
Berdiri satu kaki dengan satu kaki tertaut di tumit kaki lainnya, tampaknya bukan hanya pose favorit Evelyn. Tapi juga pose favorit Nazareth saat melayang di udara.
Kedua tangannya masih bersilangan di belakang tubuhnya ketika pasukan misterius itu mencoba menyerangnya secara serentak. Tapi tidak satu pun mampu mendekatinya.
Dalam radius seratus meter saja, para penyerang itu sudah terpental.
Tentu saja!
Bagaimanapun Nazareth adalah Ketua Ordo Angelos, mencoba mendekatinya sama saja dengan upaya menggapai kursi singgasananya di Balai Cahaya.
Untuk bisa menggapai kursi singgasana Balai Cahaya dibutuhkan kekuatan yang sangat tinggi.
Bahkan Master Spiritual level lima puluh akan terpental di pintu masuk aula singgasana.
Satu tingkat di bawah level Apollo, bahkan hanya bisa menyentuh tangga teratas, sepuluh meter dari kursi singgasana.
Sayangnya tak banyak yang tahu bahwa level pria itu sekarang sudah melewati level Apollo.
Penulis Keparat belum membahasnya!
Tapi pembaca yang cerdas tentunya sudah mengerti, bahwa pada hari Nazareth kembali ke Akademi saat insiden di akhir kompetisi antar pelajar Morfeus Academy, ia sudah melewati level Apollo.
Kalau tidak, bagaimana mungkin Mikhail Claus melepaskannya?
Bukankah seharusnya dia dikurung selama setahun?
Itu adalah perkiraan waktu paling ideal menurut perhitungan Mikhail Claus.
Tapi siapa sangka rusaknya tiga segel kejahatannya dalam tubuh Migi Vox menyebabkan perkembangan level kekuatan Nazareth melonjak drastis. Lebih mengerikan dari lonjakan level kekuatan Evelyn.
Kekuatan spiritual pria itu sekarang sudah sepenuhnya di level dewa.
Tak butuh waktu lama untuk Nazareth menyapu bersih para penyerang misterius itu. Ia bahkan tak perlu melakukan apa pun untuk meremukkan mereka satu per satu.
Lalu kenapa dia tak melakukannya sejak awal?
Sebetulnya dia hanya menunggu semua orang dievakuasi ke tempat aman.
Ledakan energi yang akan dikeluarkannya bisa membahayakan orang biasa. Itu sama saja dengan melewati gerbang perbatasan Kota Cahaya. Orang biasa tak bisa melewatinya!
Setelah ia memastikan semua orang sudah berada di jarak yang aman, secara perlahan sebuah lingkaran cahaya berwarna emas mulai terlukis di bawah kakinya, seperti lantai kaca transparan bergambar hologram. Lingkaran sihir kuno dengan simbol-simbol astrologi, yang semakin lama semakin besar hingga mencapai radius ratusan meter.
Orang-orang di bawahnya menatap lingkaran sihir itu dengan tercengang, dan itu hanya tinggal pasukan abadi kerajaan dan para ksatria Ordo Angelos yang tidak memiliki kemampuan terbang bersama para peserta turnamen dan para guardian. Mereka semua tak bisa menggerakkan tubuhnya, kecuali Evelyn.
Migi Vox masih bertengger di bahu gadis itu. Energi mereka masih bertautan. Lebih tepatnya, Migi Vox masih menautkan energinya pada Evelyn.
Sebagai belahan jiwanya, level kekuatan Migi Vox selalu setara dengan Nazareth.
Sekarang para penyerang itu akhirnya tahu bahwa rumor tentang peri pelindung ketua Ordo Angelos yang cacat mutasi tak sepenuhnya benar. Bahkan kabar kekuatan spiritualnya yang tidak bisa melewati level dua puluh pun terbantahkan.
Tapi sudah terlambat untuk menyesal!
Ketika mereka mencoba berbalik untuk melarikan diri, para penyerang itu meledak bersama bongkahan batu yang mereka tebarkan di seluruh kota, kemudian melebur menjadi serpihan debu yang beterbangan dan lenyap tersapu angin.
Nazareth bahkan tidak melakukan apa-apa kecuali melayang diam dengan kedua tangan masih bersilangan di belakang tubuhnya. Hanya rambut dan jubahnya yang melecut-lecut tertiup pusaran angin yang mengelilinginya. Seluruh elemen cahaya terhisap ke dalam dirinya, menjadikan sosoknya terlihat seperti galaksi spiral di Tata Surya.
Hanya para penyerang dengan level kekuatan di atas enam puluh yang masih berbentuk utuh. Itu pun sudah tak bernyawa!
Jiwa mereka termasuk elemen cahaya yang turut terhisap oleh aura Sang Putra Cahaya.
