
"Baiklah!" Nazareth memutuskan. "Electra akan tampil pertama!"
"Hmh!" Evelyn dan teman-temannya mengangguk bersamaan.
Electra mengepalkan tangannya dengan ekspresi penuh tekad, kemudian bergegas turun menuju arena.
Mengetahui Nazareth menurunkan Electra, Catlyn mengetatkan rahangnya. Sudah kuduga kau takkan membuatnya mudah! batinnya dengan getir.
"Bersiap!" Pemandu acara menginstruksikan.
Lalu kedua gadis di lantai arena itu mengeluarkan cakra spiritual dan peri pelindungnya masing-masing.
"Kucing yang besar!" dengus Catlyn dengan ekspresi mencemooh.
Electra menanggapinya dengan melesat ke arah Catlyn dengan gerakan terbang meliuk.
Catlyn tersenyum miring dan melesat dengan gerakan yang sama.
Keduanya sekarang mengayunkan cakarnya ke arah satu sama lain, tapi kedua-duanya terluput.
Teknik mereka sama persis dengan kecepatan setara. Selain itu, keduanya sama-sama memiliki kemampuan teleportasi.
Sekarang kedua sosok itu melecut-lecut di udara dan berkeredap, berpindah-pindah tempat dalam sekejap.
Para penonton di alun-alun ibukota kedua negara yang terdiri dari orang biasa tak mampu menangkap gerakan mereka.
Pertarungan berakhir imbang dalam waktu yang lama. Begitu juga setelah mereka sama-sama mengeluarkan teknik kedua.
Meski perbedaan level mereka terpaut lima angka, teknik serangan Electra tidak bisa diremehkan.
Catlyn sedikit kewalahan menghadapinya. Pertarungan ini sedikit menguras stamina.
Kalau begini terus, aku takkan bertahan sampai Evelyn diturunkan! pikir Catlyn frustrasi.
Ia mendarat di lantai dan memutuskan untuk berhenti kejar-kejaran. Dengan cepat ia memasang kuda-kuda dan mempersiapkan teknik ketiga. Peri pelindung kucing nerakanya yang berbulu lidah-lidah api membengkak seratus kali lipat lebih besar.
Kucing raksasa itu sekarang duduk diam di belakangnya sementara ekornya bergerak-gerak ke depan menyapu lantai dengan kobaran api.
Arena pertarungan berubah membara seperti tungku perapian.
Electra melompat-lompat ke sana-kemari menghindari sabetan ekor kucing neraka dengan bulu lidah-lidah api yang ukurannya sekarang sudah sebesar gunung. Ujung ekornya mencapai tepi arena hingga tak ada tempat untuk ia mendarat dan menyiapkan teknik ketiga.
Ke mana pun Electra bergerak, ekor panjang kucing berbulu api itu mengikutinya.
Sial! batinnya mulai gusar. Aku tak akan bisa mengeluarkan teknik ketiga kalau tak bisa berpijak.
Evelyn mengawasi pertarungan itu dengan dahi berkerut-kerut. Berpikir keras. Bagaimana jika aku berada dalam situasi itu? Apa yang akan kulakukan?
Dan ketika Evelyn mengerjapkan matanya, pertarungan itu sudah berakhir.
Electra tak bisa bertahan lama di udara karena tak memiliki kemampuan terbang, sementara terus melompat-lompat juga lama-kelamaan membuatnya terpuruk kelelahan.
"Berikutnya…" Nazareth mengerutkan keningnya sesaat, mencoba menimang-nimang sebelum akhirnya menoleh pada Evelyn. "Kau yang turun!" instruksinya.
Teman-teman Evelyn dan para guardian mereka terperangah. Tidak mengira Nazareth akan menurunkan Evelyn lebih awal.
"Catlyn sangat ingin bertarung dengan Evelyn," tutur Nazareth. "Kondisinya takkan memungkinkan untuk menunggu lebih lama."
Evelyn menghela napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya perlahan. "Baiklah," katanya penuh tekad. Lalu ia mengedipkan sebelah matanya pada Nazareth. "Aku akan memuaskannya!"
"Sayang sekali," bisik Nazareth seraya tersenyum tipis. "Kata-kata itu tidak ditujukan untukku!"
Evelyn bergegas turun menuju arena sembari mengulum senyumnya.
Catlyn akhirnya mendesah lega. Lalu melirik kakaknya di tempat para guardian. Pria itu hanya mengangguk samar tanpa senyuman. Akhirnya aku tahu mana Earth yang asli! katanya dalam hati. Lalu mulai bersiap memasang kuda-kuda.
Seisi aula Balai Mulia Neraida terlihat bersemangat, tegang, dan penasaran. Terutama di ruangan President Suite.
Ibu Catlyn dan ibu Evelyn saling menggenggam tangan satu sama lain. Sama-sama gugup.
Lady Madeleine dan putrinya menegang di sisi Lady Chaterine. Ini adalah kali pertama mereka akan melihat Evelyn bertarung.
