
Evelyn menatap sendu tempat duduk Nazareth di seberang tempat duduknya dalam kereta kuda saat dalam perjalanan ke kota Angelos.
Tempat itu sekarang ditempati Xenephon.
Sekali lagi, hati Evelyn serasa teriris. Pasti akan berbeda jadinya jika dia tak pernah menciumku, batinnya getir. Sebutir keringat bergulir di pelipisnya akibat cuaca panas.
Matahari sedang terik-teriknya di luar sana, menyengat atap kereta dan menebarkan hawa panas di bawahnya.
"Dengar, Eve!" Xenephon akhirnya memulai pembicaraan setelah berjam-jam Evelyn menunggu dan terus berharap dan pria itu tak jua kunjung bicara, bahkan ketika mereka makan bersama di lantai dua kantin asrama. "Pertama-tama aku mohon maaf karena aku baru akan mengatakannya sekarang. Kau tahu, pembicaraan kita tak boleh didengar oleh sembarang orang."
Evelyn tetap bergeming. Kenapa rasanya panas sekali? pikirnya. Apa hanya perasaanku saja? Tapi kereta ini tak pernah terasa sepanas ini saat aku pergi dengan Nazareth.
"Kau tahu jati dirinya yang lain," Xenephon menambahkan dalam gumaman rendah, nyaris berbisik.
Evelyn mengerjap dan memberanikan dirinya untuk menatap mata Xenephon, mencoba mencari kebenaran di dalamnya.
"Banyak hal yang harus dilakukan, Eve!" Xenephon berusaha membuat Evelyn mengerti. Ia bisa melihat kekosongan dalam diri gadis itu melalui tatapan matanya yang terus mencari namun tak pernah menemukan. "Tanggung jawabnya sangat banyak."
Evelyn kembali tertunduk.
"Tapi selama dia pergi, kuharap kau bisa tetap berkembang," kata Xenephon lagi.
"Bagaimana dengan latihan tahap ketiga?" tanya Evelyn serak.
"Aku akan memandumu sesuai arahan dari bukunya," kata Xenephon sambil menyodorkan buku yang pernah diterbitkan oleh Nazareth. "Kau pegang satu, dan aku pegang satu. Dengan begitu, Nazareth tetap menjadi gurumu."
Evelyn mengerjap dengan tatapan sedih.
.
.
.
Sementara itu…
"Paling tidak, beri aku sedikit waktu untuk mengatakan sepatah dua patah kata…"
"Kata-kata perpisahan hanya akan membuatmu semakin berat untuk meninggalkannya, Earth!" Mikhail memotong perkataan Nazareth tanpa menoleh, sementara kedua tangannya mengendalikan empat kuda yang menarik kereta mereka. "Dia mengetahui jati dirimu yang lain, dia akan mengerti!"
"Tapi…"
"Aku tak ingin dengar kata tapi!" sergah Mikhail.
"Haruskah kau mengikatku seperti bajingan?" gerutu Nazareth sambil menggeliat-geliut mencoba memutus tali cahaya setipis jaring laba-laba yang mengikat kedua tangan dan kakinya. Tapi setiap kali ia memberontak, seluruh tubuhnya serasa ditusuk-tusuk.
"Itu takkan membunuhmu!" sergah Mikhail. "Lagi pula kau memang bajingan."
Nazareth mendesah kasar dan menyerah begitu menyadari tali cahaya itu ternyata berasal dari tubuhnya. Tali cahaya itu bisa merusak sistem sarafnya kalau dia terus memberontak.
"Bagaimana rasanya menjadi Vox?" ejek Mikhail dari kotak pengemudi.
Nazareth memutar-mutar bola matanya dengan tampang muak.
"Kau akan mengalami yang lebih buruk kalau kau tidak bisa mengendalikannya," Mikhail menambahkan.
Bersamaan dengan itu, kereta kuda mereka sudah mencapai gerbang perbatasan Kota Cahaya.
Di tempat itulah terdapat balai tertinggi yang disebut-sebut sebagai Balai Cahaya Ordo Angelos, tempat impian semua Master Spiritual.
Tempat Nazareth diasingkan ketika ia kecil dulu. Tempat di mana ia tumbuh bersama Xenephon di bawah asuhan Mikhail dan istrinya.
Jarang sekali ada remaja dan anak-anak di Ordo Cahaya kecuali mereka bukan manusia atau manusia dengan kekuatan cahaya penuh alami seperti Nazareth dan Xenephon---Ya, mereka terlahir dengan bakat yang sama seperti Evelyn.
