Poison Eve

Poison Eve
Chapter-43



"Evelyn melonjak empat level dalam sepekan," Mikhail mengingatkan setelah mereka berada di meja makan. "Sekali naik tingkat dua level. Itu terlalu mengerikan, Earth! Dan kau sebagai gurunya…" ia menggantung kalimatnya dengan dramatis, kemudian mencondongkan badannya ke arah Nazareth dari seberang meja. Sebelah alisnya terangkat tinggi. "Tidak berkembang!" ia menambahkan dengan sikap mencemooh.


"Mike!" Istrinya menegur dengan suara lembut.


Nazareth sama sekali tidak merasa tersinggung. Bagaimanapun pria tua menyebalkan itu adalah gurunya. "Aku bahkan tidak bisa melewati level dua puluh," katanya pesimis. Lalu mulai berebut makanan dengan Migi Vox. "Bagaimana bisa aku melewati level Apollo. Apollo adalah satu-satunya Master Spiritual dengan level tertinggi dalam sejarah!"


"Selalu ada langit di atas langit!" sergah Mikhail tidak peduli. "Di atas level leluhur, sebenarnya masih ada dua tingkat level cahaya."


"Cakra spiritual bukan lima, tapi tujuh!" Mikhail memberitahu. "Putih, kuning, ungu, hitam, merah, biru dan emas!"


Nazareth mengerutkan keningnya.


"Milikmu adalah yang tertinggi! Usianya sudah puluhan juta tahun." Mikhail menambahkan.


"Bagaimana dengan ratusan tahun?" tanya Nazareth.


"Hanya alam semesta yang usianya ratusan juta tahun," seloroh Mikhail. "Ratusan juta tahun adalah periode kekosongan. Tidak ada kehidupan pada ratusan juta tahun yang lalu, Nazareth!" sergahnya pedas. "Dan jangan coba-coba alihkan pembicaraan. Aku tahu kau tidak sebodoh itu."


Bibi Gavriil mendesis menahan tawa sembari membekap mulutnya dengan telapak tangan.


Nazareth mendesah pendek dan tertunduk, "Tapi…"


"Tapi kau menyegel setengah kejahatanmu di tubuh Migi Vox sehingga kau kehilangan ambisi!" Lagi-lagi Mikhail memotong perkataan Nazareth.


Nazareth dan Migi Vox serentak berhenti berebut dan menoleh pada Mikhail.


"Kau bisa melampaui dirimu, Earth Thunder!" Mikhail memelototi Nazareth.


Nazareth mendesah berat, meletakkan pisau dan garpu ke piringnya, lalu melipat kedua tangannya di depan dada dan mengempaskan punggungnya ke sandaran kursi dengan tampang malas.


Migi Vox mengambil kesempatan itu untuk menggasak semua makanan di piring Nazareth dan menghabiskannya sendirian.


Bibi Gavriil tertawa dan menggeleng-geleng melihat tingkah boneka itu. "Pelan-pelan, Vox!" katanya sambil mengisi kembali piring Nazareth.


Migi Vox berlanting gembira.


Mikhail mengerling pada Migi Vox sembari tersenyum miring, "Latihanmu selama setahun ini adalah mengalahkannya!" katanya.


"Setahun?" Nazareth spontan tergagap.


"Kalahkan dia, Earth Thunder! Kau adalah rajanya!" hardik Mikhail. "Apa perlu kuingatkan bahwa keponakanku adalah rajaku?" sindirnya dengan ekspresi menjengkelkan. "Sayangnya dia juga muridku yang paling payah dan juga putraku yang mengecewakan!"


"Tapi…" Nazareth menatap bonekanya dengan tatapan ragu. "Dia bagian dari diriku."


"Sayangnya dia tidak pernah menganggapmu begitu!" sergah Mikhail.


Bibi Gavriil memekik tertahan seraya membekap mulutnya dengan jemari tangannya dan menoleh ke arah Migi Vox.


"Dia menyegel setengah kejahatannya dalam boneka itu," Mikhail memberitahu istrinya. "Segala ambisi, keinginan liar, angkara murka, ada di dalam dirinya."


Gavriil Claus menoleh pada Nazareth dengan mata terpicing.


Nazareth memandangi boneka hidupnya dengan ekspresi muram.


Boneka itu mendongak menatap Nazareth dari atas meja, memberikan tatapan polos seorang anak kecil. Membuat sayang siapa pun yang melihatnya.


Nazareth mendesah pendek dan mengetuk dahi Migi Vox dengan ujung telunjuknya.


Migi Vox bereaksi agresif terhadap sentuhan itu. Ia mencoba menyergap telunjuk Nazareth dan berusaha menggigitnya.


Nazareth menggerak-gerakkan telunjuknya ke sana ke mari untuk mempermainkan Vox sambil berpikir keras.


Bibi Gavriil memperhatikan Migi Vox dengan tatapan memindai.


"Aku tahu kau tidak peduli jika suatu saat Migi Vox mungkin merebut tahtamu," lanjut Mikhail. "Tapi bagaimana jika dia merebut gadismu?"


