
"Apa yang terjadi?" Nazareth bertanya terengah-engah sembari menjejeri langkah Xenephon di koridor yang mengarah ke kamar mereka.
Evelyn sudah menghilang di pintu kamarnya ketika Nazareth berhasil menyusul Xenephon yang sedang berlari mengejar gadis itu.
Xenephon menoleh dan berhenti berlari, tapi tidak menghentikan langkahnya. Napasnya juga terengah-engah karena berlari.
Sekarang kedua pria berparas malaikat itu berjalan cepat dengan langkah-langkah lebar melewati puluhan pasang mata para wanita yang terbelalak mengagumi pesona mereka.
"Dia meraih lima ribu poin lebih," Xenephon memberitahu tanpa mengurangi kecepatan langkahnya.
"Lima ribu poin?" Nazareth menoleh pada Xenephon dengan terbelalak.
"Dia meraih level emas hanya dalam tiga ronde pertarungan," Xenephon menanggapi dengan wajah semringah.
"Lalu kenapa dia terlihat begitu sedih?" Nazareth mengerutkan keningnya.
Xenephon memutar bola matanya dengan tampang muak. Dasar tidak peka! rutuknya dalam hati. "Bukankah sudah cukup jelas ada kesalahpahaman di sini?" semburnya tak sabar.
"Kesalahpahaman?" Nazareth menoleh lagi pada Xenephon. Dahinya berkerut-kerut semakin dalam. "Tunggu dulu!" katanya, tiba-tiba berhenti. "Apa maksudnya kesalahpahaman?"
Xenephon ikut berhenti. "Apa perlu diperjelas, Paman Vox?" desisnya bernada kesal.
Para wanita di dekat mereka terperangah sembari membekap mulutnya seakan baru saja mendapat undian.
"Ya, Tuhan! Mereka berhenti!" pekik para wanita itu berseru tertahan.
"Tampan sekali!" yang lainnya menanggapi.
"Dia tidak cemburu pada Catlyn, kan?" Nazareth menggumam sambil menatap udara kosong di depan wajahnya. "Dan tolong berhenti memanggilku Paman Vox!" semburnya sambil melotot pada Xenephon. "Aku bukan pamannya."
"Paling tidak kau akhirnya tahu perasaanmu tidak bertepuk sebelah tangan," kata Xenephon setengah menyeringai. "Lagi pula kau memang paman Vox."
Nazareth mengerjap dan menoleh pada Xenephon. Matanya berbinar-binar.
"Oh, jangan memelototiku!" dengus Xenephon. "Orang lain bisa salah paham mengartikan tatapanmu," gerutunya jengkel.
Nazareth menanggapinya dengan seringai tipis yang membuat Xenephon kembali memutar-mutar bola matanya dengan tampang muak.
Para wanita cekikikan sambil menutupi wajah mereka dengan kipas dan berbisik-bisik, sementara mata mereka berkilat-kilat menatap kedua pria itu.
Migi Vox melongok ke arah para wanita yang sedang bergosip itu dari balik lengan Nazareth dengan tatapan polos seorang anak kecil.
Para wanita itu terperangah menatap boneka itu.
"Oh, yang benar saja?" beberapa wanita mendengus sambil memalingkan wajah mereka dan mengipasi dirinya.
"Dia sudah punya anak!" wanita lainnya menggerutu.
Nazareth dan Xenephon mengedar pandang dengan mata terpicing. Lalu bertukar pandang dengan dahi berkerut-kerut.
Migi Vox menyeringai ke arah para wanita itu dengan tatapan licik.
Xenephon mendesah dan membeliak sebal menanggapi para penggosip itu. Lalu bergegas dari tempat itu.
Nazareth mengikutinya sambil menggeleng-geleng. Migi Vox melompat dari pangkuannya dan melesat ke pintu kamar Evelyn dan menerjangnya.
BRUAK!
Pintu kamar Evelyn terbanting membuka.
Evelyn menjerit dan terjengkang ketika Migi Vox menerjang ke pelukannya, lalu jatuh terduduk. "Vox?" pekiknya terkejut.
Migi Vox menyeringai sambil merayap naik ke dada Evelyn dengan kedua tangan menggelayut di leher gadis itu.
"Kau membuatku takut," Evelyn mengaku sambil terkekeh.
Nazareth dan Xenephon muncul di ambang pintu tak lama kemudian. Wajah keduanya spontan menegang mendapati Evelyn terpuruk di lantai.
Serta-merta kedua pria itu menghambur ke arah Evelyn dan menarik gadis itu berdiri secara bersamaan.
Evelyn menatap keduanya bergantian sambil tergagap-gagap.
"Are you okay?" Nazareth bertanya cemas.
Nazareth bertukar pandang dengan Xenephon. Lalu bertukar seringai.
