
"Berhati-hatilah, Anak-anak!" Xenephon memperingatkan seraya memasang kuda-kuda.
Morfeus Five sudah bersiap di sekelilingnya.
Sejurus kemudian, kelima remaja itu sudah menerjang ke arah Xenephon.
Keempat guardian mereka memperhatikan mereka di tepi pekarangan bersama Nazareth.
Bola mata Migi Vox bergerak-gerak ke sana kemari mengikuti gerakan Evelyn dengan raut wajah polos.
Xenephon tetap bertahan dalam posisi kuda-kuda. Hanya mengayun dengan menggerak-gerakkan kedua telapak tangannya, mengelak hanya dengan mengedikkan sedikit bahunya, sudah cukup membuat kelima remaja itu tak berdaya untuk menjangkaunya. Paling ekstrem, pria cantik itu hanya melentikkan tubuhnya ke belakang dalam posisi kayang tanpa bergeser dari tempatnya.
Tak sampai sepuluh menit, kelima remaja itu sudah terpelanting dan terpuruk di tepi-tepi pekarangan, lalu menarik bangkit tubuh mereka dan bersiap kembali memasang kuda-kuda. Keringat sudah membanjir di wajah mereka.
Pertahanan Xenephon terhitung luar biasa untuk ukuran Master Spiritual tanpa teknik cahaya. Tentu saja! Sebagai tipe pemulihan, tak banyak teknik cahaya yang dapat ia gunakan untuk menyerang, pertahanan adalah paling utama. Lebih tepatnya, proteksi diri.
Rata-rata Master Spiritual tipe pemulihan memiliki proteksi diri yang sangat kuat, namun kekuatan serangan lemah. Tapi tanpa teknik cahaya, ilmu bela diri fisik Xenephon tidak bisa diremehkan.
Menjelang waktu makan malam, Morfeus Five tidak berhasil melumpuhkan pertahanan pria cantik itu.
Nazareth menyela mereka dan menginstruksikan bahwa latihan mereka hari ini sudah selesai, "Ke depannya, kalian akan terus berlatih dengan Master Claus sampai kalian bisa menyerang dengan masing-masing minimal satu kali menyerang. Jika kalian berhasil, ke depannya kalian sudah boleh berlatih dengan menggunakan kekuatan cahaya!"
Kelima remaja itu bersorak penuh semangat.
"Coba saja!" tantang Xenephon seraya tersenyum miring dan berbalik menjauh.
Demikian pada akhirnya, hari-hari Morfeus Five selanjutnya dilalui dengan rutinitas yang membosankan itu: sarapan pukul lima pagi, berdiri di bawah tiang bendera dikelilingi anak lain yang melakukan pemanasan, pergi ke hutan untuk mengumpulkan kayu bakar, kemudian terpuruk bersama di pekarangan belakang, makan siang bersama dan berebut makanan dengan Migi Vox, melakukan meditasi, kemudian berlatih dengan Xenephon, berebut makanan dengan Migi Vox lagi, kemudian meditasi lagi.
Begitu seterusnya dari hari ke hari, waktu ke waktu, hingga tidak terasa musim kompetisi sudah mencapai hitungan hari.
Dan mereka masih belum berhasil mendaratkan serangan pada Xenephon.
"Tidak satu pun?" Pertanyaan bernada mencela itu akhirnya keluar dari mulut Nazareth. "Betul-betul payah!" cemooh pria berparas malaikat itu dalam aura iblis. "Hanya Master tipe pemulihan saja tak bisa kalian atasi."
Kelima remaja itu tertunduk dengan raut wajah tak berdaya.
"Forget it!" dengus Nazareth sembari berbalik dan mengibaskan sekilas telapak tangannya, kemudian berlalu meninggalkan pekarangan.
Xenephon mengekor di belakang pria itu sambil melirik kelima anak aset mereka dan menyeringai.
Kelima remaja itu melemas dan berpencar.
"Sulit dibayangkan akan seperti apa kalau kita melawan Lord Vox," gumam Electra ketika mereka berjalan beriringan menuju pondok mereka.
Keempat temannya spontan menoleh pada Electra.
"Lady Corn bilang, Dalam dunia master spiritual, Lord Vox adalah orang terkuat secara fisik." Electra memberitahu.
"Tampaknya pelatihan fisik ini tidak main-main," komentar Cleon.
"Benar," Altair menimpali. "Tapi sampai hari ini aku masih belum menemukan tujuan yang sebenarnya dari… semua ini."
Xena mengangguk setuju.
Evelyn tidak bereaksi.
"Aku tahu," Electra mengaku.
Keempat temannya serentak menoleh dengan sorot penasaran.
Lalu Electra mulai menjelaskan tentang teori sembilan cakra yang dimiliki manusia pada teman-temannya, sesuai dengan apa yang dijelaskan Nyx Cornus padanya beberapa waktu lalu.
