Poison Eve

Poison Eve
Chapter-125



"Putri! Awas!" salah satu peri vampir yang mengawal Evelyn berteriak memperingatkan.


Evelyn dan teman-temannya menatap keluar dan terperangah.


"Kita dikepung!" pekik Electra.


DUAAAAARRRR!


DUAAAAARRRR!


Benturan demi benturan menghantam badan kereta dari berbagai arah, meskipun kedua peri vampir yang mengawal mereka mencoba melindunginya.


Evelyn dan teman-temannya terlempar ke sana kemari di dalam kereta dan saling bertubrukan satu sama lain.


"Kita harus keluar!" teriak Xena dengan panik.


Sedetik kemudian…


GLAAAAAAAAAAAARRRR!


Kereta itu meledak dan kelima remaja di dalamnya terlontar keluar dan berpencaran ke arah berlawanan.


"PUTRIIII!" salah satu peri vampir berusia ratusan tahun melesat ke arah Evelyn dan menangkap tubuhnya.


GRAAAAAAKK!


Xena mengeluarkan sayap peri vampirnya dan melesat ke arah Electra.


Bersamaan dengan itu, Evelyn melontarkan sulur tanamannya ke arah Cleon dan Altair.


BLAAAAASH!


Peri vampir ratusan tahun yang satunya menyapukan tendangan memutar.


Sejumlah peri vampir puluhan ribu tahun terhempas.


SLASH!


Kedua kuda bersayap yang menarik kereta terbang menukik ke arah peri vampir puluhan ribu tahun lainnya.


"INI TAK ADIL!" seorang guardian dari salah satu akademi memprotes.


Seisi aula serentak menoleh ke sumber suara.


Bedros Damon!


"Mereka mendapat bantuan sangat besar!" teriak Bedros sambil menudingkan telunjuk ke layar tim Morfeus Academy.


"Mereka bahkan belum mendapatkan poin satu pun!" bantah Helios.


"Tak butuh waktu lama untuk mereka mendapatkan puluhan ribu poin!" sergah Bedros tak mau terima.


Nyx Cornus dan Xenephon mengerling ke arah Nazareth.


Pria itu tetap bergeming. Migi Vox masih meronta-ronta dalam dekapannya. Mengigiti bahunya dan mencakar-cakar.


"Jangan khawatir, Master!" pemandu acara yang merangkap wasit menengahi. "Selain cermin sihir, armor yang disediakan Balai Mulia juga diperlengkapi sihir pemindai. Hanya peri vampir yang mati di tangan peserta yang akan masuk hitungan!"


"Apa bedanya? Mereka bisa saja membunuh peri monster dalam keadaan lemah!" sanggah Bedros bersikeras. "Dengan bantuan empat peri monster berusia ratusan ribu tahun, bukankah setara dengan bantuan dewa?"


"Kalau begitu anggaplah mereka mendapat karunia!" sela Xenephon bernada sinis.


"Apa?" Bedros berpaling pada Xenephon dengan tatapan tajam.


"Dengan segala hormat, Sirs!" kedua pemandu acara coba melerai.


"Mereka harus dieliminasi!" tandas Bedros tak ingin tahu.


Kaisar mengetukkan ujung tongkatnya ke permukaan lantai, dan seketika seluruh tempat di sekelilingnya berguncang disertai ledakan cahaya berbentuk lingkaran berwarna emas.


Seisi aula spontan terdiam.


Kaisar Shangri-La dan tim peringkat atas Shangri-La menatap layar Kaisar Aero melalui layar mereka masing-masing.


"Lihat itu!" Kaisar menunjuk layar tim Morfeus Academy.


Semua mata kembali tertuju pada layar tim Morfeus Academy, bahkan di Balai Mulia Shangri-La.


Evelyn dan teman-temannya melarikan diri bersama kedua peri vampir dan kedua peri unicorn vampir tanpa membunuh satu pun peri vampir puluhan ribu tahun.


Seolah bisa mendengar pembicaraan di Balai Mulia, Evelyn tiba-tiba memutuskan untuk meninggalkan kota pertama.


"Dengar!" kata Evelyn setelah mereka mencapai tempat yang aman. "Kami sedang berkompetisi," jelasnya pada keempat peri vampir ratusan ribu tahun itu. "Jika kalian membantu kami seperti tadi, itu tak adil bagi yang lain. Aku hanya berharap kalian menunjukkan tempat mereka. Bukan bantuan seperti tadi! Apa kalian mengerti?"


"Mengerti, Tuan Putri!" keempat peri vampir itu membungkuk, bahkan yang berbentuk kuda.


Para hadirin di Balai Mulia di dua negara tercengang melihat unicorn vampir itu membungkuk.


