Poison Eve

Poison Eve
Chapter-37



"Kau pergilah dengan Xen ke bagian penukaran poin," instruksi Nazareth ketika mereka berjalan beriringan menyusuri koridor menuju lobi utama gedung serbaguna itu diikuti para pendukung Poison Eve di belakang mereka.


Beberapa bangsawan mengejar mereka. "Master! Izinkan kami mentraktir kalian untuk merayakan kemenangan Nona Eve!"


Nazareth dan Xenephon terpaksa berhenti untuk menanggapi ramah-tamah mereka.


"Lihat postur tubuhnya!" seru seorang wanita paruh baya berbadan bulat sambil menghambur ke arah Evelyn dengan gembira.


Beberapa wanita lainnya bergabung mengerumuni Evelyn.


Nazareth spontan bertukar pandang dengan Xenephon.


"Lihat hidungnya, bibirnya, dagunya," celoteh wanita paruh baya tadi. "Aku yakin di balik topeng itu ada wajah peri yang sesungguhnya. Tuhan memang benar-benar adil. Kalau aku punya setengah saja dari kecantikan Nona Eve sudah bisa dipastikan aku jadi wanita nakal!"


Xenephon melirik Evelyn ketika para wanita bangsawan itu cekikikan di sekeliling Evelyn, sementara para pria mengerumuni Nazareth untuk meminta persetujuan.


"Waktu masih panjang, Sirs, Ladies!" Nazareth membungkuk sekilas pada mereka.


Begitu juga dengan Xenephon dan Evelyn.


"Beri kami waktu untuk evaluasi," pinta Nazareth. "Kami berjanji akan bergabung di kedai minuman beberapa jam lagi."


"Baiklah, kalau begitu kami tak akan menggangu kalian lagi." Salah satu pria bangsawan mengambil alih percakapan sambil membungkuk dengan sopan.


"Kami tidak keberatan menunggu kalian beberapa jam lagi," timpal yang lainnya disertai bungkukan hormat yang sama.


Para wanita memandang genit pada Nazareth dan Xenephon ketika mereka akhirnya membungkuk dan memohon diri.


Evelyn mengembuskan napas berat dengan raut wajah frustrasi ketika para wanita bangsawan itu cekikikan setelah beberapa langkah meninggalkan mereka sambil melirik pada Nazareth.


"Pergilah, Eve!" perintah Nazareth sekali lagi. "Tukarkan poinmu terlebih dulu. Aku masih ada sedikit urusan."


Evelyn tergagap dan menjilat bibir bawahnya, lalu melirik Xenephon dengan ragu.


"Percayalah aku takkan menggigit!" goda Xenephon seraya melingkarkan sebelah lengannya di bahu Evelyn dan menyeret gadis itu menjauh dari Nazareth.


Evelyn mengerling melewati bahunya ketika Nazareth berbalik memunggungi mereka dan berjalan ke arah berlawanan. Lalu tenggelam ke dalam kerumunan.


Di puncak tangga lantai dua di sisi lain arena, pemilik gedung menyambut mereka diapit dua wanita muda berpakaian minim serba ketat.


"Mari!" ajak pria paruh baya berpakaian glamor itu pada Evelyn dan Xenephon sambil melayangkan sebelah tangannya ke arah koridor di sebelah kirinya. "Tempat penukaran poin ada di sini."


Evelyn dan Xenephon mengikuti pria itu yang secara otomatis digiring dua wanita tadi.


Di ujung koridor, sebuah pintu ganda terbuka, dan sederet wanita muda lainnya yang berpakaian serupa membungkuk ke arah mereka.


Tepat di ujung ruangan itu, terdapat meja resepsionis lain yang dijaga dua wanita lebih dewasa dengan seragam lebih elegan. Salah satu dari wanita itu menyodorkan selembar dokumen sejenis piagam ke arah si pemilik gedung, kemudian pemilik gedung itu menyerahkannya pada Evelyn.


"Ini daftar poin Anda, Nona Eve!" kata si pemilik gedung. "Silahkan dicek apakah ada yang salah!"


Xenephon membungkuk di sisi Evelyn untuk melihat perolehan poin Evelyn selama dua hari ini dan terkesiap.


Poison Eve, Evelyn Katz. Pertarungan spiritual satu lawan satu. Tiga kali menang. Nol kali kalah.


Pertarungan pertama melawan juara tujuh kali berturut-turut, Master Spiritual tipe penyerang depan level dua puluh satu. Menang dalam tujuh belas menit. Perolehan poin, seribu lima ratus dua puluh empat.