"Akhirnya aku akan melihatnya bertarung!" gumam Nadine dalam bisikan tercekat saking bersemangat.
"Senang melihatmu lagi, Poison Eve!" desis Catlyn sembari menyeringai.
"Well---yeah! Me too!" Evelyn menyentakkan telapak tangannya dengan jemari membentuk cakar, dan seketika peri pelindungnya keluar dalam bentuk cambuk.
"Come to your f u c k i n g mommy, Little Catie!" cemooh Evelyn sambil menghantamkan cambuknya ke lantai. Sengaja bersikap menyebalkan untuk mengimbangi Hell Catie.
Sejurus kemudian, Catlyn sudah melesat ke sana-kemari dengan lincah sementara Evelyn mencambuk tak kalah lincah di sana-sini.
DUAAAAARRRR!
DUAAAAARRRR!
DUAAAAARRRR!
Hempasan cambuk Evelyn meledak-ledak seperti halilintar.
Para penonton di semua tempat hanya tercengang. Tidak berani berkedip karena khawatir melewatkan adegan penting.
Paket bonus kejutan ala Evelyn!
Semua orang sudah tahu gadis itu penuh kejutan.
Ya, semua orang, kecuali keluarganya!
Ibu dan bibinya, juga saudara sepupunya hampir tidak berkedip menyaksikan pertarungan itu.
"Apa dia Rubah Kecilku?" desis Lady Chaterine dengan syok.
"Dia putri Rodrigo Knight!" timpal kakak iparnya balas mendesis.
Lady Chaterine menelan ludah.
Tubuh kedua gadis di tengah arena itu sekarang berkedip-kedip, berpindah-pindah tempat. Hampir sama dengan pertarungan Catlyn dengan Electra.
Evelyn juga sekarang sudah menguasai teleportasi.
Dan para penonton di kedua negara semakin terpukau. Itu adalah salah satu teknik yang baru dikeluarkan Evelyn.
"Apa dia baru saja menguasai teknik teleportasi?" komentar seorang pejabat di Balai Mulia Shangri-La. "Rasanya dia tak pernah menggunakan teleportasi di pertandingan sebelumnya!"
"Benar," pejabat lainnya menimpali. "Dia memang baru pertama kali menggunakan teleportasi!"
"Rumput liar ini selalu berhasil mengangakan mulutku!" komentar yang lainnya lagi.
"Andai aku lebih muda sepuluh tahun," gumam yang lain-lainnya lagi.
"Jadi kau berniat mengajakku main kucing-kucingan?" geram Evelyn mulai tak sabar. "Adik Kecil!" ia menambahkan dengan ekspresi mencemooh.
"Apa kau sudah terengah-engah?" Catlyn balas mencemooh. "Kakak Ipar!" ia menambahkan sambil mencebik.
Kedua gadis itu akhirnya mendarat di lantai.
"Waktu bermain sudah habis!" dengus Evelyn bernada sinis. Lalu memasang kuda-kuda, menyiapkan jurus kedua. "Saatnya pulang ke rumah!"
Sejurus kemudian, Evelyn sudah terbang berputar-putar mengitari Catlyn seperti gangsing, menebarkan sulur tanaman di sekeliling Catlyn dan mengurungnya.
Lady Chaterine mengerling pada kakak iparnya.
Lady Madeleine balas mengerling dengan tatapan nanar.
Lady Chaterine kembali menatap layar dengan alis bertautan. Sebelah tangannya memegangi dada seperti orang terserang asma.
Sang ratu meliriknya diam-diam.
"Kandang yang jelek!" cemooh Catlyn dari belakang Evelyn. Tahu-tahu sudah berpindah tempat.
Oh, s h i t ! erang Evelyn dalam hatinya. Kenapa aku bisa lupa kalau dia menguasai teleportasi? pikirnya. "Tidak mau pulang?" semburnya berpura-pura dirinya sedang memarahi anak kecil yang nakal, berusaha untuk tetap bersikap tenang sambil memaksa dirinya berpikir cepat. "Baiklah!" katanya. "Saatnya memanggil Papa!"
Evelyn menurunkan tangannya dan menarik kembali peri pelindungnya, kemudian menyiapkan jurus ketiga.
Catlyn juga melakukannya. Mengeluarkan teknik ketiga yang digunakannya untuk mengalahkan Electra.
Peri pelindung kucing neraka itu sekarang bertengger sebesar gunung dengan ekor panjang yang melecut-lecut, kembali menyapu lantai dengan kobaran api.
Evelyn memutar tubuhnya di udara dengan kedua tumit kaki bertautan seperti sedang menari balet. Tak lama kemudian, sebuah lingkaran cahaya berbentuk cakram tercipta di bawah kakinya seperti lantai transparan yang mengambang di udara.
Terinspirasi dari Nazareth!
Nazareth mengerjap dan terkesiap.