Poison Eve

Poison Eve
Chapter-81



"Putri! Apa yang membuatmu datang ke sini?"


Gerombolan peri vampir di dalam gua di kaki gunung itu tersentak dan berhamburan, mengepak-ngepakkan sayap mereka dengan gusar.


Evelyn menyeruak ke dalam gua dengan terengah-engah, lalu terpuruk dan jatuh berlutut di depan sejumlah peri vampir yang sudah dewasa.


Pertumbuhan peri vampir sama dengan manusia, dimulai dari bayi, kanak-kanak, remaja dan dewasa. Kemudian berhenti tumbuh di usia tiga puluh tahun. Selebihnya, warna sayap, warna rambut dan warna mata mereka mewakili usia dan lamanya kultivasi mereka.


Warna rambut dan iris mata kuning menggambarkan usia ratusan tahun, ungu—ribuan tahun, hitam---puluhan ribu tahun, dan merah---ratusan ribu tahun.


Peri vampir yang mengerumuni Evelyn sekarang rata-rata berambut hitam dengan iris mata sewarna. Usia mereka sudah puluhan ribu tahun.


"Forgive me," desis Evelyn dengan suara gemetar. "Aku tidak mendengar peringatan kalian!'


Para peri vampir puluhan ribu tahun itu spontan saling bertukar pandang.


"Aku telah membunuh anak-anak kalian," sesal Evelyn.


Salah satu peri vampir wanita tersenyum dan membungkuk di depan Evelyn. Sepasang sayapnya yang merah membara terentang di atas punggungnya, warna rambut dan iris matanya juga berwarna merah menyala. Peri vampir wanita itu mengulurkan sebelah tangannya pada Evelyn. "Bangunlah, Putri!" bisiknya. "Yang sudah berlalu tak perlu diingat-ingat lagi. Sebagai peri monster, memburu dan diburu adalah takdir kami."


Evelyn mendongak dan menelan ludah, kemudian mengerjap menatap peri vampir itu dengan ragu.


Peri vampir itu tersenyum lagi, lalu mengangguk tipis mengisyaratkan Evelyn untuk berdiri.


Evelyn menyambut uluran tangan peri vampir itu dan menarik tubuhnya berdiri.


Peri vampir yang berderet di sepanjang ruangan yang tidak diduga Evelyn ternyata seluas istana raja, di mulai dari mulut gua sampai ke altar singgasana, berlutut dan membungkuk serempak.


Peri vampir wanita itu menuntun Evelyn meniti tangga singgasana dan mempersilahkan gadis itu duduk di atas mahligai.


Evelyn mengerjap ragu.


"Duduklah!" peri vampir wanita itu memaksa. Lalu duduk di sebelahnya.


"Kau…" Evelyn melirik peri vampir wanita yang duduk di sampingnya yang kemudian ia simpulkan sebagai ratu di sini. "Kau yang bicara padaku saat pertama kali aku datang ke hutan ini, kan?" tanya Evelyn.


"Benar," kata peri vampir wanita itu. "Namaku Victoria Achiles," ia memperkenalkan dirinya.


"Kau ratu mereka?" Evelyn bertanya lagi.


Victoria tersenyum dan mengangguk. "Jadi, kapan tepatnya kau menyadari bahwa kau bisa berkomunikasi dengan kami?" tanyanya setelah sejenak terdiam.


Evelyn tertunduk muram. "I'm not sure," katanya. "Sejak awal aku mengira kalian bisa bicara bahasa manusia. Tapi kemudian merasa konyol setelah mengetahui peri monster tidak bicara bahasa manusia. Jadi… aku menganggap diriku mungkin berhalusinasi."


Victoria tersenyum tipis. "Aku bisa mengerti," katanya.


"Ketika salah satu orangmu mendatangiku…" Evelyn melanjutkan dengan terbata-bata. "Aku masih mengira aku berhalusinasi."


Victoria menjentikkan jarinya dan seorang peri vampir pria yang menemui Evelyn saat Nazareth tidak sadarkan diri melangkah ke dalam ruang singgasana dan membungkuk ke arah mahligai.


"Diakah orangnya?" tanya Victoria.


"Benar," jawab Evelyn seraya tersenyum muram.


"Well, sekarang kau sudah melihatnya dua kali," kata Victoria seraya tersenyum lagi. "Apa masih terasa seperti halusinasi?"


Evelyn mengulum senyumnya seraya tertunduk. "Forgive me," ulangnya sangat menyesal.


"Aku tak yakin," Evelyn mengaku. "Aku hanya merasa… perlu bicara."


"Maka bicaralah!" Victoria menepuk-nepuk lembut punggung tangan Evelyn seraya menaruh tangan Evelyn ke dalam genggamannya. "Pertama-tama, aku mohon maaf karena tak bisa menjamu kedatanganmu," tuturnya berbasa-basi. "Makanan kami bukan makanan yang layak dikonsumsi oleh manusia."


