
Senin pagi…
Waktu baru menujukan pukul tujuh lewat lima belas menit, tapi Xenephon sudah terlihat kacau. Rambut pirang tembaga yang biasa klimis dan tersisir rapi, tampak kering dan mengembang menutupi dahinya yang berkerut-kerut gelisah sepanjang pagi. Kemeja putihnya yang dilapisi rompi armor, sebagian kancingnya dibiarkan terbuka di bagian dadanya. Ia bahkan melupakan jubah elegan kebanggaannya.
Xenephon Claus adalah pribadi yang terkenal paling peduli pada penampilan. Kecuali setelan hitam, ia mengenakan apapun yang harganya selangit.
Pria berparas cantik itu membolak-balik halaman agenda wakil akademi untuk keseratus kalinya dalam dua jam terakhir. Kemudian membaliknya lagi ke halaman utama. Setumpuk dokumen menunggu tandatangannya di meja dalam ruangan wakil akademi yang mulai sekarang akan menjadi ruangannya sampai musim kompetisi berakhir.
Ini jelas terasa seperti kutukan tersendiri bagi Xenephon yang tidak suka terkurung, bahkan di Balai Mulia Ordo Angelos sekalipun. Tapi sejak wakil akademi ditangkap bersama sejumlah pengikutnya, segala urusan para petinggi Akademi Dewa Mimpi harus menjadi urusannya. Dan itu artinya, dia harus menanggung beban pekerjaan enam orang petinggi sendirian.
Alangkah baiknya jika aku tetap berada di Balai Mulia Ordo Angelos! sesalnya dalam hati.
"Kau adalah petinggi akademi paling tampan yang pernah kumiliki!"
Xenephon terperanjat, suara itu terdengar seperti ledakan halilintar di telinganya. Suara terkeras pertama yang baru didengarnya sejak tadi pagi.
Nazareth tahu-tahu sudah berdiri dan mengamatinya di seberang meja di depannya.
Xenephon menghela napas berat, melipat agenda di tangannya kemudian mencampakkannya di atas meja. "Aku tidak tertarik pada sesama jenis!" rutuknya bernada jengkel. "Terutama terlibat inses!"
Nazareth melangkah mendekati meja, "Siapkan gaun terbaikmu, Xen!" katanya tanpa ekspresi. Di atas meja, pria itu meninggalkan dokumen baru berlogo kekaisaran.
Xenephon spontan mengerang dan menjatuhkan kepalanya di atas meja.
Sementara itu…
Di pekarangan, Evelyn masih setia melakukan rutinitasnya yang biasa---berdiri di bawah tiang bendera di tengah lapangan yang dikelilingi murid-murid lain yang melakukan pemanasan.
Tapi untuk pertama kalinya sejak dia berada di akademi, dia tidak lagi merasa terasing.
Tidak lagi sendirian!
Ada Cleon, Altair, Xena dan Electra berderet di sisinya di bawah tiang bendera itu.
Empat orang guardian mengawasi mereka dari puncak tangga pelataran akademi. Dea Proka, Salazar Lotz, Arsen Heart dan Nyx Cornus.
Menjelang makan siang, keempat guardian itu melangkah turun bersama Nazareth dan menghampiri Evelyn dan rekan-rekannya.
"Dengar, Anak-anak!" Nazareth berdiri bersilang tangan di belakang tubuhnya di depan keempat guardian itu. Migi Vox melayang di sisi bahunya dengan pose yang sama. "Pertama-tama, aku ingin mengucapkan selamat pada kalian karena kalian sudah lolos ke lima besar."
"Thanks, My Lord!" kelima anak aset itu membungkuk bersamaan.
"Aku sudah melihat semua dokumen kalian," Nazareth menambahkan. "Selanjutnya aku sendiri yang akan membimbing latihan kalian ke depannya. Jadi, kuharap kalian bisa mempersiapkan diri!"
Kelima anak aset itu tergagap bersamaan, tidak terkecuali Evelyn.
"Pelatihan akan dimulai besok," lanjut Nazareth. "Selain itu, mulai sekarang kalian berlima akan tinggal di estatku."
Kelima remaja itu bertukar pandang, lalu melirik guardian mereka masing-masing.
Keempat guardian di belakang Nazareth tetap bergeming.
Seolah bisa membaca pikiran anak-anak aset itu, Nazareth kemudian menambahkan, "Guardian kalian akan tetap mengawasi kalian. Selebihnya tanggung jawabku!"
Semua orang langsung terdiam.
