Poison Eve

Poison Eve
Chapter-69



"Xena!" Nazareth memberi instruksi.


Xena menelan ludah dan tergagap sesaat sebelum akhirnya melangkah maju dengan gelisah.


Migi Vox melayang di tengah pekarangan sambil menepuk-nepukkan sebatang tongkat seukuran gagang sapu ke telapak tangannya seraya menyeringai dengan ekspresi jahat.


Cleon dan Altair sudah terpuruk dan bergelimpangan di tepi pekarangan dalam kondisi babak belur.


"Dengar, Vox! Aku—" Xena tergagap-gagap. "Aku tak ingin melukaimu," bujuknya kalang kabut.


SLASH!


Migi Vox melesat ke arah Xena seraya mengayunkan tongkatnya.


"VOOOOOOX!" Xena menghambur menghindari Migi Vox dan berlari terbirit-birit mengelilingi pekarangan sementara Migi Vox memburunya.


Evelyn membekap mulutnya menahan tawa.


Tak sampai semenit acara kejar-kejaran itu berakhir dengan Migi Vox mengayunkan tongkatnya ke bagian belakang lutut Xena, yang secara otomatis membuat gadis itu jatuh berlutut, kemudian tersungkur dengan posisi tertelungkup.


"Your turn!" instruksi Nazareth pada Evelyn.


Evelyn spontan memasang kuda-kuda dan mengawasi Migi Vox dengan waspada.


Boneka itu menelengkan kepalanya sedikit dan tersenyum miring, membuat gemas siapa pun yang melihatnya.


Jangan tertipu wajah polosnya yang seperti bayi! Evelyn mengingatkan dirinya. Lalu menerjang ke arah Migi Vox.


Boneka itu mengayunkan tongkatnya dan mendaratkannya di perut Evelyn.


Evelyn terhenyak dan terhuyung. Membungkuk menekuk perutnya sembari mengernyit. Kecepatan dan kekuatannya tak bisa diremehkan, katanya dalam hati. Ia meluruskan tubuhnya dan kembali memasang kuda-kuda.


Migi Vox melejit ke belakang punggungnya kemudian mengayunkan tongkatnya ke tengkuk Evelyn.


Evelyn berhasil mengelak dengan merunduk, namun tak siap dengan serangan susulan.


Dalam satu kedipan mata, Migi Vox sudah mengalungkan tongkatnya di leher Evelyn dengan kedua tangan menggelayut di kedua bahu gadis itu.


Evelyn menahannya dengan kedua tangan, mendorong tongkat itu menjauh dari lehernya.


Migi Vox menelengkan kepalanya, melongok wajah Evelyn melewati rahang gadis itu dan menyeringai. Lalu tiba-tiba mencium pipi Evelyn yang secara spontan membuat wajah gadis itu bersemu merah.


Begitu juga dengan guardiannya!


Nazareth spontan berdeham dan memalingkan wajahnya cepat-cepat sembari mengepalkan tangannya di depan mulutnya.


Bersamaan dengan itu, Migi Vox menyentakkan tongkatnya dan menjepit leher Evelyn. Menguncinya.


"Just enough," sergah Nazareth dengan suara tercekat, tersedak oleh gairah yang tiba-tiba mengggelak dari dalam dirinya akibat tingkah Migi Vox, kemudian melontarkan tali cahaya dari ujung jemarinya untuk menjerat boneka itu dan merenggutnya.


Evelyn terhuyung dan terbatuk-batuk, lalu menjatuhkan dirinya di dekat Xena yang terduduk lemas bersandar ke pagar benteng.


"Electra!" Nazareth sekarang beralih pada Electra.


Electra mendekat dengan sikap waspada dan berdiri di depan Nazareth dengan sikap kuda-kuda.


Nazareth melepaskan Migi Vox dan dalam sekejap boneka itu sudah menerjang ke arah Electra seraya mengayunkan tongkatnya.


Electra membungkuk seraya memutar tubuhnya menyapukan sebelah kakinya di permukaan tanah untuk menyeimbangkan tubuhnya, kemudian melompat seraya mengayunkan tendangan lurus ke arah Migi Vox.


Boneka itu menepiskan kakinya dengan tongkat kayunya dalam sekali hentak.


Electra mampu bertahan lebih lama dibanding yang lainnya dengan menghindar dan mengelak.


Dari pertarungan keempat temannya, ia telah belajar bahwa pukulan Migi Vox tidak bisa ditangkis atau dibendung.


Meski ukuran tubuhnya tidak lebih besar dari seekor kucing, tenaga Migi Vox tidak bisa diremehkan. Terutama boneka itu juga tetap menggunakan teknik cahaya meski hanya untuk sekadar melayang di udara. Tapi teknik cahaya bekerja otomatis meski hanya digunakan dalam takaran tertentu seperti aliran listrik.


