
Hari ketujuh, babak final…
Semua orang terlihat jauh lebih bersemangat, terutama para juri dan para petinggi asrama.
Ya, semua orang kecuali Evelyn!
Evelyn mengedar pandang ke lantai dua seraya tersenyum muram.
Hatinya serasa teriris begitu melihat wakil akademi kembali mengambil peran sebagai orang nomor satu di akademi.
Dia tidak di sini! batinnya getir. Lalu membungkuk dengan hormat tentara ke arah para petinggi asrama dan para juri.
Electra berdiri di sampingnya dengan sikap hormat yang sama. Terlihat bersemangat dan penuh energi.
Tepuk tangan dan sorak-sorai para penonton menggema ke seluruh aula menyemangati keduanya.
Sementara wakil akademi mengutarakan pidato pembukaan, para penonton sudah mulai sibuk berargumen mengenai kemungkinan siapa yang menang dan siapa yang kalah.
Xenephon mengawasi Evelyn dengan cemas. Dia terlihat kurang bersemangat, katanya dalam hati.
Nyx Cornus melirik Xenephon dengan tatapan penuh pemahaman. Ia menepuk lembut punggung tangan pria itu dan tersenyum.
"Baiklah!" pemandu acara mengambil alih pengeras suara. "Kita langsung mulai saja. Babak final turnamen Morfeus Academy, anak aset Nazareth Vox melawan anak aset Nyx Cornus… Evelyn Katz dan Electra Dan!"
Aula menggelegar oleh tepuk tangan meriah dan pekikan semangat.
Kedua gadis di panggung arena itu mulai mengambil tempat dan bersiap-siap.
"Lima detik dihitung mundur…" pemandu acara menginstruksikan.
Para penonton mulai menghitung.
"Lima!"
"Empat!"
"Tiga!"
"Dua!"
"MULAI!" teriak lantang pemandu acara.
Electra membungkuk dan memundurkan satu kakinya, menyentakkan kedua tangannya di sisi tubuhnya dengan jemari membentuk cakar dan seketika dua cakra spiritualnya berkeredap dan muncul dalam pusaran kabut cahaya berwarna putih dengan bintik-bintik kuning.
Evelyn berdiri dengan pose favoritnya, mengembangkan kedua tangannya di sisi tubuhnya dengan telapak tangan menghadap ke atas, ia menghela napas dalam, menghirup udara sebanyak-banyaknya dan mendongak, lalu memutar dalam tarian balet, sedetik kemudian, dua lingkaran cahaya berbentuk cakram berwarna kuning dan merah darah berkeredap di sekeliling tubuhnya.
Seisi aula memekik dengan terkejut.
"Cakra ratusan ribu tahun?!"
Seseorang---mengenakan jubah gelap tertutup dengan tudung kepala---mengawasi Evelyn dari sudut tersembunyi. Seulas senyuman miring tersungging di sudut bibirnya.
Xenephon terperangah menatap cakra kedua Evelyn. Kapan dia mendapatkan cakra keduanya? pikirnya tak yakin. Dia tak mungkin pergi ke Hutan Berburu Peri Monster dalam semalam!
Para juri menggumam dengan pertanyaan yang sama.
"Kapan dia mendapatkan cakra keduanya?"
Cakra kedua Evelyn berwarna merah darah bercorak simbol-simbol astrologi.
Tunggu dulu! pikir Xenephon. Merasa familier dengan cakra Evelyn. Nyx Cornus juga merasa tak asing. Tak lama kemudian keduanya bertukar pandang dengan tersentak. "King Cobra sembilan ratus tahun!" pekik mereka bersamaan.
King Cobra sembilan ratus tahun adalah cakra kelima Xenephon.
Nyx Cornus menatap Evelyn dengan ekspresi syok. Kau benar-benar penuh kejutan Evelyn Katz! katanya dalam hati.
"Kekuatan inti peri pelindung parasit!" desis Xenephon dengan suara tercekat.
Nyx Cornus spontan meliriknya dengan mata terpicing.
"Manna itu…" gumam Xenephon.
"Manna apa?" tanya Nyx Cornus.
Xenephon tidak menjawab. Pria itu bergeming dengan alis bertautan.
.
.
.
~Flashback on…
Xenephon bersila di depan gadis itu dan menautkan pergelangan tangannya juga di depan dada, menggerak-gerakkan telapak tangan dan jemarinya membentuk jurus-jurus penyatuan energi ke telapak tangannya. Dua bola cahaya sebesar kelereng berwarna merah darah menyembul keluar dari telapak tangannya. Ia menjentikkan bola cahaya itu ke lutut Evelyn dan melayangkan telapak tangannya di depan kedua lutut gadis itu untuk mendorong bola cahaya itu masuk tanpa menyentuhnya.
Tak sampai sepuluh menit, energi itu sudah meresap sepenuhnya ke dalam tubuh Evelyn dan melebur dalam aliran darahnya.
