Poison Eve

Poison Eve
Chapter-49



Keheningan menyergap seluruh aula dalam waktu yang lama.


Semua orang membeku, terbelalak, mengangakan mulutnya dengan terkesima.


"Apa dia manusia?" seseorang akhirnya bersuara dalam gumaman lemah.


"Dia berhasil!" desis Xena Moz tidak percaya, suaranya tercekat di tenggorokan, sebelah tangannya mencengkram lengan Altair.


Altair melompat dan bersorak sambil mengacung-acungkan tinjunya di udara, menyentakkan semua orang dari keterpukauan.


Pemandu acara mengerjap dan tergagap-gagap. "Pertarungan berakhir!" Ia mengumumkan, sedikit terlalu antusias karena terkejut. "Anak aset Nazareth Vox menang dengan perolehan dua poin! Anak aset Arsen Heart satu poin!"


Seluruh aula akhirnya menggelegar oleh tepuk tangan spektakuler dan teriakan histeris.


Xenephon menyeringai tipis dan menggeleng-geleng. Akhirnya aku tahu apa yang terjadi dalam kereta waktu itu, katanya dalam hati.


"Teknik Penyatuan Tiga Jantung…" Nyx Cornus mendesis dan belum berkedip.


Lady Die belum bernapas.


Xena dan Altair berjingkrak-jingkrak di bangku peserta.


Evelyn menarik peri pelindungnya dan membantu Cleon naik dari lubang.


"Benar-benar cerdik!" Clean tersenyum lebar.


Evelyn mengangguk singkat dengan hormat tentara.


Cleon membalasnya dengan hormat tentara yang sama. Menarik! katanya dalam hati.


Lalu keduanya meninggalkan arena ke arah yang berlawanan.


Xenephon mengangkat sebelah tangannya di sisi wajahnya kemudian mengibaskan jemarinya dalam gerakan elegan seperti tarian, lalu dalam sekejap kilatan cahaya berwarna merah darah berkeredap dari telapak tangannya, membentuk lingkaran cahaya dengan simbol-simbol rasi bintang. Ia melayangkan lingkaran cahaya itu ke arah arena, kemudian lingkaran itu semakin membesar dan mengendap ke bawah, meresap di lantai arena dan dalam sekejap lantai arena yang retak kembali utuh.


"Terima kasih, Master Claus!" Wakil akademi membungkuk pada Xenephon.


Xenephon mengangguk sekilas dan tersenyum tipis. Lalu berbalik dan melangkah turun meninggalkan lantai dua. Ia menemui Evelyn di bangku peserta dan mengajak gadis itu ke ruang istirahat. Kali ini Nyx Cornus tidak mengikutinya karena harus menyaksikan anak asetnya.


Evelyn melambaikan tangannya ke arah Xena dan Altair, kemudian mengekor di belakang Xenephon.


"Cidera di lutut masih memaksakan diri melakukan teknik Penyatuan Tiga Jantung," Xenephon memarahi Evelyn setelah mereka sampai di ruang istirahat.


"Kau tahu?" Evelyn terperangah menatap Xenephon.


"Semua orang tahu teknik Penyatuan Tiga Jantung," jawab Xenephon. Ia berjongkok di lantai di depan Evelyn untuk mengobati lutut gadis itu, sementara gadis itu duduk di bangku. "Lord Vox pernah menerbitkan bukunya. Tapi tak banyak yang mempercayai teorinya."


"Lagi," gumam Evelyn bernada pahit.


"Kenapa kau begitu ngotot untuk tidak mengeluarkan cakra spiritualmu?" tanya Xenephon. "Apa kau belum menguasai teknik baru?"


"Karunia cahaya penuh alami," gumam Evelyn. "Cakra pertama ratusan tahun…" ia menggantung kalimatnya dan tertunduk.


Xenephon mendesah berat dan tersenyum tipis, "Baiklah," katanya lembut. "Aku mengerti."


Untuk pertama kalinya setelah kepergian Nazareth, Evelyn akhirnya tersenyum pada Xenephon.


"Sekarang bersiaplah," Xenephon mengintruksikan. "Aku akan menyalurkan energi untuk mengobati lututmu."


Evelyn mengangguk dan menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya perlahan. Ia bersila di lantai seraya menyatukan kedua pergelangan tangannya di depan dada dengan ujung jemari berlawanan arah dan memejamkan kedua matanya. Melemaskan otot-ototnya.


Xenephon bersila di depan gadis itu dan menautkan pergelangan tangannya juga di depan dada, menggerak-gerakkan telapak tangan dan jemarinya membentuk jurus-jurus penyatuan energi ke telapak tangannya. Dua bola cahaya sebesar kelereng berwarna merah darah menyembul keluar dari telapak tangannya. Ia menjentikkan bola cahaya itu ke lutut Evelyn dan melayangkan telapak tangannya di depan kedua lutut gadis itu untuk mendorong bola cahaya itu masuk tanpa menyentuhnya.


Tak sampai sepuluh menit, energi itu sudah meresap sepenuhnya ke dalam tubuh Evelyn dan melebur dalam aliran darahnya.


