Poison Eve

Poison Eve
Chapter-79



"HIAAAAAAAT!" Putra gubernur itu menerjang ke arah Evelyn, menjejakkan sebelah kakinya untuk kemudian melambungkan tubuhnya ke udara, namun pada saat yang sama, sulur tanaman mencuat dari dalam tanah dan dalam sekejap menyergap pergelangan kakinya yang langsung menjalar ke seluruh tubuhnya dan melilitnya.


Bedros Damon memekik tertahan dan mengerjap gelisah. Kecepatan anak ini… pikirnya gusar.


Evelyn mengerling ke arah penyihir itu untuk melihat apakah mereka sudah menyerah.


Tapi bukan putra gubernur namanya kalau dia tidak mempertahankan harga dirinya yang setinggi langit. Dengan sedikit sentakan rasa panas di ulu hatinya karena geram, ia mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk memutuskan sulur tanaman itu.


Evelyn menggeleng tipis dan kembali memasang kuda-kuda. Keras kepala, pikirnya. Lalu tanpa menunggu teknik pertamanya berhasil dipatahkan, ia sudah mengeluarkan teknik kedua---memperkuat sulur poison ivy-nya dan mengetatkan kembali lilitannya.


Wajah putra gubernur itu mulai terlihat gusar. Tidak mengira sulur tanaman bisa sekuat itu. Rumput liar bisa seperti ini? pikirnya syok.


Sudah panik! pikir Evelyn kemudian menyalurkan lebih banyak energi cahayanya ke peri pelindungnya dengan sedikit sentakan.


Putra gubernur itu menyentakkan tubuhnya sekali lagi, mencoba menarik tangannya dari lilitan peri pelindung Evelyn hingga pergelangannya lecet.


Dasar bodoh, pikir Evelyn seraya tersenyum tipis. "Sulur tanamanku beracun!" ia memberitahu.


"Apa?" Bedros Damon memekik terkejut.


Putra gubernur spontan memucat.


"Just enough!" sergah Bedros seraya mengangkat sebelah tangannya. "Anggap saja kami kalah."


Evelyn menurunkan tangannya dan menarik kembali peri pelindungnya.


Putra gubernur itu kembali menerjang ke arah Evelyn, tidak mau terima kekalahannya.


Evelyn hanya menelengkan kepalanya sedikit dan tersenyum miring.


Sedetik kemudian, putra gubernur itu terhuyung dan terpuruk. Seluruh tubuhnya mati rasa. Bedros Damon segera melesat untuk meraup tubuhnya. Lalu menyalurkan sedikit energi cahaya ke punggung putra gubernur itu untuk memulihkannya.


"Jangan khawatir," kata Evelyn. "Itu hanya racun naga pengeluh, sama sekali tidak mematikan." Entah jika dia masih keras kepala, ia menambahkan dalam hati.


Bedros menatap Evelyn alis bertautan, menahan geram. Sial! pikirnya jengkel. Tahu begitu aku takkan mengalah.


"Jadi…" Xenephon segera menyela. "Bagaimana, Senior?"


"Kami menerima kekalahan kami," jawab Bedros dengan wajah cemberut. "Goliath itu milik kalian."


Evelyn bertukar pandang dengan teman-temannya dan bertukar seringai.


Putra gubernur itu mulai siuman dan gurunya segera menarik bangkit tubuhnya dan menyeretnya pergi.


"Guru—" putra gubernur itu mencoba memprotes.


"Sudahlah!" sergah Bedros dalam gumaman rendah. Bisa dikatakan setengah menggeram. "Kita bicarakan nanti setelah kita bertemu Kefas," ia menenangkan muridnya. Lalu menoleh ke arah Xenephon. "Masalah hari ini, tak akan kulupakan," katanya pada Xenephon. Lalu melirik Evelyn melalui sudut matanya. "Kita akan bertemu lagi," katanya bernada ancaman.


Evelyn tidak bereaksi. Hanya balas melirik penyihir itu dengan tatapan menilai.


"Sudahlah!" sela Arsen Heart. "Cleon! Cepatlah!" ia menginstruksikan seraya bergegas ke arah goliath yang sekarat itu.


Cleon mengikuti guardiannya, diikuti Evelyn dan kedua gadis lainnya.


Tiba-tiba saja goliath itu menggeliat dan menyergap pinggang Evelyn.


Arsen Heart dan teman-temannya memekik dan spontan memasang kuda-kuda.


"Berhati-hatilah, Eve!" goliath itu memperingatkan dengan bahasa yang hanya bisa dimengerti oleh Evelyn.


Evelyn segera mengangkat sebelah tangannya ke arah Arsen Heart, mengisyaratkan mereka supaya tidak menyerang. Lalu menunduk menatap wajah goliath itu. "Kau bisa bicara?" bisiknya.


Goliath itu mendesah lemah, kemudian menurunkan Evelyn di dekatnya. "Semua peri monster bisa bicara padamu," katanya. "Begitu pun sebaliknya, kau bisa bicara pada kami semua."


