementara tangan lainnya menyusupkan wajah gadis itu ke dadanya.
"Bersihkan!" perintah Nazareth dalam bisikan tipis serupa tiupan angin.
Para ksatria merangsek ke arah para wanita itu, menghujamkan pedang mereka secara serentak.
GRAAAAKKK!
Sejumlah mata pedang bertautan di leher para wanita itu, sementara tubuh mereka disergap untaian rantai di sana-sini. Salah satu dari mereka berhasil kabur dengan menghilang.
Detik berikutnya, para ksatria itu menghilang bersama tawanan mereka.
Pekarangan Balai Budaya itu kembali lengang. Tidak ada tanda-tanda pernah terjadi kegaduhan.
Nazareth melayang ke arah menara dan mendaratkan kaki mereka di tepi balkon.
Evelyn masih terlelap di dalam pelukannya.
Nazareth mengusap-usap bagian belakang kepala gadis itu seraya tersenyum tipis.
"Eve, bangunlah!"
Evelyn mendengar bisikan itu. Ia melingkarkan kedua tangannya di punggung Nazareth dan menyusupkan wajahnya semakin dalam.
Nazareth tersenyum lagi, kemudian mengecup puncak kepala Evelyn.
Dalam benak Evelyn, Nazareth mendekapnya dalam keadaan tak sadarkan diri.
Seperti tadi siang!
Ia juga mendengar bisikan yang sama.
"Bangunlah!"
Dan ketika ia membuka mata, Nazareth sudah terpuruk di dalam dekapannya.
Jadi, ketika ia mendengar bisikan itu lagi, ia mengira Nazareth masih belum sadarkan diri.
Padahal dia sendiri yang tidak sadarkan diri.
Nazareth menurunkan tubuh Evelyn perlahan hingga duduk di lantai sementara ia sendiri berjongkok sambil tetap memeluknya. "Bangunlah," bisiknya sekali lagi.
Evelyn mengerjap dan membuka matanya dengan tersentak, kemudian mengerutkan keningnya. Ia menarik wajahnya menjauh dari dada Nazareth dan terkesiap. "Earth?" desisnya dengan suara parau khas orang mengantuk. "Kau sudah bangun?"
"Kau yang sudah bangun," bisik Nazareth setengah terkekeh.
Evelyn menyentakkan kepalanya ke samping, menoleh ke sana kemari, tatapannya yang panik menyapu sekeliling. "Apa aku mencelakaimu lagi?" tanyanya terpekik.
"Tidak," jawab Nazareth sambil mengusap kepala Evelyn dengan lembut. Senyumnya menghangat. "Akulah yang mencelakaimu sekarang."
Evelyn mendongak dan terperangah. "Apa kau sedang mencoba menjadikanku sebagai korban persembahan bagi Mikhael?" tanyanya lagi, masih dalam bisikan terpekik.
Nazareth terkekeh tipis. "Di sini, akulah penghulu malaikatnya!"
Ketua Ordo Angelos, Putra Cahaya, sama artinya dengan Penghulu Malaikat.
Evelyn mengalihkan perhatian dari patung Mikhael, kemudian berpaling pada Nazareth. Raut wajahnya berubah muram. "I'm sorry," bisiknya lirih.
Nazareth tersenyum sedih, "Tidak! Ini salahku," bisiknya sambil menarik kembali kepala Evelyn ke dadanya. "Tidak seharusnya aku membawamu ke sana."
"Kalau kau tidak membawaku ke sana, aku tak akan tahu seberapa dekat kau dengan gadis lain!" sergah Evelyn sambil menarik wajahnya menjauh dari dada Nazareth. Raut wajahnya berubah dengan cepat.
"Aku tidak sedekat itu, Eve!" tukas Nazareth dengan suara lembut membujuk. "Aku sangat mencintaimu," ia mengaku. "Kau terlihat bersemangat saat aku membicarakan manusia peri. Kukira… aku mungkin bisa sedikit menyenangkanmu."
Wajah Evelyn mengendur, ia menyusupkan kembali wajahnya ke dada Nazareth dengan suka rela. "Aku benci kau dekat dengan wanita lain," gumamnya bernada merajuk.
"Gadis bodoh!" Nazareth tersenyum tipis, kemudian mengusap kepala Evelyn lagi. "Kau kira aku tak membencinya?"
Evelyn mengulum senyumnya.