
Morfeus Academy, Kota Ilusi…
"Apa yang dia lakukan?"
"Kenapa dia tidak mengeluarkan peri pelindungnya?"
Terdengar gumaman ribut seperti dengung lebah yang sedang gelisah.
Angin berputar-putar di sekeliling panggung arena akibat kekuatan spiritual yang dikeluarkan oleh Gigas.
Evelyn masih bergeming. Kedua tangannya tertaut di belakang tubuhnya. Tatapannya terpaku pada lingkaran cahaya di tubuh Gigas. Cakra puluhan tahun, pikirnya. Level di bawah lima belas.
Evelyn tidak bermaksud menganggap remeh lawannya, hanya mencoba menghemat energi cahaya. Aku hanya sendirian, katanya dalam hati. Meski aku memiliki karunia cahaya penuh, tapi jika aku memboroskannya di awal, bagaimana aku bisa sampai ke babak berikutnya?
Sembilan puluh orang, gumam Evelyn dalam hatinya. Sembilan puluh teknik rahasia!
Ia tahu dari sembilan puluh peserta tidak semua akan menjadi lawannya. Tapi ia tetap memperhitungkannya sebagai kemungkinan.
"Apa yang terjadi?" cemooh Gigas sebagai gertakan awal. "Kau tak punya cakra?"
"Tunjukkan peri pelindungmu yang tidak berguna!" teriak penonton dengan nada mengintimidasi.
Evelyn memundurkan kakinya yang tertaut di tumit kaki lainnya, kemudian menekuknya sedikit dalam posisi kuda-kuda. Kedua tangannya terkepal di depan dadanya. "Serang!" tantangnya pada Gigas.
Para juri mengerutkan keningnya.
"Kenapa Evelyn Katz tidak mengeluarkan cakra spiritualnya?" mereka mulai bertanya-tanya satu sama lain.
Xenephon tersenyum samar.
Nyx melirik pria itu melalui sudut matanya, lalu menatap Evelyn dengan mata terpicing.
"Berhati-hatilah!" geram Gigas sambil menerjang ke arah Evelyn dengan gerakan menerkam.
Sungguh suatu kesalahan fatal!
"Struktur tubuh serigala dan anjing serupa, ada kepala yang kuat dan pinggang yang lemah. Pinggang mereka adalah titik lemah!"
Suara Nazareth menggema di benak Evelyn. Ia melompat ke arah Gigas kemudian memutar di udara sambil mengayunkan siku tangannya dan mendaratkannya di pinggang anak laki-laki itu.
SLASH!
Gigas terpental dan terjerembab dalam posisi meringkuk.
Evelyn mendarat ringan di sisi tubuh Gigas dalam posisi jongkok. "Kau yang harus berhati-hati," desisnya dengan ekspresi dingin. Lebih terdengar untuk dirinya sendiri.
Xenephon mengawasi Evelyn dengan khawatir. Ekspresinya… dipenuhi kepahitan!
Keheningan menyergap seluruh tempat.
Para juri dan para penonton ternganga dengan mata terbelalak. Beberapa bahkan tak sadar menahan napas.
Mustahil! Gigas memekik dalam hatinya. Sepasang matanya membulat menatap Evelyn.
Bicara stamina fisik, bakat lahir cahaya penuh sepuluh kali lipat lebih kuat dari stamina orang biasa tanpa bakat spiritual. Dua kali lipat lebih kuat dari mereka yang hanya memiliki separuh kekuatan spiritual saat pembangkitan peri pelindung.
"Jadi peri pelindungmu memang benar-benar payah sampai kau lebih mengandalkan kekuatan fisik?" cemooh Gigas sambil menghela bangkit tubuhnya dan bersiap memasang kuda-kuda, mengeluarkan cakranya lagi dan melakukan teknik kedua. "Hiyaaaaaaaa…!"
GROAAAAAAARRR…
Serigala putih kembali melambung dari balik punggung Gigas dan menerjang ke arah Evelyn dengan gerakan meliuk, sementara Gigas menerjang dengan tendangan lurus.
Evelyn memutar tubuhnya untuk menghindari tendangan Gigas sementara tangannya mengayunkan tinju ke arah pinggang peri pelindungnya, menyusul kakinya yang kemudian mendarat di pinggang Gigas.
SLASH!
Gambar cahaya berbentuk serigala itu berkeredap dan menghilang sementara Gigas tersungkur.
BRUK!
Para penonton memekik tertahan.
Altair mengernyit, merasa familier dengan tendangan Evelyn. Dia hanya bersyukur kali ini tendangan itu tidak menimpa tulang rusuknya.
Gigas mengernyit dan terengah-engah. Ia menarik bangkit tubuhnya seraya memegangi perutnya, lalu mengangkat tangannya ke arah wasit tanda menyerah.
Wasit sekaligus pemandu acara segera mengumumkan, "Pertarungan selesai! Anak aset Nazareth Vox menang dengan perolehan dua poin!"