^^^~Flashback off~^^^
.
.
.
Gambar cahaya berbentuk King Cobra berwarna merah berkeredap di sekeliling tubuh gadis itu dalam ukuran raksasa.
Electra terkesiap menatap kepala ular itu. Kekuatan inti peri pelindung peniru ternyata bisa begini, pikirnya takjub.
"Dia sudah mencapai gelar Master Spiritual Kastria," gumam salah satu juri yang paling tua.
"Perkembangan Evelyn Katz terlalu mengerikan," komentar juri lainnya.
"Bagaimana bisa dia mendapatkan cakra dalam satu malam?" komentar juri lainnya lagi.
Tiba-tiba wakil akademi beranjak berdiri dan menggebrak lantai dengan ujung tongkatnya.
Seisi ruangan mendadak beku.
"Simpan dulu kekuatan cahaya kalian!" perintah wakil akademi pada Evelyn dan Electra.
Kedua gadis itu terperangah dengan kebingungan.
"Kubilang simpan!" teriak wakil akademi sambil mengetukkan kembali ujung tongkatnya di lantai.
Evelyn dan Electra segera mematuhinya dan bertukar pandang.
"Wasit! Periksa level spiritual Evelyn Katz!" perintah wakil akademi dengan raut wajah dingin.
Evelyn spontan tergagap.
Xenephon mengetatkan rahangnya, bersiap menyemburkan protes. Tapi kemudian Nyx Cornus menyentuh punggung tangannya, mencoba menenangkannya.
Wasit melayang turun ke panggung arena dan mendarat di depan Evelyn.
Evelyn mengerjap dan menelan ludah. Lalu tertunduk ketika pria berusia empat puluh tahun itu melayangkan telapak tangannya di atas kepala gadis itu.
Sesuatu---seperti angin—tiba-tiba menekan Evelyn dari puncak kepala hingga ke telapak kaki. Menekuk tubuhnya seakan ingin meremukkannya.
Electra menelan ludah dengan susah payah dan menatap Evelyn dengan khawatir.
Sekujur tubuh Evelyn menegang yang secara otomatis membuat Evelyn mengerahkan tenaga dalamnya untuk menahan tekanan itu.
Wasit itu menarik tangannya dan tekanan itu spontan menghilang. Detik berikutnya wasit itu mengayunkan telapak tangannya lagi dan mendorong puncak kepala Evelyn tanpa menyentuhnya, tekanannya sekarang bertambah dua kali lipat.
Kedua lutut Evelyn tertekuk, ujung kakinya terseret ke belakang.
Evelyn mengetatkan rahangnya menahan semua tekanan itu dengan tenaga dalam yang lebih besar.
Wasit itu menarik tangannya lagi, kemudian mengayunkannya lagi, mendorong Evelyn sekali lagi dengan kekuatan tenaga dalam yang jauh lebih besar lagi.
Evelyn hampir tak sanggup menahan tekanan itu. Ia memejamkan matanya seraya mengernyit. Tubuhnya gemetar dan lututnya tertekuk semakin dalam hingga menyentuh permukaan lantai.
Seisi ruangan membeku.
Semua orang menahan napas dengan raut wajah tegang.
"Dua puluh satu!" Wasit itu memberitahu. Lalu melepaskan Evelyn sepenuhnya.
Evelyn terhuyung. Wasit itu spontan menangkap bahunya dan menahan tubuhnya.
"Baik, lanjutkan!" perintah wakil akademi seraya berbalik ke tempat duduknya.
Seisi ruangan mengembuskan napas nyaris bersamaan.
Xenephon mendesah pendek dan tertunduk memandangi Evelyn dengan raut wajah prihatin.
"Pulihkan dulu Evelyn Katz!" Wakil akademi menginstruksikan.
Wasit itu membungkuk pada wakil akademi, kemudian menoleh pada Evelyn dan bersiap mengangkat tangannya lagi untuk memulihkan Evelyn.
Tapi seseorang menyela mereka.
"Biar aku saja!" Xenephon menginterupsi.
Seisi aula serentak menoleh pada Xenephon.
Wasit itu membungkuk pada Xenephon dengan hormat tentara, kemudian mempersilahkan pria itu melakukan pemulihan.
Xenephon menjentikkan jarinya dan seketika bola cahaya berwarna merah darah sebesar kelereng muncul di ujung jarinya.
Bola cahaya itulah yang dimaksud dengan Manna.
Xenephon menyentil bola cahaya itu ke arah Evelyn dan mendaratkannya di dada gadis itu. Tak lama kemudian, bola cahaya itu sudah meresap ke dalam tubuh Evelyn dan melebur dalam aliran darahnya.
Evelyn mendongak menatap Xenephon.
Pria itu mengedipkan sebelah matanya penuh arti.
Formasi Tiga Jantung! Evelyn menyimpulkan.