
Hari Turnamen Elit Master Spiritual…
Babak penyisihan diselenggarakan di masing-masing negara.
Balai Budaya Kota Ilusi menjadi pilihan utama untuk menyelenggarakan babak penyisihan turnamen Neraida.
Evelyn dan teman-temannya berangkat bersama kelima guardian mereka, dengan dua kereta kuda.
Arsen Heart dan Salazar Lotz menjadi saisnya.
Xenephon tidak terlihat sejak kemarin malam. Hanya Nazareth dan Nyx Cornus yang tahu ke mana pria cantik itu pergi. Tapi tidak satu pun berani bertanya melihat gelagat tak ramah di wajah Nyx Cornus.
Nyx Cornus sedang menjadi iblis!
Di dalam aula pertarungan yang spektakuler, Kaisar dan empat bangsawan utama: Duke, Marques, Earl, dan Baron, sudah bersiap di tempat kehormatannya masing-masing.
"Bagaimana menurutmu mengenai turnamen kali ini?" tanya Kaisar pada sang Duke.
"Aku tahu sebuah tim," sang Duke menanggapi dengan sopan. "Mungkin saja membawa juara pertama untuk Neraida."
Sang Baron mendengus sinis mendengar sang Baron.
Bersamaan dengan itu, tim Morfeus Academy baru saja tiba di pintu gerbang.
Satu per satu para guardian turun dan membantu anak-anak aset mereka turun.
Orang banyak menatap mereka dengan tatapan antara kagum dan bingung. Beberapa memandang sinis.
Dari depan gerbang sampai ke tangga pelataran Balai Budaya orang banyak berjubal dalam kelompok-kelompok dengan seragam masing-masing akademi. Sangat beragam dan beraneka warna. Membuat Balai Budaya terlihat meriah dan spektakuler.
Migi Vox mendongak di pangkuan Nazareth, mengedar pandang dengan mata dan mulut membulat, menampakkan ekspresi senang dan penasaran seorang anak kecil.
Sementara para petugas keamanan kendaraan menyisikan kereta kuda mereka ke tempat penambatan, Nazareth dan para guardian memimpin jalan menuju aula pertarungan.
"Memakai pakaian putih untuk pertarungan? Apa tak takut berubah merah dan coklat?" ejek salah satu pelajar berseragam hitam bercorak emas.
Cleon spontan mengepalkan tangannya mengetatkan rahang, bersiap menyemburkan kata-kata hujatan. Tapi sentuhan lembut di lengannya memperingatkan dengan lembut, membuat hatinya seketika luluh.
"Kita bungkam saja mulut mereka dengan kemenangan!" Evelyn memperingatkan, sedikit menyindir rombongan itu.
Nazareth bertukar pandang dengan Arsen Heart. Lalu mengerling melewati bahu mereka.
Migi Vox menoleh dan mengerutkan keningnya, menatap tajam tangan Evelyn di lengan Cleon.
"Well, rasanya aku tahu seragam perawat itu!" komentar sinis seorang gadis dari tim akademi lain, yang secara otomatis ditanggapi tatapan penasaran semua orang di sekitar situ. "Seragam para pemimpi!"
"Tak heran mereka begitu bermimpi menjadi juara!" timpal salah satu anak dari tim yang pertama.
Sekarang giliran Electra yang naik darah, ia menyentakkan kepalanya ke samping dan memelototi kelompok gadis yang mengatai mereka pemimpi tadi.
Tapi lagi-lagi Evelyn memperingatkan dengan sentuhan halus, dan berhasil meluluhkan hatinya juga.
"Aku pemandu acara dari Arena Debut!" suara pemandu acara terdengar melalui pengeras suara. "Merasa terhormat, bisa membawakan acara pembukaan Turnamen Elit Master Spiritual ini."
Seluruh aula meledak oleh tepuk tangan spektakuler dan sorakan semangat gegap-gempita.
"Pertama-tama, mari kita sambut para peserta turnamen kali ini!" seru si pemandu acara tak kalah bersemangat.
Tepuk tangan dan sorakan semangat kembali menggelegar.
"Yang pertama, Tim dari dua Akademi Kaisar. Perwakilan terkuat dari kekaisaran Neraida!"
Sorakan histeris mendengking bersama munculnya lima remaja berseragam glamor akademi kaisar, merah cerah dengan armor memukau dari emas empat belas karat.
Evelyn dan Nazareth mendongak menatap layar besar di pintu masuk arena. Migi Vox mengikuti arah pandang mereka dengan tatapan polos.
Sosok Catlyn Thunder muncul dalam ukuran besar, tersenyum lebar dan menebarkan ciuman jauh kepada semua orang.
Teman-teman Evelyn dan para guardiannya tercengang melihat gadis itu.
