Poison Eve

Poison Eve
Chapter-146



Si Tangan Besi? Evelyn bertanya-tanya dalam hatinya selama sarapan.


Pagi itu, mereka semua sarapan lebih siang dari biasanya. Tapi masih berkumpul di tempat yang sama, di ruang makan yang menjadi satu dengan dapur di estat Nazareth. Masih bersama orang yang sama kecuali tanpa Xenephon dan Migi Vox.


Ketiadaan Migi Vox di meja makan membuat suasana sarapan tidak seceria biasanya.


"Aku merindukan Vox!" gumam Xena dengan ekspresi muram.


Semua orang juga merasa kehilangan. Bahkan para guardian.


"Kalian semua akan bertemu dengannya lagi kalau bisa melewati gerbang perbatasan Kota Cahaya," jawab Nazareth.


"Vox di Kota Cahaya?" tanya Nyx Cornus dengan terkejut.


"Menurutmu?" Nazareth balas bertanya.


Nyx Cornus spontan mendengus sembari memutar-mutar bola matanya. "Salah besar kalau aku bertanya padamu," rutuknya tak sabar.


Seisi ruangan terkekeh menanggapinya.


Evelyn masih melamun.


Nazareth melirik gadis itu dengan mata terpicing. Apa dia begitu patah hatinya kehilangan Vox? pikirnya. "Apa yang kau pikirkan?" ia bertanya pada Evelyn.


Evelyn mengerjap dan terperangah. "Aku—" ia menggantung kalimatnya dengan ragu.


Nazareth menaikkan sebelah alisnya.


"Kenapa kakekku disebut Si Tangan Besi?" tanya Evelyn akhirnya.


"Dia kakekmu, kan?" kelakar Nazareth tanpa tertawa. "Kalau kau tanya aku, lalu aku tanya siapa?"


Seisi ruangan serentak terkekeh.


Evelyn mendesah jengkel, lalu mendelik dengan wajah cemberut.


"Coba kau angkat gelas itu!" instruksi Nazareth mulai serius. Ia menunjuk gelas kristal di depan Evelyn.


Evelyn menatap Nazareth dengan alis bertautan, mencoba menebak-nebak apakah dia sedang bercanda lagi.


Nazareth balas menatapnya dengan raut wajah datar.


Evelyn mengangkat gelasnya.


"Sekarang remukkan!" perintah Nazareth.


Evelyn memicingkan matanya.


"Dengan jemarimu!" Nazareth menambahkan.


Evelyn menelan ludah dan tergagap. Ternyata dia memang sedang bercanda, pikirnya jengkel. Kemudian melirik teman-temannya.


Teman-temannya tak bereaksi.


Dengan ragu, Evelyn mencengkeram gelas minumnya dan dalam sekejap gelas itu berkeretak dan remuk dalam genggamannya.


Seisi ruangan serentak terkesiap.


"That's amazing!" gumam Altair tanpa berkedip.


Xena dan Electra tergagap dengan mata dan mulut membulat.


Cleon tersenyum miring.


Evelyn mengerjap dan tergagap-gagap.


"Apa kau terluka?" kelakar Nazareth sambil membungkuk merenggut tangan Evelyn dengan gaya dramatis.


Evelyn terbelalak menatap pria itu. Apa dia salah makan hari ini? pikirnya. Atau salah minum obat?


Semua orang tercengang menatap Nazareth.


Nazareth jarang sekali bercanda!


Tapi… dia yang seperti ini… benar-benar mempesona! batin Evelyn berdebar-debar. Wajahnya bersemu merah.


Nazareth tersenyum menyadarinya. Lalu melepaskan genggamannya dan meluruskan tubuhnya. Melipat kedua tangannya di belakang tubuhnya, kemudian berbalik memunggungi meja makan. "Orion Katz adalah orang pertama dan satu-satunya yang berhasil menyatukan peri pelindung dengan organ tubuhnya," tuturnya mulai serius.


Semua mata dalam ruangan bergulir mengikuti gerakan Nazareth.


Nazareth mengerling ke arah Evelyn melalui bahunya, "Berkat tulang cakra Apollo!" ia menambahkan.


"Tulang cakra?" seisi ruangan menggumam bersamaan.


"Kalau begitu…" Arsen Heart menoleh pada Evelyn. "Jangan-jangan…"


"Tulang cakra tangan?" gumam Evelyn sambil membolak-balik telapak tangannya dan memandanginya.


"Banyak atribut dan kemampuan yang tidak kau sadari setiap kali kau berhasil menyerap cakra spiritual," jelas Nazareth. Lalu memutar tubuhnya kembali menghadap ke meja makan. "Aku tak tahu apa tepatnya, tapi cakra spiritualmu didapat dari orang-orang hebat. Terutama Apollo!"


Benar juga, pikir Evelyn. Tak mungkin teknik Apollo hanya begini saja!