"Bersihkan!" perintah Nazareth dengan bisikan setipis angin.
Detik berikutnya, Kota Ilusi mulai bersinar seperti peti harta karun raksasa, berkilauan seperti kebun permata.
Xenephon sedang melakukan perbaikan untuk semua bangunan yang hancur akibat serangan udara, menghimpun setiap serpihan puing dan mengembalikannya ke tempat semula.
Ketika semuanya berakhir, Nazareth dan Xenephon mendarat di tengah-tengah semua orang.
Semua orang di sekelilingnya serentak bersimpuh dan tersungkur ke arah Nazareth.
"Terpujilah dewa cahaya!"
Catlyn Thunder memandang kakaknya dengan terpukau. Sejak ia kanak-kanak, rumor tentang peri pelindung Putra Mahkota yang cacat mutasi dan kekuatan spiritualnya yang tidak bisa melewati level dua puluh sudah tertanam dalam otaknya sebagai aib kekaisaran. Kenyataannya ini mengejutkannya.
Nazareth mendekat pada adiknya, kemudian merunduk sambil mengulurkan sebelah tangannya, "Bangunlah!" katanya sambil tersenyum samar.
Catlyn menyambut uluran tangannya, kemudian menghambur ke dalam pelukannya sambil menangis.
Teman-teman Evelyn mengerling pada Evelyn. Begitu juga dengan guardian mereka.
Yah, memang! Setelah kunjungan terakhir mereka ke Hutan Berburu Peri Monster Kekaisaran, mereka semua sudah tahu bahwa Nazareth adalah Putra Mahkota.
Tapi sebagian dari mereka belum tahu siapa Catlyn. Sebagian lagi sudah tahu, tapi tak tahu apakah Evelyn sudah mengetahuinya.
Mereka semua melirik Evelyn untuk melihat reaksi gadis itu.
Tapi wajah Evelyn terlihat sama polosnya dengan wajah Migi Vox di pangkuannya.
"Sudah berakhir," kata Nazareth sambil mengusap-usap bagian belakang kepala Catlyn. "Sekarang pulanglah!"
Catlyn menarik wajahnya dari dada Nazareth, kemudian mendongak menatap wajah kakaknya. "Pulanglah bersamaku, Earth!" pintanya dalam bisikan lirih.
"Aku masih punya banyak pekerjaan," tukas Nazareth. "Kau juga!"
Catlyn mendesah berat. Kedua bahunya menggantung lemas di sisi tubuhnya.
"Kita akan bertemu lagi di babak enam besar," bujuk Nazareth. "Persiapkan dirimu dengan baik," ia menasihati, kemudian mendekatkan mulutnya ke telinga Catlyn. "Asal kau tahu dia sudah mencapai level kaisar!" bisiknya.
Catlyn mengerling ke arah Evelyn melewati bahu Nazareth.
Gadis itu mengerjap dan balas menatapnya dengan ekspresi polos dan penasaran seorang anak kecil. Ekspresi wajahnya seragam dengan Migi Vox.
Nazareth melepaskan pelukannya dan menepuk-nepuk bahu adiknya sembari tersenyum miring. Lalu menoleh pada Dimitri Aris, guardian Catlyn. "Jangan gunakan kereta," ia menginstruksikan. "Gunakan portal teleportasi!"
"I see, My Prince!" Dimitri membungkuk dengan hormat tentara.
Nazareth berbalik dan berjalan menjauh dari adiknya, kemudian melingkarkan sebelah lengannya di bahu Evelyn dan menariknya.
Gadis itu masih menoleh ke belakang, bertukar pandang dengan Catlyn.
Kepala Migi Vox muncul di antara bahu Evelyn dan Nazareth, kemudian melongok ke belakang, menelengkan kepalanya dan menyeringai pada Catlyn.
Catlyn mengerjap dan menelan ludah. Menatap boneka itu dengan ngeri.
Xenephon mengerling sekilas ke arah boneka itu dan memutar bola matanya diam-diam. "So… kau sedang memotivasi atau memprovokasinya?" tanyanya dalam bahasa cahaya.
"Kedua-duanya tidak ada bedanya bagi Catlyn!" sergah Nazareth dalam bahasa cahaya yang sama.
Evelyn tak bisa mendengarnya. Dalam frekuensi tertentu, bahasa cahaya tidak bisa didengar oleh orang lain yang sudah menguasai bahasa cahaya juga.
Penggunaan bahasa cahaya tidak ada bedanya dengan penggunaan bahasa biasa. Bisa diatur untuk umum, berkelompok atau pribadi. Yang membedakannya hanya penggunaan sistem fisiologi dalam tubuh manusia, atau lebih dikenal dengan istilah indera. Bahasa biasa disampaikan melalui mulut, sementara bahasa cahaya disampaikan melalui telepati.