"Jangan-jangan…" Evelyn menggumam sambil mengerutkan keningnya. "Tujuan mereka bicara empat mata waktu itu… yang sebenarnya adalah supaya kita berbagi teori rahasia ini."
Lalu mereka mulai bertukar teori yang didapatkan dari guardian mereka masing-masing.
Seusai makan malam, kelima remaja itu mempraktekkan semua teori saat bermeditasi.
Xenephon dan Nyx Cornus yang sedang bercumbu di tempat persembunyian baru mereka di balik bukit batu di sisi lain pekarangan belakang estat Nazareth terusik oleh aura spiritual yang sangat besar.
Kedua guardian itu bertukar pandang dengan ekspresi tegang.
"Ada penyusup!" Nyx Cornus menyimpulkan.
Lalu keduanya beranjak serempak dan mengedar pandang dengan waspada.
Tidak ada tanda-tanda seseorang di sekitar mereka.
"Ayo kita periksa!" usul Xenephon sambil melompat ke puncak tebing di atas kepala mereka diikuti Nyx Cornus di belakangnya. Lalu mendarat bersamaan di puncak tebing.
Mereka berhenti di sana dan mengawasi setiap sisi pekarangan estat Nazareth dengan tatapan cermat. Lalu membeku melihat cahaya keemasan berpendar berbentuk kubah di atap kamar Morfeus Five.
"Ternyata mereka!" desis Nyx Cornus takjub. Lalu melesat ke pekarangan dengan wajah semringah.
Xenephon mengikutinya tak kalah bersemangat.
Lalu keduanya mendarat di pagar benteng dekat jalan setapak menuju hutan di sisi lain bukit yang biasa dilalui Morfeus Five setiap hari.
"Mereka berhasil!" bisik Xenephon sambil mengawasi lingkaran cahaya itu dengan mata berkilat-kilat.
"Lebih dari seratus level kekuatan cahaya," Nyx Cornus menanggapi. "Setiap mereka sudah melampaui level tiga puluh."
Bersamaan dengan itu, Lady Die melesat dari akademi bersama Arsen Heart dan Salazar Lotz dan melayang di pekarangan depan kamar para remaja itu.
"Mereka juga merasakannya!" seru Nyx Cornus sambil melesat ke arah ketiga guardian itu.
Tak lama kemudian, kelima master itu sudah berkumpul dan melayang-layang di pekarangan depan kamar kelima remaja itu. Tidak berani mendarat karena khawatir bisa mengusik konsentrasi para anak aset mereka.
Nazareth menghampiri mereka sambil menggendong Migi Vox. Pria itu juga melayang tanpa suara dan memandang lingkaran cahaya berbentuk kubah yang kian terang seiring berjalannya waktu, lalu tersenyum pada kelima guardian yang berderet mengambang di sepanjang pekarangan. "Bersiaplah!" katanya melalui bahasa cahaya. Bahasa cahaya adalah komunikasi antar pikiran, yang lebih dikenal dalam istilah telepati. "Tampaknya besok pagi kita harus berangkat ke Hutan Berburu Peri Monster!"
"Akhirnya aku bisa keluar dari lingkungan akademi yang membosankan ini," seru Lady Die melalui bahasa cahaya yang sama dengan antusias.
Salazar Lotz tersenyum lebar. "Solidaritas mereka sudah teruji!" katanya melalui pikirannya, bergabung dalam pembicaraan bahasa cahaya.
"Aku akan memasak makanan enak untuk sarapan mereka!" timpal Nyx Cornus.
"Aku akan membantumu!" Lady Die menawarkan.
"Aku akan mengurus perizinan sekarang!" kata Xenephon.
"Kami akan menyiapkan kereta kuda terbaik!" timpal Arsen Heart dan Salazar Lotz.
Nazareth tersenyum simpul, kemudian berbalik menuju kamarnya.
Beberapa jam kemudian, para remaja itu sudah terlihat segar dan bercahaya ketika mereka berbondong-bondong menuju dapur dengan wajah berseri-seri.
"Apa yang terjadi?" Altair menggumam takjub sebagai ganti sapaan selamat pagi. "Kalian terlihat bersinar sekali pagi ini. Apa hanya perasaanku saja?"
"Aku benci mengakui ini, tapi aku juga merasakannya!" Cleon menimpali.
Lalu mereka bertukar seringai dan melangkah masuk ke ruang makan dan terperangah.
Nazareth Vox, Xenephon Claus, Salazar Lotz, Arsen Heart, Nyx Cornus dan Dea Proka, berderet di depan meja makan yang di atasnya sudah tersaji makanan mewah, menyambut mereka dengan senyuman manis.
"Siapa yang berulang tahun?" seru Xena tak bisa menutupi rasa takjubnya.