Poison Eve

Poison Eve
Chapter-105



Evelyn mengerjap dan mengedar pandang. Dahinya berkerut-kerut. Sengatan rasa panas dan dingin yang menjeratnya berangsur-angsur hilang, berganti rasa hangat yang menenangkan.


Sepasang lengan melingkari pinggangnya dengan gerakan lembut dan tenang. Ia menatap ke bawah dengan penasaran.


Seorang pria tinggi berdiri di belakangnya. Terasa kokoh dan kuat, serta memancarkan kehangatan.


Evelyn menyentakkan kepalanya ke samping dan terkesiap.


Seraut wajah lancip putih porselen milik Nazareth sudah bertengger di bahunya.


"Kenapa kau di sini?" tanya Evelyn dengan mata terpicing.


Pria itu hanya menanggapinya dengan senyuman tipis. Ia memutar tubuh Evelyn dengan lembut hingga mereka berhadap-hadapan, lalu membungkuk dan membenamkan bibirnya di bibir Evelyn.


Untuk sesaat, Evelyn membiarkan pria itu menyesap bibirnya. Lalu mendorong perlahan dada pria itu dan melepaskan diri. "Aku sedang berlatih," tukasnya sambil menangkupkan telapak tangannya di kedua pipi Nazareth. "Apa kau sudah selesai dengan Cleon?"


Nazareth tidak menjawab. Ia kembali membungkuk dan memagut mulut Evelyn.


Evelyn menolak dengan halus.


Nazareth mengetatkan rengkuhannya dan membenamkan mulutnya semakin dalam ke mulut Evelyn.


Evelyn mencoba mendorong dada pria itu sekali lagi.


Nazareth membungkuk semakin dalam dan melentingkan tubuh Evelyn ke belakang. Sebelah tangannya berpindah ke leher Evelyn dan merayap turun ke dada gadis itu, melucuti kancing bajunya dan menjejalkan tangannya ke dalam pakaian itu.


"Nazareth!" Evelyn memekik pelan dengan napas tersengal. Ia menatap langit-langit di atas kepalanya dengan mata terpicing. Merasa asing dengan tempat itu. Ia mengedar pandang ke sekeliling dan tertegun.


Nazareth sudah berhasil menyusupkan tangan dan wajahnya di area dada Evelyn dan menyesapnya seraya terengah-engah.


"Kita di mana?" tanya Evelyn sambil meneliti seluruh tempat.


Tempat itu terlihat seperti aula besar dalam gedung-gedung parlemen.


Nazareth tidak menjawab, mulutnya terlalu sibuk menjarah bagian paling sensitif di area dada Evelyn, sementara tangannya merayap di bagian belakang tubuh gadis itu, memijat di sana-sini dan menekankan tubuh Evelyn ke tubuhnya.


Evelyn mengerutkan keningnya semakin dalam. Kenapa rasanya tidak seperti Nazareth? pikirnya heran. Ia mencoba mendorong pria itu sekali lagi, tapi bersamaan dengan itu Nazareth juga mengetatkan rengkuhannya.


Evelyn akhirnya menyentakkan tubuhnya dan mendorong Nazareth menjauh dengan sedikit kasar. "Who are you?" desisnya seraya memelototi pria itu dengan tatapan curiga.


Nazareth tersenyum lagi, tapi tak mengatakan apa-apa. Hanya kembali mendekat dan meraup tubuh Evelyn ke dalam pelukannya.


Evelyn mendorongnya lagi. Dia bukan Nazareth! Ia menyadari. Ia merenggut bagian depan bajunya yang terbelalak dan beringsut menjauhi Nazareth sambil cepat-cepat memasang kembali kancing bajunya.


Apa ini alam ilusi? Evelyn bertanya-tanya dalam hatinya seraya mengedar pandang.


Nazareth mendekat lagi, tersenyum lagi dan coba menangkapnya lagi.


Evelyn melompat mundur menjauhinya, kemudian meneliti wajah Nazareth dengan mata terpicing.


Nazareth menelengkan kepalanya sedikit dengan dahi berkerut-kerut, lalu tersenyum.


Evelyn terperangah dan membekap mulutnya dengan kedua tangan. Merasa familier dengan ekspresi itu. Mungkinkah…


Nazareth mencoba mendekat lagi.


"Stop it!" Evelyn menudingkan ujung telunjuknya di depan hidung pria itu.


Pria itu membeku menatap ujung telunjuknya dengan ekspresi bingung.


Ternyata memang Vox! batin Evelyn syok. Bagaimana bisa…?


Evelyn menelan ludah dan mengawasi boneka itu dengan seksama. Benar-benar mirip! katanya dalam hati.


Pria itu menangkap telunjuk Evelyn dan memasukkannya ke dalam mulutnya.


Evelyn tergagap-gagap.


