Poison Eve

Poison Eve
Chapter-123



"Apanya yang genius?" Neiro Sach mendengus sambil mendelik. "Mereka jelas tak tahu situasi! Erebos sepenuhnya dihuni peri vampir, bahkan beberapa meter dari gerbang sudah rawan serangan."


"Benar, My Lord!" sanggah si Penggali Bakat dengan sopan. "Beberapa meter dari gerbang sudah dihuni kelompok peri vampir. Mereka semua sangat haus darah. Tanpa energi cahaya, peri vampir bisa mencium aroma mereka dari radius yang cukup jauh. Dan keputusan mereka cukup tepat untuk mendapatkan poin lebih awal. Selain itu, babak ini bukan lomba kecepatan kecuali saat kembali. Bukankah keputusan untuk tidak menggunakan teknik cahaya di awal sangat efektif?"


Sejumlah pejabat kehormatan serempak tercengang.


"Mereka bisa meraup poin lebih banyak dengan risiko jarak lebih sedikit!" seseorang terpekik tanpa bisa menutupi kekagumannya.


Wajah Neiro Sach spontan mengencang.


Lady Die dan Nyx Cornus tersenyum miring sambil bersedekap dan mendongakkan hidung mereka dengan gerakan seragam.


Xenephon melirik mereka dengan tatapan geli. Sekarang aku mengerti kenapa pelatihan fisik mereka begitu keras, pikirnya sambil mengerling ke arah Nazareth.


Pria berparas malaikat itu membeku memperhatikan layar yang khusus menampilkan hanya Evelyn.


Gadis itu tiba-tiba tertegun dengan dahi berkerut-kerut. Ia merasakan gerakan halus di belakang mereka.


Sebuah bayangan gelap berkelebat dengan cepat.


Evelyn mengangkat tangannya, mengisyaratkan teman-temannya untuk waspada.


Rombongan itu berhenti.


Seisi aula Balai Mulia membeku menatap layar tim Morfeus Academy.


"Sudah datang?" beberapa orang mulai menggumam.


Evelyn dan teman-temannya berhimpun saling membelakangi satu sama lain dengan sikap kuda-kuda.


Xena menggerak-gerakkan telapak tangan dan jemarinya di depan wajah, kemudian mengaktifkan penglihatan supernya.


SLASH!


Bayangan gelap berkelebat lagi.


"Cepat sekali!" desis Xena.


Evelyn melontarkan peri pelindungnya beberapa meter dari tempat mereka dan membuat tiruan dirinya yang dalam sekejap sudah memancing si penyerang ke dalam jebakan.


GRAAAKKK!


Sepasang sayap berderak dari sudut tersembunyi, kemudian menerjang ke arah sosok tiruan Evelyn dan menyergapnya.


Evelyn menyentakkan tangannya dan seketika sosok tiruan dirinya berubah menjadi sulur tanaman rambat yang secara spontan menyergap si penyerang dan mengikatnya.


Teman-teman Evelyn menerjang ke arah peri vampir itu dan mengepungnya.


Peri vampir itu mengangkat wajahnya dan seketika keempat remaja yang mengepungnya terkesiap dan melemas.


"Level sepuluh!" Xena memberitahu.


Evelyn mendesah dan menarik kembali peri pelindungnya.


Peri vampir itu spontan melesat melarikan diri.


Para pejabat kehormatan di Balai Mulia menggumam tak jelas menyerupai dengung lebah yang sedang gelisah.


"Sombong sekali tak mau ambil sepuluh poin!" dengus seseorang.


Lady Die dan Nyx Cornus mendesah kasar dan memutar-mutar bola matanya dengan tampang muak.


"Lihat mereka!" seseorang berseru sambil menunjuk layar tim Akademi Sihir Azrael.


Tim putra gubernur itu menyerampang ke sana-kemari dengan kecepatan luar biasa di tengah pusaran gelap yang tercipta dari gerombolan peri vampir yang mengepung mereka. Kelima remaja itu memantul-mantul dengan gerakan tangkas dalam tarian yang mematikan. Masing-masing mereka mendapatkan sepuluh poin dalam sekali hentak yang dalam hitungan detik sudah mengumpulkan total poin hingga tujuh ratus lebih.


Para hadirin bertepuk tangan merespons prestasi mereka.


"Lihat poin mereka!" seru yang lainnya sambil menunjuk layar Tim Dua Akademi Kekaisaran.


Poin mereka langsung seribu.


Sloan dan teman-temannya baru saja berhasil melumpuhkan peri vampir berusia seribu tahun.


Para hadirin kembali bertepuk tangan.