Hanya ada orang-orang berusia empat puluh lima tahun ke atas di kota Cahaya yang sehari-harinya bertugas sebagai pengawal, pengelola kehutanan, pengelola kota dan desa yang nyaris tak berpenghuni kecuali peri monster.
Kecuali tahta kerajaan yang masih kosong, kehidupan di Ordo Cahaya berjalan sebagaimana mestinya seperti kerajaan lain di seluruh dunia.
Tahta kosong itu adalah milik leluhur Evelyn dan belum ada satu pun yang bisa menggantikannya sampai sekarang karena untuk bisa duduk di kursi singgasana Balai Cahaya dibutuhkan kekuatan yang sangat tinggi.
Bahkan Master Spiritual level lima puluh akan terpental di pintu masuk aula singgasana.
Satu tingkat di bawah level Apollo, bahkan hanya bisa menyentuh tangga teratas, sepuluh meter dari kursi singgasana.
Manusia biasa bahkan tak bisa melewati gerbang perbatasan kota.
Migi Vox melompat dari bahu Nazareth, kemudian melesat keluar menerobos tirai kereta dan mendarat di punggung Mikhail.
Pria itu meliriknya sekilas sembari menyeringai. "Selamat datang kembali di negeri peri yang sesungguhnya, Vox!" katanya pada Migi Vox. "Kau senang pulang ke rumah?"
Migi Vox mengedar pandang dengan mata dan mulut membulat, menampakkan ekspresi senang dan penasaran seorang anak kecil.
Mikhail tertawa ringan, kemudian mulai mengoceh dan terus mengoceh sepanjang jalan seperti seorang ayah yang sedang membual pada anaknya.
Migi Vox merayap naik dari punggung Mikhail kemudian duduk di bahu pria itu dengan ekspresi polos.
Kereta mereka berangsur-angsur melambat kemudian berhenti di pekarangan sebuah kastil megah yang diliputi bola-bola cahaya berwarna-warni yang beterbangan di udara seperti dandelion.
Tanaman di sana bercahaya seperti di Hutan Berburu Peri Monster di kota Ilusi. Begitu juga dengan binatang.
Mikhail melompat turun dari kotak pengemudi dan menyingkap tirai sembari menyeringai pada Nazareth.
"Oh, kau terlihat seperti penculik sungguhan," Nazareth membeliak sebal.
"Tidak ada penculik sungguhan yang akan menempatkanmu di bangku terbaik dalam kereta kudanya!" Mikhail menjentikkan jarinya dan seketika ikatan di tangan dan kaki Nazareth terlepas.
Nazareth melompat turun sambil menggerutu, kemudian bergegas melintasi pekarangan menuju tangga yang mengarah ke teras.
Dua pria berseragam armor mengambil alih kereta kuda dan menyisikannya menuju pekarangan samping.
Mikhail berjalan pelan menggiring Nazareth dengan kedua tangan bersilangan di belakang tubuhnya.
Pintu ganda berukuran besar berbahan logam terkuak dengan sendirinya ketika langkah mereka sudah mencapai anak tangga kedua dan ketiga.
"Earth!" seorang wanita berusia sekitar empat puluh lima tahun namun masih sangat cantik seperti baru berusia tiga puluh tahun menghambur ke arah Nazareth dan memeluknya. Wanita itulah yang merawat dan membesarkannya, Gavriil Claus, istri Mikhail.
Nazareth membungkuk dan merangkul bahu wanita itu.
"Senang rasanya kau pulang," bisik Gavriil Claus penuh kelembutan. "Kau juga!" ia menambahkan sambil melongok ke arah Mikhail.
"Dan jangan harap bisa keluar dari sini sebelum kau mencapai level di atas level Apollo!" Mikhail menimpali sambil berkacak pinggang.
Nazareth spontan mengerutkan keningnya, melontarkan tatapan tajam pada pamannya—sebetulnya bukan sekadar paman di samping juga ayah asuhnya, tapi pria itu juga gurunya. "Apa kau sedang bercanda?"
"Apa aku terlihat seperti badut?" balas Mikhail dengan ekspresi kesal.
Nazareth langsung terdiam.
"Sudah, Mike!" Bibi Gavriil menengahi. "Masuklah dulu," katanya seraya menuntun Nazareth ke dalam rumah. "Aku sudah menyiapkan banyak makanan untuk kalian."