Hening.
Tidak ada tepuk tangan.
Semua orang hanya membeku dan terbelalak.
Evelyn membungkuk dengan hormat tentara ke arah barisan juri, kemudian berbalik meninggalkan panggung arena dengan raut wajah dingin.
Para peserta yang dilewatinya melirik Evelyn melalui sudut matanya, memberikan pandangan antara bingung dan takjub.
"Kalah dalam dua kali serangan," gumam Arsen Heart bernada pahit. "Ace Nazareth bahkan tidak menggunakan teknik cahaya!"
ACE—Asset Children Expert, maksudnya Anak Aset. Istilah untuk menyebutkan anak didik di semua akademi seni beladiri spiritual di Negeri Peri.
"Pemilik Akademi adalah ahli riset dan ahli teori," komentar guardian lainnya. "Pelatihannya sudah pasti menggunakan metode khusus."
"Metode khusus?" Arsen Heart mengerutkan keningnya sambil mengusap dagunya, kemudian mengawasi Evelyn dengan tatapan menilai. Karunia cahaya penuh alami, pikirnya. Tapi peri pelindung tak berguna.
Dia bahkan tidak menggunakan salah satunya!
Kemudian ia melirik Gigas Knot dengan ekspresi kecewa. Peri pelindung monster pemangsa…
Kalah dalam dua pukulan!
Arsen Heart menggeleng-geleng, tak habis pikir.
Xenephon bergegas ke lantai bawah menghampiri Evelyn bersama Nyx Cornus di gang antara deretan bangku-bangku penonton ketika gadis itu keluar dari arena dan hendak berbelok ke deretan bangku paling depan yang khusus untuk para peserta.
"Good job!" Xenephon mencoba menyemangati Evelyn.
Nyx Cornus juga mengucapkan selamat seraya tersenyum tulus.
Gadis itu hanya membungkuk ke arah mereka dengan hormat tentara dengan raut wajah datar.
Nyx Cornus memicingkan matanya dengan terkejut. Tatapan itu… pikirnya. Ekspresi fokus yang tidak peduli sekitar!
"Apa dia selalu serius seperti itu?" Nyx Cornus bertanya saat mereka berbalik untuk kembali ke lantai dua.
"Hanya setelah Ketua pergi!" jawab Xenephon.
Nyx Cornus spontan menautkan alisnya. Menarik! pikirnya.
.
.
.
Claus Manor, Kota Cahaya…
Nazareth membuka matanya perlahan.
Kabut tipis mengepul di sekelilingnya. Aroma obat-obatan menyengat penciumannya.
Nazareth mengerjap dan mengedar pandang. Dunia di sekelilingnya terasa begitu asing. Lalu ia tertunduk mengamati dirinya ketika tubuhnya berangsur-angsur merasakan hangat.
Separuh tubuhnya terendam dalam bak mandi hingga sebatas pinggang sementara kedua kakinya terjulur ke depan.
"Pemandian obat," desisnya lemah. Aku pasti babak belur, pikirnya. Lalu mengeryit sambil memijat-mijat pelipisnya. Mencoba mengingat-ingat. Ia menarik kepalanya hingga tegak, lalu tertunduk dan mendapati Migi Vox sedang duduk di tepi kolam pemandian seraya mendongak menatapnya dengan raut wajah polos seorang balita. Aku ingat sekarang! katanya dalam hati.
Migi Vox menumbangkannya saat latihan!
Nazareth mengamati boneka itu dengan alis bertautan.
Ia terlihat polos seperti bayi, pikirnya. Tapi ketika kami berlatih, raut wajahnya terlihat seperti Boneka Chucky!
Cakaran jemari tangannya yang mungil setara dengan cakaran binatang buas.
Semakin keras Nazareth melawannya, Migi Vox bereaksi semakin sadis, semakin agresif.
Semakin mematikan!
Dan yang paling buruk dari itu semua adalah ketika Nazareth berhasil melukainya, Nazareth-lah yang akan terluka.
Bagaimana dia tak babak belur?
Luka yang diterimanya tak hanya dari serangan Migi Vox, tapi juga dari luka Migi Vox.
Apa sebenarnya inti dari ujian ini? Nazareth bertanya-tanya dalam hatinya. Entah untuk ke berapa kalinya sejak metode pelatihan itu di mulai.
"Bajingan tua tak masuk akal," gumam Nazareth seraya menjatuhkan kembali kepalanya, melemaskan tubuhnya, bersandar di batu cadas.
Kolam pemandian obat itu merupakan kolam pemandian air panas alami, begitu pula dengan aroma obat-obatan yang ditebarkan tumbuhan peri di sekeliling kolam.
Tempat ajaib yang bisa menyembuhkan segala macam penyakit dan memulihkan luka dalam sekejap. Entah itu luka dalam maupun luka luar.
Tempat yang sama tidak masuk akalnya dengan Mikhail Claus.