"Pukul enam pagi, kalian sudah harus berkumpul di ruang makan." Nazareth menginstruksikan. "Selanjutnya, kalian akan melakukan pemanasan berdiri seperti ini setiap hari, mengambil kayu bakar bersama sebelum makan siang. Dan selama itu kalian dilarang menggunakan kekuatan cahaya!"
Kelima remaja itu serentak menahan napas.
"Seusai makan siang, kalian harus bermeditasi." Nazareth melanjutkan instruksinya. "Pada saat itulah kalian bebas menggunakan kekuatan cahaya.
Wajah kelima remaja itu berbinar-binar.
"Itu pun hanya untuk kebutuhan kultivasi!" Nazareth menambahkan.
Kelima remaja itu serempak mengerang.
Kelima remaja itu serempak melemas.
"Lalu kalian akan berlatih dengan Migi Vox sampai waktu makan malam!" Nazareth menambahkan.
"Hah?" Kelima remaja itu terperangah menatap Migi Vox.
"Jangan tertipu wajah polosnya yang seperti bayi!" Nazareth memperingatkan.
Migi Vox menelengkan kepalanya sedikit dan menyeringai.
Kelima remaja itu menelan ludah bersamaan.
"Selesai makan malam, kalian akan kembali bermeditasi. Dalam satu bulan, kalian semua harus sudah melewati level tiga puluh!"
"Monster…" Kelima remaja itu menggumam bersamaan dengan raut wajah muram.
"Khusus untuk Evelyn, kau akan berlatih dengan Master Claus!" Nazareth menyela sebelum Evelyn sempat mengajukan protes.
Giliran Nyx Cornus sekarang yang hendak mengajukan protes, tapi Nazareth menyelanya juga. "Tidak perlu protes!" sergahnya sebelum Nyx Cornus sempat membuka mulutnya.
Nyx Cornus langsung terdiam dengan wajah cemberut.
"Sekarang kalian kemasi barang-barang kalian di asrama," perintah Nazareth. "Para wanita akan bergabung di kamar Evelyn. Para pria di kamar sebelahnya."
"Itu kan, gudang?" Cleon dan Altair serempak memprotes.
"Tergantung bagaimana kalian menatanya!" sergah Nazareth.
Kedua anak laki-laki itu menggerung bersamaan.
Nazareth baru saja membuka mulutnya, bersiap untuk mengakhiri penyuluhannya ketika Evelyn tiba-tiba memekik dan melolong seperti binatang terluka.
"Watch out!" jerit Evelyn seraya menjatuhkan dirinya di lantai konblok dengan tubuh gemetar.
Teman-teman Evelyn spontan tergagap-gagap.
Nazareth dan Migi Vox serentak tertunduk menatap Evelyn dengan alis bertautan. Keempat guardian di belakangnya serempak terperangah.
Evelyn membungkuk di lantai dengan kedua tangan mencakar lantai. Punggungnya melengkung dan berkeretak mengeluarkan sulur tanaman berkepala ular dalam gambar transparan yang bercahaya. Membuat punggungnya terlihat seperti gunung yang sedang erupsi.
Sulur-sulur itu berkeriapan seperti anakan ular yang baru menetas, kemudian membesar dalam sekejap.
Teman-teman Evelyn menelan ludah dan membeku dengan mata dan mulut membulat.
"Apa yang terjadi?" Nyx Cornus bertanya dengan raut wajah cemas.
"Efek samping peri pelindung parasit," jawab Nazareth, lalu mendekat pada Evelyn dengan hati-hati.
Teman-teman Evelyn masih tergagap di sekelilingnya.
"Kalian minggir!" Nazareth memperingatkan. "Jangan ada yang menyentuhnya!"
Tapi sebelum keempat remaja itu sempat menghindar, salah satu sulur tanaman berkepala ular sudah mematuk lengan Altair yang dalam seketika meninggalkan bekas luka yang langsung membiru.
Tak sampai sepuluh detik, Altair sudah melemas dan terpuruk.
Cleon menangkap pinggangnya dan menariknya menyisi.
"Bawa Altair ke aula pengobatan!" perintah Nazareth.
Cleon dan Salazar Lotz bergegas membopong Altair ke aula pengobatan, sementara Xena dan Electra masih membeku menatap Evelyn dengan raut wajah syok.
"Eve! Kau bisa mendengarku?" tanya Nazareth dengan bujukan tegas.
Tubuh Evelyn bergetar hebat dan mengejang, tapi terlihat jelas Evelyn memaksakan diri untuk mendongak menatap wajah Nazareth, pertanda ia tak sampai kehilangan kesadarannya. Wajahnya berkerut-kerut karena kesakitan. Tampak tersiksa dan tidak berdaya.