Evelyn dan teman-temannya melanjutkan perjalanan tanpa teknik cahaya.


Beberapa ratus meter dari tempat mereka melepaskan peri vampir anak-anak tadi, mereka dikepung sejumlah peri vampir anak-anak lagi. Peri vampir yang tadi rupanya membawa gerombolannya.


"Tenanglah, Anak-anak!" Evelyn mencoba membujuk mereka. "Kami tak ingin melukai kalian!"


"Apa kau peri monster?" salah satu dari peri vampir menatap Evelyn dengan dahi berkerut-kerut. Usianya kira-kira dua atau tiga belas tahun. Paling tua di antara yang lainnya.


"Tidak! Aku bukan peri monster!" jawab Evelyn.


Teman-teman Evelyn melirik Evelyn dengan alis bertautan.


"Kami sedang mencari penjahat!" kata Evelyn dengan gaya dramatis, berusaha bersikap riang dan mungkin sedikit jenaka, seperti layaknya penjual mainan anak-anak yang melakukan pendekatan.


Anak-anak vampir itu terperangah bersamaan, menatap Evelyn dengan mata dan mulut membulat.


"Kau sedang cari mati, ya?" dengus anak vampir yang paling tua dengan gaya mencemooh.


Evelyn melipat kedua tangannya di belakang tubuhnya, kemudian berjalan pelan menghampiri anak vampir itu sambil tersenyum. "Kau tahu di mana markas penjahat?" tanya Evelyn dengan tatapan menyelidik.


"Apa sebenarnya yang sedang mereka lakukan?" Helios mengerutkan keningnya.


Beberapa pejabat menoleh pada pria itu dan mengikuti arah pandangnya.


Evelyn dan teman-temannya hanya terdiam di tengah-tengah kepungan peri vampir yang juga hanya membeku.


Cermin sihir berbentuk layar kaca itu hanya menampilkan gambar tanpa suara. Selain gerakan, para hadirin di Balai Mulia tak bisa mengetahui apa saja yang mereka bicarakan.


Sekarang semua orang menatap layar Tim Morfeus Academy dengan ekspresi bingung.


"Kelihatannya ketua tim itu sedang mencoba berinteraksi!" terka seseorang.


Neiro Sach mengerling ke arah Agathias Katz. Paman jauh Evelyn itu balas mengerling dengan tatapan penuh arti.


"Levelnya sudah melewati lima puluh," gumam seseorang sambil mempelajari data Evelyn pada layar yang khusus hanya menampilkan Evelyn. "Saat babak penyisihan levelnya baru empat puluh lima. Whoa—" pejabat itu terperangah. "Levelnya melonjak drastis hanya dalam hitungan hari!"


Helios menyeringai dan bertukar pandang dengan salah satu Master Penggali Bakat.


"Dia terlahir dengan kekuatan penuh alami," sela salah satu penggali bakat.


"Apa?" Seisi ruangan yang khusus untuk para pejabat terperangah menatap penggali bakat itu.


Nazareth bertukar pandang dengan Xenephon dari tepi balkon yang berseberangan.


Kaisar mengerling ke arah layar tim Morfeus Academy sambil menyimak pembicaraan para pejabat itu secara diam-diam.


Tim Evelyn sekarang sedang melesat menerobos hutan mengikuti gerombolan peri vampir anak-anak itu entah ke mana.


"Apa akhirnya mereka mau menyerang?" seseorang bertanya entah pada siapa.


Semua mata sekarang tertuju pada layar tim Morfeus Academy.


Gerombolan peri vampir itu tiba-tiba berhenti.


Rombongan Evelyn serentak ikut berhenti.


Para hadirin di Balai Mulia kembali mengerutkan dahi.


Peri vampir berusia dua belas tahun itu menoleh pada Evelyn sambil menggerak-gerakkan ibu jarinya melewati bahu.


Evelyn melongok melewati bahu anak vampir itu, kemudian mengangguk.


Gerombolan peri vampir itu menyisi dan seketika rombongan Evelyn menyeruak melewati mereka.


Para pejabat di Balai Mulia serempak memicingkan mata.


Evelyn dan teman-temannya mendarat di sebuah lapangan gersang di depan mulut gua, sementara peri vampir anak-anak bersembunyi di semak-semak sambil mengintip ke arah gua.


Sejurus kemudian, dua peri vampir dewasa menyeruak keluar dari dalam gua. Dan setengah dari pejabat yang terhormat itu terkesiap dengan campuran rasa takjub dan ngeri.


Dua peri vampir yang keluar dari dalam gua itu berusia ratusan ribu tahun.