Evelyn menelan ludah dan mengerutkan keningnya.


Semua orang menatap Evelyn dengan tergagap.


Arsen Heart bertukar pandang dengan Xenephon.


Xenephon hanya menanggapinya dengan anggukan tipis.


"Leluhurmu adalah raja kami," goliath itu memberitahu Evelyn.


"Meski dia sudah tiada, tahtanya masih kosong sampai sekarang!" Goliath itu melanjutkan. "Jadi secara alami, kau adalah permaisuri kami!"


Seketika lutut Evelyn terasa goyah. "Maksudmu Apollo?" bisiknya lirih. Suaranya bergetar dan tercekat di tenggorokan.


"Kakek buyutmu, kemudian kakekmu, lalu ayahmu…" suara goliath itu semakin lemah. "Mereka semua adalah manusia-manusia hebat di negeri peri…"


"Tidak!" desis Evelyn. "Bertahanlah!"


Bersamaan dengan itu, para guardian dan teman-temannya mendekat dan berkerumun di belakangnya. Tertegun melihat wajah sedih Evelyn.


"Are you okay?" Nyx Cornus bertanya cemas.


Evelyn mengerjap dan menoleh pada semua orang dengan mata berkaca-kaca. "I'm okay, Ma'am!" katanya lirih.


Nyx Cornus menelan ludah dan bertukar pandang dengan Xenephon.


"Sudahlah, Putri!" Raksasa itu mengelus lembut kepala Evelyn.


Para guardian di belakang Evelyn terperangah melihat kelembutan goliath itu pada Evelyn.


Apa yang terjadi? mereka bertanya-tanya dalam hati.


Kenapa aku merasa… raksasa itu memiliki ikatan emosional dengan Evelyn? batin Nyx Cornus.


"Yang kuat memangsa yang lemah…" bisik raksasa itu dengan suara tercekat. "Itulah hukum alam! Jaga dirimu. Penyihir tua itu adalah musuh bebuyutan kakekmu. Salah satu dari mereka telah membunuh ayahmu demi tulang cakra Apollo," desisnya semakin lemah, semakin tercekat. Lalu hilang sama sekali. Bersamaan dengan itu tangannya terkulai dan tak bergerak lagi.


Evelyn tertunduk dengan kedua bahu menggantung lemas di sisi tubuhnya, lalu berpaling dan beranjak, menjauh dari raksasa itu sementara yang lain membeku memandanginya.


"Cleon!" Xenephon menginstruksikan.


Cleon mengerjap dan menelan ludah, melirik Evelyn dengan tatapan ragu.


Electra menarik salah satu belati yang terselip di sepatunya, kemudian memberikannya pada Cleon.


Cleon masih terlihat ragu.


Tapi semua orang mengangguk padanya memberi dukungan.


Cleon menarik napas dalam-dalam, kemudian menikamkan belati itu di dada goliath.


Evelyn memalingkan wajahnya seraya mengatupkan matanya rapat-rapat. Sebulir air mata menggelinding di pipinya.


Tak lama kemudian, sebuah lingkaran hitam berbentuk cakram memancar keluar dari luka goliath itu seukuran cincin yang semakin lama semakin membesar seiring dia melayang semakin tinggi, lalu mengendap turun melingkari Cleon yang sudah bersiap dalam posisi bersila.


Evelyn bergegas menjauh dari tempat itu tanpa menoleh lagi.


Xenephon dan Nyx Cornus serentak menyusulnya.


"Aku akan menjaganya," kata Arsen Heart. "Kalian lanjutkanlah pencarian."


Lady Die dan Salazar Lotz mengangguk singkat, kemudian membimbing Xena dan Electra menjauh.


"Eve! Kau yakin kau baik-baik saja?" Nyx Cornus menghambur ke arah Evelyn dan menyergap bahu gadis itu.


Evelyn mengerjap dan menoleh padanya sambil memaksakan senyum. "Aku tidak apa-apa, Ma'am!" katanya meyakinkan Nyx Cornus. Pembicaraanku dengan goliath itu tak boleh diketahui siapa pun, katanya dalam hati. Lagi pula siapa yang akan percaya? Bahkan Nazareth tidak percaya peri monster bicara padaku! kenangnya getir.


"Salah satu dari mereka telah membunuh ayahmu!"


Kata-kata raksasa itu tertanam dalam benaknya.


Kemarahan menguasai Evelyn. Kepahitan menyergap dirinya. Namun bersamaan dengan itu ia juga merasa begitu sendirian.


Aku butuh seseorang untuk bicara, pikirnya. Tapi tentu saja bukan salah satu dari teman-temannya atau guardian mereka.


"Semua peri monster bisa bicara padamu. Begitu pun sebaliknya, kau bisa bicara pada kami semua."


Kata-kata raksasa itu kembali terngiang.


Lalu tiba-tiba Evelyn melesat dan menghambur dengan kecepatan luar biasa, melejit ke udara seperti komet.


"EVE!" Nyx Cornus tersentak dan menjerit, sebelah tangannya terulur menggapai udara kosong.