
"Aku kalah dengan puas?" Nazareth tertawa terbahak-bahak.
"Kau—" Catlyn terbelalak dan tergagap-gagap. Tidak mengira kakaknya yang dingin bisa meledak tertawa.
Kakak-beradik itu bertemu di balkon menara Balai Budaya Kota Cahaya setelah usai pertarungan satu lawan satu, sementara yang lain berkumpul di penginapan yang disediakan khusus untuk para peserta dan guardian mereka.
"Aku senang kau telah berubah," kata Nazareth sambil menepuk pundak adiknya.
"Kau yang berubah!" Catlyn memelototinya dengan alis bertautan.
"You too!" timpal Nazareth.
Catlyn mendesah pendek. Ia benci mengakuinya. Tapi Nazareth benar. Sejak ia kalah dari Evelyn, dia memang telah berubah. Dan ia tidak menyadarinya. "Apa itu baik?" ia bertanya dengan muram.
"Of course!" Nazareth kembali memasang wajah serius. "Bertumbuh dalam kekalahan adalah hal baik."
Catlyn langsung tertunduk. Lagi! pikirnya. Kenapa dia menganggap bertumbuh dalam kekalahan begitu penting? Padahal dia tak terkalahkan!
Seolah bisa membaca pikiran Catlyn, Nazareth tiba-tiba berkata, "Salah besar kalau kau mengira aku tak pernah kalah."
Catlyn spontan mendongak menatap kakaknya.
"Aku memang belum pernah kalah dari orang lain, tapi jangan lupa aku pernah kalah dari diri sendiri!" lanjut Nazareth dengan ekspresi getir. "Peri pelindungku cacat mutasi, dan aku dipaksa untuk menjalani hidup sebagai orang lain. Dikucilkan, diremehkan. Aku sudah menjadi pecundang selama sepuluh tahun terakhir."
Catlyn kembali tertunduk dan menelan ludah. Raut wajahnya tak kalah getir.
"Sudah berakhir sekarang!" Nazareth menambahkan. "Aku tak takut kalah lagi!"
Catlyn mengerutkan keningnya. Tidak takut kalah lagi? pikirnya. Itu dia!
Catlyn mengangkat wajahnya dan tersenyum. "Aku sudah mengerti!"
Nazareth mendesah pendek dan tersenyum tipis. Kemudian menarik Catlyn ke dalam dekapannya dan mengecup puncak kepalanya.
.
.
.
Balai Mulia Ordo Angelos, Neraida…
"Bagaimana keadaannya?" Ratu bertanya dengan cemas ketika ahli pengobatan kerajaan melangkah keluar dari ruangan Lady Chaterine.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Yang Mulia!" Ahli pengobatan kerajaan itu membungkuk pada sang ratu. "Hanya syok," katanya. "Sekarang sudah siuman!"
Ratu segera menyeruak ke dalam ruangan Lady Chaterine, disambut tatapan terkejut Lady Madeleine dan Nadine Katz.
"Yang Mulia!" kedua wanita itu membungkuk.
Ratu menghambur ke arah Lady Chaterine, kemudian duduk di tepi tempat tidurnya.
Janda perwira itu duduk bersandar di kepala tempat tidur. Wajahnya terlihat pucat. "Maafkan aku, Yang Mulia," ungkapnya dalam bisikan lemah. "Aku sungguh merepotkan."
"Oh, aku juga akan pingsan kalau jadi kau," Ratu merenggut tangan Lady Chaterine dan menepuk-nepuk punggung tangannya.
Lady Chaterine tertunduk dengan raut wajah muram. "Suamiku tewas karena darah Apollo mengalir dalam tubuhnya," desisnya getir. "Begitu juga dengan ayahnya…" ia mengerling ke arah kakak iparnya. "Kakaknya…" ia menambahkan dengan suara lirih. "Keponakannya…"
Lady Madeleine membekap mulutnya dengan gemetar. Lalu mulai menangis. Nadine memeluk ibunya sambil menangis juga.
Ratu merunduk mencondongkan tubuhnya ke arah Lady Chaterine. "Putrimu lebih hebat dari mereka semua!" bisiknya meyakinkan.
"Bagaimanapun dia hanya seorang gadis kecil," desis Lady Chaterine semakin lirih. "Dan… peri pelindungnya..."
"Kenyataannya dia berhasil masuk empat besar!" tukas sang ratu.
Lady Chaterine mengerjap, lalu tertegun kehilangan kata-kata.
"Dunia Master Spiritual berbeda dengan arena turnamen," bisik Lady Chaterine setelah lama terdiam.
"Aku mengerti kekhawatiranmu," Ratu menarik Lady Chaterine ke dalam pelukannya. "Tapi dia bersama Pangeran sekarang," bisiknya menenangkan. "Son of Light!" ia menambahkan dalam bisikan tajam.
.
.
.
