Poison Eve

Poison Eve
Chapter-115



Evelyn berjalan tersaruk-saruk, terombang-ambing terseret arus kerumunan yang semakin padat.


Dari mana datangnya orang-orang ini? batinnya tak habis pikir.


Cengkeraman Nazareth di pergelangan tangannya terasa kian mengetat, sementara sosoknya tidak terlihat, tenggelam dalam kerumunan.


"Earth! Bisakah kau pelan sedikit!" protesnya dalam pekikan tertahan. "Nazareth!" Ia mencoba meninggikan suaranya. Tapi pria itu tak bereaksi, tetap berjalan dengan mencengkeram pergelangan tangannya dan menyeretnya semakin jauh ke dalam kerumunan.


Evelyn merasakan dadanya semakin sesak. Aku tak bisa bernapas! pikirnya panik. Dan semakin ia panik, dadanya terasa semakin sesak.


Ia mencoba memanggil teman-temannya, tapi tidak satu pun mendengar atau menjawab.


Orang banyak itu sekarang menghimpitnya hingga terjepit.


Tatapannya yang panik menyapu sekeliling.


Ini terlalu aneh! katanya dalam hati. Bagaimana bisa kerumunan bertambah padat hanya dalam hitungan detik?


Evelyn menyentakkan tangannya dari cengkeraman Nazareth, tapi cengkeraman itu makin mengetat setiap kali ia mencoba melepaskan diri.


Bukan Nazareth! ia menyadari.


Ini bukan dunia nyata! ia menyimpulkan.


Ia mencoba menyalurkan tenaga dalam ke telapak tangannya, tapi gagal.


Benar saja! pikirnya. Aku terjebak di alam ilusi!


"Earth!" ia mencoba memanggil Nazareth. Tapi suaranya tercekat di tenggorokan.


Ia mencoba menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi paru-parunya yang serasa terbakar, tapi kerumunan itu bahkan tidak bergerak sekarang.


Apakah aku akhirnya akan mati kehabisan napas di alam ilusi? pikirnya semakin gusar. Kepalanya mulai merayang dan berdenyut-denyut.


Tidak! pikirnya semakin panik. Ia tahu itu pertanda tulang cakra kepalanya akan keluar.


Seketika perkataan Mikhail Claus melintas dalam benaknya.


"Salah satu anak asetku memiliki peri pelindung Bola Kristal Merkurius. Levelnya sudah empat puluh enam, cakra keempatnya didapat dari peri vampir. Kau tahu, kan? Peri vampir selalu memiliki sonar. Itu adalah musuh para pemilik tulang cakra kepala."


Bola Kristal Merkurius! katanya dalam hati.


Bola Kristal Merkurius merupakan perangkat sihir komunikasi, cerdas, dan serbaguna. Ditambah sonar—penjarakan dan navigasi suara…


Suara! Evelyn menyimpulkan.


Gelombang ultrasonik!


Evelyn menghela napas sekali lagi, mencoba menenangkan diri dan berusaha untuk berkonsentrasi.


Beberapa saat kemudian, tanah di bawah kakinya mulai bergetar.


Berhasil! pikir Evelyn.


Tentu saja!


Lawan gelombang ultrasonik adalah gelombang infrasonik.


Teknik penyatuan tiga jantung adalah pilihan yang tepat untuk memecahkan dimensi ini.


Evelyn mencobanya sekali lagi. Dan seketika, tanah di bawah kakinya berguncang dan berkeretak.


Sebuah retakan mulai tercipta di permukaan tanah seiring getaran yang kian membesar.


Tak lama kemudian…


DUAAAAARRRR!


Ledakan dahsyat menggelegar bersama hempasan debu bercampur kerikil di samping semburat cahaya terang berwarna keemasan.


Kerumunan itu terpental dan berkeredap menghilang. Tidak nyata!


Cengkeraman di pergelangan tangannya membeku. Sosok yang menuntunnya berhenti bergerak.


Evelyn mencoba menyentakkan tangannya sekali lagi. Tapi tetap tak mau lepas.


"Tunjukkan dirimu!" geram Evelyn seraya menatap tajam punggung seseorang berjubah gelap dengan tudung kepala yang membelakanginya.


Terdengar kekehan sinis seorang pria.


Pria itu akhirnya menoleh dan menyeringai. "Benar-benar anak aset terbaik Morfeus Academy," pujinya bernada pahit. "Daya analisamu bagus sekali." Pria itu melepaskan cengkeramannya dari pergelangan tangan Evelyn seraya berbalik dan menyilangkan kedua tangannya di belakang tubuhnya. "Sayangnya kau sudah terlambat!"


Evelyn beringsut menjauhinya sambil mengusap-usap pergelangan tangannya yang serasa terbakar. "Jadi, apa tepatnya yang kau inginkan dariku… Tuan Gubernur?" ia bertanya dengan mata terpicing, sengaja menekankan kata-katanya ketika menyebutkan Tuan Gubernur.


Pria paruh baya itu menarik sudut bibirnya membentuk senyuman miring. "Nothing," jawabnya dalam gumaman datar. "Aku hanya ingin kau lenyap!"


Evelyn balas tersenyum miring, "Apa kau pikir dengan melenyapkanku, putramu bisa memenangkan kejuaraan?"


