
"Hari ini semuanya makan tepat waktu," kata Nazareth. "Permulaan yang bagus!"
Pria itu berdiri di depan barisan Morfeus Five di bawah tiang bendera dengan kedua tangan bersilangan di belakang tubuhnya seperti biasa, dan seperti biasa pula Migi Vox melayang di sisi bahunya menirukan gayanya. Empat guardian yang biasa berderet di belakangnya---juga seperti biasa.
Evelyn dan teman-temannya bertukar pandang.
"Tapi setelah makan, makanan perlu waktu untuk dicerna," Nazareth melanjutkan. "Tak bisa langsung melakukan gerakan ekstrem. Jadi…" ia menggantung kalimatnya dengan dramatis dan mengedar pandang, kemudian menambahkan, "Mulai besok kalian harus sarapan jam lima pagi."
Evelyn dan teman-temannya mengerang.
Empat guardian di belakang Nazareth berdesis menahan tawa.
"Selanjutnya, aku ingin memberi kalian pelatihan keras!" Nazareth menambahkan.
Evelyn dan teman-temannya sekarang tertunduk dengan raut wajah tak berdaya.
"Sekarang, pergilah mengambil kayu bakar!" instruksi Nazareth. "Saat makan siang, kalian harus sudah kembali."
Evelyn dan teman-temannya serempak membungkuk dengan hormat tentara. Lalu bergegas meninggalkan lapangan bendera.
Waktu menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi ketika mereka berangkat menuju hutan dengan hanya membawa kapak dan kantong air, juga beberapa untai tali rami.
Hutan di sisi lain bukit itu berjarak sekitar tiga kilometer dari akademi, melewati jalan setapak terjal yang dikelilingi pemandangan hijau yang menghampar luas di sekeliling mereka.
"Aku sebenarnya tak ingin menakuti kalian," kata Altair. "Tapi… hutan di sana sangat berbahaya," ia memberitahu. "Terutama karena kita dilarang menggunakan kekuatan cahaya."
Teman-temannya menanggapi dengan raut wajah tegang.
"Aku ingin tahu, apakah di antara kalian ada yang punya pengalaman berburu di hutan liar sebelum kebangkitan peri pelindung?" Altair bertanya.
"Aku!" sahut Cleon.
"Aku juga!" timpal Evelyn.
"Aku juga!" timpal Electra.
Semangat Altair mulai bangkit.
Semua mata sekarang tertuju pada Xena.
Xena tertunduk muram dengan raut wajah tak berdaya. "Aku tidak pernah," ia mengaku.
"Tidak masalah!" Altair berusaha membesarkan hati Xena. "Kita satu tim, ingat?"
"Benar!" timpal Electra. "Kami akan melindungimu!"
"Hmh!" Evelyn dan Cleon mengangguk bersamaan.
"Bahaya yang kumaksud adalah potensi serangan serigala," Altair menjelaskan. "Dengan pengalaman berburu kami berempat, kurasa juga sudah cukup."
"Jangan-jangan… itulah ujian sebenarnya!" gumam Electra.
Keempat temannya spontan menoleh pada Electra, kemudian bertukar pandang satu sama lain.
"Hmmm…" Cleon balas menggumam seraya mengerutkan dahi. "Masuk akal!" katanya setengah sejenak terdiam.
Yang lainnya menanggapi dengan mengangguk-angguk.
Semak-semak bergetar ketika tumit sepatu armor mereka berdebam di jalan setapak menuju lapangan, ranting-ranting kering berkeretak terinjak kaki mereka.
Di ujung sana lapangan, permukaan tanah kembali melandai dan terus menurun. Pohon-pohon kurus berderet di antara semak-semak ilalang setinggi pinggang orang dewasa.
Kelima remaja itu tak dapat memperkirakan seberapa luas lapangan rumput itu.
Tiga ratus enam puluh derajat hamparan warna biru dan tanah, pegunungan dan lembah, di mana biru berubah menjadi ungu kemudian hijau, kuning, dan cokelat pucat.
Itu hanya sejenak, satu embusan napas. Satu saat, ketika segala sesuatunya naik satu oktaf dan mereka merasakan getaran di tulang punggung.
Dari bukit landai mereka melihat danau di lembah di dekat sebatang pohon yang hanya terlihat seperti siluet. Kabut yang mengambang di permukaan danau terlihat seperti uap air panas di dalam cangkir.