"Cakra kelimanya didapat dari Apollo," kata Nazareth. "Tulang cakra Apollo sudah dimilikinya dari sebelum dia menyerap cakra kakeknya. Hanya keterampilan Si Tangan Besi saja yang baru dia miliki."


"Kalau begitu…" Salazar menggumam dengan ekspresi takjub. "Ketujuh tulang cakra Apollo sudah sepenuhnya dia miliki!"


"Benar!" jawab Nazareth. Dan itu artinya dia sudah sepenuhnya menanggung ancaman global, ia menambahkan dalam hatinya.


Seisi ruangan mengerjap menatap Evelyn dengan terpukau.


Evelyn mengerjap gelisah dan tertunduk dengan raut wajah muram.


Hidupnya tak akan pernah normal lagi mulai sekarang! Nazareth membatin getir. Merasa sudah di ambang kegilaan.


Alangkah baiknya jika aku tak pernah membiarkannya mengikuti semua kompetisi! sesalnya frustrasi.


Tapi jika tidak begitu, Evelyn takkan berkembang sebaik ini sekarang!


"Latihan kalian selama sebulan ini adalah mengalahkanku!" kata Nazareth.


"Apa?" Evelyn dan teman-temannya memekik bersamaan.


"Setelah sarapan tetap lakukan pemanasan berdiri," lanjut Nazareth tidak menggubris protes mereka.


Evelyn dan teman-temannya bertukar pandang. Lalu memandang keempat guardian mereka yang sama tak berdayanya.


"Selain itu," Nazareth menambahkan. "Waktu pemanasan berdiri diperpanjang hingga waktu makan siang!"


Evelyn dan teman-temannya mengerang.


"Setelah makan siang kalian harus bermeditasi," lanjut Nazareth lagi. "Pukul tiga sore kalian akan latihan denganku sampai waktu makan malam."


Evelyn dan teman-temannya serempak melemas.


Lalu menegang setelah dua jam melakukan pemanasan berdiri. Nazareth berdiri di puncak tangga mengawasi mereka sambil menekan mereka dengan aura raja yang memaksa siapa pun merunduk padanya dalam jarak seratus meter.


"Kenapa tak bilang kalau pemanasan berdirinya seperti ini?" erang Xena dengan suara tercekik.


Yang lainnya tidak menjawab. Hanya mengernyit dengan kedua lutut tertekuk dan tubuh gemetar. Tubuh mereka membungkuk seperti diterjang angin kencang. Napas mereka tersengal-sengal.


Saat latihan bertarung melawan Nazareth, mereka juga mengalami hal yang sama. Jangankan menyerang, mendekat saja sudah terpental. Bahkan Evelyn yang sudah mencapai level kaisar.


Hari berlalu dengan hasil yang sama. Namun kekuatan spiritual mereka sudah melewati level empat puluh, kecuali Evelyn.


Level mereka sudah mencapai tingkat guardian sekarang.


Evelyn sudah mencapai level enam puluh lima. Tapi masih terpental di lima puluh meter.


Hingga waktu satu bulan itu berakhir, mereka masih tak bisa mendekati Nazareth.


Kelima remaja itu tertunduk lemas di akhir latihan mereka.


Nazareth tersenyum tipis. "Aku hanya bercanda soal mengalahkanku!" akunya. "Latihan itu hanya untuk mendorong perkembangan level kalian."


"Benarkah?" Kelima remaja itu berseru dengan wajah semringah.


"Selain level kekuatan, tak ada yang lebih penting untuk menghadapi pertarungan di Kota Cahaya," jelas Nazareth. "Di sana, segala sesuatu datang dalam ukuran besar!"


"Makan malam sudah siap!" Lady Die menyela dari ujung beranda.


Evelyn dan teman-temannya menatap Nazareth.


"Beristirahatlah!" kata Nazareth. "Kalian sudah bekerja keras. Kita lanjutkan pembicaraan di meja makan."


"Yeaaay!" Teman-teman Evelyn berlanting gembira dan menghambur ke arah dapur.


Evelyn berjalan pelan menjejeri Nazareth.


Nazareth melingkarkan sebelah lengannya di pinggang Evelyn, menuntunnya ke arah dapur sambil berbincang-bincang ringan. "Perjalanan ke Kota Cahaya akan dilakukan dengan menggunakan kereta kuda," ia memberitahu. "Tidak akan ada tekanan teleportasi," godanya. "Butuh tekanan lain untuk meningkatkan level?"


"Dari mana kau belajar menggoda wanita?" tanya Evelyn bernada curiga.


"Aku ahli teori, apa kau lupa?" tukas Nazareth tanpa beban sedikit pun. "Lagi pula aku terus bersama kalian selama satu bulan terakhir!"


Sesampainya di ruang makan, Nazareth mengumumkan, "Babak berikutnya adalah pertarungan satu lawan satu!"


Evelyn dan teman-temannya menjatuhkan kepala mereka ke meja bersamaan.