"Siapa gadis ini? Bahkan peri monster jenis binatang membungkuk padanya?" Kaisar Shangri-La menggumam. Lalu menoleh pada ksatria Ordo Angelos yang berjaga di belakangnya. "Kirim utusan ke Neraida untuk menyampaikan pesan!" titahnya.


Kedua ksatria itu membungkuk dan melesat terbang keluar aula.


Beberapa saat kemudian…


Dua ksatria Ordo Angelos di Balai Mulia Neraida menghadap pada Kaisa Aero. "Kaisar Shangri-La ingin bicara, My Lord!"


Kaisar Aero menoleh ke tempat khusus panitia di seberang balkon, "Aktifkan suara!" titahnya.


Lima orang panitia yang terdiri dari Master Spiritual aliran sihir membungkuk pada kaisar dan membentuk formasi gabungan kekuatan.


Seisi aula menoleh pada mereka.


SLASH!


Ledakan cahaya terang benderang membuncah hingga seluruh aula hanya terlihat putih.


Setelah cahaya itu meredup, suara Kaisar Shangri-La menggelegar melalui pengeras suara yang tercipta dari formasi gabungan sihir musik kelima panitia.


Seperti itulah kira-kira gambaran masa depan para pelajar Akademi Sihir Dewa Musik milik Xenephon.


Semua peralatan sihir di Balai Mulia, mulai dari lampu sorot, kamera, pengeras suara dan lain sebagainya merupakan karya besar mereka para Master Spiritual dari aliran sihir musik. Beberapa dari mereka bahkan ditempatkan di istana-istana kerajaan sebagai pejabat kehormatan.


"Ketua Tim Akademi Militer Dewa Mimpi itu… apakah dia benar-benar dari ras manusia?" Kaisar Shangri-La bertanya setelah sejenak berbasa-basi.


"Kami bisa pastikan Evelyn Katz seutuhnya manusia," jawab Kaisar Aero penuh wibawa.


"Lalu kenapa peri monster ratusan ribu tahun bahkan jenis binatang sampai membungkuk padanya?" tanya Kaisar Shangri-La bernada interogasi.


Kaisar Aero tersenyum samar, "Evelyn Katz terlahir dengan sejumlah karunia," katanya. Sepasang matanya ikut tersenyum.


Kaisar Shangri-La mengerjap.


"Apa perlu kuulangi menyebutkan namanya?" Kaisar Aero tersenyum dengan tatapan menantang.


Kaisar Shangri-La memicingkan matanya.


"Evelyn…" Kaisar Aero menggantung kalimatnya dengan dramatis, sebelum akhirnya menambahkan, "Katz!" tandasnya bernada tajam, menekankan kata: Katz.


Neiro Sach bertukar pandang dengan Agathias Katz.


Kaisar Shangri-La mendesah pelan, kemudian tercenung sesaat. Lalu mengangguk dan mengibaskan tangannya sekilas.


Kelima Master Spiritual yang menjadi panitia menarik energi cahaya mereka dan layar kaca kembali bisu.


Kaisar mengerling ke arah putranya melalui sudut matanya. Putrinya mengikuti lirikan matanya. Mata keduanya sekarang tertuju pada satu titik yang sama—Nazareth!


Pria berparas malaikat jatuh itu tetap bergeming dengan raut wajah sedingin es yang dihembuskan angin Nordik. Migi Vox masih mencakar-cakar dan menggigiti bahunya.


Wajah Nyx Cornus dan Lady Die tak sedap dipandang.


Arsen Heart dan Salazar Lotz tetap memasang wajah datar meski sedikit kencang.


Catlyn Thunder mengerjap dan mendesah pelan. Kemudian memalingkan wajahnya ke arah layar tim Morfeus Academy.


Perhatian semua orang kembali ke layar peserta.


Dari pihak Shangri-La…


Tim Akademi Martial Art Hermes, dua ribu poin. Tim Akademi Martial Art Saturnus, empat ribu poin. Tim Akademi Sihir Hades, enam ribu poin. Tim Akademi Militer Poseidon, lima ribu poin.


Neraida…


Tim Dua Akademi Kekaisaran Neraida sudah mengumpulkan lima ribu poin. Tim Akademi Sihir Dewa Musik Sandalphon, enam ribu tujuh ratus poin. Tim Akademi Sihir Azrael, tiga ribu poin. Tim Akademi Militer Dewa Mimpi… nol!


Rombongan itu sekarang sudah bertolak ke arah lain, meninggalkan empat peri vampir ratusan ribu tahun yang telah membantu mereka.


Bedros Damon tersenyum miring dengan tatapan puas.