"Aku tahu," kata Evelyn. "Aku tidak datang untuk acara perjamuan. Aku…" Evelyn kembali tertunduk. "Goliath itu…"


"Goliath?" Victoria bertanya dengan mata terpicing.


"Kami baru saja membunuh goliath," cerita Evelyn. "Tapi… sebelum dia mati, dia mengatakan sesuatu tentang kematian ayahku. Aku—" mata Evelyn berkaca-kaca.


"Ssshhh…. Ssssshh…" Victoria menarik wajah Evelyn ke dalam dekapannya kemudian mengusap-usap kepala gadis itu dan menenangkannya. "Kau belum bisa merelakan ayahmu, ya?" bisiknya bernada lembut.


Evelyn mengangguk seraya mengusap air matanya dengan telapak tangan.


Victoria menatap lembut ke dalam mata Evelyn dan kembali tersenyum. "Penyihir yang telah membunuh ayahmu…" ia menggantung kalimatnya sesaat dan tertunduk. "Adalah penyihir yang sama yang telah membunuh suamiku," bisiknya.


Evelyn menelan ludah dan terkesiap.


Victoria tersenyum lagi. Tapi cahaya di matanya mulai meredup tersaput kepahitan yang mendadak bangkit dari dalam dirinya.


Mata Evelyn kembali berkaca-kaca.


"Hati Iblis ditambah tulang cakra Apollo…" Victoria mendesah dan menggeleng-geleng. "Mereka mengira hal itu bisa membuat mereka mencapai puncak."


"Mengira?" Evelyn menarik wajahnya menjauh dari dada Victoria, kemudian menatap wajah ratu peri vampir itu dengan dahi berkerut-kerut.


"Tahta kerajaan cahaya tidak memilih siapa yang paling kuat," Victoria memberitahu. "Tapi memilih siapa yang paling tepat."


"Tapi—" Evelyn menyela tak yakin. "Bukankah level spiritual menjadi faktor utama untuk menjangkaunya."


"Benar," Victoria menimpali. "Untuk bisa menjangkau tahta kerajaan cahaya memang dibutuhkan kekuatan spiritual yang sangat besar. Tapi energi cahaya akan bereaksi otomatis terhadap orang terpilih. Seperti kau misalnya, kau tak perlu membunuh peri monster untuk meningkatkan kekuatan peri pelindungmu. Kau memiliki gen Apollo yang secara otomatis bisa menghisap energi cahaya di mana pun kau berada. Karena Apollo adalah raja cahaya terdahulu. Seluruh cahaya di negeri peri akan memberkatimu."


Evelyn mengerutkan keningnya semakin dalam. "Aku tidak mengerti!" ia mengaku.


"Tahta kerajaan cahaya adalah pohon genealogi," tutur Victoria, mengingatkan Evelyn pada cerita Nazareth. "Setiap orang dengan genetik raja cahaya memiliki harapan untuk mewarisi tahta, tapi sama halnya seperti hukum tentang pewaris tahta di setiap kerajaan, tentu ada sejumlah kriteria yang harus dipenuhi. Dan itu bukan sekadar tentang kekuatan atau kelengkapan atribut. Tapi ketepatan, sebagai contoh… anak pertama lebih berhak menjadi pewaris, tapi lebih berhak lagi yang dipilih raja sendiri melalui wasiat. Beberapa bahkan melalui pemungutan suara. Energi cahaya paling tinggi yang memberkati seperti Angelos adalah suara tertinggi."


"Angelos?" Evelyn menggumam seraya berpikir keras. Seperti Nazareth? ia bertanya-tanya dalam hatinya.


"Benar," jawab Victoria. Seolah bisa membaca pikiran Evelyn, ia berkata bahwa meski tidak memiliki gen raja cahaya, seseorang bisa saja menjadi raja cahaya berikutnya atas pilihan dewa melalui energi cahaya para malaikat—Angelos. "Dalam dunia peri, pemungutan suara semacam ini disebut Ordo Angelos. Di mana seseorang bisa menyerap seluruh elemen cahaya di alam semesta. Seseorang dengan bakat lahir seperti ini disebut Putra Cahaya. Titisan Dewa Cahaya."


"Titisan Dewa Cahaya?" pekik Evelyn takjub. Kata-kata Nazareth seketika bermunculan dalam kepalanya.


"Tahta kerajaan cahaya adalah pusat kekuatan spiritual tingkat tertinggi. Usianya jutaan tahun. Tak ada yang tahu persisnya berapa juta, bahkan ras peri sendiri."


"Pohon peri penghancur kapak sebenarnya adalah genealogi kerajaan cahaya. Tahta ketua Ordo Angelos!"


"Belakangan baru diketahui bahwa kekuatan spiritual yang memberkatiku berusia ratusan juta tahun."


"Dan itu artinya aku tidak memiliki leluhur yang pernah bertahta di Balai Cahaya. Aku adalah orang pertama yang naik ke singgasana. Tidak ada manusia pada ratusan juta tahun yang lalu."


Cahaya Angelos! pikir Evelyn.


Nazareth adalah Putra Cahaya!