Sampai sejauh ini, yang bisa mereka pelajari hanyalah menghindar. Belum ada yang punya ide untuk mengalahkan boneka kecil itu.


"Bukankah ini sama saja dengan melawan Lord Vox?" bisik Xena pada Evelyn.


Evelyn menoleh pada Xena dan tersenyum samar. "Tanpa tali cahaya, artinya Migi Vox bergerak secara mandiri!" Ia memberitahu.


"Hah?" Xena terperangah.


Cleon dan Altair juga ikut terkesiap mendengar penuturan Evelyn.


Lalu ketiganya menoleh pada Nazareth dengan mata terpicing.


Pria itu berdiri diam dengan raut wajah datar sembari menyilangkan kedua tangannya di belakang tubuhnya. Seolah bisa merasakan dirinya sedang menjadi pusat perhatian, ia melirik ke arah Evelyn dan teman-temannya, yang secara otomatis membuat keempat remaja itu mengerjap dan langsung tertunduk.


Electra masih bertahan di tengah pekarangan, memantul-mantul dan menyerampang ke sana-kemari sementara Migi Vox melesat-lesat di sekelilingnya seperti burung pemakan bangkai.


Keempat temannya mengawasi pertarungan itu dengan seksama, mencoba mempelajari teknik serangan boneka itu.


Detik berikutnya, Electra sudah terpelanting dan terlempar dengan posisi terlentang.


Nazareth melontarkan energi cahaya berbentuk tali dari ujung jemarinya dan merenggut Migi Vox.


Boneka itu meronta-ronta, tak puas dengan pertarungan singkat.


Electra terengah-engah di tanah dengan tubuh gemetar, tidak segera beranjak. Keringat membanjir di wajahnya yang memucat.


Evelyn melompat berdiri dan menghambur ke arah Electra, kemudian membungkuk di atas tubuh gadis itu sambil mengulurkan tangan.


Electra terkekeh dan menerima uluran tangan Evelyn, kemudian menarik bangkit tubuhnya dengan napas masih terengah-engah.


Ketiga teman mereka juga akhirnya beranjak berdiri dan kelima remaja itu berbaris di depan Nazareth.


Nazareth mendesah kasar dan tertunduk memandangi kelima remaja itu sambil menangkupkan Migi Vox di bahunya dan mengusap-usap punggung boneka itu.


Migi Vox berdebar-debar karena bersemangat. Pertarungan selalu membuatnya menggebu-gebu meski hanya latihan. Itu bisa tak terkendali jika terlalu berlebihan.


"Karena kalian begitu payah, ke depannya kalian berlima lawan Migi Vox bersama-sama," Nazareth menginstruksikan.


Kelima remaja itu membungkuk serempak dengan hormat tentara.


Nazareth berbalik dan beranjak meninggalkan pekarangan belakang, dan seketika kelima remaja itu terpuruk menjatuhkan dirinya di permukaan tanah.


"Bertarung tanpa kekuatan cahaya ternyata rasanya seperti ini," Xena mengerang dengan ekspresi manjanya yang khas.


"Sejujurnya aku tak puas dengan keputusan satu lawan lima," gumam Electra masih terengah-engah.


"Tapi itu kesempatan kita untuk melatih kerja sama tim," tukas Cleon.


"Apa gunanya?" gerutu Xena memelas. "Tanpa teknik cahaya kita tak akan tahu kekuatan kita yang sebenarnya."


"Lord Vox melarang kita menggunakan kekuatan cahaya pasti ada maksudnya," timpal Altair.


"Kalau kupikir-pikir…" Electra menyela dalam gumaman rendah yang membuat keempat temannya serentak menoleh dengan alis bertautan. Electra terlihat berpikir keras saat mengutarakan maksudnya. "Kekuatan spiritualku melonjak dua level berkat latihan fisik," katanya.


Teman-temannya serempak mengerjap dengan raut wajah antusias.


"Levelku juga meningkat hanya dalam dua jam meditasi!" Cleon menimpali.


"Sepertinya aku juga merasa levelku sudah naik," kata Altair tak yakin.


Xena mengerutkan keningnya, mencoba mengingat-ingat latihan meditasinya tadi siang.


Evelyn tertunduk sedikit salah tingkah. Aku tidak melakukan meditasi tadi siang, katanya dalam hati. Lalu tiba-tiba wajahnya merona. Adegan mesranya dengan Nazareth tiba-tiba melintas dalam benaknya.


Keempat temannya menatap Evelyn dengan dahi berkerut-kerut.


Evelyn tergagap menyadarinya.