
Mahkota peri itu berupa perhiasan berbentuk sayap yang diselipkan di belakang telinga, beberapa berupa ikat kepala dari logam mulia dengan permata di bagian dahi.
Tapi mahkota peri tulang cakra Apollo berbeda. Pertama karena mahkota Apollo adalah mahkota raja, kedua karena tulang cakra merupakan atribut spiritual yang menjadi satu dengan tubuh.
Dan tulang cakra Evelyn merupakan tulang cakra terlekat yang sangat langka. Sama persis dengan hiasan telinga berbentuk sayap, namun tumbuh secara alami di belakang telinga dan pelipisnya sebagai bagian dari tubuhnya.
Tentu saja hal itu membuat Nazareth semakin paranoid, karena untuk merebut tulang cakra Evelyn, seseorang harus memenggal kepala gadis itu.
Nazareth akan menjadi semakin positif mulai sekarang.
Dan itu bukan pertanda bagus!
Terutama karena Cleon Jace juga ternyata diam-diam menyukai Evelyn.
Sejak kapan tepatnya?
Mari kita tilik sedikit kilas balik!
Flashback on~
(Chapter-14)
Hari itu…
Pagi-pagi sekali Evelyn sudah menemui guardiannya dengan penuh semangat.
Tapi lagi-lagi Nazareth hanya memberinya perintah yang sama---berdiri di bawah tiang bendera di tengah lapangan yang dikelilingi anak-anak lain yang sedang melakukan pemanasan.
Tampaknya kegiatan mengelilingi lapangan itu sudah menjadi rutinitas mereka sehari-hari.
Tapi Evelyn… kapan aku sudah boleh melakukan pemanasan seperti yang lain? ia bertanya-tanya dalam hatinya. Sudah dua hari di sini tapi belum mendapat pelatihan fisik.
Jangan-jangan guardian wanita itu benar, pikirnya. Lord Vox hanya ahli di bidang teori.
Apakah Master belum mengampuniku soal kemarin?
Sudah cukup buruk memiliki peri pelindung tak berguna yang selalu menjadi bahan gunjingan, ditambah menjadi satu-satunya murid pemilik akademi, sekarang… dia juga harus menjadi pusat perhatian setiap pagi karena dihukum seperti ini.
Celakanya, pagi itu tak ada satu guardian pun yang mengawasi mereka. Dan para murid wanita mulai berkasak-kusuk.
"Eh, tahu tidak? Katanya anak itu disekolahkan oleh pemilik akademi," kata murid wanita yang pertama.
"Dengar-dengar, dia juga tinggal bersama Lord Vox," timpal murid yang lainnya.
"Apa?" Murid yang lainnya lagi menanggapi dengan antusias. "Coba ceritakan!"
"Sulit dipercaya," gumam murid wanita yang pertama. "Katanya pemilik akademi pembenci perempuan?"
"Jangan-jangan dia Lolita Complex!"
Terdengar cekikikan.
"Yang pasti dia sangat cantik," seorang murid laki-laki yang menguping pembicaraan mereka menyela.
(Chapter-49)
Hari keempat, babak pertarungan sepuluh besar, Evelyn dihadapkan dengan Cleon Jace. Dan kemenangan jatuh ke tangan Evelyn.
Di akhir pertarungan…
Evelyn menarik peri pelindungnya dan membantu Cleon naik dari lubang.
"Benar-benar cerdik!" Cleon tersenyum lebar.
Evelyn mengangguk singkat dengan hormat tentara.
Cleon membalasnya dengan hormat tentara yang sama. Menarik! katanya dalam hati.
(Chapter-50)
Usai pertarungan mereka hari itu, Evelyn mengajak Xena makan bersama di lantai dua.
Altair mengekori kedua gadis itu ke arah meja. Ia menarik salah satu bangku dan duduk berseberangan dengan kedua gadis itu.
"Sekarang ceritakan padaku mengenai rahasia teknik rumput liarmu!" tuntut Xena setelah mereka duduk dan memesan makanan. "Kau sudah janji, ingat!"
"Well---yeah, aku tak akan lupa!" jawab Evelyn sambil membungkuk mengambil garpu dan pisau dari tengah meja, lalu mengambil sepotong daging panggang dan menaruhnya di piringnya. "Lagi pula kita akan menjadi rekan tim ke depannya. Apa yang perlu kurahasiakan dari kalian."
Xena dan Altair menanggapinya dengan gembira.
Tapi sebelum Evelyn memulai, seseorang menghampiri meja mereka. "Boleh aku bergabung?"
Evelyn, Xena dan Altair serentak menoleh ke sumber suara.
Cleon Jace tersenyum pada Evelyn sambil membawa nampan makannya.
(Chapter-51)
Hari kelima, babak pertarungan lima besar…
"Anak Aset Nazareth Vox melawan Anak Aset Salazar Lotz…" pemandu acara sekaligus wasit itu mengumumkan. "Evelyn Katz melawan Altair Nano!"
