Poison Eve

Poison Eve
Chapter-110



"Kau benar-benar penuh kejutan, Evelyn Katz!" Xenephon menghadang Evelyn di koridor yang mengarah ke ruangan khusus untuk beristirahat.


"Master Claus!" Evelyn dan teman-temannya berlanting gembira bertemu Xenephon meski mereka tahu pria cantik itu pemilik akademi saingan mereka.


Ketiga gadis itu sekarang menghambur memeluk Xenephon yang secara otomatis ditanggapi tawa gembira pula dari Xenephon.


"Kenapa kalian begitu gembira bertemu guru saingan?" kelakar Xenephon tanpa bisa menutupi perasaan rindunya pada anak-anak itu. Bagaimanapun mereka juga anak-anak asetnya.


"Aku merindukanmu!" ungkap Evelyn tak bisa menutupi perasaan senangnya.


"LANCANG!" geraman di belakang Xenephon membuat ketiga gadis itu spontan berpencar dan melarikan diri.


Nyx Cornus memelototi mereka sambil berkacak pinggang. Wajah iblisnya sedang mendominasi kepribadiannya.


Di belakangnya, Nazareth dan ketiga guardian lainnya berderet sambil bersedekap.


Di belakangnya lagi, Cleon dan Altair melongok ke arah Xenephon dengan ekspresi penasaran.


Xenephon terkekeh sambil menyongsong Nyx Cornus dan memeluknya. "Kau mendapatkan banyak saingan sekarang," godanya memprovokasi.


"Aku akan membunuh mereka seusai kejuaraan," gerutu Nyx Cornus sambil memelototi Evelyn dan teman-temannya satu per satu.


Gadis-gadis itu menyeruak melewatinya dan berlindung di belakang punggung guardian mereka masing-masing sambil cengengesan.


Cleon dan Altair bergabung dengan mereka.


"Langkahi dulu mayatku!" sembur Nazareth sambil mendelik pada Nyx Cornus.


"Oh, itu benar-benar hubungan yang sangat rumit!" Lady Die menimpali.


Arsen Heart dan Salazar Lotz hanya terkekeh menanggapinya.


Migi Vox menoleh ke sana kemari dengan ekspresi bingung seorang anak kecil. Boneka itu duduk bertengger di bahu Altair.


Nazareth menoleh pada Evelyn dan memicingkan matanya, "So, kapan tepatnya kau mulai belajar teknik kedua dan ketiga kekuatan inti peri pelindung peniru?" bisiknya dengan nada menuntut.


"Bisakah kita bicarakan nanti saja?" protes Evelyn bernada manja. "Xena dan Electra butuh seember air untuk memulihkan tenggorokan mereka."


Para guardian mereka tertawa.


Xena dan Electra spontan mendelik dengan wajah cemberut. Mereka mengerahkan tenaga yang sangat besar untuk berteriak mengalahkan suara musik para penyihir. Sekarang suara mereka benar-benar serak.


Xenephon tersenyum dan mendekat ke arah mereka sambil menggamit lengan kekasihnya. Ia menggerakkan sebelah tangannya di sisi wajah dan melontarkan dua bola cahaya berwarna merah darah sebesar kelereng ke arah Xena dan Electra.


Kedua gadis itu menyerapnya untuk memulihkan tenggorokan mereka.


"Jangan coba-coba jadikan manna-ku sebagai peri pelindung parasit!" kelakar Xenephon.


Evelyn dan teman-temannya tergelak menanggapinya. Lalu mereka menyatukan kepalan tangan mereka satu sama lain.


"Kerja bagus, Anak-anak!" puji Lady Die sembari bersedekap dan tersenyum lebar.


Nazareth merenggut lengan Evelyn dan menyeretnya menjauh. "Kita perlu bicara, Nona Katz!" geramnya.


Evelyn spontan tergagap-gagap.


Migi Vox melesat ke arah mereka dan mendarat di punggung Evelyn, memeluk leher gadis itu dari belakang.


Sejurus kemudian, mereka menghilang dari pandangan semua orang.


Teman-teman Evelyn terkesiap.


"Ke mana mereka?" pekik Altair.


"Bukan urusanmu!" hardik Lady Die sambil berjalan melewati semua orang dan bergegas ke ruangan khusus yang disediakan penyelenggara turnamen untuk mereka beristirahat.


Semua orang mengikutinya, termasuk Xenephon.


Untuk beberapa saat, pria cantik itu melupakan timnya dan memanfaatkan kesempatan itu untuk mengobati sejenak rasa rindunya pada Nyx Cornus, sekadar memupus aura iblis yang bersarang lama di wajah gadis guardian itu sejak turnamen dimulai.


Sementara itu…


Migi Vox berubah lagi menjadi pria dewasa dan Evelyn hampir tak bisa membedakannya dari Nazareth.


Tapi ketika salah satu dari Nazareth menyisi ke sudut ruangan dan menjatuhkan dirinya di sebuah kursi baca dekat meja kopi, Evelyn akhirnya tahu pria itu Migi Vox.


