Poison Eve

Poison Eve
Chapter-137



"Tim selanjutnya!" pemandu acara mengumumkan. "Tim Dua Akademi Kekaisaran Neraida!"


Para hadirin di dua negara bertepuk tangan.


Akhirnya… sampai juga di bagian paling menjengkelkan ini, pikir Cleon. Ia melirik ke arah Evelyn dengan isyarat memohon.


Biarkan aku menghadapinya!


Evelyn menanggapinya dengan anggukan samar, kemudian beringsut ke belakang.


Cleon melangkah ke tempat Evelyn di posisi paling depan sementara Evelyn mengambil tempat Xena di belakangnya.


Xena melejit ke udara dengan mengembangkan kedua sayap peri vampirnya, sementara Altair berpindah ke tempat Cleon di sisi Evelyn dengan Electra di sisi lainnya.


"Whoaaaaa…" salah satu pemandu acara berseru. "Tim Akademi Militer Dewa Mimpi mengubah formasi!"


Sloan mendengus dengan ekspresi meremehkan. Keempat temannya berderet di sampingnya dengan posisi sejajar.


"Dua tim yang sangat memukau!" komentar salah satu pemandu acara. "Satunya Akademi Martial Art dari sekolah bangsawan Neraida, satunya lagi satu-satunya Akademi Militer yang dimiliki Neraida. Mana yang lebih unggul? Kita langsung saja saksikan pertarungannya!"


Para hadirin di dua negara kembali bertepuk tangan.


"Satu-satunya akademi militer?" salah satu peserta di Shangri-La terkekeh dengan sikap mencemooh. "Apakah sekolah militer begitu langka di Neraida?"


"Sebaiknya mereka menang karena jika tidak mereka tak hanya akan menjadi satu-satunya, tapi juga yang terakhir!" komentar peserta yang lainnya.


"Ssshhh!" Ketua tim peringkat atas mendesis pada mereka.


Para peserta itu langsung terdiam.


"Silahkan kedua tim mengeluarkan cakra spiritualnya!" pemandu acara menginstruksikan.


GROAAAAAAARRR…!


Aura pembunuh serentak menebar ke seluruh arena. Mendirikan bulu roma.


"Whoa—benar-benar aura yang sangat menekan!" komentar kedua pemandu acara.


Kaisar mengerling ke arah Orion Jace.


Begitu juga dengan sebagian besar para pejabat kehormatan dan sejumlah Master Spiritual tingkat tinggi.


Siapa yang tidak tahu pemilik aura pembunuh yang sangat terkenal itu.


Duke itu mengerjap dan tersenyum samar.


Kedua putranya saling menatap dengan raut wajah saling mengintimidasi. Tubuh keduanya mengeluarkan ilusi kobaran api.


Evelyn bertukar pandang dengan Electra.


Kakak-beradik itu sekarang terlihat seperti dua gundukan api unggun.


"Dalam hitungan ketiga!" pemandu acara menginstruksikan. "Satu… dua… mulai!"


BUUUUUMMM!


Kedua putra Duke Neraida itu mendaratkan peri pelindung mereka masing-masing dengan bentuk yang sama, juga gerakan yang sama.


Para hadirin di Balai Mulia Shangri-La menggumam terkejut.


"Mereka satu klan!" pekik seseorang.


"Lebih dari itu!" komentar yang lainnya. "Wajah mereka begitu mirip. Tampaknya mereka kakak beradik!"


"Kakak-beradik?" gumam yang lainnya lagi.


"Menarik!" gumam beberapa orang lainnya dengan ketertarikan baru.


"Kurasa keberadaan Akademi Militer ini sedikit rumit," komentar seorang peserta.


Dua orang di kiri-kanan Sloan menghunus pedang menyala.


Evelyn spontan menegang dan mengetatkan rahang.


Dua orang di kiri-kanan Sloan Jace adalah anggota yang tidak ikut babak penyisihan.


Tapi tentu saja bukan hal itu yang membuat Evelyn syok. Melainkan karena peri pelindung mereka yang sama seperti milik ayahnya.


Katz? batin Nazareth.


Peri pelindung pedang adalah salah satu peri pelindung klan Katz yang diturunkan dari pihak ibu---istri Apollo. Dibanding palu Apollo, peri pelindung pedang adalah yang paling banyak dimiliki klan Katz.


Satu-satunya pewaris peri pelindung palu Apollo adalah anak perempuannya, yang kemudian menikah dengan klan Jace.


Nazareth mengerling ke arah Agathias Katz dan tersenyum samar.


Sepasang mata sang Viscount berkilat-kilat.


Kedua-duanya adalah putra sang Viscount! Nazareth menyimpulkan.


Pertarungan ini tampaknya akan menjadi perang saudara! pikir Xenephon.


Evelyn melontarkan peri pelindungnya dengan teknik kedua kekuatan inti peri pelindung peniru, dan seketika sulur tanamannya berubah menjadi pedang Rodrigo Knight. "Dua bajingan Katz itu adalah milikku!" geramnya pada Cleon dipenuhi tekad.