Evelyn melirik Nazareth, sebersit rasa bersalah melintas dalam benaknya mengingat ia pernah cemburu pada gadis itu.
"Cantik sekali!" seru beberapa orang di belakang mereka.
Evelyn mengerjap dan mengerling melewati bahunya. Tentu saja, katanya dalam hati. Kakaknya saja luar biasa!
Andai ia belum tahu Catlyn Thunder adik Nazareth, hatinya mungkin sudah terbakar sekarang.
"Slogan mereka kali ini adalah: Menjadi yang terkuat dan maju terus ke depan!" suara pemandu acara kembali menggelegar disertai tepuk tangan meriah dan sorakan histeris lagi. "Semua hadirin pasti yakin terhadap mereka!"
"Neraida tak terkalahkan!"
Semua orang bersorak antusias.
"Akademi kaisar begitu terkenal!" komentar Xena dengan polosnya. "Kuharap kita tak dapat undian dengan mereka," katanya dengan ekspresi manjanya yang khas.
"Tim selanjutnya dari lima akademi martial art!" Pemandu acara mengumumkan peserta berikutnya. "Mereka juga kandidat kuat untuk merebut juara pertama!"
Wajah-wajah memukau lainnya kembali berseliweran di layar.
Tepuk tangan dan sorakan meriah kembali menggema.
"Tim manakah yang akan bersinar di babak penyisihan?" lanjut si pemandu acara dengan menggebu-gebu. "Kita tunggu saja!"
Para pendukung tim lima akademi aliran martial art itu bersorak-sorak menyemangati.
"Di belakang mereka adalah akademi botani!" Pemandu acara mengumumkan lagi.
Lima peserta wanita berseragam hijau bercorak tanaman bermunculan di layar.
Sorak-sorai dan tepuk tangan kembali meledak. Terutama tim akademi botani itu memiliki penampilan yang lebih menggoda dibanding Catlyn Thunder. Sambutan untuk mereka lebih meriah karena disertai siulan-siulan usil para lelaki.
"Berikutnya adalah dua akademi sihir!"
Tepuk tangan dan sorakan kagum menggema dari seluruh tempat. Hampir sama dengan sambutan untuk tim akademi kaisar.
Wajah Xenephon muncul sekilas di belakang barisan para pelajar akademi sihir.
Tim Morfeus Academy serempak terkesiap.
Nyx Cornus mengerling dengan raut wajah berbinar. Akhirnya!
Pantas saja dia menghilang sejak kemarin malam! pikir Evelyn.
"Tim terakhir berseragam putih itu adalah satu-satunya akademi militer di Kota Ilusi!" Pembawa acara menunjuk ke arah tim Morfeus Academy diikuti sorotan kamera. "Semoga mereka mendapat nilai bagus!"
Nazareth mengisyaratkan Evelyn dan teman-temannya untuk berdiri di depan para guardian.
Wajah mereka muncul di layar satu per satu.
Tepuk tangan berkurang dan tidak ada yang bersorak menyemangati mereka.
"Mau tahu slogan mereka?" pemandu acara berusaha memprovokasi para hadirin. "Hidup berawal dari mimpi!"
Para hadirin akhirnya mulai bersorak. Mencemooh!
Namun di antara ketidakpedulian para hadirin itu, beberapa orang menatap layar dengan mata berkilat-kilat ketika wajah Evelyn tampil sesaat.
Dia!
Beberapa orang memekik dalam hatinya. Sebagian tersenyum miring, sebagian lainnya tersentak dengan raut wajah syok.
Lady Die menggertakkan gigi dan mengedar pandang dengan ekspresi jengkel. "Apa-apaan ini?" rutuknya tak sabar. "Kenapa tim kita hanya disorot sebentar?"
Guardian lainnya hanya mengangkat bahu.
Evelyn dan teman-temannya bertukar pandang dan tersenyum masam.
Nazareth tidak tampak terganggu.
Migi Vox memandang berkeliling dengan tatapan polos.
"Lihat itu!" seru Electra tiba-tiba, lalu menunjuk lima layar yang berderet di tingkat paling atas. "Lihat kelima orang itu!" ulangnya menggebu-gebu.
Keempat temannya mengikuti arah telunjuknya.
Migi Vox ikut-ikutan.
Cleon dan Evelyn membeku dengan ekspresi muram.
"Lima orang yang mana?" tanya Altair kebingungan. "Aku tak melihat siapa pun!" ia mengaku.
"Posisi mereka begitu jauh," komentar Xena pada Altair. "Terlalu aneh kalau kau bisa melihatnya," ejeknya.
"Maksudku layar di atas!" erang Electra bernada jengkel.
Xena dan Altair baru mengerti.