Evelyn menarik tangannya cepat-cepat dan melompat menjauhinya. Dia menggerayangiku! kenangnya getir.


Pria itu melangkah pelan mendekatinya lagi.


Evelyn menggeleng-geleng dengan ekspresi ngeri. "Calm down, Bayi Besar! Kau tak harus melakukan ini," bisiknya mencoba membujuk. Kau hanya boneka, katanya dalam hati. Peri pelindung tongkat kayu yang bermutasi. "Siapa yang mengajarimu melakukan ini? Apa kau bisa bicara?"


Pria itu diam saja. Hanya menyeringai.


Tidak! Evelyn menyimpulkan. Dia tidak bisa bicara. Itulah bedanya dia dengan Nazareth.


Evelyn memutar otaknya dengan cepat. Aku harus lari, pikirnya. Tapi bagaimana caranya keluar dari sini? Aku bahkan tak tahu di mana kami berada!


Sementara Migi Vox terus mendekat, Evelyn terus beringsut menjauhinya seraya memaksa dirinya berpikir cepat.


"Vox, dengar!" Evelyn mencoba berinteraksi. "Kita harus keluar dari sini. Kau tahu kan, aku harus berlatih. Apa kau mengerti?"


Migi Vox tidak menanggapinya. Tetap mendekat seraya menyeringai seperti kebiasaanya.


"Berhenti!" perintah Evelyn sambil menudingkan ujung telunjuknya sekali lagi di depan hidung Migi Vox.


Boneka itu langsung membeku menatap ujung telunjuk Evelyn dengan dahi berkerut-kerut.


Evelyn memanfaatkan kesempatan itu untuk mengedar pandang, mencoba menemukan jalan keluar secepat mungkin. Haruskah aku melawannya? pikirnya mulai frustrasi.


Ia mendesah pendek dan menurunkan telunjuknya dari wajah Migi Vox.


Migi Vox mengawasinya dengan alis bertautan. Ekspresi wajahnya terlihat geram.


Evelyn menarik sebelah kakinya ke belakang dan memasang kuda-kuda, lalu mengeluarkan cakra spiritualnya.


Migi Vox menyeringai semakin lebar. Sepasang matanya berkilat-kilat.


Tidak ada cara lain! pikir Evelyn. Lalu menerjang ke arah Migi Vox.


Boneka itu hanya melipat kedua tangannya di belakang tubuhnya dan memutar sedikit.


Serangan Evelyn melewatinya.


Evelyn mencoba mengeluarkan peri pelindungnya dan melontarkannya pada Migi Vox.


Tapi lagi-lagi boneka itu hanya memutar tubuhnya sedikit dan serangan Evelyn meleset lagi. Pembawaannya bahkan jauh lebih tenang dari Nazareth.


Bukan lawan yang mudah, mengingat kekuatan spiritualnya mungkin di atas level Nazareth.


Evelyn menghela napas dalam-dalam dan mencoba berkonsentrasi, kemudian mengeluarkan teknik kekuatan inti peri pelindung penjaga jiwa.


SLASH!


Migi Vox kecil melesat keluar dari dada Evelyn dan menerjang ke arah Migi Vox besar.


Migi Vox besar melontarkan tali cahaya berwarna biru dari ujung jemarinya dan menyergap Migi Vox kecil dalam sekejap. Ia menurunkan Migi Vox kecil itu ke lantai dan menggerak-gerakkan jemarinya yang secara otomatis membuat kaki dan tangan Migi Vox kecil bergerak-gerak mengikuti kendalinya seperti marionette.


Evelyn mengerang dalam hatinya dan mencoba mengeluarkan teknik kekuatan inti peri pelindung mutasi. Ratusan kepala ular menyeruak keluar dari punggungnya dan berkeriap di sekeliling tubuhnya.


Migi Vox besar melontarkan Migi Vox kecil ke arah Evelyn dan seketika salah satu ularnya memagut boneka itu.


Evelyn memekik dan tersentak. Tidak mengira Migi Vox akan mengatasinya dengan cara seperti itu. Bagaimanapun Migi Vox kecil itu adalah manifestasi dari peri pelindungnya sendiri. Dan itu artinya, racunnya berbalik pada dirinya.


Dan ketika Evelyn mulai terbatuk-batuk, Migi Vox menelengkan kepalanya dan menyeringai. Membuat Evelyn semakin panik. Semakin ia panik, penyebaran racunnya akan semakin cepat.


Evelyn mencoba mengendalikan sulur tanaman yang lainnya yang tidak berbentuk kepala ular, memasukkannya ke dalam luka Migi Vox kecil dan menyerap racunnya.


Keputusan itu juga terlalu berisiko. Entah akan seperti apa akibatnya menyerap racun dari peri pelindung dengan peri pelindung itu sendiri? Ia belum pernah melakukannya!


Tapi apa ada cara lain?