Poison Eve

Poison Eve
Chapter-33



"Lima detik dihitung mundur!" Pemandu acara mengumumkan. "Lima, empat, tiga, dua…"


Para penonton ikut menghitung dengan antusias.


"Mulai!" seru si pemandu acara penuh semangat.


Mo Rhino melipat kedua tangannya di depan dada dan mengerahkan tenaga ke pangkal lengannya hingga otot-ototnya bertonjolan.


Evelyn mengembangkan kedua tangannya di sisi tubuhnya dengan kedua telapak tangan mengarah ke atas.


Lalu dalam waktu bersamaan, lingkaran berbetuk cakram berpendar di bawah kaki mereka dan naik perlahan ke pinggang mereka.


BLAAAAAARRR!


Aula berkeredap dan seketika tepuk tangan meriah menggelegar diiringi sorakan semangat.


Evelyn memutar tubuhnya dengan hanya bertumpu pada ujung sepatu sebelah kaki sementara kaki satunya tertaut di tumit kaki lainnya.


Mo Rhino melesat lurus ke arah Evelyn dengan berlari cepat.


Evelyn meliukkan pinggangnya sedikit dengan gerakan masih berputar menyerupai gangsing yang kemudian memutari tubuh Mo Rhino.


Mo Rhino berdiri membungkuk dengan kedua tangan terkepal dalam sikap kuda-kuda, sementara sepasang matanya terpicing dengan waspada, berputar mengikuti gerakan Evelyn.


Evelyn masih mengelilinginya dengan tetap berputar-putar seperti penari balet yang sedang menggoda pasangan tarinya, yang semakin lama semakin cepat.


"Jadi, kau tidak berniat menyerang secara langsung?" ejek Mo Rhino. "Baiklah," katanya setengah menggeram, lalu menerjang ke arah Evelyn dengan mengayunkan siku tangannya.


WUSSSHHH!


Luput.


Posisi Evelyn tahu-tahu sudah berada di belakangnya ketika Mo mengayunkan sikutnya ke samping.


"Apa tidak berniat melakukan serangan, Keparat Manis?" Mo Rhino mulai tak sabar.


"Tidak melakukan serangan?" ejek Evelyn dari balik bahunya.


Mo Rhino terbelalak, dan…


BUGH!


Mo Rhino jatuh berlutut ketika ia coba memutar untuk menyerang Evelyn di belakangnya. Sulur tanaman rambat tahu-tahu sudah menjerat kedua kakinya dan mengikatnya.


Evelyn berhenti berputar di depan Mo Rhino dan membungkuk ke arah pemuda tambun itu sambil tersenyum miring.


Mo menyentakkan tubuhnya dan menerjang ke arah Evelyn sambil menghujamkan tinjunya.


Evelyn hanya memutar tubuhnya sedikit dan mengedikkan bahu.


WUSSSHHH!


Tinju Mo Rhino melesat melewati bahu Evelyn, hanya terpaut beberapa inci. Bersamaan dengan itu lilitan di kedua kakinya semakin mengetat dan merayap naik melewati lututnya.


BRUK!


Mo Rhino jatuh berlutut sekali lagi, kemudian menautkan kedua tangannya membentuk palu dan mengayunkan kedua tangannya ke arah sulur tanaman yang melilit pahanya.


BLASSSH!


Sulur tanaman itu merayap naik ke tangannya dan meringkusnya, lalu dengan cepat melilit ke bahunya.


Mo menggeram dan meregangkan otot-otot lengannya, lalu menyentakkannya, mencoba memutus sulur tanaman itu, namun pada saat yang sama, sulur itu membengkak dan berubah menjadi keras. Semakin kuat Mo mendorongnya, sulur itu semakin membesar hingga seukuran batang pohon kelapa.


Para penonton memekik dengan mata dan mulut membulat.


"AAAAARRRRRGH…!" Mo meraung dan cahaya kuning berkeredap dari punggungnya memunculkan gambar badak bercula satu dalam bentuk hologram.


Evelyn mengembangkan lagi kedua tangannya di sisi tubuhnya dan seketika cahaya kuning berbentuk cakram berkeredap dari lantai dan naik ke pinggangnya, lalu membesar. Bersamaan dengan itu, sulur tanaman yang melilit tubuh Mo Rhino juga bertambah besar.


"Poison ivy bisa sebesar itu?" penonton memekik tidak percaya.


Itu adalah serangan manipulasi.


Dengan posisi seperti itu, Evelyn bisa menerjang langsung bagian rahang dengan lututnya, kemudian mengayunkan kaki lainnya dengan tendangan memutar, dan memiting leher lawannya dari belakang.


BUGH!