Evelyn membuka matanya dan tersenyum tipis, "Jadi… Anda terapis atau visionist?" tanyanya berkelakar.


"Sebenarnya aku penyihir," Xenephon balas berkelakar seraya tersenyum tak kalah tipis. Lalu beranjak dari lantai dan menarik Evelyn berdiri.


Evelyn tersenyum miring menanggapinya.


Lalu keduanya bergegas keluar dan berjalan bersisian menyusuri koridor menuju aula.


"Kalau tak salah tebak…" Xenephon menoleh pada Evelyn dan menyeringai. "Levelmu sudah naik lagi," katanya.


Evelyn mengulum senyumnya dan tertunduk. "Ya," katanya. "Aku bisa merasakannya."


"Apa?" Xenephon terperangah dan menghentikan langkahnya.


Evelyn spontan ikut berhenti, ia menatap Xenephon dengan alis bertautan.


Evelyn tersenyum miring, "Lebih tepatnya dua puluh satu," ia menimpali.


"Are kidding me?" Xenephon memekik tertahan.


Evelyn hanya mengangkat bahu dan mengulum senyumnya.


"Monster!" desis Xenephon dengan raut wajah syok.


"Eve!" teriakan ribut di ujung koridor mengusik pembicaraan mereka.


Xena dan Altair menghambur ke arah mereka dengan wajah semringah.


Xenephon mendesah dan memutar-mutar bola matanya dengan tampang muak. Pengganggu! rutuknya dalam hati, lalu menepuk sekilas bahu Evelyn dan bergegas meninggalkan gadis itu.


Xena dan Altair membungkuk pada Xenephon dengan hormat tentara.


Xenephon mengangguk singkat dan tetap berjalan melewati mereka.


Evelyn menghampiri kedua temannya. "Biar kutebak," katanya sambil menyeringai. "Kalian masuk ke lima besar. Apa aku benar?"


"Yupz!" seru Altair bersemangat.


Xena mengangguk-angguk tak kalah bersemangat. Wajah mereka berbinar-binar karena gembira.


"Ayo kita rayakan!" ajak Evelyn pada keduanya.


Sejurus kemudian, mereka sudah menghambur ke arah kantin sambil tertawa dan balap lari.


Xena berhasil memimpin di depan mereka, sementara Evelyn di posisi paling belakang.


"Baiklah," kata Evelyn terengah-engah. "Dalam hal kecepatan, aku ternyata ketinggalan jauh." Ia mengaku.


Xena dan Altair tertawa dan ber-high five!


.


.


.


Claus Manor, Kota Cahaya…


"Sembilan puluh satu…" Gavriil Claus membeku dengan alis bertautan. "Berapa levelnya sebelum dia menyegel setengah kejahatannya?" ia bertanya pada Mikhail dengan raut wajah syok.


"Seratus dua puluh," jawab Mikhail.


"Seratus—" Gavriil mengerjap dan tergagap-gagap. "Tiga kejahatan memakan seratus level kekuatan cahaya?"


Mikhail mengedikkan bahunya.


Gavriil menatap bola kristal Nazareth dengan ekspresi terpukul.


"Kecemasan adalah yang paling besar menyerap kekuatan cahaya," gumam Mikhail.


"Bagaimana bisa?" pekik Gavriil tak yakin. "Kecemasan bahkan tidak termasuk kejahatan."


"Are you sure?" Mikhail menaikkan sebelah alisnya.


Gavriil menoleh pada Mikhail dan mengerutkan keningnya. Berpikir keras.


"Menurutmu… dari mana datangnya pepatah ini, musuh terbesar adalah diri sendiri?"


Gavriil mengerjap dan terperangah.


"Bayangkan mereka menipu pikiran kita, mencuri kesadaran, memanipulasi keadaan, menakut-nakuti kita dengan kemungkinan-kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi," tutur Mikhail dengan ekspresi datar. "Mereka menggertak kita setiap saat, memperbudak kita sepanjang waktu."


"Masuk akal," Gavriil menggumam sambil tertunduk. Dahinya masih berkerut-kerut.


"Earth Thunder tumbuh dalam tekanan kecemasan," Mikhail mengingatkan. "Kaisar memerintahkannya untuk selalu menang di dalam segala hal hingga timbul kegelisahan bahwa ia bertanggung jawab atas hal ini."


"Aku mengerti," kata Gavriil sambil membelalakkan matanya, seolah baru saja mengingat sesuatu. "Kultivasinya didapat dari ketakutannya akan kekalahan!"


Mikhail terkekeh tipis, kemudian melingkarkan sebelah lengannya di bahu istrinya dan menuntun wanita itu ke bawah pohon oak berdaun cahaya untuk menikmati makan siang mereka.


Selama pemulihan Nazareth dan Migi Vox, mereka tidak pernah beranjak dari area pemandian obat, kecuali ketika Gavriil harus memasak atau ketika Mikhail harus mencari bahan obat yang tidak ada di sana. Mereka bahkan tidur bergiliran untuk menjaga kedua telur cahaya itu tetap berada dalam pengawasan mereka.


Sungguh merepotkan!