Evelyn memutar tubuhnya sambil mengusap-usap punggung Migi Vox, lalu berjalan ke arah sofa.
Kedua pria itu mengamati punggung Evelyn sambil mengulum senyumnya.
Xenephon mengedipkan sebelah matanya pada Nazareth, kemudian berbalik dan bergegas ke arah pintu.
Nazareth tergagap dengan sebelah tangan terulur ke arah Xenephon, menggapai udara kosong, sementara pria itu sudah menghilang di ambang pintu. Pintu terbanting menutup di belakangnya.
Evelyn berhenti di dekat sofa dan menyentakkan kepalanya ke samping, menoleh ke belakang.
Nazareth membeku di belakangnya, sementara Xenephon sudah menghilang.
Evelyn ikut membeku.
Hening.
Evelyn memalingkan wajahnya dan tertunduk.
Migi Vox masih menggelayut di leher Evelyn sambil menyusupkan wajahnya di ceruk bahu gadis itu.
Kebekuan menyergap mereka dalam waktu yang lama, hingga… Nazareth akhirnya berdeham dan berjalan pelan menghampiri Evelyn.
"Kudengar kau berhasil meraih poin di atas lima ribu," kata Nazareth sedikit gugup.
Evelyn mengangguk.
"Kau meraih Lencana Level Emas?" lanjut Nazareth.
"Ya," jawab Evelyn nyaris tak terdengar. Lencana Master Spiritual Level Emas, dan… patah hati, batinnya getir.
Nazareth melipat kedua tangannya di belakang tubuhnya, kemudian menggerakkan jemarinya seperti yang ia lakukan ketika di Balai Budaya Kota Fortress, menyalurkan sedikit energi cahaya ke telapak tangannya dan membuat sedikit sihir, mengeluarkan setangkai bunga Alamanda.
Hening.
"Sejujurnya aku tak punya persiapan apa pun untuk hal ini, tapi…" Nazareth menarik sebelah tangannya dan mengulurkan bunga itu ke arah Evelyn. "Selamat!"
Evelyn spontan berbalik menghadap langsung pada Nazareth dan terkesiap.
Entah kenapa rasanya bunga liar itu selalu berhasil mengacaukan perasaannya, mengacaukan imajinasinya, dan mengacau-balaukan seluruh pertahanannya sebagai seorang wanita yang terlahir dari kalangan bangsawan.
Bunga liar itu selalu berhasil mengubah hatinya menjadi liar.
Tatapan Nazareth menghangat seiring senyuman lembut yang tersungging di sudut bibirnya.
Sekujur tubuh Evelyn menggelenyar. Seluruh naluri wanitanya bereaksi pada tatapan Nazareth dan daya tariknya.
Dan seketika senyuman pria itu mengaburkan batas antara patah hatinya beberapa saat lalu dan kerinduannya pada kelembutan kasih sayang.
Sesaat ia membeku di antara hasrat dan kebimbangannya. Mengikuti naluri wanitanya, Evelyn akhirnya menyerah pada getarannya dan membiarkan sisi liarnya mengambil alih dirinya yang dalam seketika membawa kedua kakinya menghambur ke dalam pelukan guardiannya.
Nazareth tersenyum sedih ketika gadis itu menyusupkan wajahnya di dadanya. Dengan lembut ia mengusap kepala gadis itu dan membalas pelukannya.
Evelyn luluh-lantak dan tangisnya pun meledak tak bisa dibendung. Perasaan hangat sekaligus perih menyayat hatinya dalam waktu bersamaan, namun patah hatinya seketika sirna berganti rasa haru selain berbunga-bunga.
Rasa bahagia mengetuk setiap ujung sarafnya, membuat ia tersadar untuk pertama kalinya. Kebebasan seolah bernyanyi melalui pembuluh darahnya. Namun di sisi lain Evelyn tidak percaya dia melakukannya. Dia guardianmu! sisi dirinya yang sopan memperingatkan.
Nazareth menarik wajahnya menjauh, kemudian mendorong bahu Evelyn dengan lembut, mengangkat wajah gadis itu dan tersenyum lagi. "Jadi…" ia mengulum senyumnya. "Kenapa kau menangis?" godanya setengah terkekeh.
Evelyn tertunduk dengan wajah tersipu, lalu mengusap air matanya dengan telapak tangan.
Nazareth merenggut Migi Vox dari bahu Evelyn dan menjejalkan boneka itu ke dalam kalung yang dikenakan Evelyn menggunakan tenaga dalam.
Evelyn terkesiap menatap kalung itu, kemudian mendongak menatap Nazareth, melontarkan isyarat bertanya.
Lalu secara tiba-tiba, dan tanpa peringatan, Nazareth membungkuk di atas kepalanya, mendekatkan wajahnya ke wajah Evelyn.
Evelyn melihat mulut pria itu menuju mulutnya dan tahu apa yang akan dilakukannya.