Pertarungan kedua melawan juara delapan kali berturut-turut, Master Spiritual tipe kekuatan dan pertahanan level dua puluh tiga. Menang dalam sembilan belas menit. Perolehan poin, seribu enam ratus enam puluh dua.


Pertarungan ketiga melawan juara sembilan kali berturut-turut, Master Spiritual tipe penyerang samping level dua puluh lima. Menang dalam lima menit. Perolehan poin, seribu sembilan ratus dua puluh tiga.


Total poin, lima ribu seratus sembilan.


Evelyn mengerling pada Xenephon dengan alis bertautan. Lalu menoleh pada si pemilik gedung.


Pemilik gedung itu mengangguk seraya tersenyum lebar. "Benar, Master!" katanya dengan sopan. Lalu melayangkan sebelah tangannya ke arah dua wanita lainnya yang membawa nampan.


Kedua wanita itu membungkuk ke arah Evelyn seraya menyodorkan nampan mereka masing-masing.


Evelyn terbelalak menatap Lencana berbentuk trisula itu berwarna emas. "Level emas?" desisnya tak percaya.


"Ini adalah sepuluh ribu koin emas yang arena janjikan untuk juara pertama," lanjut si pemilik gedung sambil menunjuk nampan yang lainnya. "Kartu hitam ini bisa digunakan di semua bank."


Evelyn masih tergagap.


Para wanita tersenyum pada Evelyn dengan campuran rasa kagum dan rasa hormat.


"Nona Eve adalah keajaiban dunia," puji si pemilik gedung. "Level tiga belas, peri pelindung tanaman, tapi bisa meraih Lencana Master Spiritual Level Emas dalam tiga ronde pertarungan debutan. Dikhawatirkan, di Arena Spiritual sedunia… tak ada yang pernah naik tingkat seperti Anda."


Evelyn menatap Xenephon dengan mata dan mulut membulat, masih tak bisa berkata-kata.


"Apakah Anda guardiannya, Master?" si pemilik gedung mengangkat alisnya dengan sopan.


Xenephon mengerjap dan tergagap-gagap. "Bukan aku!" jawabnya terbata-bata. "Tapi…" ia menggantung kalimatnya sesaat sebelum akhirnya melanjutkan, "Nazareth Vox."


"Nazareth Vox?" para wanita terkesiap.


Si pemilik gedung mengerutkan keningnya. "Orang yang pernah menerbitkan Teori Sepuluh Kekuatan Inti Peri Pelindung?"


"Benar," jawab Xenephon. Sikapnya sudah terlihat lebih tenang sekarang.


Pemilik gedung itu menoleh pada Evelyn dengan alis bertautan. "Nona, bolehkah aku tahu, dari peri monster apa Anda mendapatkan cakra spiritual pertama Anda?"


"Naga pengeluh empat ratus tahun," jawab Evelyn.


Pemilik gedung dan para wanita di dalam ruangan kembali memekik.


Ternyata naga pengeluh, pikir Xenephon tak kalah terkejut. Tak heran teknik ketiganya adalah semburan api!


"Menautkan cakra peri monster jenis hewan ke peri pelindung jenis tanaman…" gumam si pemilik gedung. "Itu adalah salah satu dari sepuluh teori kekuatan inti peri pelindung!"


"Benar, Tuan!" Evelyn menanggapi dengan sopan. "Guardian saya menyebutnya peri pelindung peniru."


"Benar," kata si pemilik gedung dengan raut wajah takjub. "Aku ingat sekarang," katanya. "Aku pernah membacanya."


Evelyn melirik Xenephon dan bertukar senyuman dengan pria itu.


Gadis Kecil! Kau benar-benar membuatku merasa tersentuh sampai ingin menangis, pikir Xenephon di antara senyum tipisnya.


"Ah—" pemilik gedung itu tergagap tiba-tiba. "Aku mohon maaf telah menyita waktu kalian," ungkapnya seraya menangkupkan kedua tangannya di depan wajah.


Evelyn dan Xenephon membungkuk bersamaan.


"Bukan masalah besar, Tuan!" Evelyn menanggapi.


"Omong-omong… selamat, Nona Eve!" Si pemilik gedung menambahkan seraya menjabat tangan Evelyn.


Para wanita membungkuk lagi pada Evelyn.


"Terima kasih," pungkas Evelyn. Kemudian memohon diri.


"Nazareth Vox!" desis si pemilik gedung setelah Evelyn dan Xenephon meninggalkan ruangan. Lalu menatap para wanita di sekelilingnya. "Aku menyesal pernah meremehkan teorinya!" ia mengaku.