"Yeaaaay!" Xena Moz melompat-lompat sambil mengacung-acungkan tinjunya di udara.
"Sulit dipercaya dia lolos ke lima besar tanpa menggunakan cakra spiritual," komentar seorang juri sambil memandangi Evelyn di panggung arena.
Gadis itu menoleh ke arah Xenephon.
Pria itu mengangguk singkat dan tersenyum tipis.
Nyx Cornus mengacungkan tinjunya di depan wajah, menyemangati Evelyn.
Evelyn membungkuk ke arah mereka. Tatapannya sekarang beralih pada Xena Moz yang berjingkrak-jingkrak seperti orang gila di bangku peserta, terlihat tak sabar dan bersemangat untuk melihat penampilan perdana cakra Evelyn.
Cleon Jace mengacungkan tinjunya ke arah Evelyn seraya tersenyum lebar.
(Chapter-54)
Hari ketujuh, babak final…
"Pertarungan berakhir!" Pemandu acara mengumumkan. "Anak aset Nazareth Vox menang dengan perolehan satu poin!"
Aula menggelegar oleh tepuk tangan spektakuler, disusul suara-suara ledakan kembang api.
Evelyn menarik peri pelindungnya perlahan, menurunkan kaki Electra terlebih dulu supaya kepala gadis itu tidak membentur lantai.
Electra melompat berdiri dan menghambur ke arah Evelyn. "Selamat!" serunya sambil menarik lengan Evelyn ke atas kepala mereka.
Para penonton kembali bertepuk tangan dan bersorak.
Evelyn tersenyum sendu memandangi ledakan kembang api di atas kepala mereka. Master, katanya dalam hati. Aku menang lagi!
Xenephon dan Nyx Cornus tersenyum pada Evelyn dengan tatapan prihatin.
Altair dan Xena melompat-lompat sambil mengacung-acungkan tinju mereka di udara. Cleon tersenyum memandang Evelyn penuh kekaguman.
...~Flashback off!...
Dan…
BUUUUMM!
BUUUUUUUUMM!
Sekarang pemuda itu berlatih keras di bukit di belakang estat Nazareth, sementara Evelyn masih terbaring di kamar pribadi pemilik akademi itu.
Hari sudah berlalu selama tiga hari sejak mereka kembali dari Hutan Berburu Peri Monster, dan gadis itu belum sadarkan diri.
Cleon Jace merasa sangat terpukul sejak melihat Nazareth memeluk Evelyn sedemikian rupa, ditambah Nazareth menempatkan gadis itu di kamar pribadinya alih-alih membiarkan gadis itu dirawat di aula pengobatan akademi selama tidak sadarkan diri.
Hal itu jelas membuat Cleon tak bisa berbuat banyak kecuali berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Berlatih dan terus berlatih, berusaha untuk menjadi lebih kuat—bisa jadi hanya pelarian untuk melampiaskan seluruh amarah dan kekecewaannya yang tidak bisa diungkapkan kepada siapa pun.
Siapa kau dibanding dengan Earth Thunder? ia mendengus dalam hatinya. Mengejek diri sendiri.
Sebagai putra seorang aristokrat, Cleon Jace tahu persis siapa pemilik akademi mereka.
Selain sebagai putra kaisar, Cleon Jace tahu identitas lain seorang Earth Thunder.
Identitas lain Nazareth Vox sudah menjadi semacam rahasia umum di kalangan para bangsawan yang tinggal di area kekaisaran. Itulah sebabnya orang tua Cleon mengirimnya ke Morfeus Academy.
Meski pernah beredar rumor bahwa kekuatan spiritual Nazareth Vox bahkan tak bisa melewati level dua puluh, hal itu akan terbantahkan jika orang tahu penulis Sepuluh Teori Kekuatan Inti Peri Pelindung itu adalah ketua Ordo Angelos yang diberkati langsung oleh dewa cahaya.
Dia hanya menyegel sebagian kekuatannya dalam tubuh Migi Vox.
Kalau tidak…
BUUUUUMM!
BUUUUUUUUMMM!
Cleon mengayun-ayunkan peri pelindung palunya dengan membabi-buta.
Putra Cahaya! batinnya getir. Mengalahkan Evelyn saja kau tidak mampu!
"AAAAAAAAAAAAARRRRRRGH!" Cleon berteriak nyaring seraya mengangkat palunya dengan amarah meluap-luap, tanpa sadar mengaktifkan teknik penyatuan tiga jantung.
Dan…
GLAAAAAAAAAAARRRR!
Bukit batu itu meledak menyemburkan serpihan batu dan badai cahaya.
Tanah di bawah kakinya terkuak menciptakan retakan besar memanjang hingga ke tembok benteng.
"Hah!"
Cleon mendengar seseorang memekik di belakangnya, kemudian menyentakkan kepalanya ke samping, mengerling melewati bahunya dan terkesiap. "Eve?"
...Nazareth Vox/Earth Thunder...