Mo Rhino berhasil menangkis lutut Evelyn dengan bola cahaya yang berhasil ia lontarkan dari tanduk badaknya di puncak kepala, tapi tak cukup siap dengan sergapan kaki lainnya hingga ia tersungkur, sementara Evelyn bertengger pada tengkuknya, bersiap mematahkan tanduk badaknya yang merupakan kekuatan sekaligus kelemahan Mo Rhino.


"No, please!" pekik Mo Rhino menyerah. "Itu asetku satu-satunya," katanya memohon. "Kalau kau mematahkannya sekarang, ke depannya aku akan menjadi cacat seumur hidup. Aku mengaku kalah!"


Evelyn melompat turun dan menarik kembali cakra, peri pelindung dan tenaga dalamnya.


Mo mengangkat tangannya tanda menyerah dan seketika aula kembali menggelegar oleh tepuk tangan dan sorakan para penonton.


Evelyn membungkuk dan mengulurkan sebelah tangannya pada Mo untuk membantu pemuda tambun itu berdiri.


Mo menyambut uluran tangan Evelyn seraya tersenyum. Lalu membungkuk dengan hormat tentara.


"Pertarungan kembali dimenangkan oleh Si Rumput Liar, Poison Eve!" pemandu acara berteriak lantang melalui pengeras suara disambut sorakan dan tepuk tangan spektakuler hingga membuat seluruh aula terasa bergetar karena semangat mereka.


"Lagi-lagi dia menang dengan mudah," komentar Xenephon dari tempat guardian. "Aku tak percaya sekarang levelnya masih tiga belas!"


"Satu pertarungan lagi, dan dia sudah meraih Lencana Master Spiritual Level Perak," kata Nazareth di antara gemuruh tepuk tangan para penonton. "Kita akan segera tahu setelah ia melapor ke Balai Ordo."


Migi Vox mulai meronta di pangkuannya. Nazareth mencoba menenangkan boneka itu. Tapi Migi Vox tetap meronta, hingga boneka itu berhasil melepaskan diri dan melejit ke lantai bawah dan mendarat di dada Evelyn.


"Vox?" Evelyn memekik terkejut dan tertawa gembira.


Nazareth mendesah pendek, kemudian melirik Xenephon dengan raut wajah tak berdaya.


Xenephon menanggapinya dengan senyuman miring. "Lepaskan itu, Paman Vox!" godanya sambil mengerling ke bagian vital Nazareth.


"Oh, shut up!" sembur Nazareth dalam gumaman tajam.


Xenephon tergelak sambil memutar tubuhnya dan bergegas menuruni undakan menuju pintu keluar.


Nazareth mengikutinya sambil menggeleng-geleng.


Di ujung koridor tempat pertemuan antara tangga ke bawah dan tangga ke atas, mereka bertemu dengan Evelyn.


Migi Vox menggelayut dengan posesif di leher gadis itu.


Nazareth mencoba mengambil boneka itu tapi Vox mengetatkan rengkuhannya di leher Evelyn.


Xenephon membekap mulutnya menahan tawa.


Nazareth mengetatkan rahangnya dan menginjak kaki Xenephon secara diam-diam.


Xenephon meringis di antara senyum jahilnya.


Evelyn menatap pria itu dengan mata terpicing. "Are you okay?" tanyanya dengan raut wajah cemas.


"Well---yeah," jawab Xenephon cepat-cepat. "I'm okay! Tapi di sini sedikit panas." Ia mengibas-ngibaskan telapak tangannya di depan wajah, kemudian merangkul bahu Evelyn dengan bersemangat. "Bagaimana kalau kita mencari minuman segar?"


"Ide bagus," tanggap Evelyn tak kalah bersemangat.


Nazareth mengerutkan keningnya dengan ekspresi kesal. Migi Vox menyeringai padanya dari balik bahu Evelyn.


Xenephon melirik Nazareth melalui sudut matanya sambil tersenyum miring, mengejek pria itu. Tatapan nakalnya mengisyaratkan tantangan.


Nazareth berusaha untuk tidak menanggapinya dan tetap bersikap tenang dengan raut wajah datar.


Kedua pria berparas malaikat itu mengapit Evelyn menuju kedai minuman yang langsung menjadi sorotan para pengunjung lain, terutama mereka yang menyaksikan pertarungan Poison Eve dari awal kemunculannya sebagai pendatang baru.


"Oh, Tuhan!" gumam seorang pria. "Sayang sekali!" erangnya patah hati. "Ternyata dia sudah punya anak."


"Salah satu dari mereka mungkin suaminya," bisik yang lain pada temannya.


Migi Vox mengawasi mereka dari balik bahu Evelyn dengan mata terpicing penuh ancaman.