"Kalau masih kurang aku bisa melenyapkan yang lain," tukas Neiro tanpa beban sedikit pun.


"Apa kau tak takut bertindak di sini?" dengus Evelyn.


"Apa kau kira ini Kota Ilusi?" Neiro balas mendengus.


Tiba-tiba seluruh tempat kembali berguncang dan berkeretak, tapi kali ini bukan disebabkan oleh teknik penyatuan tiga jantung.


Gedung-gedung di sekeliling Evelyn terangkat bersama permukaan tanahnya, bergulir ke depan hingga menggantung terbalik di atas kepalanya seakan seluruh pemandangan itu hanya bertumpu pada selembar kertas, dan sekarang kertas itu sedang dilipat.


Evelyn terperangah menatap pemandangan itu.


Pemandangan terbalik di atas kepalanya berangsur-angsur turun dan menimpanya, tapi tak menyentuhnya, semuanya melesak menembus tubuhnya kemudian menghilang tanpa sisa.


Sekarang pemandangan di sekelilingnya hanya lapangan kosong yang tampak seperti gurun pasir yang tidak berujung. Kabut pasir mengepul di sekelilingnya di seluruh tempat.


Sosok Neiro Sach telah berubah dalam ukuran raksasa.


Bola Kristal! Evelyn menyimpulkan. Tiba-tiba teringat pertarungan simulasinya dengan Mikhail Claus tadi malam.


Dan sekali lagi, ia terjebak dalam bola kristal seorang Master Spiritual aliran sihir tingkat Kaisar dengan sedikitnya enam puluh level kekuatan.


Sayang sekali aku belum sempat belajar memecahkannya tadi malam, batin Evelyn.


Neiro menelengkan kepalanya, mendekatkan wajahnya ke bola kristal dan menyeringai. "Kegeniusanmu akan membunuhmu," desisnya menggemuruh.


Kegeniusan? ulang Evelyn dalam kepalanya.


Sekarang ia teringat perkataan Victoria.


"Berikutnya adalah tingkat yang paling sulit. Intelligence---kecerdasan, kalahkan kecerdasanmu sendiri dengan pertanyaan yang lebih cerdas hingga kecerdasanmu tak bisa menjawab."


Itu dia! pikir Evelyn.


"Kesenanganku adalah…" Neiro bergumam dalam bisikan rendah yang bergemuruh. "Melihat orang genius menjadi gila hingga mereka mati!"


Bola Kristal Merkurius juga terkenal sebagai perangkat sihir kecerdasan, batin Evelyn, tidak menggubris ocehan Neiro.


"Sekarang aku mulai tak sabar untuk melihat anak muda yang hendak dinobatkan sebagai genius berubah menjadi gila," lanjut Neiro.


Evelyn duduk bersila dan memejamkan mata, kedua pergelangan tangannya tertaut di depan dada dengan jemari berlawanan arah.


Neuro mendekatkan bola kristal di tangannya ke wajahnya, mengerutkan kening dan terkekeh dengan raut wajah mencela. "Teknik cahaya?" ejeknya. "Kau kira itu akan bekerja?"


Lagi-lagi Evelyn tidak menggubrisnya. Kekuatan cahaya memang tak bisa digunakan dalam ruang dimensi dalam bola kristal itu. Tapi bukan berarti kekuatan cahaya tidak bekerja di dalam tubuhnya.


Ia ingat beberapa hari yang lalu Nazareth memberitahu bahwa kalung penyimpanannya sekarang berada dalam kepalanya.


"Kau hanya perlu memusatkan energi cahaya ke dalam pikiranmu untuk masuk atau menaruh sesuatu di dalam sana seperti kau memasuki alam bawah sadarmu."


Evelyn tersenyum tipis sementara Neiro masih mengoceh.


"Sayangnya levelku belum melewati delapan puluh," cerocosnya sambil mengusap-usap janggutnya. "Kalau tidak, aku bisa melihat apa saja yang sudah dia alami di dalam sini. Itu pasti akan lebih sempurna!"


Sekarang Evelyn sudah berhasil masuk ke dalam ruang dimensi dalam kepalanya, lalu memasang kuda-kuda, mengeluarkan cakra spiritual dan peri pelindungnya sambil mengirimkan bentuk tiruan dirinya keluar bola kristal melalui pikirannya, kemudian mengirim dirinya yang asli ke akademi.


Sejurus kemudian, Neiro memekik dan terperangah.


Sosok tiruan Evelyn melayang di depan Neiro di luar bola kristalnya, menelengkan kepalanya sedikit dan menyeringai.


Evelyn tahu persis, ia tak bisa melawan Neiro jika terpaksa harus bertarung. Perbedaan level mereka terpaut begitu jauh.


Evelyn masih ingat pesan Nazareth.


"Cakra banyak, tulang banyak, serang sekuat tenaga. Cakra sedikit, tulang sedikit, mundur saja dan larilah! Apa itu tulang cakra, akan aku jelaskan nanti. Intinya, kalau cakramu lebih banyak dari musuh, gunakan kekuatan dan teknik tenaga dalam untuk menyerang musuh. Kalau lebih sedikit, jangan ragu untuk lari."


Dan ketika Neiro meledak murka dan melontarkan serangannya, sosok ilusi Evelyn seketika menguap tanpa jejak maupun tanda bahwa gadis itu pernah berada di sana.