Nazareth tersentak menatap Mikhail.


Migi Vox berhasil menyergap telunjuk Nazareth dan menggigit ujung jarinya hingga berdarah.


"Oh!" Bibi Gavriil memekik cemas melihat jari Nazareth. Kemudian menyambar tisu dan membekap lukanya.


Nazareth kembali tertunduk menatap Migi Vox dengan dahi berkerut-kerut.


Boneka itu tersenyum miring dengan tatapan berkilat-kilat.


Nazareth menelan ludah. "Kalau aku melukainya, aku yang merasakan sakitnya," bisiknya lirih, lebih kepada dirinya sendiri.


"Bukankah itu latihan yang bagus?" Mikhail masih menyahut sementara langkahnya sudah mencapai puncak tangga.


Nazareth mendongak memandangi orang tua itu dengan bimbang.


Satu tahun, batinnya getir. Maukah kau menungguku selama itu, Eve? Akankah kau memaafkanku saat aku kembali?


Mikhail mungkin cenderung ekstrim dan sering tidak masuk akal. Tapi ia percaya orang tua itu bisa mengubah keadaannya setelah sekian lama terpuruk tanpa harapan akibat patahnya peri pelindungnya.


Bibinya menyentuh lembut punggung tangannya, tersenyum dan mengangguk memberi dukungan.


Migi Vox merayap ke pangkuan Bibi Gavriil dan mendongak dengan raut wajah memelas.


Wanita itu tertunduk dan tersenyum pada Migi Vox, lalu mengusap kepala boneka itu. "Sebuah pepatah mengatakan… musuh terbesar adalah diri sendiri," katanya tanpa mengalihkan pandangannya dari Migi Vox. Suaranya terdengar seperti desir angin yang menenangkan. "Tapi pamanmu benar," wanita itu akhirnya mengangkat wajah dan menatap ke dalam mata Nazareth. "Kau bisa melampaui dirimu!"


Nazareth langsung terdiam.


"Aku bisa melihat dia semakin kuat, Earth!" Bibi Gavriil mengerling ke arah Migi Vox. "Kalau kau tak bisa mengendalikannya dengan baik… kau bisa terkena serangan balik."


Nazareth mengerjap dan menelan ludah. Tapi tak mengatakan apa-apa.


"Meski jika Evelyn bukan seorang Katz, kau juga tak bisa melindunginya." Bibi Gavriil menambahkan.


"Aku tak akan membiarkan siapa pun merebut gadisku, bahkan jika ia Tuhan sekali pun!" bisik Nazareth bertekad. Lebih terdengar seperti harapan dibanding sebuah tekad.


"Kalahkan dulu dirimu, Earth Thunder!" bibinya balas berbisik.


.


.


.


Di kota Angelos…


"Bagaimana bisa melonjak dua tingkat lagi?" Helios berdecak tak habis pikir. "Ini bahkan belum sepekan!" katanya sambil menoleh pada Evelyn dengan dahi berkerut-kerut. "Nona, apa kau manusia?"


Evelyn mengulum senyumnya seraya tertunduk.


Tiga pria dari kelompok penggali bakat menggeleng-geleng memandangi bola kristal raksasa yang mengambang di altar.


"Level lima belas!" komentar mereka.


"Berapa usiamu, Eve?" tanya si pemilik bola kristal.


"Sembilan belas, Master!" jawab Evelyn.


"Memang sedikit terlambat saat pembangkitan," kata si pemilik bola kristal. "Idealnya dua belas tahun untuk wanita. Lima belas tahun untuk pria."


Evelyn menoleh ke belakang, memandang Master Penggali Bakat itu dengan ketertarikan baru.


"Beberapa orang, di usia sebelas tahun sudah dibangkitkan peri pelindungnya," lanjut si pemilik bola kristal. "Kebanyakan dari mereka sudah mencapai level tiga puluh di usia dua puluh lima. Tapi pertumbuhanmu tetap terlalu cepat. Dalam sepekan kau sudah melonjak empat level dan meraih Level Emas hanya dalam tiga pertarungan."


"Kupikir…" Evelyn menggantung kalimatnya dan tertegun. "Itu hanya keberuntungan," katanya tak yakin.


"Keberuntungan juga termasuk kekuatan, Eve!" sanggah Helios.


Evelyn sekarang menoleh pada pria itu.


"Tapi selamat!" Helios mengulurkan tangannya pada Evelyn.


Evelyn menjabat tangan Helios dan berterima kasih, lalu berpamitan setelah berbasa-basi sebentar dengan para penggali bakat, dan bergegas ke tempat di mana Xenephon menunggunya.


"Kau harus mendaftar dalam turnamen antar pelajar di Akademi," Xenephon memberitahu setelah mereka kembali berada di dalam kereta kuda. "Lima pemenang di Akademi akan dikirim untuk turnamen antar akademi yang diselenggarakan kekaisaran. Itu adalah latihan tahap ketiga! Jika kau masuk lima besar, latihanmu berakhir."