Balai Cahaya Ordo Angelos…
Iring-iringan kereta kencana yang dikawal pasukan elit Ksatria Ordo Angelos itu baru saja sampai di pekarangan Balai Cahaya ketika Migi Vox tiba-tiba menciut menjadi boneka balita. Lalu melesat keluar kereta.
"Hei—Vox!" Xenephon tersentak dan melongok keluar jendela kereta. "Kau mau ke mana?"
Sekarang boneka itu sudah berlari cukup jauh, melompati bahu dan kepala para ksatria yang mengawal kereta mewah mereka. Melesat cepat dan terbang kembali ke Balai Budaya.
"Apa itu tadi?" pekik para pengawal dengan terkejut.
"Hanya peri monster kecil!" tanggap rekan mereka acuh tak acuh.
Usai babak pertarungan satu lawan satu, para pembesar itu beranjak ke Balai Cahaya, tempat di mana mereka seharusnya berada.
Tapi Vox tampaknya tak bisa tahan berlama-lama menjadi pria.
Mencapai Balai Budaya, Migi Vox melesat ke penginapan di mana Evelyn dan teman-temannya akan menginap bersama para guardian mereka.
Nazareth dan adiknya baru saja turun dari menara ketika boneka itu sudah mencapai penginapan mereka.
Begitu memasuki ruang tamu, Migi Vox menerjang ke arah Evelyn dan mendarat di dada gadis itu.
Evelyn menjerit karena terkejut.
Membuat semua orang serentak menoleh pada Evelyn.
Para guardian mengerang bersamaan.
Migi Vox menggelayut di leher Evelyn sambil mendongak dan menyeringai.
"Vox!" Evelyn memekik gembira.
Teman-teman Evelyn spontan menghambur ke arah mereka dan merubung Migi Vox dengan candaan kekanak-kanakan mereka.
"Lama tidak bertemu, Anak Muda!" goda Altair sambil menggelitik pinggang Migi Vox dengan telunjuknya. "Kau semakin tampan saja!"
Migi Vox mendengus sambil menyikut tangan Altair dan mengetatkan rangkulannya di leher Evelyn.
"Kostum yang bagus!" komentar Lady Die bernada ketus.
Migi Vox masih mengenakan pakaian Ketua Ordo Angelos, lengkap dengan mahkota peri di kedua pelipisnya, juga jubah emas di atas mantel armornya. Menjadikan sosok Migi Vox terlihat seperti boneka emas.
"Kenapa kau berpakaian seperti Ketua Ordo Angelos?" tanya Xena dengan ekspresi polos.
Lady Die kembali mengerang sambil memutar-mutar bola matanya. "Benar-benar tak peka," gerutunya.
Arsen Heart dan Salazar Lotz hanya terkekeh sambil menggeleng.
"Apa kau masih mau berebut makanan dengan kami?" tanya Xena sambil menelengkan kepalanya dari belakang Evelyn. "Aku rindu berebut makanan denganmu!"
"Dan aku rindu berebut Evelyn denganmu!" Cleon menimpali yang secara otomatis ditanggapi tendangan maut Migi Vox.
Cleon terpental dan jatuh terduduk di lantai sambil tertawa terbahak-bahak.
"Vox… paling tidak izinkan kami memelukmu barang sebentar!" Electra mengulurkan kedua tangannya ke arah Migi Vox dari sisi Evelyn, seperti sedang membujuk balita minta menggendong.
Migi Vox mendengus sembari memalingkan wajahnya. Lalu menyusupkan wajahnya di ceruk bahu Evelyn.
Evelyn tertawa sambil mengusap-usap punggung boneka itu.
Bersamaan dengan itu, pintu ganda penginapan itu berderak membuka. Nazareth melangkah ke dalam ruangan bersama Catlyn Thunder.
Seisi ruangan serempak membungkuk.
Migi Vox mengangkat wajahnya dan menoleh ke belakang, kemudian menyeringai.
"Vox?" Nazareth mengerutkan keningnya.
Catlyn mengerjap dan menelan ludah. Boneka itu! pikirnya terkejut.
"Apa kau tak bisa menjadi pria barang sebentar?" gerutu Nazareth.
Keempat guardian terkekeh menanggapinya.
Xena menatap Nazareth dengan dahi berkerut-kerut kebingungan.
Migi Vox melesat ke arah Nazareth dan mendarat di dadanya, lalu menelengkan kepalanya, melongok ke arah Catlyn dan kembali menyeringai.
Seringai boneka itu selalu membuat Catlyn merasa tak nyaman. Ia berusaha mengalihkan perhatiannya dari Migi Vox, kemudian mendekat pada Evelyn. "Aku ingin berterima kasih padamu," katanya sedikit kikuk. Itu adalah pertama kalinya ia bersikap sopan pada orang seumurannya.
"Bukan apa-apa," Evelyn mengulum senyumnya tak kalah kikuk.
Teman-teman Evelyn saling bertukar pandang dengan guardian mereka, kemudian mengerling ke arah Nazareth.
Pria itu sedang sibuk memperbaiki penampilan Migi Vox.