"Ketua tim Akademi Militer Dewa Mimpi itu sebenarnya peri pelindungnya apa?" para petinggi Shangri-La mulai bertanya-tanya.


"Kau pernah dengar seorang ahli teori yang pernah menerbitkan Sepuluh Teori Kekuatan Inti Peri Pelindung?" seorang petinggi lainnya menanggapi petinggi pertama tadi.


"Nazareth Vox?" petinggi pertama spontan menoleh.


"Apa?"


Seisi ruangan kehormatan itu menoleh pada pejabat kedua.


"Gadis itu menggunakan teknik kekuatan inti peri pelindung leluhur," jelas pejabat itu.


Kaisar mereka mendengarkan sambil mengawasi Evelyn dengan dahi berkerut-kerut.


Evelyn mengayunkan pedangnya dan menudingkan ujungnya ke arah tim lawan. "Serang!" perintahnya dengan suara lantang.


Nazareth dan Migi Vox mengerjap bersamaan.


Agathias Katz menautkan alisnya.


Suara Evelyn mengandung kuasa.


Electra dan Altair melesat ke arah Mo Rhino dan Voz Panther.


Cleon dan Evelyn berlari sambil mengayunkan peri pelindung mereka.


Sloan menyeruak ke arah Cleon dengan gerakan yang sama persis.


Xena melejit ke belakang barisan tim lawan dengan teknik teleportasi.


Dan…


BUUUUUM!


BUUUUUUMMM!


Palu Cleon dan Sloan Jace membadai dalam pukulan acak.


TRAAAAANG!


TRAAAAANG!


Pedang Rodrigo Knight menyerampang ke arah putra Viscount yang lebih tua dan berhasil ditangkis dengan kecepatan seimbang.


SLASH!


Xena menukik ke arah putra Viscount yang lebih muda dan menyapukan tendangan memutar di udara.


GROAAAAAAARRR…


Electra dan Voz Panther saling menerkam dalam bentuk ilusi binatang buas di sisi lain.


Altair dan Mo Rhino beradu telapak tangan, beradu kekuatan cahaya.


Para penonton di dua negara menyaksikan pertarungan itu sebagai tontonan seru.


Dibanding pertarungan sebelumnya, pertarungan yang ini lebih menegangkan, terutama dibanding babak penyisihan.


Semua orang yang menyaksikannya sampai berdebar-debar.


Evelyn menjatuhkan dirinya di lantai dalam posisi split sempurna, kemudian menghujamkan ujung pedangnya ke atas, mengincar dada putra sang Viscount.


TRAAAAANG!


Lagi-lagi putra Viscount yang lebih tua itu berhasil menangkisnya.


Bersamaan dengan itu, putra Viscount yang lebih muda juga berhasil menghalau Xena dengan hempasan pedangnya.


BLAAAASSSHHH!


Xena terlempar ke tepi arena.


"Xena!" Evelyn tersentak dan secara spontan melontarkan peri pelindungnya yang langsung berubah menjadi sulur tanaman dan menangkap pinggang Xena. Pedang Rodrigo Knight serentak menghilang.


Kedua putra Viscount memanfaatkan kesempatan itu untuk menerjang serempak sambil menghujamkan pedang mereka ke arah Evelyn.


"Watch out!" jerit Electra sambil melesat ke arah Evelyn, berpindah tempat dengan teknik teleportasi untuk membentengi Evelyn.


Kedua pedang itu sekarang menuju ke arah Electra.


Tepat pada saat itu, Xena yang sudah berhasil menyeimbangkan tubuhnya segera menyadari situasinya. Dengan cepat ia melesat ke arah Electra dan Evelyn, kemudian menyambar kedua temannya dan memindahkan mereka dengan teknik teleportasi.


WUUUUSSSHHH!


Kedua pedang itu menghujam kekosongan.


"Thanks!" ungkap Evelyn dan Electra bersamaan.


"Lain kali jangan bertindak bodoh!" Xena memarahi Electra selagi mereka terbang. "Jika itu Cleon atau Altair, aku masih bisa mengerti. Tapi kau punya teknik teleportasi. Daripada membentenginya, bukankah lebih baik kau memindahkannya?"


"Aku benar-benar panik!" tukas Electra membela diri.


"Sudahlah!" sergah Evelyn menengahi mereka. "Ini semua salahku."


"Lain kali tak boleh lengah!" Xena memperingatkan. "Masih terlalu dini untuk cidera."


Evelyn dan Electra bertukar pandang, merasa sedikit heran. Untuk pertama kalinya mereka melihat Xena tidak kekanak-kanakan.


Lalu ketiganya mendarat bersamaan dalam sikap kuda-kuda.


Lantai arena bergetar ketika mereka mendarat.


Ketiga gadis itu serentak tercengang.