Boneka itu sekarang menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan kedua tangan bersilangan di depan dada.


Evelyn meliriknya sekilas dan menoleh pada Nazareth yang berdiri di hadapannya dengan kedua tangan bersilangan di belakang tubuhnya.


"Merasa familier?" sindir Nazareth. Ia merunduk sedikit, mencondongkan tubuhnya ke arah Evelyn. Sebelah alisnya terangkat tinggi.


Evelyn berpaling sedikit sambil menggigit bibir bawahnya menahan senyum. "Vox yang membawaku ke sini," katanya dalam gumaman tak jelas.


Nazareth melirik Migi Vox dengan mata terpicing.


Boneka itu balas meliriknya dengan ekspresi datar.


Terasa sedikit aneh bagi Evelyn berada dalam satu ruangan dengan dua orang Nazareth.


Ia memandangi kedua sosok rupawan itu dengan campuran rasa takjub dan tertekan. Kalau terpaksa harus melawan mereka, aku pasti mati! pikirnya konyol.


Nazareth menatap ke dalam matanya dengan ekspresi teduh yang menenangkan. "Aku hanya tak tahan berlama-lama di tengah banyak orang," ia mengaku sambil tersenyum nakal.


Evelyn tersenyum dan menghambur ke dalam pelukannya. Menyusupkan wajahnya di dada pria itu dengan jantung berdebar-debar. Rasanya seperti sudah berbulan-bulan tidak bertemu dengan pria itu sejak pelatihan lima besar. Mungkin juga bertahun-tahun!


Migi Vox melirik mereka dengan mata terpicing.


"Sejujurnya aku terkejut mengetahui kau mempelajari teknik kedua kekuatan inti peri pelindung peniru, tapi tentu saja aku tak keberatan," tutur Nazareth sambil mengusap-usap lembut kepala Evelyn.


Evelyn melingkarkan kedua tangannya di pinggang Nazareth.


"Dulu aku mengira kau mempelajari cara membangkitkan kekuatan inti peri pelindung parasit juga berasal dari sini," lanjut Nazareth. "Tapi melihat kau hampir sesat, aku akhirnya tahu kau belum mengerti cara mengakses ruang dimensi."


Evelyn menarik wajahnya dari dada Nazareth, kemudian mendongak menatap wajah pria itu. "Aku baru mengetahuinya semalam."


"Apa masih perlu dijelaskan?" Nazareth terkekeh tipis sambil melirik ke arah Migi Vox.


Boneka itu sedang tertunduk membaca sebuah buku yang Evelyn yakin salah satu catatan rahasia Nazareth yang lain.


"Sekarang kau sudah mengerti kenapa kubilang orang lain mungkin mengincar kalung ini, kan?" tanya Nazareth sambil memalingkan wajahnya lagi pada Evelyn.


Evelyn mengangguk.


"Ini adalah Balai Cahaya Ordo Angelos," kata Nazareth.


"Balai Cahaya?" Evelyn terbelalak sambil membekap mulutnya dengan telapak tangan. "Bukankah…"


"Balai Cahaya di Kota Cahaya?" potong Nazareth.


"Ya," Evelyn menelan ludah dengan susah payah.


Nazareth terkekeh sambil memalingkan wajah. "Itu tidak sepenuhnya benar," katanya.


"Tidak sepenuhnya benar artinya tidak terlalu salah, kan?" tanya Evelyn.


"Tidak sepenuhnya benar artinya separuhnya benar," tukas Nazareth.


"Aku tidak mengerti!" Evelyn mengaku.


"Memang benar aula singgasana berada di Kota Cahaya, tapi Balai Cahaya tidak seutuhnya berada di Kota Cahaya," Nazareth menjelaskan. "Ruang dimensi dalam kalung ini adalah Balai Keterampilan Militer. Di dalam sini, tersimpan banyak keterampilan rahasia aliansi dan keterampilan ciptaanku sendiri. Setiap lukisan adalah sebuah keterampilan."


Evelyn mengedar pandang ke sekeliling ruangan, mengamati satu per satu lukisan yang berderet dan bersusun-susun.


"Keterampilan rahasia adalah teknik tertinggi dari setiap aliansi dan aliran Master Spiritual," lanjut Nazareth. "Syarat untuk mendapatkannya benar-benar ketat. Merupakan andalan setiap aliansi sebagai jurus pamungkas."


Tiba-tiba saja Nazareth mengayunkan tangannya ke arah Migi Vox, melontarkan tali cahaya dan menyergap boneka itu dan mengubahnya menjadi tongkat emas trisula ketua Ordo Angelos, kemudian merenggutnya dan mengetukkan ujungnya di lantai.


Lantai di bawah kakinya berguncang. Semburat cahaya berwarna emas berkeredap membentuk lingkaran yang berpendar menyapu seluruh lantai.


Evelyn tersentak mundur dan terkesiap.