Pepohonan hanya berupa bayang-bayang tinggi dan hitam, berlatar belakang langit berawan. Tak ada yang bergerak. Daun-daun pun tidak.
Lalu secara serempak kelima remaja itu berhenti, terusik oleh suara gemeresik keras.
Krrrsk. Krrrsk. Krrrsk.
Ada sesuatu yang menimbulkan bunyi itu.
Kelima remaja itu bergeming, menyimak. Lalu saling melirik melalui sudut mata mereka dengan raut wajah tegang. Mereka mengedar pandang dengan waspada.
Krrrsk. Krrrsk. Krrrsk.
Xena berbalik dan mengikuti suara itu ke bawah bukit. Suara itu makin keras ketika mereka mulai mendekati tepi danau. Ia membayangkan ular-ular raksasa sepanjang kereta api melata di rumput.
Hening.
Keheningan yang mencurigakan. Mereka tetap waspada.
Suara berkeresak ribut dari dalam hutan mendekat setentak ke arah mereka dari berbagai penjuru hutan.
Kelima remaja itu memekik tertahan ketika suara-suara mendengus dan menggeram mendekat ke arah mereka.
Xena mulai gelisah.
Sejurus kemudian, sejumlah serigala melesat ke arah mereka dan menyerang secara serentak.
Kelima remaja itu memekik dan sepatu mereka berdebuk ribut di permukaan tanah.
Cleon dan Evelyn melompat serempak ke arah kawanan serigala itu seraya mengayunkan kapak mereka ke sana kemari dengan gerakan cepat.
Auman mengerikan membahana ke dinding-dinding tebing.
Electra menarik belati dari balik sepatu armornya dan menyerampang ketika seekor serigala menyerang ke arah Xena. "Langkahi dulu mayatku," geramnya seraya melompat ke atas serigala itu, mengayunkan belati di tangannya dan menancapkannya di belakang leher serigala itu.
JLEB!
Serigala itu mendengking dan tersentak-sentak, lalu jatuh ambruk dan tak bergerak lagi.
Serigala lainnya mundur perlahan dengan punggung melengkung, seperti sedang bersiap untuk melejit.
Xena tidak membuang-buang waktu, ia melemparkan kapak di tangannya ke arah salah satu dari serigala itu, kemudian melesat ke arah serigala lainnya seraya menyapukan tendangan memutar di udara.
BLAAAASSH!
Tumit sepatu Xena mendarat di tengkuk serigala itu dan seketika serigala itu mendengking dan terlempar.
Altair menimpalinya dengan mengayunkan kapaknya dan menghujamkannya di leher serigala itu.
Dua-tiga serigala---mungkin lebih, akhirnya terkapar dan tidak bergerak lagi. Sisa lima serigala yang masih berdiri garang yang langsung melompat ke arah mereka dengan gerakan membabi-buta.
Altair melejit dari tempatnya dan mengayunkan kaki depannya setinggi kepala, lalu menginjak salah satu dari mereka.
Serigala itu mendengking dan tersentak mundur, namun tidak terluka.
Xena memanfaatkan kesempatan itu untuk melompat dan menjatuhkan dirinya di permukaan tanah, kemudian memutar dalam gerakan salto sambil memungut kapaknya dan melesatkannya ke arah salah satu serigala, dan serigala kelima akhirnya tumbang.
Lalu pada saat keempat serigala lainnya kembali menyerang, Evelyn dan Cleon melesat ke arah mereka dari arah belakang dan menumbangkan keempat serigala itu dalam hitungan detik.
Keheningan menyergap mereka beberapa saat, lalu terdengar suara berkeresak dari tumit sepatu Cleon dan Evelyn yang menarik bangkit tubuhnya dari posisi jongkok, kemudian berjalan menghampiri teman-teman mereka.
Kelima remaja itu menghela napas lega dan saling bertukar seringai.
"Tidak buruk!" komentar Altair di antara seringai tipisnya dengan napas terengah-engah.
Electra terkekeh sambil membungkuk membersihkan kedua belatinya dengan mengelapkannya pada bulu salah satu serigala yang teronggok di dekat kakinya.
"Belati yang bagus!" puji Cleon pada Electra.
"Sebagai penyerang samping, kecepatan dan kelenturan adalah yang paling penting," ujar Electra seraya menyelipkan kembali kedua belatinya ke dalam sepatu. "Kapak itu terlalu berat untukku," katanya sambil mengerling ke arah kapak yang tergeletak di bawah pohon dan tersenyum miring.